"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pondok Bambu di Puncak Utama
Suara gemuruh dari Bencana Langit telah sepenuhnya padam. Keheningan malam kembali menyelimuti wilayah Sekte Es Abadi, menyisakan hawa dingin yang murni di antara pilar-pilar es.
Mo Xie yang masih duduk bersila di atas batu kristal perlahan membuka matanya. Sirkulasi Hukum Chaos di dalam Dantian barunya berputar dengan sangat tenang dan teratur. Sepasang matanya memancarkan kejernihan yang tak tersentuh oleh gejolak energi di sekitarnya.
Srekk... Srekk...
Suara langkah kaki yang sangat ringan terdengar mendekat dari balik kabut tipis. Sosok anggun Xue Qingyue melangkah menapakkan kakinya di atas tanah puncak yang telah rusak.
Ia menghentikan langkahnya beberapa depak di hadapan Mo Xie. Sepasang mata biru es miliknya menatap pemuda itu dengan pandangan yang tenang.
"Fondasimu sudah benar-benar stabil," ujar Xue Qingyue, suaranya jernih memecah kesunyian malam.
Mo Xie berdiri perlahan. Ia mengibaskan jubah hitam barunya yang bersulamkan lambang sekte, lalu menatap Xue Qingyue. "Ya. Terima kasih atas kristal es murni dan tempat berkultivasi ini... meski pada akhirnya puncakmu hancur."
Xue Qingyue menatap sekilas sekeliling puncaknya yang kini rata dengan tanah. Wajah cantiknya kembali pada ekspresi serius.
"Aku ke sini bukan untuk meratapi puncakkau yang hancur olehmu ini, Mo Xie," potong Xue Qingyue cepat. "Aku datang untuk menyampaikan perintah. Kau dipanggil untuk segera menghadap ke Puncak Utama."
Dahi Mo Xie berkerut rapat. Rasa penasaran langsung mengusik benaknya.
"Puncak Utama?" tanya Mo Xie, melangkah mendekat. "Untuk apa aku dipanggil ke sana?"
Xue Qingyue menoleh sejenak ke arah puncak tertinggi di kejauhan sebelum kembali menatap Mo Xie.
"Puncak Utama adalah kediaman pribadi Ketua Agung," jelas Xue Qingyue dengan nada suara yang merendah penuh penghormatan. "Beliau sendiri yang memintamu datang ke sana secara pribadi, tanpa didampingi siapa pun."
Mo Xie terdiam sejenak. Pemanggilan pribadi dari seorang penguasa di ranah Ascendant tentu bukan hal yang sepele.
"Aku mengerti," sahut Mo Xie pendek.
Tanpa membuang waktu, Mo Xie mengalirkan Qi di dalam dadanya. Di ranah Awakened, kemampuan melayang di udara bukan lagi hal yang mustahil. Dengan satu sentakan kaki yang ringan, tubuhnya terangkat ke atas dan melesat tenang membelah udara malam menuju Puncak Utama.
Begitu mendekati lokasi tujuan, Mo Xie merendahkan ketinggiannya dan mendarat di sebuah jalan setapak.
Namun, alih-alih menemukan bangunan es atau pilar kristal seperti di area sekte lainnya, pandangannya justru disambut oleh hamparan hutan bambu hijau yang tumbuh sangat subur dan tertata rapi.
Mo Xie menghentikan langkahnya, menatap batang-batang bambu hijau di sekelilingnya dengan dahi berkerut heran. Baginya, melihat hutan bambu yang begitu asri dan segar dapat tumbuh kokoh di tengah lingkungan es yang membeku abadi ini adalah sebuah fenomena yang janggal.
Saat telapak kakinya menapak lebih dalam, ia merasakan hawa murni yang mendadak menyapu tubuhnya.
"Qi di tempat ini..." bisik Mo Xie, matanya berbinar pelan.
Pasokan Qi spiritual yang teramat sangat murni mengalir masuk menembus pori-pori kulitnya secara alami tanpa perlu dipaksa. Kerapatan energi di dalam hutan bambu ini begitu masif dan menenangkan.
"Luar biasa," gumam Mo Xie sambil melangkah menyusuri jalan setapak. "Kalau aku berkultivasi di sini, kecepatannya pasti jauh lebih pesat."
Ia terus berjalan menelusuri keheningan hutan bambu, hingga akhirnya pandangannya terbentang pada sebuah halaman kecil yang bersih.
Di tengah halaman tersebut, berdiri sebuah bangunan sederhana—sebuah pondok yang seluruhnya terbuat dari anyaman bambu dan kayu tua. Bangunan itu tampak begitu menyatu dengan alam di sekitarnya.
Tepat saat Mo Xie berhenti di tepi halaman—
"Kau sudah datang, Bocah."
Sebuah suara berat dan dalam terdengar dari dalam pondok bambu. Suara itu membawa kehangatan yang tenang, bergaung lembut di antara rimbunnya dedaunan.
Mo Xie menarik napas dalam-dalam dan merapikan jubahnya. Ia melangkah maju mendekati pintu pondok bambu yang sedikit terbuka.
Ia menyilangkan tangan kirinya di atas kepalan tangan kanannya yang terbalut kain hitam, lalu membungkukkan badannya sedikit.
"Mo Xie memberi salam kepada Ketua Agung," ucap Mo Xie tegas dan penuh rasa hormat.
Suasana di halaman itu mendadak hening sejenak, hanya diiringi gesekan daun bambu yang tertiup angin malam.
"Masuklah," sahut suara Ketua Agung dari dalam pondok.
