"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.3. Sikap ayah.
Beberapa kali ayah Kara membunyikan klakson mobil nya tapi tidak ada yang membuka kan pintu, akhir nya ayah Kara mengambil payung lipat dari selokan pintu mobil dan dia keluar dari mobil untuk membuka gerbang rumah itu yang ternyata tidak di gembok.
Ayah Kara membuka lebar - lebar kedua gerbang tua itu dan Kara hanya bisa memperhatikan dari dalam mobil sambil merasa ngeri dengan penampakan rumah kakek nya yang menurut nya begitu seram. Rumah tua modelan jengki membentuk later L tapi di satu sisi nya berlantai dua dengan jendela - jendela kayu lawas.
"BRAK!"
Ayah Kara kembali masuk kedalam mobil sambil menggumam menggerutu karena pekerja yang seharus nya datang menjemput mereka ternyata tidak masuk karena sedang sakit.
"Kenapa, yah?" Tanya Kara, ayah nya hanya tersenyum saja sambil menggeleng.
Kara tau, jika ayah nya sudah begitu itu artinya ayah nya sedang kesal.. Kara pun diam akhir nya dan kemudian masuk ke dalam halaman rumah itu dan menuju ke teras rumah. Untung nya garasi samping rumah itu memiliki atap, jadi Kara bisa turun tanpa kehujanan, sementara ayah Kara.. akhir nya kembali menutup sendiri gerbang utama tadi.
Kara berinisiatif untuk menurunkan semua barang - barang bawaan nya, mula nya dia menurunkan semua barang nya dan ayah nya yang ada di jok belakang satu persatu dan dia letak kan di teras rumah.. setelah yang di jok belakang itu habis, Kara pun memutar ke belakang mobil dan berniat membuka pintu bagasi mobil untuk melihat barang kali ada koper milik ayah nya di sana.
Tapi pada saat Kara baru saja hendak membuka pintu bagasi itu, ayah nya datang dan menahan pintu bagasi nya sampai kembali menutup dengan keras dan membuat Kara terkejut.
''Brak!"
"Eh! Ayah ih ngagetin." Kara sampai mengusap dada nya.
"Mau ngapain, kamu jangan angkat barang - barang berat lho dek, di bagasi sudah ndak ada barang lagi." Ucap ayah nya, dan menghalangi bagian beakang mobil dengan badan nya.
"Oo.. ya udah aku bawa yang punyaku aja." Ucap Kara, dan akhir nya dia pergi sambil menggendong tas nya ke arah pintu masuk rumah.
Kara sempat menoleh ke belakang dan dia masih melihat ayah nya yang masih berdiri di belakang mobil nya sambil memperhatikan Kara, Kara merasa aneh dengan ayah nya yang seperti bukan ayah nya.. tapi Kara kemudian menggelengkan kepalanya untuk menepis prasangka nya sendiri.
"Mikir apa aku ini.." Gumam nya.
Saat kara sudah di depan pintu rumah, Kara kemudian membuka pintu yang yang rupanya tidak di kunci, Kara pelan - pelan mendorong pintu rumah itu dan kemudian terlihat lah ruangan di dalam nya, ruangan bernuansa klasik yang masih benar - benar peninggalan tangan pertama, atau bisa di bilang itu sama sekali belum pernah di renovasi.
"Assalamualaikum." Salam Kara, ia lalu masuk dan meletakan ransel nya di kursi,
Rapih memang, tidak ada debu sama sekali seolah rumah itu sangat terawat.. hanya saja Kara merasa justru rumah itu seram, tidak tahu kenapa..
"Langsung naik ke atas aja dek, di atas ada kamar ayah yang sebelah kiri nya tangga persis." Ucap ayah nya, sambil masuk membawa barang - barang bawaan mereka.
"Kita cuma berdua, yah?" Tanya Kara sambil melihat - lihat keseluruhan rumah itu.
"Untuk sekarang iya, seharus nya ada kang Jupri sama istrinya yang jaga rumah ini, tapi mereka ndak bisa datang untuk sekarang.. kang Juprinya sakit." Ucap ayah Kara, Kara pun manggut - manggut.
"JELEDERR!!"
"HUAaa!!" Kara kaget karena mendengar suara petir yang begitu kuat sampai dia lompat dari duduk nya dan memeluk ayah nya.
