NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: MATA YANG MENATAP

Hari-hari berikutnya berjalan bagaikan permainan kucing dan tikus yang teramat melelahkan. Di luar rumah, Devan dan Aluna memasang topeng sempurna: bersikap selayaknya kakak dan adik tiri yang saling menghormati, menjaga jarak, dan bertukar sapa secukupnya. Namun di dalam rumah, setiap tatapan mata yang tak sengaja berselisih di lorong sempit serta setiap sentuhan fisik yang terjadi saat berpapasan selalu memicu desiran listrik berbahaya yang membuat napas Aluna tertahan.

Malam itu, Ibu memutuskan agar seluruh anggota keluarga makan malam bersama di meja makan utama. Suasana hangat dan gelak tawa yang berusaha dibangun oleh Ayah Danu terasa begitu hambar dan hampa di telinga Aluna. Udara di ruang makan terasa amat pekat oleh kecurigaan yang menyusup dari tiap sudut ruangan.

"Aluna, makanannya dihabiskan. Kenapa dari tadi cuma diaduk-aduk begitu?" tegur Ibu lembut dari seberang meja. Namun, senyuman Ibu tidak mampu menyembunyikan tatapan matanya yang sangat tajam, meneliti setiap gerak-gerik putri tunggalnya.

Aluna tersentak kaget hingga sendok di tangannya berdenting di atas piring. "Eh... iya, Bu. Aluna cuma... agak kenyang saja gara-gara tadi sore sempat makan camilan."

Devan yang duduk tepat di samping kiri Aluna tetap terlihat sangat tenang. Wajahnya yang tampan memancarkan raut dingin dan sopan saat menyuap makanannya. Namun, di balik sikap tenangnya yang sempurna, tangan kiri Devan yang tersembunyi di bawah juntaian taplak meja kain tebal perlahan merayap turun, mendarat di atas paha Aluna.

Sentuhan jemari Devan yang hangat dan kokoh di balik kain celana tipis Aluna membuat gadis itu mendadak kaku bagai patung. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga serasa hendak meledak, dan aliran darahnya mendesir dingin seketika.

Aluna melirik Devan lewat sudut matanya dengan napas memburu, tetapi Devan tetap bersikap santai, menanggapi cerita Ayah Danu tentang proyek pekerjaan kantornya seolah tidak ada hal terlarang yang sedang terjadi. Jemari Devan di bawah meja mulai bergerak naik-turun, mengusap paha halus Aluna dengan tekanan lembut namun teramat posesif. Sebuah ancaman manis yang secara instan menghancurkan seluruh fokus dan pertahanan diri Aluna di depan kedua orang tua mereka sendiri.

Aluna mencengkeram kuat-kuat pinggiran kursi kayunya, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat demi menahan desah kaget atau getaran tubuh yang bisa memancing kecurigaan Ibu dari seberang meja.

Setelah jam makan malam usai dan kedua orang tua mereka telah masuk ke dalam kamar utama di lantai bawah untuk beristirahat, Aluna bergegas melangkah menuju area dapur. Ia membutuhkan segelas air dingin demi menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu liar akibat ulah nekad Devan tadi.

Namun, baru saja Aluna berbalik dari meja piring dengan gelas di tangannya, sosok tegap Devan sudah berdiri menjulang tepat di depannya, mengunci seluruh celah untuk melarikan diri.

"Kak Devan! Tadi di meja makan itu bahaya banget..." bisik Aluna dengan nada menahan panik, suaranya hampir tak terdengar akibat napasnya yang masih memburu. "Kalau Ibu sampai lihat ke bawah meja gimana?"

Devan tidak merespons dengan kata-kata teguran. Ia melangkah satu titik maju, memojokkan Aluna ke tepi meja granit dapur yang dingin. Tangannya yang hangat menjangkau pinggang mungil Aluna, mengangkat tubuh gadis itu sedikit hingga tingginya kini sejajar dengan tatapan matanya.

"Kamu terlalu cantik malam ini buat didiamkan begitu saja," bisik Devan serak tepat di depan bibir Aluna yang merona.

Devan langsung mendaratkan ciuman yang dalam, panas, dan penuh dengan dominasi yang memabukkan. Ia mengunci bibir Aluna tanpa memberi ruang untuk melayangkan protes. Aluna, yang tadinya berniat menegur, meleleh sepenuhnya di bawah sapuan manis bibir Devan. Tangannya merayap naik, melingkar pasrah di leher tegap kakak tirinya di tengah keremangan malam dapur rumah mereka.

Namun, tepat di saat pagutan mereka kian makin dalam dan intens—

Klak.

Suara engsel pintu kamar utama di lantai bawah mendadak terdorong terbuka, disusul suara langkah kaki seseorang yang mulai berjalan mendekati area dapur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!