Mo Xie menegakkan tubuhnya kembali. Tanpa rasa ragu, ia melangkah menaiki tangga kayu, mendorong pelan pintu bambu tersebut, dan melangkah masuk ke dalam.
Perlahan mendorong pintu bambu yang terbuka sedikit. Suara derit halus dari engsel kayu mengiringi langkah kakinya saat memasuki bagian dalam pondok yang sederhana tersebut.
Di tengah ruangan yang beralaskan tikar pandan bersih, sosok Ketua Agung Han Wuyan tampak sedang duduk bersila dengan anggun. Di hadapannya, sebuah meja kayu pendek menopang sebuah teko kecil yang terbuat dari tanah liat merah. Uap putih mengepul tipis dari moncong teko tersebut, memancarkan aroma harum tanaman spiritual yang teramat sangat kaya dan murni.
Begitu aroma gandum dan dedaunan spiritual itu menyentuh indra penciumannya, mata kiri Mo Xie yang memancarkan pendar biru gletser seketika berkedip pelan.
Hanya dari menghirup harum uapnya saja, Mo Xie sudah dapat merasakan sirkulasi Qi Hukum Chaos di dalam Dantian barunya mendadak mendidih halus. Sirkulasi darahnya mengalir jauh lebih deras, membersihkan sisa-sisa sumbatan energi dari Bencana Langit sebelumnya secara alami.
Han Wuyan mengangkat pandangannya, menyambut kehadiran pemuda di hadapannya dengan seulas senyum tipis yang sarat akan kearifan.
Sinar mata tua sang Ketua Agung menyapu seluruh raga Mo Xie dari atas ke bawah. Satu tahun yang lalu, pemuda di hadapannya ini hanyalah seorang praktisi di ranah Mortal yang dipenuhi oleh kobaran api dendam liar yang tak terkendali. Namun kini, sosok yang berdiri di ambang pintu telah bertransformasi secara radikal.
Raut wajah Mo Xie tampak jauh lebih tenang, matanya memancarkan kejernihan, dan hawa keberadaannya terasa sangat pekat. Bahkan melalui penglihatan spiritual seorang Ascendant, Han Wuyan dapat merasakan bahwa kepadatan kultivasi di ranah Awakened milik Mo Xie jauh lebih kokoh dan tak bertepi dibanding praktisi lain pada tingkatan yang sama.
Sang Ketua Agung mengangguk-angguk pelan, memancarkan rasa puas dari balik sorot matanya.
"Duduklah," ucap Han Wuyan tenang, mengisyaratkan tempat di seberang meja kayu.
Tanpa membantah sedikit pun, Mo Xie melangkah mendekat dan menduduki tikar pandan tepat di hadapan penguasa tertinggi Sekte Es Abadi tersebut. Sikap tubuhnya tetap tegap dan sopan, menyimpan kendali penuh atas energi di dalam dadanya.
"Ketua Agung..." Mo Xie akhirnya membuka suara, memecah keheningan yang tenang di antara mereka. "Bolehkah aku tahu apa alasan Beliau memanggilku secara pribadi ke tempat ini?"
Han Wuyan tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Tangan tuanya yang keriput perlahan meraih teko tanah liat, lalu memiringkannya untuk menuangkan cairan hijau keemasan ke dalam sebuah cangkir tanah liat kecil. Cairan itu memancarkan pendar puitis yang hangat di tengah suhu ruangan yang dingin.
Dengan gerakan yang sangat santai, Han Wuyan menyodorkan cangkir kecil berisi teh hangat tersebut ke hadapan Mo Xie.
Tindakan sederhana itu seketika membuat Mo Xie merasa sungkan dan kurang nyaman. Bagi seorang praktisi di ranah Awakened awal, dilayani dan dituangkan minuman secara langsung oleh seorang eksistensi di ranah Ascendant adalah sebuah kehormatan yang teramat sangat berlebihan.
Menyadari ekspresi kaku dan ragu di wajah Mo Xie, Han Wuyan hanya terkekeh rendah tanpa membebankan tekanan statusnya sedikit pun.
"Minumlah," ucap sang Ketua Agung ramah, mengibaskan tangannya pelan.
Mo Xie menarik napas dalam-dalam, meredakan rasa sungkannya. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat cangkir tanah liat tersebut dengan penuh rasa hormat, lalu meneguk cairan hijau keemasan itu hingga tuntas.
Semburan hawa hangat yang teramat sangat murni seketika meledak di dalam kerongkongannya!
Sensasi energi itu mengalir deras menembus setiap pembuluh darah, menyiram Dantian barunya dengan kehangatan murni yang tak terbayangkan. Mo Xie terperanjat pelan saat merasakan Hukum Chaos di dalam raganya—yang semula masih menyisakan riak energi liar akibat peleburan dua kekuatan ekstrem—murni membeku dan bertransformasi menjadi jauh lebih stabil dalam hitungan detik.
"Ini..." gumam Mo Xie, matanya melebar menatap cangkir kosong di genggamannya.
"Ini adalah Teh Daun Spiritual Es Abadi," jelas Han Wuyan pelan, meletakkan kembali teko tanah liatnya ke atas meja. "Pohonnya hanya tumbuh dan bertunas sekali dalam seratus tahun di puncak gunung es tertinggi. Dan daunnya hanya boleh dipetik tepat ketika bulan purnama berdiri tegak di atas kepala."
Mendengar penjelasan mengenai asal-usul ramuan magis tersebut, rasa tidak enak di dalam dada Mo Xie semakin menjadi-jadi.
Ia menatap sang Ketua Agung dengan raut wajah yang sungguh-sungguh. "Minuman ini... ini terlalu berharga untuk seorang praktisi sepertiku, Ketua Agung."