NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kartu Nama di Meja Kerja

Sabtu pagi di kawasan perumahan sejuk tak jauh dari Fakultas Kedokteran UGM, sebuah taksi berhenti di depan rumah kontrakan kecil berselimut tanaman rambat. Pintu taksi terbuka, memperlihatkan Evita yang melangkah turun dengan anggun. Wanita itu membawa kontainer makanan berukuran sedang dan sebuah tas jinjing berisi pakaian ganti.

Hari ini, Evita sengaja menyempatkan diri naik kereta pagi dari Surabaya ke Yogyakarta. Ia ingin memberikan kejutan sekaligus membawakan masakan rumah favorit Yunita yang belakangan ini mengeluh kelelahan akibat jadwal piket kepaniteraan klinik yang sangat padat.

"Mbak Vita!" seru Yunita dari balik pintu pagar. Raut wajah calon dokter muda itu memancarkan rasa terkejut yang luar biasa sebelum berubah menjadi pelukan hangat di teras rumah.

"Selamat pagi, Dokter Muda," goda Evita seraya membalas pelukan adiknya dengan penuh kasih sayang. "Mbak lihat wajahmu agak pucat di panggilan video kemarin. Makanya Mbak sempatkan datang bawakan ayam bumbu rujak sama oseng cumi kesukaanmu."

"Wah, Mbak Vita memang kakak terbaik!" puji Yunita seraya membawa masuk barang bawaan kakaknya ke dalam ruang tamu yang sederhana namun rapi.

Beberapa jam berlalu dengan begitu hangat. Suasana kontrakan dipenuhi gelak tawa dan cerita. Evita menceritakan perkembangan butiknya yang makin banyak mendapat pesanan gaun pernikahan, sementara Yunita membagikan pengalaman uniknya menghadapi berbagai karakter pasien di ruang rawat inap.

Menjelang sore hari, ponsel pintar Yunita berdering nyaring di atas meja. Yunita mengangkat telepon tersebut dan mengangguk-angguk cepat.

"Aduh, Mbak... maaf banget," tutur Yunita usai mematikan telepon dengan raut wajah serba salah. "Teman sekelompok stase Bedah baru saja telepon. Ada laporan status pasien darurat yang harus kami rampungkan sore ini buat bahan diskusi besok pagi. Aku harus ke kampus sebentar."

Evita tersenyum maklum, mengusap pelan bahu adiknya. "Nggak apa-apa, Yun. Masuk ke kamar mandi dulu, bersiap-siap sana. Mbak di rumah saja sambil nunggu kamu pulang."

"Beneran nggak apa-apa ditinggal sendiri, Mbak?"

"Santai saja. Sudah sana siap-siap."

Yunita bergegas masuk ke kamar tidurnya untuk mengganti pakaian dan merapikan jas putih pendeknya.

Sementara menunggu adiknya berkemas, Evita berinisiatif merapikan ruang tamu yang agak berantakan. Ia mengumpulkan cangkir-cangkir bekas teh ke dapur, lalu beralih ke meja belajar kayu yang bersandar di sudut ruangan. Di atas meja tersebut, tumpukan buku teks kedokteran tebal, seperti Anatomi Klinik dan Jurnal Bedah Umum yang tampak agak berserakan di samping laptop Yunita yang tertutup.

Evita tersenyum tipis melihat kesibukan adiknya. Dengan perlahan dan hati-hati, ia mulai menyusun buku-buku tebal itu agar tertata rapi.

Namun, saat Evita menggeser sebuah buku referensi anatomi yang cukup berat, selembar kertas tebal berukuran kecil terselip dan jatuh ke atas lantai keramik.

Evita membungkuk, mengambil lembaran kertas tebal tersebut.

Itu adalah sebuah kartu nama premium dengan tekstur kertas linen abu-abu charcoal yang sangat elegan. Di bagian pinggirnya, terukir garis emas tipis yang memancarkan kesan profesional dan berkelas.

Mata Evita terpaku pada tulisan bersepuh emas yang tercetak menimbul di tengah kartu nama tersebut:

ARVINO

Principal Architect & Founder

LAZUARDI DESIGN

Biro Arsitektur & Perancangan Interior

Jl. Seturan Raya No. 45, Sleman, Yogyakarta

Dada Evita seketika berdesir halus. Langkah napasnya terhenti selama beberapa detik.

Nama itu. Nama yang dulu pernah singgah begitu dalam di kehidupannya, nama pemuda yang dulu berjalan menembus malam Surabaya dengan koper tua di tangannya, kini tertera begitu gagah di atas kartu nama bermartabat tinggi ini.

Evita membalik kartu nama tersebut. Di bagian belakang, tertera barisan brosur ringkas yang memperlihatkan portofolio mahakarya bangunan, salah satunya adalah gambar resor mewah dengan atap melayang di kawasan Kaliurang yang sangat indah.

Tidak ada rasa cemburu. Tidak ada rasa penderitaan, penyesalan yang menyiksa, atau luka lama yang berdarah kembali.

Yang membuncah di dalam dada Evita saat ini hanyalah rasa takjub, haru, dan kepuasan batin yang luar biasa murni.

Di bawah temaram sinar matahari sore Yogyakarta yang menembus kaca jendela, Evita memandangi nama "Arvino" dengan binar mata seorang wanita yang telah sepenuhnya berdamai dengan masa lalu. Ia menyadari bahwa keputusan untuk membatasi dan menarik jarak tebal antara mereka menjadi penataan takdir yang sempurna.

Pemuda yang dulu dihimpit oleh keterbatasan dan keraguan orang-orang, kini telah bertransformasi menjadi seorang pria dewasa yang berdiri tegap, terhormat, dan sukses di atas hasil keringatnya sendiri.

Suara langkah kaki Yunita dari arah kamar terdengar mendekat. "Mbak Vita, aku berangkat ke kam—"

Yunita tertegun di ambang pintu kamar saat melihat kakaknya sedang berdiri di dekat meja belajar, memegang kartu nama milik Vino yang kemarin sempat ia bawa dari studio.

Yunita sempat menahan napas, merasa cemas jika penemuan kartu nama itu akan merusak suasana atau menimbulkan luka lama pada kakaknya.

Namun, ketakutan Yunita seketika luruh saat Evita menoleh ke arahnya.

Evita tidak menuntut penjelasan, tidak pula menunjukkan raut wajah sedih. Wanita itu mengulas senyum paling hangat, paling matang, dan paling damai yang pernah Yunita lihat seumur hidupnya.

"Vino... sudah tumbuh jadi pria yang hebat banget ya, Yun," bisik Evita dengan suara yang sangat lembut, sarat akan rasa bangga dan hormat yang mendalam.

Yunita mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca menatap kedewasaan kakaknya. "Iya, Mbak. Dia bekerja keras luar biasa di Jogja ini."

Evita meletakkan kembali kartu nama bersepuh emas itu ke atas meja belajar Yunita dengan sangat rapi dan penuh kehati-hatian. Senyum mulia terukir di bibirnya.

"Mbak benar-benar bahagia melihat dia sukses," tutur Evita tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Di bawah langit sore Yogyakarta yang tenang, kedua saudara itu saling menatap dalam keheningan yang penuh kedamaian. Di ruangan itu, masa lalu tak lagi menjadi beban, melainkan menjadi saksi bisu atas kelahiran dua jiwa yang telah sama-sama dewasa dan menemukan kebahagiaannya masing-masing.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!