NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Aturan Baru

Hari itu, mereka menemukan tiga wilayah tersegel — lembah batu spiritual, gua energi roh, dan hutan tanaman obat langka.

Di setiap tempat, ada binatang roh penjaga yang telah menjaganya ratusan bahkan ribuan tahun. Dan di setiap tempat pula, pertarungan terjadi — bukan untuk membunuh, melainkan untuk saling menguji dan saling mengerti.

 Tidak satu pun binatang roh itu tewas. Sebaliknya, semuanya akhirnya bersedia membuat kontrak darah dan menjadi pelindung Sekte Surgawi Langit.

Ketika mereka kembali ke puncak gunung, Lin Yue sudah menunggu di halaman aula. Mendengar cerita mereka, ia tersenyum tipis — bukan karena sumber daya yang didapat, melainkan karena pilihan yang mereka ambil.

"Kalian melakukan hal yang benar," ucap Lin Yue pelan namun penuh bangga. "Membunuh itu mudah. Tapi memperoleh kepercayaan dan kesetiaan... itulah yang membuat sekte kita benar-benar kuat. Guan Long dan Qing Dian — serta semua pelindung baru lainnya — bukan sekadar harta. Mereka adalah keluarga."

Xiao Tian dan Su Ling menunduk hormat, hati mereka penuh rasa syukur. "Terima kasih, Guru. Kami hanya melakukan apa yang kami yakini benar."

"Pertumbuhan kekuatan bukan hanya soal teknik dan batu roh," tambah Lin Yue sambil menatap ke arah lembah di kejauhan, tempat Guan Long kini berdiri tegak menjaga wilayahnya. "Tapi juga tentang hati. Hati yang tahu menghargai, tahu berbagi, dan tahu menjaga. Itulah yang akan membawa kita lebih jauh dari siapa pun sebelumnya."

"Guru terima kasih atas bimbingannya!"

"Hmm.. Pergilah beristirahat!"

...----------------...

Dulu, sebelum Sekte Surgawi Langit berdiri, Wilayah Timur berada di bawah kekuasaan Sekte Awan Tinggi.

Pajak berat menekan rakyat, sekte-sekte besar sering menindas yang kecil, dan siapa pun yang tidak patuh bisa kehilangan tempat tinggal. Semua orang sudah terbiasa hidup dalam ketakutan — hingga hari itu tiba.

Saat berita menyebar bahwa Sekte Awan Tinggi telah tunduk dan Sekte Surgawi Langit kini berkuasa, sebagian besar penduduk Wilayah Timur merasa cemas.

"Sekte baru berkuasa... entah bagaimana nasib kita nanti," gumam seorang petani tua sambil mencangkul tanah, wajahnya penuh kekhawatiran. "Biasanya penguasa baru pasti menaikkan upeti dan mengambil harta rakyat."

"Benar," jawab tetangganya dengan suara pelan. "Sekte Awan Tinggi saja sudah berat. Sekarang ada yang lebih kuat lagi... mungkin kita harus menyerahkan separuh hasil panen kita."

Namun hari demi hari berlalu, dan yang terjadi justru sebaliknya. Pengumuman resmi dari Sekte Surgawi Langit dibacakan di setiap kota dan desa — bukan perintah untuk menyerahkan harta, melainkan aturan yang membuat mata mereka terbelalak tak percaya.

***

Di alun-alun desa, kepala desa membacakan peraturan itu dengan suara bergetar, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.

"Pertama — Upeti hanya diambil dari harta sekte dan kerajaan, bukan dari rakyat. Hasil panen, kerajinan, dan harta benda rakyat tidak boleh disentuh!"

Suara gumam gemuruh langsung terdengar di antara kerumunan. Wajah-wajah yang tadi cemas kini berubah menjadi bingung dan tak percaya.

"Itu... itu benar?" tanya seorang ibu muda sambil memeluk anaknya, matanya terbelalak. "Kita tidak perlu lagi memberikan gandum kepada pengawas sekte?"

"Kedua — Siapa pun yang ditindas, dirampas hartanya, atau diperlakukan tidak adil oleh pejabat maupun pemimpin sekte, boleh langsung melapor ke Sekte Surgawi Langit. Tidak ada batas pangkat, tidak ada batas kedudukan. Setiap laporan akan diperiksa dan diadili dengan adil!"

Seorang pemuda yang dulu pernah dipukuli karena tidak memberi jalan kepada murid sekte, tanpa sadar maju selangkah. "Benarkah... bahkan orang biasa seperti kita bisa melapor kepada penguasa tertinggi?"

