NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

​Sambil berjalan kaki pulang, sebuah layar semi-transparan mendadak muncul lagi di depan mata Raka.

​Ding!

​[Progres Misi: +3%]

​"Apaan lagi nih?" gumam Raka pelan.

​Dia refleks menggerakkan jarinya, mencoba memencet layar virtual tersebut. Budi yang berjalan di sebelahnya tentu saja langsung kebingungan melihat tingkah aneh Raka. "Kamu ngapain sih, Rak? Tangannya melambai-lambai gitu."

​"Ah! Nggak ada kok, Om. Gabut aja ini, lagi ngelemesin jari," kilah Raka sambil buru-buru menarik tangannya kembali. Dia hampir lupa kalau orang biasa tidak bisa melihat layar sistem tersebut.

​Pada akhirnya, Raka memutuskan untuk mengabaikan layar itu dulu sampai dia dan Budi berpisah di persimpangan jalan.

​Setelah Budi berjalan cukup jauh, pria itu tiba-tiba berbalik dan berteriak, "Rak! Katanya info dari mandor, hari ini proyek libur dulu ya! Hari Senin baru mulai lagi!"

​"Oh, oke, Om!" sahut Raka melambaikan tangan.

​Begitu suasana sekitar sudah sepi, Raka kembali fokus mengecek layar sistemnya.

​"Progres ya? Apa gua harus bikin angka ini sampai seratus persen baru bisa balik ke masa depan? Kayaknya ini ada hubungannya sama perubahan alur sejarah deh," tebak Raka dalam hati.

​Ding!

​[Benar sekali. Di linimasa yang asli, kasus pencurian tadi tidak pernah menemukan titik terang. Malah berakhir buruk karena ayah Anda yang dijadikan kambing hitam dan menjadi tersangka utama.]

​Raka tertegun. Berarti setiap kali dia mengambil tindakan yang mengubah masa depan, sistem akan memberitahu apa yang sebenarnya menimpa ayahnya dulu.

​"Jadi, aslinya bokap dituduh jadi tersangka? Parah banget. Si Bi Asih luarnya aja yang kelihatan kayak malaikat, tapi dalemnya busuk banget. Alasan asli dia nyolong apaan sih?"

​Ding!

​[Di kejadian yang sebenarnya, dia melakukan itu murni karena serakah. Masalah ekonomi hanya dijadikan alasan awal untuk mencari simpati.]

​Raka manggut-manggut kesal. "Brengsek juga tuh orang..."

​Dia kembali melanjutkan langkah kakinya. Tak berselang lama, sebuah notifikasi baru muncul di layarnya.

​Ding!

​[Hadiah Misi: Rp3.000.000,-]

​Melihat nominal tersebut, Raka langsung menghentikan langkahnya dengan mata berbinar. "Wih, dapet bonus lagi? Kali ini nominalnya lumayan gede!"

​Raka langsung mengambil uang tunai yang mendadak muncul di kantong celananya, lalu menyimpannya baik-baik. Hatinya mendadak merasa senang.

​"Hmm, kira-kira Nyokap sukanya apa ya? Apa gua ajak jalan-jalan ke taman atau ke mana gitu? Gua juga pengen banget bisa lebih kenal sama nyokap sendiri," gumam Raka bersemangat.

​Namun, begitu sampai di depan pagar rumah, senyum di wajah Raka langsung luntur.

Matanya membelalak melihat Nadia sedang berdiri di teras rumah, mengobrol dengan seorang pria asing yang pakaiannya kelihatan sangat mahal, pria yang sama dengan yang datang sore kemarin.

​"Nadia, gimana kalau nanti siang kita pergi jalan-jalan? Suamimu kan lagi kerja juga, kan?" bujuk pria itu.

​Nadia hanya terdiam sambil menunduk, tangannya tampak gelisah memainkan ujung bajunya sendiri.

​Sebelum Nadia sempat menjawab, Raka langsung melangkah lebar menghampiri mereka. "Siapa ini, Bu—maksudku, Nad?"

​Nadia spontan terlonjak kaget melihat kedatangan Raka. "M-Mas Raka? B-bukan siapa-siapa kok, Mas!" jawabnya gugup setengah mati.

Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.

Dengan terburu-buru, Nadia langsung balik badan dan masuk ke dalam rumah.

​Pria kaya bernama Riko itu panik dan berniat mengejar Nadia. "Nadia, tunggu dulu!"

​Namun, Raka dengan cepat mencengkeram bahu pria itu dengan kuat, menahannya agar tidak melangkah lebih jauh. "Lu siapa sih, hah?" tanya Raka ketus.

Dia benar-benar tidak bisa menemukan satu pun memori tentang pria ini di dalam kepala ayahnya.

​Riko mendengus kesal, lalu menepis tangan Raka dengan kasar. "Sialan, lepasin nggak! Dasar perebut!" bentaknya penuh emosi sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi menuju mobil mewahnya. Kelihatan sekali kalau dia sangat membenci Raka.

​Raka hanya berdiri terpaku memperhatikan mobil Riko yang melaju pergi meninggalkan gang rumahnya.

​"Siapa sih tuh orang? Di ingatan bokap sama sekali nggak ada info tentang dia. Apa jangan-jangan... Nyokap selingkuh?" pikir Raka curiga.

​Namun, dia buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Nggak mungkin! Tapi... di dunia ini emang nggak ada yang nggak mungkin sih. Gua harus cari tahu pelan-pelan."

​Dengan raut wajah penuh tanda tanya, Raka melepas alas kakinya dan melangkah masuk ke dalam rumah.

​Begitu masuk ke ruang tengah, Reno kecil tampak baru saja berjalan keluar dari kamar sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Begitu melihat Raka, bocah itu langsung mendongak. "Ayah..."

​Melihat versi dirinya yang masih berumur empat tahun, Raka tidak bisa menahan senyumnya. Ternyata dia waktu kecil cukup menggemaskan. "Iya, Jagoan. Sini sama Ayah."

​Raka berjongkok dan menggendong Reno kecil ke dalam pelukannya. "Udah makan belum?"

​"Belum..." jawab Reno polos.

​Sambil menggendong Reno dengan santai, Raka berjalan perlahan menuju dapur karena mencium aroma masakan Nadia. Sambil berjalan, dia mencoba memancing informasi dari anaknya sendiri.

​"Reno, kamu tahu nggak om-om yang tadi ngobrol sama Ibu di depan? Dia sebelumnya pernah datang ke sini nggak?"

​Reno tampak berpikir sejenak. "Siapa, Yah? Paman yang baik itu ya?"

​Meskipun Raka tidak tahu standar 'baik' versi anak kecil itu seperti apa, dia tetap mengangguk. "Iya, paman yang itu."

​"Kemalin... Leno denga... pacal..." ucap Reno dengan artikulasi anak kecil yang masih agak cadel.

​Mendengar kata tersebut keluar dari mulut anaknya, Raka langsung tersentak kaget. Anak kecil seumur Reno tidak mungkin berbohong, apalagi ini adalah ingatan masa kecilnya sendiri.

"​Pacar? Sial, sepertinya gua harus nanyain soal masa lalu Nyokap ke kakek atau nenek di kampung nih. Tapi masalahnya... bokap gua di zaman ini bahkan nggak punya HP," batin Raka frustrasi sambil memijat dahinya sendiri.

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!