NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Sekejap Seisi Asrama Berbalik Menjilat Arum

Menjelang siang, sebuah surat pengosongan rumah dinas ditempel di pintu rumah keluarga Prasetyo.

Petugas inventaris memeriksa setiap perabot milik kesatuan. Lemari, meja, dan tempat tidur diberi tanda. Barang pribadi keluarga dipisahkan ke dalam kardus, sedangkan Bu Yatmi berdiri di teras sambil berteriak bahwa rumah itu adalah hak suaminya.

"Mantan anggota yang diberhentikan tidak lagi berhak menempati rumah dinas," jelas Kapten Iwan. "Ibu diberi waktu sesuai surat untuk mengambil barang pribadi. Hari ini akses rumah dan inventaris diamankan."

"Suami saya belum diputus pengadilan!"

"Perkara pidana memang berjalan. Hak rumah dinas berakhir karena status dinasnya. Itu proses berbeda."

Yatmi menyambar satu vas dari meja teras. Petugas inventaris menunjukkan nomor aset di bawahnya. Ia terpaksa meletakkan kembali benda itu dengan muka merah.

Warga asrama berkumpul dari kejauhan. Kemarin sebagian dari mereka masih datang minum teh di rumah Prasetyo. Hari ini tak seorang pun berani mendekat ketika kardus-kardus dibawa keluar.

"Semua karena Arum!" Yatmi menjerit. "Anak tidak tahu balas budi!"

Bu Inah yang berdiri di dekat warung akhirnya tak tahan. "Delapan tahun anak itu bekerja di rumah Ibu. Kalau masih disebut tidak tahu balas budi, memang utangnya harus dibayar sampai mati?"

Beberapa perempuan mengangguk. Yatmi memaki, lalu mencoba mendekati Blok C-3. Dua petugas perempuan menahan jalannya.

"Jangan mengganggu saksi," kata Iwan. "Kalau Ibu memaksa, kami catat sebagai pelanggaran terhadap pengamanan pemeriksaan."

Kata catat membuat Yatmi berhenti. Setelah semua yang terjadi di aula, ia akhirnya memahami bahwa teriakan tidak lagi bisa menghapus jejak.

Ia dibawa ke luar kompleks bersama barang yang boleh diambil. Pintu rumah dinas disegel, dan nama Prasetyo dilepas dari daftar penghuni.

Di Blok C-3, Arum duduk di ruang tamu dengan secangkir air yang tak disentuh. Bara membawanya pulang setelah apel, lalu meminta Bu Yanti tinggal sampai keadaan lebih tenang.

Tangis Arum sudah berhenti. Yang tersisa justru rasa kosong.

"Selama ini saya pikir mereka memberi saya makan karena kasihan," katanya. "Ternyata mungkin itu uang Ayah."

Bara duduk di seberangnya. "Audit akan menghitung. Jangan memaksa dirimu menyimpulkan semuanya hari ini."

"Kalau jumlahnya tidak cukup untuk delapan tahun?"

"Yang mereka lakukan tetap tidak berubah. Kamu anak, bukan pekerja yang bisa dipaksa membayar atap dengan seluruh masa mudamu."

Arum menunduk. "Saya bahkan pernah berterima kasih ketika diberi pakaian bekas."

"Rasa terima kasihmu tidak membuat kebohongan mereka menjadi benar."

Bu Yanti menaruh semangkuk sup di meja. "Makan dulu, Nduk. Menangis dan berpikir sama-sama menghabiskan tenaga."

Belum sempat Arum menyentuh sendok, terdengar ketukan. Bu Lastri berdiri di depan pintu membawa kotak kue, senyumnya terlalu lebar.

"Saya cuma mau menjenguk. Kasihan Arum pasti kaget."

Di belakangnya, dua perempuan lain membawa buah dan gula. Mereka adalah orang-orang yang kemarin menghindari Arum di koperasi.

"Tidak perlu repot," kata Arum.

Bu Lastri masuk setengah langkah. "Kita kan sama-sama warga asrama. Dari dulu saya sebenarnya tahu kamu anak baik."

Bu Yanti mendengus pelan. "Dari dulu yang kapan? Sebelum atau sesudah Hartono diborgol?"

Senyum Bu Lastri membeku.

Arum berdiri. Ia tidak ingin mempermalukan mereka seperti dirinya pernah dipermalukan, tetapi ia juga tidak mau menerima kedekatan palsu.

