NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3: Pertemuan Beku

System Glitch

Waktu: 07:18 AM

Pintu kayu oak solid yang harganya mungkin setara dengan sebuah mobil mewah itu kini tergantung mengenaskan pada satu engsel yang tersisa. Serpihan kayu bertebangan di udara, mendarat di atas karpet beludru merah bersamaan dengan keheningan mematikan yang mendadak menyelimuti seluruh ruangan.

Stella berdiri membeku di tengah ruangan. Jari-jarinya mencengkeram kerah jubah mandi putihnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah jubah berbahan handuk itu adalah satu-satunya perisai yang bisa melindunginya dari malapetaka. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Di ambang pintu yang hancur, berdirilah seorang pria.

Neo Hayes Blake.

Bahkan tanpa ingatan dari tubuh asli Stella Rosewood, siapa pun yang memiliki akal sehat pasti tahu bahwa pria ini bukanlah seseorang yang bisa diajak bercanda.

Neo memiliki postur tubuh yang luar biasa proporsional menjulang setinggi 184 sentimeter, bahunya lebar, dan posturnya tegap sempurna. Ia dibalut setelan jas bespoke tiga potong berwarna charcoal gelap yang dipotong tanpa cela, memeluk tubuhnya seolah memang dijahit langsung di atas kulitnya.

Namun, bukan pakaian mahalnya yang membuat darah Stella berdesir dingin, melainkan aura mematikan yang menguar darinya.

Tatapan mata pria itu... sungguh mengerikan. Mata gelap yang menyerupai warna obsidian itu tajam, sedingin es, dan sama sekali tidak memancarkan emosi selain rasa muak yang absolut.

Saat Neo melangkah masuk melintasi ambang pintu, Stella bisa merasakan perubahan tekanan udara di dalam Presidential Suite tersebut.

Aroma menyengat dari alkohol murahan dan parfum menor yang sedari tadi membuat Stella mual, mendadak tersapu bersih.

Sebagai gantinya, indra penciuman Stella langsung diserbu oleh wangi Dark Musk, Leather, dan Bergamot yang maskulin, pekat, dan mendominasi.

Aroma itu seolah mengklaim seluruh udara di ruangan ini sebagai miliknya.

Di belakang Neo, lorong yang beberapa detik lalu riuh oleh teriakan para wartawan kini senyap.

Empat orang pria bertubuh kekar dengan setelan hitam tampak berdiri membentuk barikade, merampas setiap kamera dan alat perekam dari tangan para hyena berita itu tanpa banyak bicara.

Para wartawan yang tadinya agresif kini menunduk pucat pasi, tak ada satu pun yang berani memprotes ketika asisten Neo menghapus memori kamera mereka satu per satu.

"Vix..." Stella berbisik sangat pelan dari sela giginya, matanya tak berani lepas dari sosok Neo. "Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia mendobrak pintuku?"

Di udara kosong tepat di sebelah kanan Stella, rubah kecil berekor sembilan itu melayang sambil bersedekap. Vix mendengus kecil, menatap Neo dengan pandangan menilai layaknya seorang juri kontes kecantikan.

"Kau tidak tahu? Lantai teratas The Grand Savoy London ini hanya memiliki dua kamar Presidential Suite. Kau menempati Suite Timur, dan Tuan Sempurna yang sedang menatapmu dengan jijik itu menempati Suite Barat. Kau dan wartawan-wartawan murah di luar sana telah mengganggu ketenangan pagi harinya yang berharga," sahut Vix santai, ekornya bergoyang perlahan menciptakan percikan cahaya biru tipis yang tentu saja hanya bisa dilihat oleh Stella.

Stella menelan ludah. Bagus sekali. Dari sekian banyak hotel mewah di London, kenapa saudari tirinya harus menjebaknya di hotel yang sama dengan pria yang paling membenci Stella Rosewood? Saudari tirinya itu benar-benar merencanakan kehancurannya dengan sangat teliti.

Neo berhenti melangkah tepat tiga meter di hadapan Stella. Pandangan pria itu menyapu ke sekeliling ruangan yang berantakan ke arah gaun merah yang robek, botol-botol minuman yang berserakan, lalu kembali menatap wajah Stella.

