NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27_Arisan maut part_3

Puluhan tangan hitam itu bergerak perlahan di atas plafon.

Jari-jari panjang dengan kuku yang retak merayap seperti serangga. Suara gesekan kuku mereka dengan kayu terdengar mengerikan.

Kreeeek...

Kreeeek...

Dodi menatap ke atas. Wajahnya langsung kehilangan warna.

"Tidak..." bisiknya pelan.

"Tidak mungkin..." lanjutnya dengan suara bergetar.

Matanya membelalak lebar, sementara tubuhnya mundur perlahan hingga punggungnya menabrak kursi.

"Aku tidak mau..." ucapnya panik. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Salah satu tangan hitam itu berhenti tepat di atas kepala Dodi.

Lalu...

Sebuah suara anak kecil terdengar dari atas plafon.

"Peserta nomor satu..." Suara itu terdengar lirih. Polos. Namun penuh ancaman. "Waktunya menerima hadiah..."

Dodi langsung menutup telinganya.

"Tidak! Jangan dekat-dekat aku!" teriaknya histeris. Wajahnya dipenuhi ketakutan, kedua matanya berkaca-kaca, sementara tubuhnya gemetar hebat.

Ia berlari menuju pintu. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu...

Brak!

Sebuah tangan hitam muncul dari lantai dan mencengkeram pergelangan kakinya.

"Aaaaah!" Dodi menjerit keras. Wajahnya berubah pucat, sementara kedua tangannya berusaha menarik tubuhnya menjauh.

"Tolong aku! Tolong! Jangan biarkan aku mati!" teriaknya dengan suara pecah. Matanya menatap penuh harapan kepada peserta lain, tetapi tidak ada seorang pun yang berani mendekat.

Rina menutup mulutnya. Wajahnya dipenuhi ketakutan.

"Kita harus menolong dia..." bisiknya pelan. Bibirnya bergetar, sementara air mata mulai mengalir karena tidak sanggup melihat penderitaan Dodi.

Pak Hasan menggeleng cepat.

"Tidak bisa..." ucapnya lirih. Wajahnya terlihat putus asa, sementara matanya terus menatap tangan hitam yang menggenggam Dodi.

"Kalau kita mendekat...mungkin kita juga akan menjadi korban."

Semua terdiam.

Dodi terus diseret perlahan menuju kegelapan di bawah lantai.

Krek...

Krek...

Suara tulangnya seperti tertarik.

"Aku punya keluarga! Aku punya anak! Tolong!" teriaknya. Wajahnya hancur oleh rasa takut, sementara suaranya berubah menjadi tangisan.

Namun nenek tua itu hanya berdiri sambil tersenyum.

"Setiap arisan...Memiliki hadiah." ucapnya tenang. Wajahnya tampak puas, sementara matanya hitam pekat menatap Dodi tanpa rasa iba.

"Dan setiap hadiah...harus diterima." bisiknya.

Tiba-tiba kotak arisan tua itu bergetar.

Bruk!

Bruk!

Bruk!

Dari dalam kotak terdengar suara seperti banyak orang sedang menangis.

"Huuu..."

"Huuu..."

"Huuu..."

Nia langsung memeluk dirinya sendiri.

"Ada apa di dalam kotak itu?" tanyanya ketakutan. Wajahnya pucat, sementara tubuhnya menggigil melihat kotak yang bergerak sendiri.

Nenek itu menoleh perlahan. Senyumnya semakin lebar.

"Kenapa? Kalian penasaran?" tanyanya. Suaranya berubah menjadi lebih berat.

"Di dalam kotak ini...ada nama-nama orang yang pernah bermain arisan denganku." lanjutnya lagi.

Semua peserta saling menatap.

"Arisan?" ulang Wawan pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara dahinya mengerut mencoba memahami perkataan nenek itu.

"Sejak kapan? Siapa kalian sebenarnya?" tanyanya dengan suara tegas.

Nenek itu tertawa kecil.

"Hehehe...Kalian tidak ingat?" ucapnya. Matanya berhenti pada Rina.