"Cuma petir, dek.." Ayah nya terkekeh melihat Kara yang ketakutan, Kara memang sangat takut dengan suara petir sejak kecil.
"Takuutt, yahh.." Rengek Kara, ayah nya makin terkekeh.
"Sudah sana naik, istirahat di kamar.." Ucap ayah nya, akhir nya Kara mengangguk.
Tapi, sebelum Kara melepas tangan nya dari lengan sang ayah.. Kara melihat lengan ayah nya memiliki luka baret memanjang yang terlihat memanjang, seperti ayah Kara baru saja terbaret sesuatu. Melihat Kara yang memperhatikan lengan nya.. ayah Kara lalu menutup lengan nya dengan tangan kanan nya, luka itu berada di tangan kiri.
"Tangan ayah kebaret apa?" Tanya Kara dengan wajah bertanya - tanya dan khawatir.
"Ndak kebaret apa - apa, iki ndak sengaja kena besi gerbang tadi. Sana naik, nanti ayah tinggal di kamar yang tepat di depan kamar kamu." Ucap ayah nya lembut sambil mengusap kepala Kara, dan akhir nya Kara mengangguk dan pergi.
Kara pun pergi menaiki tangga yang menuju kelantai 2 dimana kamar yang akan dia tempati berada, tangga rumah itu juga menggunakan kayu dan melingkar, mengingat rumah itu adalah rumah jaman dulu. Setiap Kara menginjak satu persatu anak tangga itu, maka akan terdengar bunyi "Krak" seperti kayu yang nyaris patah.
Kara pelan - pelan naik ke atas dan sampailah dia di lantai atas, terlihat di lantai atas itu ada banyak barang yang di tutupi kain putih, dan juga di lantai atas itu ada sebuah piano tua yang terpajang di dekat ruang yang sepertinya adalah ruang keluarga di lantai dua di sebelah kiri tangga dan di sebelah ruang keluarga itu lah ada ruangan dengan pintu cokelat tua yang tertutup.
Sementara di sebelah kanan tangga, ada sebuah lemari hias besar berisi pajangan dan beberapa foto keluarga dan kamar mandi yang pintu nya terbuka dan terlihat kaca oval nya dari luar, barulah di sebelah nya ada ruangan yang berpintu cokelat juga.
"Itu kali, ya.." Gumam Kara, dia pun berjalan menuju ke ruangan yang berpintu cokelat yang berada di sebelah kiri itu.
"Rumah kakek gede juga, ayah berapa sodara yah.." Gumam Kara, karena dia sama sekali tidak tahu menahu tentang keluarga ayah nya karena ayah nya yang tidak pernah memberi tahu nya.
"Ckrekk!!"
"Kriieet!!"
Kara membuka pintu kamar itu, dan ternyata isinya adalah kamar yang memang sudah rapi dengan sprei berwarna putih. Ruangan nya luas dengan ada sekitar 6 jendela kaca, tiga di kanan dan tiga di kiri yang menghadap ke halaman depan, sementara ranjang nya berada di tengah dan ada lemari besar yang sepertinya adalah lemari untuk pakaian.
"Dulu ayah tinggal nya di kamar ini? Kok ndak ada barang - barang ayah.." Gumam Kara.
Kara meletakan ransel nya lalu dia melemparkan dirinya di atas ranjang dan mengeluarkan hp nya dari saku jaket nya, dia menunggu barang kali ada pesan masuk dari kakak atau ibunya yang sudah tidak tinggal dengan nya. Kara sedih karena mereka bahkan tidak berpamitan dengan nya sama sekali saat pergi, dan sampai sekarang mereka juga tidak menghubungi nya.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif!"
"Huufftt.. mbak sama ibu kok ndak bisa di hubungi sama sekali dari kemarin." Gumam Kara, dia sedih..
"Mereka tega sama aku, ndak pamit sekarang ndak juga bisa di telpon." Ucap nya lagi, akhir nya meletakkan hp nya, tapi dia juga jadi teringat dengan mimpinya tadi tentang ibu dan kakak nya.
"Tumben banget aku mimpi pas tidur siang.. mana serem." Gumam Kara, dia mengingat mimpi nya yang hanya sebentar tapi terasa sangat berkesan sampai Kara merasa tidak nyaman.
"Ibu sama mbak.. mereka kemana, ya.."
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk