NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action / Tamat
Popularitas:196.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Rencana yang Berantakan

Chantika yang terpengaruh obat langsung menyambut agresif kala Enzo mengecup bibirnya. Jemarinya bergerak gelisah mencari kenyamanan di kulit pria yang kini di atasnya.

Enzo tak menyangka malam ini akan bertemu seorang gadis yang tidak membuatnya merasa risih saat disentuh. Bahkan sentuhan ini meski seperti mengantarkan arus listrik ke seluruh tubuhnya, anehnya ia malah merasa nyaman di antara hasratnya yang makn menggelora.

Tak sabar, ia menarik tali kimono tidur yang tak lagi menutupi seluruh tubuhnya karena ulah Chantika. Ia melepas dan melemparkan baju itu asal.

Ia benar-benar merasa gila. Tak menyangka bahwa mencium seorang wanita bisa membuatnya nyaman dan gelisah dalam waktu bersamaan.

"Ahh..."

Chantika mendesah ketika bibir Enzo mengecup dan menyesap kulit lehernya.

KRAK!

Enzo yang sudah tak sabar menarik blouse yang dikenakan Chantika. Ia melucuti pakaian mereka berdua hingga tak tersisa.

Pria itu mengecup setiap inci kulit putih itu. Ia menghisap ujung benda bulat yang ia temukan hingga cairan putih keluar. Tanpa ragu ia menelannya. Lidahnya terjulur menjilat cairan putih yang tertinggal di sudut bibirnya.

"Enak," gumamnya di antara deru napasnya.

Tubuh polos itu bergesekan, bertabrakan tanpa penghalang. Enzo menyelipkan jemarinya di antara jemari Chantika, menggenggamnya erat di atas kasur.

Pinggangnya bergerak semakin cepat. Napasnya memburu, jantungnya berlarian. Sumpah demi apapun ia belum pernah merasakan kenikmatan yang membuatnya merasa gila dan candu sekaligus. Gerakkannya membuat tubuh Chantika terombang ambing.

Wanita itu mendesah, bahkan memekik dalam kungkungan Enzo. Tubuh mereka bergolak, tenggelam dalam kenikmatan yang tak seharusnya mereka reguk.

Hingga akhirnya suara lenguhan panjang keduanya memenuhi ruangan. Enzo mendekap erat tubuh Chantika.

"Mulai malam ini.. Kau adalah milikku," bisik Enzo dengan napas yang belum stabil. "Wanitaku."

Enzo mengecup lembut kening Chantika yang basah oleh peluh.

Malam itu menjadi malam pertama Enzo menyentuh seorang wanita, sekaligus malam pertama ia menyerahkan dirinya pada hasrat yang selama ini selalu berhasil ia kendalikan.

Anehnya, setelah semuanya usai dan Chantika terlelap di dadanya, rasa kantuk perlahan datang menghampirinya.

Pria yang selama ini harus menelan pil tidur agar bisa beristirahat itu kini justru terlelap tanpa meminum apa pun. Entah mengapa, kehangatan dan aroma lembut tubuh Chantika menghadirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hingga akhirnya ia tenggelam dalam mimpi.

***

Di kamar lain_

Bryan akhirnya tersadar. Tangannya terangkat memegang tengkuknya, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

"Sial!"

Umpatnya begitu menyadari Chantika sudah tak ada lagi.

Ia berusaha bangkit, tetapi lutut dan perutnya masih terasa nyeri. Semua itu akibat serangan Chantika.

"Benar-benar liar," gumamnya. Salah satu sudut bibirnya perlahan terangkat. "Padahal dosis obat itu sudah cukup tinggi, tapi dia masih bisa melawan dan bahkan melumpuhkanku. Benar-benar seorang polisi."

Sesaat kemudian, senyum tipis kembali terukir di bibirnya.

"Aku jadi makin penasaran padanya."

Tatapannya kemudian beralih ke map proposal di atas meja yang tadi dibawa Saras.

"Gadis licik itu harus mengobati kekecewaanku malam ini."

Bryan mengambil ponselnya dan menghubungi Saras.

Tak lama, nada sambung terdengar.

