"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Mencari Bukti
Sebuah mobil berhenti dengan mulus di depan sebuah kafe. Tidak lama kemudian, seorang wanita turun dari dalam mobil dan melangkah tergesa-gesa menuju pintu masuk.
Begitu berada di dalam, matanya langsung menyapu setiap sudut ruangan, mencari seseorang. Saat menemukan sosok yang ia cari, wanita itu segera menghampirinya.
"Alena!" Wanita itu duduk di hadapan Alena dengan wajah khawatir. "Apa yang terjadi?"
Alena hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa berniat memakannya sedikit pun. Matanya sembab, sementara bibirnya bergetar menahan tangis.
"Nad... Mas Arsen selingkuh," lirih Alena dengan suara serak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Apa?" Nadia membelalak tidak percaya. Tanpa pikir panjang, ia segera berpindah ke kursi di samping Alena dan memeluk sahabatnya erat.
"Alena..."
"Semalam aku menemukan ponsel lain milik Mas Arsen," lanjut Alena dengan suara bergetar. "Lalu, ada pesan mesra masuk. Mas Arsen bilang itu cuma rekan kerjanya, tapi nomor itu disimpan pakai tanda hati."
Nadia mengusap bahu Alena perlahan, berusaha menenangkannya.
"Terus, siang ini aku mengajaknya menemui Dokter Gita. Tapi, dia menolak dan bilang sedang sibuk." Alena mengusap air matanya kasar. "Tapi, ternyata aku melihat dia di rumah sakit bersama seorang wanita. Mereka terlihat sangat mesra, Nad."
Tangis Alena pecah, membuat beberapa pengunjung melirik ke arah mereka.
Nadia tersenyum canggung, melihat orang-orang yang memperhatikan mereka sebelum kembali fokus pada sahabatnya.
"Sudah, Alena. Jangan menangis."
Alena langsung menegakkan tubuhnya dengan mata merah.
"Aku sedang sedih, Nad. Kenapa aku tidak boleh menangis?"
"Bu-bukan begitu," seru Nadia panik. "Maksudku, pria brengsek seperti Arsen tidak pantas ditangisi."
Mendengar itu, Alena langsung menghapus air matanya.
"Kamu tenang dulu, ya?" Nadia mengambil beberapa lembar tisu dan membantu menghapus air mata di wajah Alena. "Kalau kamu seperti ini, aku jadi bingung harus bagaimana."
Beberapa menit berlalu. Setelah tangis Alena mereda, Nadia menatapnya serius.
"Aku tidak mengerti. Kamu melihat Arsen bersama wanita lain, tapi kenapa kamu tidak melabraknya?"
Alena menunduk. "Aku sudah tidak punya kekuatan untuk melakukan itu, Nad."
"Hah..." Nadia menggeleng kesal. "Kalau aku yang ada di sana, sudah aku jambak wanita itu sampai botak."
Alena tersenyum tipis di tengah kesedihannya. "Aku percaya kamu akan melakukannya."
"Tentu saja." Nadia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas panjang. "Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Bercerai?"
Pertanyaan itu membuat Alena terdiam.
Pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Hubungannya dengan Arsen bukan hubungan yang baru berjalan satu atau dua tahun. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku kuliah. Bersama-sama membangun mimpi, melewati kesulitan, hingga akhirnya menikah tiga tahun lalu.
Alena tidak pernah menyangka pria yang selama ini ia cintai bisa mengkhianatinya dengan begitu mudah.
"Alena!" Panggil Nadia.
Alena tersadar, lalu menunduk sambil mengaduk minumannya perlahan.
"Kalau aku meminta cerai... Bukankah itu sama saja memberinya jalan untuk bersama wanita itu?"
Nadia terdiam.
"Kami sudah bersama begitu lama. Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk hubungan ini." Alena menggigit bibir bawahnya. "Rasanya sangat tidak adil kalau justru aku yang harus pergi."
Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lalu, apa rencana mu? Kalau kamu tidak mau bercerai, apa kamu akan bertahan? Jangan menjadi wanita bodoh, Lena."
Alena terdiam sesaat. Tatapannya kosong menatap minuman di dalam gelas. Tapi, sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku akan mencari bukti perselingkuhan mereka. Lalu, mengalihkan semua harta atas namaku."
Nadia tertegun sebelum akhirnya tertawa. Begitu juga dengan Alena yang ikut tertawa keras. Namun, tawa itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan sendu.
"Aku terdengar seperti perampok, ya?" lirih Alena.
"Dasar bodoh." Nadia mencubit lengan sahabatnya pelan. "Justru itu rencana yang bagus."
