Zaman baru di mulai setelah perang langit besar berakhir. Memusnahkan dua ras terkuat di tiga dunia , darah para dewa dan iblis mengotori dunia manusia. Di tengah tengah badai petir merah dan hujan darah , suara Isak tangis anak kecil pecah di antara puing puing patung dewa yang kepalanya telah patah. Ia bernama Shen Yan , membawa kekuatan kuno mata dewa yang berbahaya. Desas desus mengatakan "Jika mata dewa terbangun sepenuhnya maka dunia akan di lahirkan kembali atau membawa dunia dalam kehancuran".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elz., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Terobosan , Petaka Petir Iblis Hati
Bab 26 : Terobosan , Petaka Petir Iblis Hati.
_______
Fenomena aneh terjadi di atas langit , semua murid berkumpul untuk menyaksikan bulan kembar di atas langit malam.
"Fenomena apa ini? Jangan jangan akan ada harta langit yang lahir!"
"Tidak! Ini berbeda , ini bukan kelahiran harta langit! Ini sesuatu yang lain!"
Beberapa murid di Puncak Terang sedang membicarakan fenomena bulan kembar di langit. Namun berbeda dengan para murid yang berpikir demikian , para Tetua sepertinya merasakan sesuatu yang lain.
"Siapa yang akan menerobos!" gumam Tetua Chang Sheng.
"Fenomena langit dan bumi! Lagi lagi ada orang yang akan menantang langit!" ucap Tetua dengan pedang khas di tubuhnya , ia membuka matanya dan terbangun dari meditasinya karena merasakan energi spiritual langit dan bumi samar samar menyelimuti Puncak Terang.
_______
Puncak Meditasi , Ruang Khusus Tetua Ming Yue.
"Aku putuskan akan mencoba menerobos sekali lagi! Jika gagal , maka aku tidak akan punya kesempatan lagi dalam hidup ini!"
Sepasang mata indah dengan sudut melengkung ke atas terbuka secara perlahan. Aura di tubuhnya telah bocor karena terlalu memenuhi seluruh dantiannya. Tetua Ming Yue memutuskan akan mencoba menerobos ke ranah Transformasi Jiwa.
Ia membentuk segel tangan dengan cepat. Gelombang kejutnya menyebar hingga membuat seluruh Puncak Meditasi bergetar dalam hitungan detik. Semua murid Puncak Meditasi segera berkumpul di depan kediaman pribadi Tetua Ming Yue.
"Apakah guru akan menerobos?" Liu Feng penasaran.
"Sepertinya guru memang akan menerobos!" ucap Cheng Yuan.
Sementara Shen Yan yang sedang menyerap batu spiritual tingkat tinggi , segera menghentikan pelatihannya karena merasakan gelombang kejut yang datang sebelumnya.
"Aura ini! Apakah guru akan menerobos?" gumamnya.
Tubuh Shen Yan berkedip , detik selanjutnya tubuhnya muncul di atas atap rumahnya. Ia menatap kediaman pribadi Tetua Ming Yue , lalu mengangkat kepalanya melihat fenomena bulan kembar di atas langit. Ia sedikit mengerutkan keningnya dan menghela nafasnya dalam dalam.
"Boom"
Langit meledak secara tiba tiba dan awan emas dengan cepat berkumpul membentuk sebuah pusaran emas. Retakan Dao tercipta di tengah tengahnya memuntahkan energi spiritual yang sangat melimpah. Cahaya biru keemasan dari dalam kediaman Tetua Ming Yue meledak , menusuk langit di sertai gelombang kejut yang di dapat di rasakan semua orang.
"Tap Tap Tap"
Beberapa sosok Tetua muncul secara tiba tiba di atas udara kosong wilayah Puncak Meditasi. Mereka datang untuk menyaksikan terobosan Tetua Ming Yue.
"Yue'er akan mencoba sekali lagi! Kali ini fenomena langit bumi nya sangat kuat!"
Ucap lelaki tua yang berjalan keluar dari dalam ruang kekosongan. Semua Tetua yang mendengarnya seketika memberikan penghormatan untuk Leluhur Wu Chen yang juga datang untuk menonton. Sementara itu Tetua Ming Yue akhirnya muncul , tubuhnya melayang ke atas langit bersiap menantang petaka petir yang mengerikan.
"Ini saatnya!"
"Glek"
Tetua Ming Yue menelan Pil Terobosan dengan cepat. Ia menghunuskan pedangnya bersiap menerima petir pertama.
Shen Yan menyaksikannya dari atap rumahnya , matanya menembus langit. Ia sedikit menerima gambaran di dalam kepalanya , ia cukup tersentak karena tahu kali ini petaka petir yang akan datang adalah petir pemecah hati atau sering di sebut Petir Hati Iblis. Petir ini di kenal sering menggagalkan terobosan seseorang karena terdapat ujian hati di dalamnya.
"Petir Hati Iblis! Jika gagal , Fondasi Dao guru akan runtuh!" gumam Shen Yan.
Kekhawatiran lalu muncul di dalam hati Shen Yan , ia dengan cepat memeriksa isi Cincin Emas milik Zhu Bao di jarinya.
