Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara yang Sudah Dikenal
Pagi itu, Aldenmere bangun lebih awal dari biasanya, atau mungkin hanya terasa begitu bagi mereka yang sudah berjalan menyusuri jalan-jalan batunya sejak sebelum matahari sepenuhnya terbit. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara atap-atap toko, dan asap pertama dari tungku roti mulai naik pelan ke udara yang dingin, membawa aroma gandum panggang yang bercampur dengan bau basah jalanan sisa hujan beberapa hari terakhir.
Arden berjalan di depan rombongan kecilnya, langkahnya tenang meski ranselnya berat berisi perlengkapan untuk tiga hari perjalanan pulang pergi. Di belakangnya, sembilan orang mengikuti dengan formasi longgar yang sudah terbentuk secara alami dari kebiasaan bertahun-tahun: Corym di sisi kanannya, perisai bundar tersandar di punggung; Ilena beberapa langkah di belakang, tasnya berisi alat-alat pemindaian yang dibungkus rapi dalam kain tebal agar tidak terguncang; Tomas paling depan bersama Petra, matanya sudah mulai membaca jalanan seperti kebiasaannya, meski di kota sendiri tidak ada yang perlu benar-benar dilacak.
Doran berjalan agak menyamping, satu tangan terangkat ke arah bahu untuk menyeimbangkan Ashe yang bertengger di sana, sayap kecilnya masih terlipat rapat karena udara pagi terlalu dingin untuk terbang jauh. Di belakang mereka, Brann menggerutu pelan soal ranselnya yang terlalu berat karena ia memaksakan diri membawa tiga jenis ramuan cadangan, sementara Halden berjalan santai di sampingnya, sesekali menawarkan diri membawakan sebagian beban tanpa benar-benar dijawab. Wick berjalan paling belakang, membawa bekal makan siang yang sudah ia siapkan sejak subuh, wajahnya masih setengah mengantuk tapi tetap bersemangat karena ini kali pertama ia ikut misi sejauh ini.
Menuju Menara Verlanth, jalan utama Aldenmere perlahan berubah. Toko-toko dan rumah biasa mulai digantikan oleh bangunan yang lebih besar dan lebih baru: kantor-kantor pendaftaran guild, gudang penyimpanan relik sementara, kios-kios penjual perlengkapan ekspedisi dengan etalase penuh senjata dan jubah pelindung. Semakin dekat ke kaki menara, semakin ramai pula jalanan, dipadati petualang dari berbagai latar belakang, sebagian mengenakan lambang guild besar yang disulam rapi di dada mereka, sebagian lain seperti Jangkar Kelabu, tanpa lambang apa pun selain kepercayaan mereka satu sama lain.
"Selalu aneh," gumam Petra, berjalan di sisi Arden sekarang, matanya menyapu deretan bangunan tinggi di sekitar mereka, "betapa cepat kota berubah begitu kita mendekati menara. Seolah seluruh kota ini dibangun untuk melayani satu bangunan saja."
"Karena memang begitu," jawab Corym dari sisi lain. "Aldenmere tidak akan ada tanpa Menara Verlanth. Bahkan nama kota ini konon diambil dari kata lama yang berarti 'gerbang penjaga'."
"Aku tidak pernah dengar itu."
"Karena kau tidak pernah bertanya pada orang yang tepat," kata Corym, tersenyum tipis.
Mereka berbelok memasuki jalan yang lebih lebar, dan di sanalah Menara Verlanth akhirnya berdiri utuh di hadapan mereka, bukan sekadar siluet jauh dari jendela markas. Dari dekat, ukurannya terasa berbeda sepenuhnya. Dindingnya terbuat dari batu abu-abu gelap yang tidak seperti batu bangunan lain di kota, permukaannya halus tanpa bekas pahatan tangan manusia, seolah menara itu tumbuh dari tanah alih-alih dibangun oleh siapa pun. Puncaknya, seperti biasa, tertutup kabut tipis yang tidak pernah benar-benar hilang, bahkan di pagi paling cerah sekalipun.
Arden mendongak sejenak, kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang meski ia sudah ratusan kali berdiri di titik yang sama. Ada sesuatu tentang menara ini, tentang semua menara di seluruh benua, yang membuat siapa pun yang menatapnya cukup lama merasa kecil, bukan karena ketinggiannya, tapi karena ketidaktahuan tentang apa yang sebenarnya ada di dalamnya.
Kali ini, ia menahan diri untuk tidak menatapnya terlalu lama.
...----------------...