 

Di dalam mobil yang melaju menuju rumah, Saras mengernyit saat melihat nama Bryan muncul di layar ponselnya.

"Kenapa dia menghubungiku? Bukannya sekarang seharusnya dia dan Chantika..."

Meski begitu, ia tetap menerima panggilan dan menyalakan mode pengeras suara.

"Halo, Tuan."

"Cari di mana kakakmu itu," suara Bryan terdengar dingin dari seberang. "Aku mau dia kembali ke kamarku secepatnya."

Saras mengernyit.

"Eh, Tuan. Bukankah kita sudah sepakat kalau aku hanya mengantarnya sampai ke kamar Tuan? Selebihnya itu urusan Tuan sendiri," jawabnya, tak ingin disalahkan.

Meski begitu, ia juga penasaran ke mana Chantika pergi. Bukankah tadi kakaknya sudah meminum wine yang dicampur obat?

"Aku tidak peduli," potong Bryan dingin. "Kalau malam ini dia gak kembali ke kamarku, jangan harap kau mendapat investasi dariku."

"Eh, Tuan—"

Tut... tut... tut...

Sambungan terputus. Saras mengembuskan napas kasar.

"Kenapa semuanya jadi berantakan begini? Semua ini gara-gara Chantika. Sialan."

Saras akhirnya menepikan mobilnya di tepi jalan. Ia segera menghubungi nomor Chantika. Namun, sesaat kemudian terdengar nada dering dari dalam tasnya.

"Damn!"

Saras memukul setir dengan kesal. Ia baru teringat. Saat di hotel tadi, diam-diam ia mengambil ponsel Chantika dari dalam tas kakak tirinya itu ketika perempuan tersebut sedang meneguk wine.

Tujuannya jelas. Ia tak ingin Chantika meminta bantuan kepada siapa pun. Bagaimanapun, Chantika adalah seorang polwan. Jika sempat menghubungi rekan kerja atau kantor polisi, seluruh rencananya bisa berantakan. Namun kini, justru ponsel itu menjadi masalah baginya sendiri.

"Ah! Kenapa semuanya jadi berantakan begini?"

Saras mengembuskan napas kasar, lalu menyalakan kembali mesin mobil dan memutar kemudi menuju hotel.

 

Sesampainya di sana, ia bergegas menghampiri meja resepsionis.

"Maaf, Kak. Apa Anda melihat wanita yang tadi masuk ke hotel ini bersama saya?"

Resepsionis tersenyum sopan. "Maaf, Bu. Saya kurang memerhatikan."

Saras mulai gelisah. "Kalau begitu, boleh saya melihat rekaman CCTV? Nomor kakak saya tidak bisa dihubungi. Saya takut terjadi sesuatu."

Resepsionis menggeleng pelan. "Maaf, Bu. Rekaman CCTV tidak dapat diperlihatkan kepada tamu karena merupakan kebijakan hotel. Jika memang ada keadaan darurat, saya bisa menghubungi petugas keamanan untuk membantu melakukan pengecekan."

Saras mengepalkan tangannya di balik tas. "Kalau begitu... tolong bantu saya. Kakak saya menghilang."

Melihat kepanikan di wajah Saras, resepsionis segera menghubungi petugas keamanan hotel. Tak lama kemudian, seorang petugas keamanan datang menghampiri.

"Ada yang bisa kami bantu, Bu?"

"Saya mencari kakak saya. Tadi kami datang bersama sekitar pukul delapan, tetapi sekarang dia menghilang. Saya khawatir terjadi sesuatu."

Petugas keamanan mengangguk.

"Baik, Bu. Kami akan membantu melakukan pengecekan melalui sistem CCTV internal. Namun, mohon maaf, rekamannya tidak bisa kami perlihatkan secara langsung. Jika kami menemukan keberadaan atau arah perginya, kami akan segera memberi tahu Ibu."

"Baik, tolong secepatnya, ya. Saya benar-benar khawatir," pinta Saras dengan wajah cemas.

"Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar."