"Ini!" gumamnya.
Sebuah manik manik berwarna putih susu di keluarkan dari dalam Cincin Emas di jarinya. Tubuh Shen Yan berkedip , sedetik kemudian tubuhnya telah muncul di sekitar area Tetua Ming Yue yang tengah bersiap menerima petir pertama.
"Guru! Terima ini!" teriaknya.
Shen Yan segera menghindar dengan cepat setelah melemparkan manik manik putih tersebut , itu karena petaka petir tidak bisa di ganggu oleh siapapun. Tetua Ming Yue menangkap manik manik itu dan mengalungkannya di leher. Para Tetua tersentak setelah menyaksikan aksi nekat Shen Yan yang masuk dalam jangkauan Petaka Petir.
Leluhur Wu Chen menyipitkan matanya , ia sepertinya mengenal manik manik putih susu yang di lemparkan oleh Shen Yan.
"Manik Penenang Jiwa!" gumamnya.
Leluhur Wu Chen lalu menatap Shen Yan yang kini telah berada di atas atap kediamannya. Ia tersenyum , tubuhnya menghilang lalu dalam sekejap muncul di samping Shen Yan.
"Kau sepertinya punya banyak harta langka , Yan'er!"
Shen Yan tersentak mendengar suara Leluhur Wu Chen yang tiba tiba muncul di sampingnya. Ia langsung menangkupkan kedua tangannya memberi hormat lalu menjawab "Itu harta peninggalan kakek ku , Leluhur!".
"Duar"
Petir pertama turun , semua orang di Sekte Puncak Terang terlihat tegang menyaksikan petir yang pertama turun. Tubuh Ming Yue terbang mundur , sudut mulutnya mengeluarkan darah segar. Lautan jiwanya berguncang hebat , ia segera menstabilkan tubuhnya yang terhuyung.
"Ini melebihi ekspektasi ku!" gumamnya.
Langit kembali bergemuruh , gumpalan awan yang terkompresi kembali memercik menciptakan riak yang aneh. Kepala naga ungu kehitaman muncul , membuat nyali Ming Yue sedikit terganggu.
"Dia datang!" gumam Shen Yan.
Leluhur Wu Chen mengerutkan keningnya setelah mendengar gumaman Shen Yan , menatap pusaran langit yang berubah warna menjadi ungu kehitaman.
Tetua Ming Yue bersiap , ia melesat ke langit menyambut petir kedua dengan berani.
"Duar"
Pedang di tangan Tetua Ming Yue remuk menjadi debu , tubuhnya tersambar petir ungu kehitaman dengan kejam. Lautan Jiwa nya kembali berguncang , kali ini retakan muncul di dalamnya. Petir itu masih menyambar meskipun berada di dalam lautan jiwa Tetua Ming Yue. Membuatnya masuk ke dalam Domain Ilusi Iblis Hati.
Semua orang menunggu dengan cemas di bawah , tubuh Tetua Ming Yue masih mengambang di udara kosong.
"Petir Iblis Hati?" gumam Leluhur Wu Chen.
Sepertinya Leluhur Wu Chen telat menyadarinya. Ia menyapu pandangannya ke arah Shen Yan di sampingnya.
"Kau sepertinya sudah menduganya , Yan'er! Aku sekarang mengerti mengapa kau memberikan Manik Penenang Jiwa kepada Yue'er!" ucap Leluhur Wu Chen.
Shen Yan hanya terdiam , matanya masih mengamati pertarungan gurunya di dalam Domain Ilusi Iblis Hati.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya ledakan spiritual tercipta dari tubuh Tetua Ming Yue yang kini penampilannya sedikit berbeda dari sebelumnya. Auranya naik tajam membuat semua orang tahu jika Tetua Ming Yue telah berhasil melewati Domain Ilusi Iblis Hati.
"Dia berhasil!" gumam Shen Yan.
Petir di langit bergemuruh dengan keras , seperti tidak terima wanita di bawahnya telah berhasil melewati pengujiannya. Petir pun kembali di jatuhkan untuk ketiga kalinya.
"Duar"
Tetua Ming Yue berdiri dengan mantap. Keberhasilannya melewati Petir Iblis Hati telah membuatnya menjadi orang yang berbeda. Ia menerima petir terakhir yang menguji tekad nya dengan kepercayaan diri penuh. Hingga akhirnya langit pun kembali cerah , semua orang akhirnya bisa menghela nafasnya lega.
Seruan selamat dari seluruh murid Puncak Terang terdengar menggema di langit , seluruh Tetua datang memberikan hadiah sebagai ucapan selamat kepada Tetua Ming Yue yang sejak saat ini memiliki gelar Tetua Bulan Kembar.
"Terima kasih atas dukungan semuanya! Aku hanya beruntung!" ucapnya.
Di antara lautan manusia yang memuji keberhasilannya , mata cantik Tetua Ming Yue terus mencari menyapukan pandangannya ke segala arah. Leluhur Wu Chen yang menyadarinya segera mengatakan bahwa anak itu telah pergi.
"Aku harus berterima kasih kepadanya!" ucap Tetua Ming Yue.
________