Gerbang akses Menara Verlanth berupa struktur batu besar di kaki menara, dijaga oleh petugas Guild berseragam yang duduk di balik meja pendaftaran panjang, memeriksa dokumen izin satu per satu dengan kecepatan yang tidak pernah cukup cepat bagi mereka yang mengantre. Antrean pagi itu cukup panjang, sebagian besar terdiri dari kelompok-kelompok yang mengenakan lambang guild besar, seragam mereka rapi dan seragam, senjata mereka mengilap seolah baru saja dipoles semalaman.
Ness sudah mengurus dokumen kontrak dan izin akses mereka sebelumnya, jadi Arden hanya perlu menyerahkan segel kecil berukir yang menandakan status Jangkar Kelabu sebagai kelompok terdaftar resmi, meski independen. Petugas di meja memeriksanya sekilas, membandingkannya dengan catatan di buku besar di depannya, lalu mengangguk singkat.
"Lantai menengah, kontrak Draymoor," kata petugas itu, lebih pada dirinya sendiri saat mencatat. "Durasi maksimal tiga hari sesuai izin. Kalau melewati itu tanpa laporan, tim pencari akan dikirim menyusul."
"Kami paham," kata Arden.
"Baik. Selamat berburu."
Mereka melangkah menjauh dari meja pendaftaran menuju area tunggu, tempat kelompok-kelompok lain berkumpul menunggu giliran memasuki gerbang utama menara itu sendiri. Di sanalah mereka berpapasan dengan rombongan besar yang mengenakan lambang emas dan biru Guild Aldenmere Utama, kelompok yang jumlahnya hampir dua kali lipat Jangkar Kelabu, lengkap dengan seorang pemimpin bertubuh tegap yang berdiri paling depan, tangannya bersandar di gagang pedang besar dengan gaya yang terlalu dibuat-buat untuk terlihat santai.
Pemimpin itu, seorang pria bernama yang tidak sempat didengar jelas oleh Arden, melirik rombongan mereka dengan tatapan menilai, matanya berhenti sejenak di lambang kecil Jangkar Kelabu yang disulam di bahu jubah Corym.
"Jangkar Kelabu," katanya, cukup keras untuk didengar oleh anggotanya sendiri, nada suaranya jelas bukan sapaan. "Masih di lantai menengah, ya? Kupikir kalian sudah cukup lama beroperasi untuk setidaknya mencoba lantai bawah sekali-sekali."
Beberapa anggota rombongan itu tertawa kecil, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk terdengar oleh siapa pun yang berdiri dekat.
Petra menegang di sebelah Arden, rahangnya mengencang, tangannya secara refleks bergerak sedikit ke arah gagang pedangnya sebelum ia menahan diri. Halden meletakkan tangan ringan di bahunya dari belakang, tidak menahan secara fisik, hanya sebuah pengingat halus.
Arden menoleh ke arah pria itu dengan ekspresi yang tetap datar, tenang, hampir terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya menyulut kemarahan.
"Kami mengambil kontrak yang sesuai dengan kebutuhan klien kami," kata Arden, suaranya tidak naik satu nada pun. "Kebetulan kontrak kali ini berada di lantai menengah. Bukan berarti kami tidak mampu lebih dalam, hanya saja kami tidak pernah mengambil misi berdasarkan seberapa dalam lantainya, melainkan seberapa perlu misi itu diselesaikan."
"Alasan yang bagus untuk kelompok yang tidak pernah benar-benar diuji," balas pria itu, senyumnya masih terpasang, meski sedikit lebih kaku sekarang.
"Mungkin," kata Arden, "atau mungkin kami hanya lebih pandai memilih pertempuran yang benar-benar layak diperjuangkan."
Ada jeda singkat, cukup lama untuk terasa canggung bagi sebagian anggota rombongan besar itu sendiri. Pemimpin mereka akhirnya mendengus pelan, memutuskan untuk tidak melanjutkan, dan berbalik memberi aba-aba pada anggotanya untuk bergerak menuju gerbang utama yang baru saja terbuka bagi giliran mereka.
Begitu rombongan itu cukup jauh, Petra menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan, bahunya turun sedikit. "Aku tidak percaya kau bisa sesantai itu."
"Aku tidak santai," kata Arden, pelan, hanya untuk didengar rombongannya sendiri. "Aku hanya tahu bahwa membalas ejekan dengan amarah tidak pernah mengubah pendapat orang seperti itu tentang kita. Yang bisa mengubahnya hanya hasil kerja kita sendiri, bukan kata-kata di depan gerbang."
"Tapi rasanya menyebalkan," gerutu Petra, meski nada suaranya sudah lebih tenang.