Tidak ada ketertarikan sama sekali dalam tatapannya. Meskipun tubuh di balik jubah mandi putih ini dikenal sebagai salah satu sosialita paling dipuja (sekaligus paling dibenci) di kalangan elit, Neo menatapnya seolah Stella adalah seonggok sampah basah yang menjijikkan dan merusak pemandangan paginya.

"Liam," panggil Neo. Suaranya berat, dalam, dan serak, seolah menggetarkan lantai marmer di bawah kaki Stella.

Seorang pria berkacamata yang mengenakan setelan rapi segera melangkah masuk dari luar pintu, menunduk hormat. "Ya, Tuan Blake."

"Pastikan semua sampah di lorong itu dibersihkan dalam waktu dua menit. Jika ada satu saja foto yang bocor atau ada media yang berani menyebut nama hotel ini dalam berita murahan mereka, pastikan perusahaan media mereka gulung tikar sebelum makan siang," perintah Neo tanpa nada.

"Baik, Tuan. Kamera dan ponsel mereka sudah kami sita sementara," jawab Liam cepat sebelum kembali melangkah keluar untuk mengurus kekacauan di koridor.

Kini, hanya tinggal Stella dan Neo di dalam ruangan itu yah, ditambah seekor rubah cerewet tak kasatmata yang kini melayang di atas lampu gantung kristal.

Neo memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Ia menatap Stella yang masih berdiri kaku seperti patung es.

"Aku tidak peduli permainan murahan apa yang sedang kau mainkan kali ini, Rosewood," ucap Neo dingin.

Kata-katanya tajam bak sembilu yang menyayat udara kosong. "Tapi ini adalah peringatan pertama dan terakhirmu. Jangan bawa sirkus menjijikkanmu ke lantai tempatku menginap."

Stella menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar kencang antara rasa takut, panik, dan... amarah yang tiba-tiba mendidih.

Tunggu sebentar. Dirinya memang baru saja bertransmigrasi ke tubuh ini, dan reputasi Stella yang asli memang hancur lebur.

Tapi ditegur dan direndahkan seperti ini di saat ia sendiri sedang menjadi korban percobaan pembunuhan benar-benar menyentil egonya.

Di kehidupan sebelumnya, ia bukan wanita lemah yang bisa diinjak-injak dengan mudah.

Stella mengangkat dagunya sedikit, memaksa dirinya membalas tatapan obsidian pria itu. "Aku... aku tidak mengundang sirkus ini ke sini."

Suara Stella terdengar parau dan serak akibat sisa racun di tenggorokannya, jauh dari nada tinggi dan manja yang biasanya digunakan Stella Rosewood yang asli setiap kali berbicara dengan Neo.

Alis kanan Neo berkedut samar, sebuah gerakan sekilas yang nyaris tak tertangkap mata. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita di depannya.

Ada yang aneh. Biasanya, jika Stella Rosewood berada dalam situasi seperti ini, wanita itu akan langsung menangis tersedu-sedu dengan dibuat-buat, atau melemparkan tubuhnya ke arah Neo untuk memohon perlindungan dengan gaya centil yang selalu membuat perut Neo mual.

Tapi wanita di depannya ini tidak melakukan itu. Stella memeluk dirinya sendiri dengan kuat, tatapan matanya waspada bak hewan liar yang tersudut, dan... tidak ada sorot memuja atau obsesi gila di matanya seperti biasa.

Hanya ada kepanikan, dan kilatan kemarahan yang tertahan.

"Tidak mengundang?" Neo mengulang ucapan Stella dengan nada sarkas yang luar biasa membekukan.

Sudut bibirnya tertarik sebelah, membentuk seringai sinis. "Lalu apa ini? Sebuah pertunjukan amal? Kau sengaja memesan kamar di seberangku, mengundang puluhan wartawan di pagi buta, dan mabuk sampai kehilangan akal hanya untuk menarik perhatianku? Trikmu semakin hari semakin menyedihkan, Stella."