"Kalian semua pernah bertemu denganku." lanjutnya datar.

Rina langsung terdiam. Wajahnya berubah panik.

"Tidak..Aku tidak pernah melihatmu." jawabnya cepat. Wajahnya penuh ketakutan, sementara kepalanya menggeleng perlahan.

Nenek itu berjalan mendekat. Langkahnya tidak terdengar. Namun tiba-tiba...Dia sudah berada tepat di depan Rina.

Rina menjerit kecil.

"Aaaa!"

Tubuhnya mundur, wajahnya dipenuhi kengerian.

Nenek itu berbisik.

"Kau yang pertama menemukan undangan. Kau yang membuka pintu. Kau yang menerima permainan ini." Suara nenek itu terdengar seperti berasal dari dalam sumur.

Rina menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa maumu? Apa hubungan semua ini dengan kami?" tanyanya. Suaranya bergetar, sementara tangannya menggenggam erat bajunya sendiri.

Nenek itu menatap delapan peserta.

"Kalian semua...memiliki satu dosa yang sama." katanya pelan.

Ruangan mendadak semakin dingin. Angin berembus dari dalam rumah meskipun semua jendela tertutup.

Pak Hasan mengerutkan kening.

"Dosa? Apa maksudmu?" tanyanya. Wajahnya menunjukkan rasa takut bercampur penasaran.

Nenek itu mengangkat satu gulungan kertas.

"Sepuluh tahun lalu...Ada delapan orang yang berkumpul di rumah ini." katanya datar.

"Kalian pikir....mereka hanya bermain arisan biasa?" tanya Nenek tua itu

Semua membeku. Rina menelan ludah.

"Sepuluh tahun lalu?" bisiknya. Wajahnya semakin pucat. "Aku bahkan tidak mengenal tempat ini."

Nenek itu tertawa.

"Memang...Kalian tidak mengenal tempat ini. Tapi tempat ini....mengenal kalian." jawab Nenek tua itu dengan cepat.

Tiba-tiba dinding rumah tua itu berubah. Bekas-bekas tangan merah muncul satu per satu.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Puluhan.

Siska menjerit.

"Itu apa?!" teriaknya. Wajahnya penuh kepanikan, sementara jarinya menunjuk dinding yang dipenuhi bekas tangan.

Lalu terdengar suara perempuan menangis dari dalam tembok.

"Tolong aku...Tolong keluarkan aku..." suara itu terdengar lirih

Semua langsung diam.

Suara itu terdengar sangat dekat. Bahkan seperti berada tepat di belakang mereka.

Nia perlahan menoleh. Matanya membesar. Di belakangnya berdiri seorang perempuan dengan wajah rusak. Rambutnya menutupi sebagian wajah. Lehernya miring tidak normal.

Nia membeku.

"Ada...Ada seseorang di belakangku..." bisiknya. Wajahnya berubah ketakutan, sementara seluruh tubuhnya kaku.

"Jangan lihat belakang." ucap Rina cepat.

Namun sudah terlambat. Perempuan itu tersenyum. Senyumnya terlalu lebar.

"Akhirnya...Aku menemukan kalian lagi." bisik perempuan berwajah rusak itu.

Lampu kembali mati. Gelap.

Kemudian...Terdengar suara gulungan kertas jatuh dari kotak arisan.

Pluk.

Pluk.

Pluk.

Satu gulungan berhenti tepat di depan kaki Arga.

Nomor 2.

Nenek tua itu tersenyum.

"Peserta berikutnya...sudah dipilih." katanya pelan.

Arga menatap gulungan itu. Wajahnya perlahan berubah pucat.

"Tidak..Tidak mungkin aku..." bisiknya.

Namun dari sudut ruangan... Terdengar suara seseorang tertawa.

"Hehehehehe...Kali ini.....aku ingin bermain lebih lama."

Dan dari kegelapan...

Sosok perempuan berambut panjang mulai merangkak keluar. Dengan kepala terbalik. Menuju Arga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!