NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Keesokan paginya, warga desa yang tinggal di sekitar pinggiran hutan dikejutkan oleh pemandangan yang sama sekali tidak biasa. Terlihat asap hitam pekat membumbung tinggi ke angkasa, membelah awan pagi dan membuat langit di atas hutan belantara tampak redup serta suram.

Bau hangus yang sangat menyengat dan bau sangit khas kayu terbakar mulai tercium kuat, terbawa angin merayap ke seluruh pelosok desa. Pemandangan itu seketika memancing rasa penasaran sekaligus kekhawatiran meluas.

Beberapa warga dengan tergesa-gesa keluar dari rumah mereka, menatap ke arah hutan dengan raut cemas. Mereka saling bertukar pandang dan bertanya-tanya, "Ada apa di sana? Kenapa ada asap setebal itu?" Sebagian warga berinisiatif bergegas melangkah menuju sumber datangnya asap, ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Para warga berbondong-bondong berjalan beriringan menuju area hutan. Beberapa di antaranya bahkan membawa wadah dan ember berisi air seadanya, berjaga-jaga jika terjadi kebakaran lahan yang meluas.

Mereka menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui para pemburu. Namun, makin jauh melangkah masuk ke kedalaman hutan, atmosfer di sekeliling mereka terasa kian sunyi dan mencekam. Dedaunan hijau di kanan-kiri jalur kini tampak kotor tertutup debu serta abu hitam yang beterbangan. Sinar matahari pagi pun sulit menembus lebatnya tajuk pepohonan, menambah kesan kelam perjalanan tersebut. Hanya suara gemerisik ranting dan derap langkah kaki warga yang terdengar di tengah heningnya belantara.

Setelah berjalan beberapa ratus meter, langkah warga mendadak terhenti total. Di hadapan mereka, berdiri reruntuhan sebuah gubuk yang telah sepenuhnya musnah dilahap api. Sisa-sisa tiang kayu yang menghitam masih mengeluarkan kepulan asap tebal, sementara tanah di sekitarnya hangus legam akibat kobaran api hebat yang mengamuk sepanjang malam.

Warga saling pandang dengan raut wajah menegang.

"Gubuk ini... kan...?" ucap salah seorang warga dengan suara gemetar, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Seorang pria yang lebih tua mengangguk pelan dengan pandangan nanar. "Ya.Ini gubuk tempat Nina dan Gendis diasingkan..." sahutnya lirih. Seketika itu juga, keheningan melingkupi kerumunan warga. Ketakutan serta rasa bersalah mendadak merayap halus di antara mereka yang menyaksikan pemandangan mengerikan itu.

Berita tentang terbakarnya gubuk pengasingan Nina menyebar cepat bagai liarnya api. Ketika kabar duka itu sampai ke telinga Ustadz Imam dan Bu Maya, pasangan suami istri itu seketika syok dan amat terpukul.

Ustadz Imam terduduk termenung, dadanya sesak mencoba mencerna kabar memilukan tersebut. Bagaimana mungkin bencana bertubi-tubi terus menghantam Nina dan anak balitanya yang tak berdosa.

Bu Maya mencengkeram erat jemari suaminya, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Pak... bagaimana ini? Apakah keadaan Nina dan Gendis baik-baik saja? Apakah mereka selamat?!" tanyanya dengan suara serak menahan tangis.

Ustadz Imam menghela napas panjang yang amat berat, berusaha menguasai jiwanya yang berguncang. "Kita harus segera menuju ke sana untuk memastikan kondisi mereka, Bu. Semoga Allah memberikan keajaiban dan melindungi mereka berdua," ujar Ustadz Imam penuh kecemasan.

Tanpa menunda waktu, Ustadz Imam bergegas menuju lokasi di dalam hutan, menyusul kerumunan warga yang masih memadati area reruntuhan. Setibanya di lokasi yang dipenuhi aroma sangit dan puing-puing abu, Ustadz Imam mendekati beberapa warga yang sedang berdiskusi cemas.

"Bagaimana, Bapak-bapak? Apakah ada tanda-tanda Nina dan Gendis selamat dari musibah ini?" tanya Ustadz Imam meski tatapannya gelisah.

Seorang warga menggelengkan kepala dengan ekspresi penuh keprihatinan. "Belum ada tanda-tanda, Ustadz. Kami sudah mencoba menyisir area sekitar gubuk, tapi sampai sekarang belum menemukan keberadaan mereka," jawabnya bernada berat.

Ustadz Imam terdiam kaku. Hatinya mencelos ke dasar paling dalam. Ia hanya bisa menundukkan kepala, memanjatkan doa khusyuk di dalam hati agar ada keajaiban bagi Nina dan anaknya.

Di sisi lain, Bu Maya yang menyusul tak kuasa menahan tangisnya yang pecah. Pikirannya terus terngiang pada momen kemarin sore. Rasa penyesalan yang amat mendalam menghantam dadanya. Seandainya saja kemarin ia lebih keras membujuk Nina agar mau menerima tawaran tinggal di rumah saudaranya, mungkin tragedi mengerikan ini tidak akan pernah terjadi.

Dengan napas tersengal oleh isak tangis, Bu Maya berbisik lirih, "Andai saja Nina mau menerima bantuan kita kemarin, mungkin sekarang aku masih bisa melihatnya, melihat dia dan Gendis tersenyum..."

Ustadz Imam merangkul bahu istrinya dengan lembut, mencoba menjadi penopang di tengah penderitaan itu. "Bu, ini semua sudah dalam ketentuan Allah. Kita hanya bisa berdoa dan terus mencari. Semoga ada keajaiban untuk mereka berdua..."

*

Di tempat lain, Roni dan Hana yang baru saja terbangun dari tidur diganggu oleh keramaian warga yang melintas di depan rumah mereka. Suara-suara cemas dari luar memancing rasa penasaran Roni. Keduanya pun melangkah keluar untuk mencari tahu.

"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali pagi-pagi?" tanya Roni bingung pada sekelompok warga yang lewat.

Salah seorang warga yang baru kembali dari lokasi kejadian menatap Roni dengan wajah pucat dan pandangan sulit diartikan. "Ada kebakaran besar di dalam hutan, Ron! Gubuk tempat Nina dan Gendis diasingkan terbakar rata dengan tanah... semuanya hangus. Kami baru saja dari sana."

DEG!

Roni membeku. Seketika itu juga seluruh aliran darah di tubuhnya terasa dingin membeku. Matanya membelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengarannya. Sementara di sampingnya, Hana tampak terkejut sejenak, namun dengan sangat cepat menguasai diri dan menyembunyikan kilat kepuasan di wajahnya.

"Kebakaran... di gubuk Nina?" gumam Roni dengan tenggorokan kering. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam godam. Perasaan bersalah, syok, dan bayangan anak perempuannya mendadak berkecamuk hebat menghancurkan ketenangannya.

Tanpa memedulikan panggilannya, Roni mendadak berlari kencang menerobos jalanan tanah dan kerikil tajam tanpa mengenakan alas kaki. Pria itu berlari kesetanan menembus semak belukar hutan hingga tiba di lokasi reruntuhan.

Setibanya di sana, menyaksikan gubuk yang kini hanya menyisakan puing-puing kayu hitam berasap, dada Roni serasa dihantam batu besar. Napasnya tersengal-sengal, lututnya lemas hingga ia jatuh berlutut di atas tanah yang tertutup abu. Air mata Roni menetes deras tanpa sanggup dibendungnya. Rasa penderitaan dan keraguan yang selama ini terkunci mulai mendobrak dadanya.

Melihat Roni yang tampak begitu rapuh dan terguncang hebat, Hana yang menyusul dari belakang tak membiarkan selubung pengaruhnya memudar. Perempuan itu melangkah mendekat, berlutut di samping Roni, lalu melancarkan manipulasi beracunnya.

Dengan wajah yang dipasang penuh kepura-puraan dan suara lembut yang dipenuhi aura pikat susuk emas di bibirnya, Hana berbisik rapat di telinga Roni.

"Mas... aku tahu ini sangat berat buatmu. Tapi ingat, Mas... mungkin semua kejadian ini adalah bentuk karma dari Gusti Allah," bisik Hana dengan tatapan mata dibuat seolah prihatin. "Nina kan sudah melakukan perzinahan dan mengkhianatimu. Ingat apa yang sudah dia perbuat di rumah ini. Mungkin inilah balasan atas dosa-dosanya, Mas. Kita harus ikhlas menerima ini sebagai jalan takdir."

Racun kata-kata Hana yang berpadu dengan sihir penunduk seketika meresap sempurna ke dalam pikiran Roni yang sedang berada di titik terlemah. Di bawah pengaruh mistis itu, rasa sesal dan kesadaran Roni yang baru saja tumbuh perlahan-lahan kembali terkikis dan padam. Logikanya kembali diputarbalikkan, racun pikiran bahwa "ini adalah karma Nina" dijadikan alasan oleh Roni untuk membenarkan semua selama ini.

Roni, yang terduduk lemas dengan mata kosong, akhirnya mengangguk pelan. Ia menerima begitu saja narasi busuk yang disusupkan Hana ke dalam otaknya.

Hana tersenyum puas dalam hati melihat Roni kembali tunduk sepenuhnya. Dengan penuh percaya diri, ia merangkul lengan Roni dan mengajaknya bangkit untuk pulang, meyakini bahwa semesta kini berada sepenuhnya di pihak mereka setelah Nina dan anaknya musnah. Di dalam kepalanya, Hana bahkan telah berencana akan kembali ke lokasi ini sendirian nanti untuk memastikan tak ada sedikit pun jejak Nina yang tersisa.

Namun... tepat saat Hana hendak membalikkan badannya untuk melangkah pergi, pandangan matanya tak sengaja menyapu area tengah pusaran asap reruntuhan gubuk.

DEG!

Langkah Hana terkunci seketika. Di tengah kepulan asap tebal dan tumpukan abu hitam, matanya menangkap sebuah penampakan yang amat mengerikan.

Berdiri di atas tanah hangus itu, sosok penampakan wanita dengan rambut panjang hitam kusut yang terurai acak-acakan. Wajahnya yang penuh luka bakar dan luapan kemarahan menatap lurus menembus manik mata Hana! Dan di dalam dekapannya, wanita itu sedang menggendong erat sosok anak balita!

Itu adalah bayangan gaib dari Nina dan Gendis.

Penampakan mengerikan itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Namun, sorot mata penuh dendam kesumat yang terpancar dari sosok gaib itu begitu menusuk, sanggup membuat seluruh aliran darah di tubuh Hana membeku seketika.

Sebelum Hana sempat berteriak histeris, sosok ibu dan anak itu mendadak menguap lenyap ditelan asap hitam yang membubung.

Tubuh Hana bergetar hebat, bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak, dan rasa percaya dirinya runtuh seketika digantikan oleh ketakutan yang mencekam. Dengan wajah pucat pasi dan napas memburu, Hana buru-buru memalingkan wajahnya dan menyeret langkah kakinya menjauh dari hutan bersama Roni, sementara bayangan sorot mata murka dari tengah abu terus membayangi pikirannya.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!