"Astaga, tingkat kepercayaan diri pria ini benar-benar tidak tertolong," suara Vix tiba-tiba mengalun dari atas lampu gantung.

Rubah itu melayang turun hingga sejajar dengan wajah Stella. "Hei, Host. Bilang padanya bahwa kau lebih baik menelan pecahan kaca botol wine itu daripada harus mencari perhatian pria kaku sepertinya."

Mata Stella melirik tajam ke arah Vix, mengisyaratkan rubah itu untuk tutup mulut.

Namun di mata Neo, gerakan mata Stella yang mendelik ke udara kosong itu terlihat seperti orang yang sedang berhalusinasi.

Neo mendengus pelan, rahangnya mengeras. "Kau mabuk berat, Rosewood. Atau mungkin menggunakan obat-obatan terlarang. Aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Kau mengotori reputasi hotel ini."

"Aku tidak mengonsumsi obat apa pun!" Stella tak bisa menahan diri untuk tidak membalas.

Ia melangkah maju satu tindak, meski kakinya masih sedikit gemetar. "Dan untuk informasimu, Tuan Blake, aku sama sekali tidak tahu kau ada di lantai ini. Aku dijebak. Jika kau mengira semua kekacauan ini tentangmu, maka maafkan aku, karena dunia ini tidak selalu berputar mengelilingimu!"

Keheningan kembali jatuh dengan bobot yang mencekik.

Liam, yang baru saja kembali ke ambang pintu untuk melaporkan bahwa lorong sudah bersih, mematung di tempat. Matanya sedikit melebar di balik kacamata.

Tidak pernah ada yang berani berteriak membalas ucapan Neo Hayes Blake, apalagi seorang Stella Rosewood yang biasanya menempel pada Neo bagai lintah.

Mata Neo menyipit berbahaya. Tatapannya menelusuri wajah Stella, dari rambut kusut masainya, riasan berantakan bak panda, hingga mata cokelat gelap wanita itu yang kini menatapnya dengan penuh perlawanan.

Ada keheningan panjang yang menegangkan. Stella menelan ludah, mulai menyesali keberaniannya yang impulsif. Aura gelap Neo seolah semakin mengembang, menekan pasokan oksigen di ruangan itu.

Namun, alih-alih meledak marah, Neo memutar tubuhnya. Ia seolah menganggap berdebat dengan Stella adalah sebuah pemborosan energi yang sia-sia.

"Lima belas menit," ucap Neo tanpa menoleh, langkah kaki mahalnya mengetuk lantai marmer saat ia berjalan menuju pintu yang hancur.

"Aku beri waktu lima belas menit sebelum manajer hotel naik ke sini bersama pihak keamanan untuk mengusir mu secara resmi dari properti ku. Jika kau masih ada di gedung ini saat itu terjadi, aku sendiri yang akan memastikan kau dilempar keluar lewat pintu belakang bersama tumpukan sampah."

Stella melebarkan matanya. "Properti mu? Hotel ini milikmu?!"

Neo bahkan tidak repot-repot membalas. Pria itu melangkah keluar, diikuti oleh para pengawalnya.

Liam sempat memberikan tatapan kasihan yang tersembunyi ke arah Stella sebelum akhirnya membungkuk sopan dan menutup kembali sisa-sisa pintu yang rusak itu sebaik mungkin dari luar.

Hening kembali merajai Presidential Suite tersebut, diselingi suara hujan deras di luar sana.

Kaki Stella mendadak kehilangan kekuatannya. Ia merosot, duduk berlutut di atas karpet beludru, menghirup udara rakus-rakus.

Jantungnya masih berdetak liar di dadanya. Berhadapan langsung dengan karakter antagonis sekaligus villain berdarah dingin di dunia ini benar-benar menyita seluruh energinya.

[ Ding! ]

[ Peringatan Waktu! Misi Harian: Keluar dari kamar hotel tanpa tertangkap kamera wartawan. Sisa waktu: 14 Menit 59 Detik. ]

Layar holografik biru menyala kembali di depan wajah Stella, lengkap dengan bunyi detik jam yang berdetak mundur.

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!