Alena menatap sahabatnya.
"Mereka harus membayar rasa sakit yang kamu rasakan, Len," lanjut Nadia dengan sorot mata yang berubah tajam. "Sekarang, berhenti menangis dan mulai berpikir."
"Maksudmu?"
"Kumpulkan bukti sebanyak mungkin. Foto, pesan, rekaman, apa pun yang bisa membuktikan perselingkuhan mereka."
Alena terdiam mendengarkan.
"Jangan bertindak gegabah agar mereka lengah," lanjut Nadia.
Tatapan Alena perlahan berubah.
Kesedihan yang ia rasakan perlahan berubah menjadi sebuah tekad kuat.
Mungkin, pernikahannya sedang berada di ambang kehancuran. Tapi, ia akan bertahan dan tidak akan membiarkan dirinya menjadi satu-satunya pihak yang terluka.
***
Malam harinya, Arsen pulang larut seperti biasa. Setelah memarkir mobil, pria itu melangkah masuk dengan wajah lelah setelah seharian bekerja.
Namun, begitu membuka pintu utama, langkahnya sempat terhenti.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Biasanya, Alena akan menyambutnya, tidak peduli seberapa larut ia pulang. Tapi malam ini, rumah terasa begitu sepi.
Arsen mengernyit tipis.
Matanya menyapu sekeliling sebelum kembali melangkah masuk. Saat melewati ruang makan, langkahnya kembali terhenti. Meja makan yang biasanya masih menyisakan hidangan untuknya kini terlihat kosong.
Arsen hanya tersenyum miring.
"Sudah menyerah menunggu, ya?" gumamnya pelan.
Entah kenapa, ada sedikit rasa tidak nyaman yang menyelinap di dadanya. Namun, ia memilih mengabaikannya. Baginya, itu bukan sesuatu yang penting.
Pria itu segera menaiki tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu perlahan. Tatapannya langsung menemukan sosok Alena yang tengah terbaring di atas ranjang. Wanita itu terlihat sudah tertidur lelap.
"Tumben sekali."
Arsen menutup pintu lalu meletakkan jas dan tas kerjanya di sofa. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur berwarna gelap. Lalu, ia naik ke atas ranjang dan berbaring membelakangi Alena.
Dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur. Lelah yang menumpuk membuatnya tertidur begitu cepat.
Kelopak mata Alena yang sejak tadi terpejam perlahan terbuka saat mendengar dengkuran halus dari mulut Arsen.
Wanita itu menoleh, menatap punggung Arsen dengan sorot mata yang berbeda. Ia menunggu beberapa menit lagi untuk memastikan Arsen benar-benar tertidur.
Setelah yakin, Alena bergerak perlahan. Ia menyingkap selimut tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Tapi, justru hal itu membuat jantungnya berdegup kencang hingga terasa memekakkan telinga.
Alena menahan napas saat mencari ponsel lain milik Arsen. Tangannya sampai bergetar saat menemukannya.
Dengan hati-hati, ia mengambil benda itu lalu berjalan menuju kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, Alena langsung menyalakan lampu redup dan mencoba membuka layar ponsel tersebut.
Namun, harapannya langsung pupus. Layar meminta verifikasi sidik jari.
"Sial!" bisiknya pelan.
Alena menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba beberapa kemungkinan kata sandi, tetapi semuanya gagal. Jika terlalu banyak percobaan, ponsel itu bisa terkunci permanen.
Dengan napas memburu, ia mematikan layar lalu kembali keluar dari kamar mandi.
Matanya tertuju pada Arsen yang masih tertidur pulas. Lalu, ia melangkah mendekat ke sisi ranjang. Dan, dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tangan kanan Arsen.
Alena langsung membeku saat pria itu sedikit bergerak. Napasnya tercekat. Tapi, beberapa detik kemudian, Arsen hanya bergumam pelan dalam tidurnya lalu kembali diam.
Alena mengembuskan napas lega. Ia segera menempelkan ibu jari Arsen ke sensor sidik jari pada layar ponsel dan layar ponsel langsung terbuka.
Mata Alena membesar. Tanpa membuang waktu, ia kembali masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Kini, ponsel itu berada di tangannya dan, ia siap mengungkap semua rahasia yang selama ini Arsen sembunyikan.
Alena menelan ludah dengan susah payah. Jarinya bergerak perlahan membuka aplikasi pesan, sementara dadanya berdebar semakin keras.
Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana. Tetapi, satu hal yang pasti, setelah malam ini, hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...