Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Farhan
Sore itu, Farhan benar-benar pergi meninggalkan rumah. Entah kemana tujuannya, yang jelas saat itu Farhan meninggalkanku dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Berhari-hari kunantikan kedatangannya, tapi ternyata nihil, memberi kabar pun tidak. Ingin rasanya aku pulang ke Madiun, ke rumah orang tuaku, tapi pasti malah membebani pikiran mereka karena aku datang seorang diri. Bingung bagaimana harus bersikap karena ibu dan ayah mertua masih di rumah Febi, adik iparku. Mereka berencana pulang setelah syukuran selapan bayi.
Hampir satu minggu berselang, tepatnya lima hari sudah aku berada di rumah mertuaku tanpa Farhan. Berkali-kali kuhubungi ponselnya tapi tidak ada jawaban, beberapa pesan juga ada yang tidak terbaca. Farhan-ku berbeda kali ini.
Sepuluh tahun lebih aku mengenalnya, tentu saja aku hafal sifat dan sikapnya. Farhan memang mudah tersulut emosi, ngambek berhari-hari pun sering. Tapi baru kali ini dia pergi berhari-hari dalam kondisi marah. Sempat ada yang melintas di benakku, apakah Farhan memiliki kekasih baru sehingga dia mudah meninggalkan rumah begitu saja? Tapi cepat-cepat kualihkan pikiran itu, aku yakin Farhan tak serendah itu. Dia sangat setia. Setidaknya di sepuluh tahun kebersamaanku dengannya.
“Tetep jadi pacarku ya, Dir? Aku nggak mau kita putus.” Masih kuingat wajah tampan Farhan kala itu yang merengek supaya aku batal memutuskannya.
Aku tak meliriknya, geli rasanya ketika ada cowok yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Biarpun kami berpacaran hampir dua bulan, aku tetap risih jika harus dikawal kesana kemari. Sebal rasanya, karena setiap hari kawanku hanya Farhan dan Farhan. Sejak Farhan berhasil mendapatkan kata ‘iya’ dari mulutku tepat saat selesai menembakku, sejak saat itu pula teman-teman dekatku sedikit menjauh. Mereka merasa kurang nyaman jika harus ada Farhan di tengah-tengah keriuhan obrolan kami.
“Aku janji nggak ganggu waktu kamu lagi pas sama Ratih dan Yuki.” Aku tetap bergeming, tak mengindahkan sedikitpun rengekannya.
“Ayolah Dira, aku janji asal kita tetap jadian.” Pening rasanya kepalaku mendengar rengekan Farhan sedari tadi.
Sejak pagi dia seperti ini, berjalan tergopoh-gopoh ke kelasku karena tak mendapatiku saat menjemput ke rumah. Aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali supaya tidak sampai berboncengan dengan Farhan. Sudah kuputuskan semalam bahwa aku dan dia selesai, baik sebagai pacar maupun teman.
Tiga bulan lalu dia menembakku, seusai ulangan tengah semester satu. Entah bagaimana awalnya tapi menurut Farhan dia sudah menyukaiku sejak masa orientasi sekolah. Aku ingat saat itu memang sering mendapat surat tanpa nama di mejaku. Kadang aku terhibur membacanya, tapi seringkali aku kesal karena pengirimnya terlalu sok misterius. Maka suatu siang sebelum jam pulang sekolah aku terpikir untuk membalas suratnya. Tentu saja surat balasan itu kuletakkan di mejaku sendiri karena aku yakin dia akan berkunjung kembali ke meja ini.
Keesokan harinya, Farhan benar-benar menampakkan diri. Di surat yang kemarin aku buat memang terdapat nada ancaman bila si pengirim surat yang rajin meletakkan suratnya di mejaku tak segera menunjukkan diri, maka aku bersiap melaporkannya ke dewan guru. Sifatku yang selalu serius tidak bisa membiarkan surat iseng itu terlalu lama menerorku.
Aku sempat kaget ketika tahu siapa dia, namun setelah kuingat-ingat barulah aku sadar ulahnya beberapa bulan ini. Dia salah satu siswa yang ada di lantai dua, sama-sama kelas 10 sepertiku dan kebetulan satu gugus saat masa orientasi sekolah kemarin. Pantas saja dia mengenalku, meski aku tidak hafal namanya tapi aku tahu bahwa murid laki-laki di depanku ini adalah kawan segugusku. Dan ya, aku mengingat satu hal lagi, dia sangat sering membantu security sekolah untuk menyeberangkan siswa-siswi. Lebih tepatnya saat aku yang menyeberang, karena sering kupergoki dia hanya duduk bersama teman-temannya saat Pak Bina dan Pak Sodik, security sekolahku, menyetop bermacam kendaraan saat jam pulang sekolah. Namun ketika aku yang hendak menyeberang, dia bergegas mengambil peran supaya aku bisa sampai di seberang jalan sana dengan selamat.
Senyum dari cowok seusiaku ini tiba-tiba membuyarkan gumaman-gumaman yang muncul dalam hati. Tidak ada rasa sungkan sama sekali. Senyumnya begitu ramah seolah kami saling mengenal lama.
“Jadi kamu?” Tanyaku langsung padanya.
“Namaku Farhan.” Ia mengulurkan tangan, namun sayang aku malas membalasnya.
“Jadi motif kamu apa?” Ditodong pertanyaan yang seperti itu dia pun langsung terdiam, tak ada senyuman lagi di wajahnya. Mungkin dia pikir aku terlalu jutek untuk ukuran perkenalan. Tapi biarlah, biar dia tahu bahwa aku cukup terganggu dengan surat-surat itu.
“Cuma ingin kenal sama kamu.” Jawabnya ramah.
“Namaku Dira.” Kataku ketus.
“Rastadira.” Ia menyebut nama lengkapku. Aku menoleh, dan ia pun tersenyum.
“Mulai besok jangan kirim-kirim surat lagi.” Akhirnya kusampaikan juga maksud tujuanku memintanya kesini. Selain ingin tahu wujud asli si penulis surat, aku juga ingin menyampaikan hal ini supaya tidak ada lagi sorak sorai teman-teman sekelas saat mereka memergoki dan membaca surat itu lebih dulu.
“Siap. Tapi bagi nomor HP kamu, ya.” Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Geli sekali rasanya, perasaan baru dua bulan lalu aku berusia 15 tahun, tapi kenapa aku sudah mendapati anak seusiaku segenit itu?
“Aku cuma mau bilang itu, nggak usah kirim-kirim surat lagi.” Segera kulangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah supaya tak ada kesempatan untuknya mengikutiku dan membantuku menyeberang seperti biasa.
Berhasil. Aku berhasil menyeberang tanpa aksi heroik Farhan. Kini aku sudah di seberang jalan, menanti angkot yang searah dengan daerah rumahku. Aku melihat sekilas ke dalam halaman sekolah, ada Farhan dan teman-temannya di joglo tempat penyimpanan peralatan olahraga. Dongkolnya hati ini karena sudah sepuluh menit berlalu tidak ada satupun angkot yang lewat. Lima belas menit, dua puluh menit, hampir setengah jam aku menantikan angkot itu. Sialnya Farhan masih di joglo dan mengamatiku dari jauh, sehingga mau tak mau aku ambil inisiatif untuk berjalan kaki saja, berharap nanti ada angkot yang mengekor di belakangku.
Aku merapatkan jaket sambil membetulkan letak tali ranselku. Perut yang keroncongan dan panasnya matahari siang ini membuat langkah ini melemah.
“Dira.” Seru sebuah suara di belakangku. Aku menoleh. Ya Tuhan, ternyata Farhan yang mengikutiku.
“Iya ada apa?” Jawabku malas.
“Aku antar pulang, yuk.” Farhan menawarkan.
“Nggak usah, nanti juga ada angkot yang lewat.” Ucapku masih dengan nada malas.
“Nggak akan ada angkot lewat hari ini, Dir. Ada demo sopir angkot di kantor gubernur.”
Deg. Pantas saja tidak ada angkot yang melintas sepanjang aku duduk di halte seberang sekolah. Aku sempat mendengar informasi tentang demo sopir angkot yang menuntut kebijakan tentang transportasi online, tapi aku tidak tahu pasti kapan demo itu berlangsung.
“Pulang sama aku, yuk.” Farhan kembali menawarkan. Berjalan kaki jelas tidak mungkin, butuh waktu kurang lebih satu jam jika aku nekat berjalan kaki ke rumah. Untuk pesan transportasi online juga tidak mungkin, aku tidak punya banyak nyali untuk dibonceng orang asing meskipun melalui platform resmi ojek online.
Melihat Farhan yang rela mengikutiku sampai kesini, ada rasa sungkan juga jika harus menolaknya dua kali. Dan lagi, kondisi perut yang melilit mengharuskanku untuk segera sampai di rumah.
“Terima kasih, ya.” Akhirnya aku naik juga ke boncengan motornya. Farhan jelas tersenyum penuh kemenangan, gadis yang tadi jutek terhadapnya ternyata bersedia menerima bantuannya tanpa penolakan berarti.