"Terima kasih sudah datang," katanya. "Kalau Ibu sungguh ingin membantu, jangan ulang cerita yang belum terbukti. Kuenya bawa pulang saja. Di sini sudah ada makanan."

Salah satu perempuan buru-buru mengangguk. "Tentu, Arum."

"Panggil saya Arum saja."

Mereka pergi dengan langkah canggung. Di halaman, beberapa warga lain yang semula hendak ikut berkunjung mendadak berbalik arah.

Bu Yanti menutup pintu. "Bagus. Kalau semuanya diterima, besok rumah ini jadi toko kue orang merasa bersalah."

Arum tersenyum tipis untuk pertama kalinya hari itu.

Tak lama kemudian, Bu Inah datang tanpa kotak bagus atau senyum berlebihan. Ia hanya membawa sebungkus nasi hangat dari warung.

"Dulu kamu sering menunggu sisa lauk," katanya sambil meletakkan bungkusan. "Hari ini makan yang masih panas. Itu saja."

Arum langsung mengenali perbedaan antara perhatian dan penjilatan. Ia memeluk Bu Inah singkat, membuat perempuan tua itu buru-buru menyeka mata dengan ujung kerudung.

"Saya seharusnya bicara dari dulu," gumam Bu Inah.

"Bu pernah memberi saya makan saat tak ada yang melihat. Saya ingat."

Di teras, Bara menyaksikan keduanya tanpa menyela. Ia juga mencatat dalam hati siapa yang datang ketika Arum tak punya kedudukan dan siapa yang baru muncul setelah Hartono jatuh.

Saat Bu Inah pulang, dua istri prajurit muda menunggu di pagar. Mereka tidak membawa hadiah. Mereka hanya meminta maaf karena pernah diam saat mendengar fitnah.

"Kami takut ikut dimusuhi," kata salah satunya.

Arum menjawab, "Saya mengerti takut. Tapi lain kali, kalau tidak berani membela, setidaknya jangan ikut tertawa."

Keduanya mengangguk dengan wajah merah. Permintaan maaf itu lebih jujur daripada sekotak kue Bu Lastri. Arum menerimanya tanpa berpura-pura bahwa luka langsung hilang.

Bara mendekat setelah mereka pergi. "Kamu bisa menyuruh semua orang pergi kalau lelah."

"Saya ingin tahu siapa yang datang karena kasihan dan siapa yang datang karena takut."

"Sudah tahu?"

Arum melihat bungkusan nasi dari Bu Inah. "Yang tulus biasanya tidak banyak bicara."

Sudut mulut Bara bergerak tipis. "Kamu belajar cepat."

Menjelang sore, Iwan datang membawa pemberitahuan bahwa barang pribadi Arum yang masih tersisa di rumah Prasetyo ditemukan dalam satu peti kecil: dua buku sekolah lama, foto ibunya, dan salinan akta kelahiran yang sebagian tulisannya pudar.

Arum memeluk peti itu. "Mereka bilang semua ini hilang."

"Kami mencatat tempat penemuannya di lemari terkunci," ujar Iwan. "Bawa setelah menandatangani serah terima."

Bara mengambil salinan akta, membaca nama Suryadi Wijaya, lalu melihat satu nomor registrasi yang masih tampak.

"Nomor ini bisa membuka arsip lain," katanya.

Arum menatapnya. "Pak Mayor tahu sesuatu?"

"Aku tahu asal-usulmu tidak sesederhana cerita yang diberikan keluarga Prasetyo. Tapi aku belum punya seluruh bukti."

"Apakah Ayah melakukan sesuatu yang buruk?"

"Tidak." Jawaban Bara datang cepat. "Justru mungkin orang-orang sengaja membuatmu tak pernah tahu seberapa baik namanya."

Arum memegang foto ibunya dan selendang ayahnya sekaligus. Di tengah kehancuran satu keluarga, bagian kecil dari keluarganya sendiri kembali ke tangannya.

Di luar Blok C-3, suara pujian baru mulai beredar. Orang-orang yang dulu memanggilnya pembantu kini berbisik bahwa Mayor Bara menjaga seorang ahli waris prajurit gugur.

Arum tidak ikut mendengar.

Jauh dari asrama, sebuah kereta memasuki Stasiun Malang. Reyhan berdiri di dekat pintu sambil menggenggam koper, tak tahu rumah yang hendak ia tuju sudah disegel dan nama keluarganya telah runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!