Petugas keamanan mengangguk, lalu bergegas menuju ruang kontrol CCTV. Sesampainya di sana, ia segera meminta petugas operator memutar rekaman sesuai waktu kedatangan Saras.

Layar monitor memperlihatkan Saras memasuki hotel bersama seorang wanita. Beberapa menit kemudian, Saras terlihat keluar seorang diri.

"Kembalikan sedikit," pinta petugas keamanan.

Operator mengangguk, lalu memutar ulang rekaman. Tampak jelas Saras dan wanita itu memasuki salah satu kamar VIP.

"Kamar VIP milik Tuan Bryan," gumam operator.

 

...🔸🔸🔸...

..."Tak semua langkah yang tersesat berakhir pada kehancuran. Kadang, justru di sanalah takdir mempertemukan dua jiwa yang tak pernah saling mencari."...

..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil mengubah arah hidupmu, tetapi tidak pernah bisa mengubah takdir yang telah ditetapkan untukmu."...

..."Manusia bisa menyusun rencana, tetapi takdir selalu memiliki jalan yang tak mampu ditebak siapa pun."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Enzo sudah siap membidik tepat di kepala penyendera. Namun Enzo tidak mau ambil resiko. Bisa mengenai Chantika yang berada di depan penyandera.

Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.

Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Anonim
Chantika dan anggota lain perhatiannya tertuju pada kondisi Rizal. Sampai tidak menyadari bahaya mengancam Chantika.

Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.

Penyandera minta disiapkan kendaraan.

Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Anonim
Yang ditunggu selama tujuh menit akhirnya datang juga.

Duuuuh malah terjadi tembak menembak.

Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.

Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.

Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.

Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Anonim
Enzo tersenyum melihat istrinya menggunakan anting pemberiannya sebagai senjata untuk memperdaya lawan.

Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.

Belum saatnya Enzo turun.
Anonim
WOW...Chantika ingat anting pemberian dari Enzo, yang sudah terpasang alarm ultrasonik.

Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.

Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.

Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.

Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.

Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Ass Yfa
dari awal aku seh ngira Saras ank bawaaan Ranti ternyata benar
Anonim
Tujuh menit kelamaan komandan.

Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.

Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.

Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.

Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Anonim
Chantika dengan tim hanya berjumlah enam orang. Tak sebanding dengan pihak lawan yang berjumlah dua puluh tiga orang bersenjata.

Chantika dan timnya sudah dikepung

Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.

Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Anonim
Rizal pasti sangat panik nengetahui jalur keluar untuk menghindar dari lawan tertutup sebuah truk trailer.

Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.

Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.

Lawan lebih dari dua puluh orang.

Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.

Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Anonim
Enzo sudah berada di atas crane bongkar muat - mengamati semua melalui teropong optik.

Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.

Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.

Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.

Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Anonim
Jeli juga tuh pria bertubuh kekar, segel plastik pengaman sedikit bergeser tahu dia.

Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.

Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.

Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.

Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Anonim
Tiga puluh menit, Enzo. Mesti terbang ke sana. Chantika dalam bahaya seperti yang Vito khawatirkan.

Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.

Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Anonim
Enzo mendengar laporan dari Vito, Chantika ada di kawasan pelabuhan, di duga sebagai surveillance.

Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Anonim
Saras sebagai anak maupun sebagai karyawan di perusahaan milik Papanya tidak ada yang bisa dibanggakan.

Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Anonim
Nah lo Saras mendapatkan ceramah panjang dari Papanya.

Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.

Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.

Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Anonim
Saras ketahuan Papanya tidak ada di kantor.

Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.

Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.

Weleeehhh Saras
Anonim
He he...Enzo ngerjain adik ipar yang kepo berat serta tak tahu diri.

Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.

Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.

Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.

Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Anonim
Saras kurang kerjaan, mendatangi kantor Enzo, Arkana Global Logistics. Masih saja penasaran dengan Enzo.

Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.

Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Anonim
Enzo telah mendapat laporan dari Vito tentang tim pengintai yang telah mendapati aktivitas yang mencurigakan di gudang kawasan pelabuhan.

Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.

Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.

Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.

Chantika memimpin tim surveillance.

The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.

Pertempuran nanti malam bakal seru.
Zieya🖤
karya yg bagus🖤🖤🖤🖤
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!