"Aku tahu," kata Arden. "Kadang hal yang benar tetap terasa menyebalkan untuk dilakukan."
Corym menepuk bahu Petra sekali, lebih ringan dari Halden sebelumnya. "Kau menahan diri dengan baik tadi. Itu bukan hal kecil di usiamu."
Petra hanya mengangguk, meski senyum kecil muncul di ujung bibirnya, tanda bahwa pujian itu cukup untuk meredakan sisa kekesalannya.
...----------------...
Giliran mereka tiba tidak lama setelahnya. Gerbang utama Menara Verlanth berupa lorong batu besar yang mengarah langsung ke ruang masuk pertama, tempat sebuah lingkaran ukiran raksasa terpahat di lantai, bercahaya redup kebiruan yang berdenyut pelan seperti detak jantung yang sangat lambat. Di sinilah para petualang memilih tujuan lantai mereka, disesuaikan dengan izin yang sudah mereka miliki.
"Aku akan mengecek jalur dari udara dulu," kata Doran, sudah bersiap di dekat celah cahaya alami yang masuk dari salah satu sisi ruang masuk, tempat Ashe bisa terbang keluar menuju bukaan yang menghubungkan lantai-lantai bawah menara dengan langit terbuka di luar, sebuah fitur yang hanya dimiliki beberapa lantai teratas dan sedikit lantai menengah tertentu. "Lantai menengah Verlanth punya beberapa area terbuka. Aku bisa memetakan sebagian rute sebelum kita masuk penuh."
"Berapa lama?" tanya Arden.
"Setengah jam, mungkin sedikit lebih." Doran mengelus bulu Ashe sekali, familiarnya mengeluarkan suara decitan pelan seolah menjawab, lalu melompat dari bahunya, sayapnya membentang penuh saat meluncur menuju celah cahaya itu dan menghilang ke arah langit.
Sambil menunggu, Tomas memeriksa peta lantai menengah yang diberikan pihak Guild bersama izin akses mereka, membandingkannya dengan catatan singkat yang disertakan dalam kontrak Draymoor soal lokasi terakhir relik keluarganya terlihat.
"Petanya cukup usang," gumam Tomas, lebih pada dirinya sendiri, meski cukup keras untuk didengar Arden yang berdiri dekat. "Beberapa area ditandai belum dipetakan ulang sejak dua puluh tahun lalu."
"Wajar untuk lantai menengah yang jarang dieksplorasi ulang," kata Ilena, sudah duduk di bangku kayu dekat dinding, mengeluarkan alat pemindainya dari bungkus kainnya untuk melakukan pemeriksaan rutin sebelum memasuki lantai. Prisma kecil itu menyala dengan cahaya redup yang stabil, berbeda dari kedipan aneh yang sempat mengganggunya beberapa malam lalu. "Selama kita berpegang pada arah umum, kita seharusnya bisa menemukan jalan meski petanya tidak sepenuhnya akurat."
Brann duduk di sebelahnya, memeriksa isi ranselnya sekali lagi, menghitung botol-botol ramuan dengan bibir bergerak pelan tanpa suara. Wick duduk di dekat mereka, mengamati seluruh ruang masuk dengan mata lebar, jelas ini pertama kalinya ia benar-benar berdiri sedekat ini dengan gerbang utama Menara.
"Ini beda sekali dari yang aku bayangkan," gumam Wick, lebih pada dirinya sendiri.
"Lebih besar atau lebih kecil?" tanya Halden, yang berdiri tak jauh darinya, mengasah ulang pedangnya meski sudah tajam, kebiasaan yang tidak pernah benar-benar berhenti bahkan saat menunggu.
"Lebih... hidup," kata Wick, mencoba mencari kata yang tepat. "Aku pikir tempat seperti ini akan terasa mati. Tapi cahayanya bergerak seperti itu berdenyut, dan udaranya terasa seperti sedang menunggu sesuatu."
Halden tersenyum tipis, tidak mengejek. "Kau tidak salah. Menara memang terasa begitu bagi kebanyakan orang pertama kali masuk. Kau akan terbiasa."
Setengah jam kemudian, seperti janjinya, Doran kembali melalui celah cahaya yang sama, Ashe mendarat di bahunya dengan napas terengah kecil, bulu-bulunya sedikit berantakan karena angin di ketinggian.
"Jalur utara terbuka," lapor Doran, langsung menuju kelompok. "Ada beberapa area terbuka yang cocok dengan tanda di peta lama, kemungkinan besar mengarah ke bagian menara yang disebutkan dalam catatan Draymoor. Tidak ada tanda bahaya besar dari udara, hanya beberapa monster kecil yang biasa ditemukan di lantai ini."