Hanya cukup sepuluh menit aku dan Farhan sampai di depan rumah. Ketiadaan angkot siang ini membuat jalanan tampak lengang sehingga mempersingkat perjalananku pulang. Tak ada percakapan sama sekali saat di perjalanan tadi, hanya seruan arah kanan, kiri, lurus, dan stop.
Kuserahkan helmnya, tak lupa aku ucapkan terima kasih untuk tumpangannya.
“Terima kasihnya bisa ganti pakai nomor HP aja, nggak?” Tanyanya dengan nada menggoda. Ternyata tumpangannya barusan berujung pamrih.
“Jangan berpikiran macam-macam, tujuanku baik supaya aku bisa kasih tahu kamu kalau aku sudah sampai rumah dengan selamat. Biar kamu nggak sampai khawatir, tahu sendiri kan kalau resiko di jalan cukup besar.” Terangnya dengan mimik serius. Padahal aku tahu betul kalau dia sedang modus.
“Ya sudah nggak apa-apa, semoga aku sampai di rumah dengan selamat.” Pungkasnya. Aku belum mengeluarkan kalimat apa pun karena Farhan sibuk dengan narasinya sendiri.
“Kamu simpan ini saja, ya.” Dia mengeluarkan secarik kertas kecil yang sedikit kusut dari saku celananya. Ternyata dia sudah menyiapkan salinan nomor ponselnya untukku.
“Terima kasih, ya.” Ucapku setelah kuraih robekan kertas itu dari tangannya. Begini lebih aman daripada aku yang memberikan nomor HP, pikirku.
Keesokan harinya sepulang sekolah aku tak mendapati Farhan membantu Pak Bina bertugas, sempat aku bertanya-tanya kemana anak itu pergi tapi segera kusudahi keherananku karena tak ingin membuat dua sahabatku curiga. Dan di hari kedua pun sama, Farhan tidak kelihatan batang hidungnya. Kemana dia?
Tiba hari keempat, rasa penasaranku tak lagi bisa kubendung. Timbul rasa khawatir karena ucapan terakhirnya kala itu ingin didoakan supaya sampai di rumah dengan selamat. Jika sampai hari ini saja dia belum kelihatan, apakah itu artinya Farhan...? Tidak, aku buang jauh pikiran burukku, aku yakin Farhan sedang di kelasnya untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian tengah semester yang akan berlangsung dua minggu lagi.
Aku sengaja mampir ke galeri seni di lantai dua, kebetulan letak galeri itu berada di pojok, sehingga aku bisa melirik papan absen dari masing-masing kelas yang berjejer. Beruntung karena tidak ada siapapun di galeri, sehingga aku tidak perlu repot memindai hasil karya yang ada disana.
Ada empat ruang kelas di lantai dua ini dan semuanya milik kelas sepuluh. Aku sengaja melambatkan langkah supaya mata ini mudah membaca deretan nama di papan absen. Jangan dikira aku melenggang santai saat ini, justru tubuhku mulai mengeluarkan keringat dingin saking gugupnya. Khawatir kalau-kalau ada Farhan memergokiku.
Farhan Dwi M. Dari keempat kelas yang kulirik papan absennya, ternyata kelas yang paling dekat dengan tangga menuliskan sebuah nama di whiteboard kecil yang berada di dinding samping meja guru.
Perasaanku berdebar tidak karuan saat tiba di kelasku sendiri. Ada perasaan takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Farhan setelah mengantarku pulang, apalagi melihat tulisan “4 hari” di kolom keterangan.
Kurogoh ponsel yang ada di saku samping tasku. Secepatnya aku membuka aplikasi chat berwarna hijau dan mengetik nama Farhan seusai kutekan tombol tambah pesan. Empat hari lalu aku memang langsung menyalin nomor Farhan dari sobekan kertas ke ponselku, dan hari ini aku bersiap menghubunginya.
‘Siang.. Farhan kah?’ Kukirimkan begitu saja teks itu, tak disangka centang dua langsung berubah warna biru.
‘Hai, Dira...’
‘Akhirnya kamu chat juga. Makasih, ya’
Beberapa chat langsung dikirim Farhan, padahal teks yang kukirim baru satu. Terlihat sekali jika dia sedang senggang karena notifikasi pesan darinya berkali-kali muncul. Informasi mengenai ketidakhadirannya di sekolah juga turut ia jabarkan, meski hanya tertulis ‘ada urusan keluarga’ tapi syukurlah paling tidak sekarang aku tahu jika Farhan tidak dalam kondisi mengkhawatirkan.