Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran
Serangan pertama tidak datang dalam bentuk peluru atau ancaman terbuka, melainkan dalam bentuk yang jauh lebih halus — sesuatu yang, ketika pertama kali muncul di meja kerja Luki, hampir tidak ia sadari sebagai serangan sama sekali.
"Tuan, ada masalah dengan sistem keuangan PT Nusantara Cipta Logistik," lapor kepala divisi keuangan, salah satu dari sedikit bisnis benar-benar legal milik Luki yang selama ini menjadi kebanggaannya — perusahaan logistik yang ia bangun dari nol sejak lima tahun lalu, jauh dari bayang-bayang dunia gelapnya, sebagai bukti bahwa ia bisa menciptakan sesuatu yang bersih.
"Masalah apa?" tanya Luki, menaruh penuh perhatian, mengingat betapa pentingnya perusahaan itu baginya secara personal.
"Ada percobaan akses tidak sah ke server keuangan kami tadi malam. Untungnya sistem keamanan berhasil memblokirnya sebelum data apa pun berhasil dicuri. Tapi—" kepala divisi itu ragu sejenak, "—kami menemukan sesuatu yang aneh. Seseorang menanam file kecil di sistem kami. Bukan virus, bukan sesuatu yang merusak. Hanya... catatan transaksi palsu."
"Transaksi palsu?" Luki mengerutkan kening, tidak mengerti tujuannya.
"Transaksi yang terlihat seperti pencucian uang, Tuan," jelas kepala divisi itu, suaranya semakin tegang. "Kalau ini ditemukan oleh auditor eksternal, atau bocor ke media, bisa terlihat seolah PT Nusantara Cipta Logistik terlibat dalam pencucian uang skala besar — meski sebenarnya semua transaksi kami bersih."
Luki merasakan sesuatu yang dingin merambat di tulang belakangnya, menyadari bahwa ini bukan serangan acak, melainkan sesuatu yang dirancang dengan sangat teliti untuk menghancurkan reputasi bisnis yang selama ini menjadi kebanggaannya — bisnis yang, jika hancur, tidak hanya merugikannya secara finansial, tapi juga menghancurkan citra yang telah ia bangun susah payah sebagai bukti bahwa keluarganya bisa hidup dengan cara yang lebih bersih.
Dalam beberapa hari berikutnya, serangan-serangan kecil serupa mulai muncul di berbagai sektor bisnis legal Luki — laporan pajak yang tiba-tiba "salah", kontrak dengan mitra bisnis lama yang tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan jelas, bahkan artikel-artikel anonim yang mulai beredar di forum-forum bisnis online, mempertanyakan asal-usul kekayaan keluarga Subroto dengan nada yang cukup halus untuk tidak bisa dituntut secara hukum, tapi cukup tajam untuk menanamkan keraguan di benak siapa pun yang membacanya.
"Ini bukan serangan biasa," kata Alena suatu malam, membaca salah satu artikel itu di laptopnya dengan alis berkerut. "Ini terlalu terstruktur, terlalu sabar. Siapa pun yang melakukan ini tidak terburu-buru seperti Antasena dulu."
"Aku tahu," jawab Luki, menggosok wajahnya dengan lelah. "Dan itu yang membuatnya lebih berbahaya. Antasena menyerang dengan kekerasan langsung, sesuatu yang bisa kulawan dengan cara yang aku pahami. Tapi ini—" ia menunjuk ke layar laptop Alena, "—ini serangan yang menyerang fondasi yang telah kubangun untuk membuktikan pada diriku sendiri, dan pada Indra, bahwa aku bisa jadi lebih dari sekadar Tuan L."
Alena meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kita akan mencari tahu siapa di balik ini. Sama seperti dulu."
"Kali ini beda," kata Luki, suaranya penuh kekhawatiran. "Antasena menyerang Indra secara langsung, jadi aku tahu persis harus melawan apa. Tapi ini—" ia menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu Jakarta yang berkelip tenang, seolah tidak menyadari badai yang mulai terbentuk di baliknya, "—ini menyerang segala yang telah kubangun untuk keluar dari bayang-bayang masa laluku. Dan aku bahkan tidak tahu siapa musuhku."
Sementara itu, di kamarnya, Indra — kini berusia sepuluh tahun, tumbuh menjadi remaja awal yang semakin memperhatikan setiap perubahan sekecil apa pun di rumahnya — mulai memperhatikan ketegangan baru yang menyelimuti ayah dan Alena selama beberapa minggu terakhir.
Ia tidak mendengar percakapan lengkap mereka, tapi ia cukup pintar untuk membaca bahasa tubuh, cukup peka untuk menangkap nada suara yang berbeda saat ayahnya menjawab telepon larut malam, cukup jeli untuk memperhatikan bahwa Bram kini lebih sering berada di sekitar rumah dari biasanya, matanya lebih waspada dari yang pernah ia lihat sejak insiden dua tahun lalu.
Suatu malam, setelah memastikan pintu kamarnya tertutup rapat, Indra membuka laptopnya — bukan untuk membuka folder rahasia ayahnya seperti dulu, karena ia sudah berjanji tidak akan melakukan itu lagi setelah trauma yang ia alami. Tapi ia melakukan sesuatu yang, dalam banyak hal, jauh lebih halus dan lebih sesuai dengan kemampuannya sekarang — ia mulai memantau berita dan forum online, mencari pola dalam artikel-artikel anonim yang mempertanyakan bisnis keluarganya, menganalisis waktu publikasinya, gaya bahasanya, bahkan mencoba melacak jejak digital di balik akun-akun anonim itu dengan teknik yang telah ia pelajari sendiri selama dua tahun terakhir dari berbagai sumber online tentang keamanan siber.
Ia belum menemukan apa pun yang konklusif malam itu, tapi ia mencatat setiap detail kecil yang ia temukan di sebuah dokumen tersembunyi, bertekad untuk membantu ayahnya dengan caranya sendiri — kali ini bukan sebagai korban yang harus diselamatkan, melainkan sebagai bagian dari keluarga yang ingin ikut melindungi apa yang mereka miliki bersama.
Kali ini, pikirnya, menutup laptopnya dengan hati-hati, aku nggak akan cuma nunggu diselamatkan.