"Bagus," kata Arden, mengangguk. "Kita ikuti jalur itu. Tomas, pimpin di depan."
Tomas mengangguk sekali, tanpa banyak kata, melangkah ke arah lingkaran ukiran raksasa di lantai, tempat petugas menara sudah menunggu untuk mengaktifkan jalur menuju lantai menengah sesuai izin mereka. Sisa rombongan mengikutinya, formasi mereka kembali tersusun rapi tanpa perlu diperintahkan lagi, kebiasaan yang sudah tertanam dalam dari bertahun-tahun bekerja sama.
...----------------...
Petugas menara mengucapkan mantra singkat, lebih mirip perintah teknis daripada sihir yang mengesankan, dan lingkaran ukiran di lantai berdenyut lebih terang sesaat sebelum sebuah pintu besar di ujung ruangan, yang sebelumnya tampak seperti dinding batu biasa, mulai terbuka perlahan dengan suara gesekan batu yang dalam dan berat.
Di baliknya, kegelapan lantai menengah Menara Verlanth menunggu, hanya sebagian tersinari oleh cahaya kebiruan lemah yang berasal dari kristal-kristal kecil yang tumbuh alami di sepanjang dinding lorong masuk, memberi kesan seperti memasuki gua bawah tanah yang sudah lama ditinggalkan namun masih hidup dengan caranya sendiri.
Arden melangkah maju terlebih dahulu, seperti biasa, memimpin dari depan bukan karena ia menuntut posisi itu, tapi karena begitulah kebiasaannya sejak kelompok ini pertama kali terbentuk.
Di belakangnya, Ilena berhenti sejenak di ambang pintu, prisma kecilnya masih menyala di tangannya. Ia menatapnya sekilas, alisnya mengerut tipis.
"Tunggu," katanya, cukup pelan hingga hanya beberapa orang terdekat yang mendengar.
Arden menoleh. "Ada apa?"
Ilena tidak menjawab segera. Ia menarik napas dalam, seolah mencoba mencium sesuatu yang tidak seharusnya ada, matanya menyipit menatap kegelapan di depan mereka.
"Udaranya," katanya akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "terasa salah."
"Salah bagaimana?" tanya Corym, sudah berdiri siaga di sisi Arden.
"Aku tidak tahu persis." Ilena menggeleng pelan, frustrasi dengan ketidakmampuannya sendiri untuk menjelaskan apa yang ia rasakan. "Bukan sesuatu yang bisa kubaca dari prismaku. Hanya... perasaan. Seperti udara ini sudah menunggu sesuatu terlalu lama, dan sekarang ia tahu kita datang."
Ruangan hening sejenak. Wick, yang berdiri di dekat pintu, secara refleks melangkah setengah langkah lebih dekat ke arah Halden, meski tidak ada apa pun yang terlihat mengancam di kegelapan lorong itu.
Arden menatap ke dalam lorong yang masih diselimuti bayangan, kristal-kristal biru berkedip pelan seperti mata yang setengah terjaga, dan untuk sesaat, ia teringat kabut di puncak menara yang bergeser aneh malam itu, teringat sesak sesaat di dadanya saat menyentuh map kontrak Draymoor.
Ia mendorong ingatan itu ke belakang, seperti yang selalu ia lakukan pada hal-hal yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kita tetap waspada," katanya akhirnya, suaranya tenang meski sesuatu di dalam dirinya tidak sepenuhnya setenang itu. "Tapi kita sudah datang sejauh ini. Kontrak ini masih terlihat seperti misi rutin, dan kita tidak akan mundur hanya karena firasat."
Ilena mengangguk, meski matanya masih menatap kegelapan di depan mereka dengan waspada, prismanya belum sepenuhnya ia simpan kembali.
Tomas melangkah maju lebih dulu, memimpin seperti yang diperintahkan, langkahnya hati-hati menyusuri lorong yang mulai menyempit. Satu per satu, anggota Jangkar Kelabu mengikuti masuk ke dalam kegelapan berkilau biru itu, meninggalkan cahaya pagi di belakang mereka.
Di ambang pintu, sebelum melangkah masuk sepenuhnya, Arden menoleh sekali lagi ke arah gerbang yang mulai tertutup perlahan di belakang mereka, ke sekilas langit pagi Aldenmere yang masih terlihat melalui celah yang menyempit.
Lalu pintu batu itu menutup sepenuhnya dengan suara berat yang bergema panjang di sepanjang lorong, dan kegelapan lantai menengah Menara Verlanth menelan mereka seutuhnya.