"Ketiga — Setiap kota dan desa boleh mengirimkan satu orang wakil untuk menyampaikan keluh kesah secara langsung setahun sekali di Gunung Langit. Tidak ada biaya, tidak ada syarat bakat atau kekuatan!"

Kerumunan itu hening sejenak, lalu tiba-tiba terdengar suara tangis bahagia. Petani tua tadi jatuh berlutut, tangannya gemetar menutup wajahnya.

"Selama puluhan tahun... aku hidup takut ini dan takut itu," ucapnya dengan suara parau penuh air mata. "Aku kira itu sudah takdir kita. Ternyata... ternyata kita bisa hidup seperti ini juga."

"Kita tidak bermimpi, kan?" bisik seorang pedagang dengan mata berkaca-kaca. "Penguasa yang justru melindungi rakyat... aku belum pernah mendengar hal seperti itu seumur hidupku."

Seluruh penduduk Desa atau para petani di seluruh wilayah timur bersuka cita. Mereka mendoakan, agar Sekte Surgawi Langit makin kuat dan berkahi oleh para Dewa.

***

Di Sekte Pedang Ringan yang dulu selalu diperas oleh Sekte Awan Tinggi, para murid dan tetua berkumpul setelah menerima peraturan baru. Wajah mereka penuh rasa syukur dan lega.

"Tidak ada lagi permintaan senjata secara cuma-cuma?" tanya pemimpin sekte itu dengan tak percaya. "Tidak ada lagi perintah untuk mengirim murid teratas menjadi pelayan?"

"Benar," jawab tetua di sampingnya sambil mengangguk kuat. "Mereka bilang — selama kita setia dan tidak berbuat jahat, urusan dalam sekte kita sepenuhnya milik kita sendiri. Kita tidak perlu takut dihapus begitu saja hanya karena sekte besar menginginkan tempat kita."

Seorang murid muda tersenyum lebar, dadanya penuh harapan. "Aku mendengar Guru berkata, Sekte Surgawi Langit tidak memandang rendah siapa pun. Mungkin... suatu hari nanti aku juga bisa pergi ke sana untuk belajar."

"Mungkin saja," ucap pemimpin sekte itu lembut, namun matanya penuh keyakinan. "Mereka berbeda. Bukan karena kuat, tapi karena mereka adil."

***

Di istana kerajaan, Raja menatap peraturan itu berulang kali, tidak berani menyalahkannya. Pangeran yang dulu pergi menyerahkan hadiah kini berdiri di sampingnya.

"Ayahanda," ucap pangeran pelan. "Mereka tidak meminta emas atau permata rakyat. Mereka hanya meminta satu hal — keadilan. Jika kita berbuat baik pada rakyat kita, mereka tidak akan campur tangan."

Raja mengangguk perlahan, wajahnya penuh kekaguman sekaligus rasa malu. "Selama ratusan tahun, kerajaan ini diperintah dengan kekuasaan dan ketakutan. Namun Sekte Surgawi Langit... mereka menguasai bukan dengan pedang, melainkan dengan hati. Tidak heran semua orang tunduk dengan sukarela."

Ia menatap ke arah jendela, ke arah Gunung Langit yang samar di kejauhan. "Kita beruntung. Kita tidak jatuh ke tangan penakluk yang kejam. Kita jatuh ke tangan pelindung yang bijaksana."

***

Di Puncak ke-10, Lin Yue berdiri diam. Ia tidak pergi ke mana-mana, tidak perlu berkeliling untuk mendengar pujian itu.

Namun ia bisa merasakannya — rasa syukur dan harapan yang tumbuh di setiap hati orang di Wilayah Timur. Itu bukan kekuatan yang didapat dari teknik atau batu roh. Itu adalah kekuatan yang jauh lebih besar — kepercayaan.

Su Ling datang melapor dengan wajah berseri-seri. "Guru, seluruh Wilayah Timur tenang. Tidak ada yang takut. Bahkan banyak orang berdoa agar sekte kita tetap berdiri selamanya."

Lin Yue tersenyum tipis, namun tatapannya tetap tenang dan rendah hati. "Itu bukan karena aku. Itu karena mereka akhirnya tahu — mereka berhak hidup dengan baik. Keadilan bukan anugerah dari penguasa. Itu hak setiap orang. Tugas kita hanya satu — menjaganya agar tidak dirampas lagi."

Ia menatap ke arah Wilayah Timur yang kini damai dan makmur.

"Namun ini baru permulaan," ucapnya pelan. "Selatan, Barat, dan Utara... suatu hari nanti, mereka juga berhak merasakan hal yang sama. Bukan dengan pedang, tapi dengan kebenaran yang sama."

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!