NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Akhir Fitnah, Awal Dendam

Pak Kades menutup map di hadapannya.

Tatapannya bergantian mengarah kepada Mirna, Daril, dan Yanti.

"Berdasarkan seluruh keterangan saksi dan pengakuan yang sudah kita dengarkan sore ini, saya menyimpulkan bahwa ketiganya telah menyebarkan informasi yang tidak benar sehingga merusak nama baik Saudari Vira."

Beliau berhenti sejenak.

"Akibat fitnah itu, toko Vira sepi, penghasilannya menurun, dan hubungan sosialnya dengan warga ikut terganggu."

Tak seorang pun menyela.

"Karena itu, sebagai kepala desa, saya meminta Bu Mirna, Daril, dan Yanti mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Mirna langsung menundukkan kepala. Daril mengepalkan kedua tangannya. Sementara Yanti kembali menangis pelan.

Pak Kades melanjutkan. "Pertama. Saudara bertiga wajib meminta maaf kepada Vira di hadapan seluruh warga yang hadir hari ini."

Para warga mengangguk setuju.

"Kedua," lanjut Pak Kades. "Dalam pertemuan warga berikutnya, Saudara bertiga juga wajib menyampaikan bahwa seluruh gosip tersebut tidak benar agar nama baik Vira dipulihkan."

Ketiganya hanya diam menunduk.

"Ketiga." Pak Kades menatap ketiganya bergantian. "Saudara bertiga tidak diperbolehkan lagi menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Kalau hal serupa terulang, pihak desa akan membantu Vira apabila ia memilih menempuh jalur hukum."

Kalimat terakhir itu membuat wajah Mirna seketika memucat. Daril menelan ludah. Yanti menangis semakin keras.

Pak Kades memandang Vira. "Nak Vira."

"Iya, Pak."

"Keputusan desa tidak menghapus hakmu sebagai warga negara. Kalau kamu merasa dirugikan dan ingin membawa persoalan ini ke kepolisian, itu sepenuhnya hakmu."

Semua mata tertuju kepada Vira.

Vira terdiam beberapa saat. Tatapannya bergantian mengarah kepada Mirna, Daril, dan Yanti.

Orang-orang yang pernah ia anggap keluarga. Kini berdiri dengan kepala tertunduk setelah semua kebohongan mereka terbongkar.

Vira menarik napas panjang. "Untuk saat ini..." ucapnya pelan. "...saya menghormati keputusan Pak Kades. Tapi..."

Tatapannya berubah tegas. "Saya tidak akan pernah melupakan apa yang mereka lakukan. Dan mulai hari ini, saya juga tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyakiti saya lagi."

Ucapan itu membuat dada Arvin terasa hangat. Ia menatap Vira dengan penuh kagum.

"Dia benar-benar kuat."

Bukan karena Vira memilih memaafkan. Melainkan karena ia mampu berdiri tegak setelah dihancurkan oleh orang-orang yang paling dekat dengannya.

Di sisi lain, Daril menggigit gerahamnya. Harga dirinya terasa diinjak-injak di hadapan seluruh warga. Namun, ia tidak memiliki keberanian membantah.

Mirna terus mengusap air matanya. Penyesalan mulai muncul, tetapi bukan semata karena merasa bersalah. Melainkan karena menyadari bahwa seluruh warga kini mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Sedangkan Yanti menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah.

"Aku... minta maaf, Ra..."

Suara itu terdengar lirih dan dipenuhi isak.

Namun Vira tidak menjawab. Dalam hati ia bergumam. "Mungkin lukaku bisa sembuh oleh waktu. Tapi bekasnya gak bakal hilang meski beribu kata maaf kalian ucapkan. Walaupun begitu, aku akan tetap berusaha memaafkan. Bukan melupakan apalagi membebaskan kalian dari hukuman."

Sejenak Pak Kades menyapukan pandangannya ke semua warga yang hadir.

"Baik. Sesuai keputusan yang telah saya sampaikan, sekarang saya minta Bu Mirna, Daril, dan Yanti menyampaikan permintaan maaf kepada Vira di hadapan seluruh warga."

Suasana balai desa kembali senyap. Tak ada satu pun dari ketiganya yang bergerak.

"Silakan, Bu Mirna," ujar Pak Kades. "Seyogianya kita yang lebih tua memberikan contoh yang baik kepada yang lebih muda."

Mirna menelan ludah. Rasanya seluruh harga dirinya seperti ditelanjangi di hadapan puluhan pasang mata. Selama ini ia selalu menjaga wibawa sebagai orang yang lebih tua. Kini, justru ia berdiri sebagai orang yang harus mempertanggungjawabkan kebohongannya.

"Vira," ucapnya akhirnya, lirih.

Kalimat berikutnya terasa begitu sulit keluar dari mulutnya. "Ibu... minta maaf."

Hanya itu. Tak ada penyesalan. Tak ada pengakuan bahwa ia telah berbohong. Hanya dua kata yang terdengar dipaksakan.

Dalam hati Mirna bergolak. "Kalau bukan karena semua orang ada di sini, mana mungkin aku merendahkan diri minta maaf sama kamu."

Pak Kades mengernyit. "Bu Mirna."

Mirna menoleh.

"Permintaan maaf bukan sekadar mengucapkan dua kata," lanjut Pak Kades.

Mirna memejamkan mata sesaat, lalu berkata dengan nada suara yang terdengar datar. "Saya minta maaf karena sudah menyebarkan gosip yang tidak benar tentang Vira."

Vira hanya diam.

Pak Kades mengangguk tipis. "Silakan duduk."

Mirna kembali ke tempat duduknya tanpa berani menoleh ke arah siapa pun.

Kini giliran Daril. Pemuda itu berdiri perlahan. Tatapannya bertemu dengan Vira. Untuk sesaat, ia seperti melihat perempuan yang dulu selalu mengejarnya. Namun kini... Tatapan itu hanya menyisakan jarak.

"Aku minta maaf." Daril menarik napas panjang. "Aku seharusnya meluruskan gosip yang beredar, bukan membiarkannya berkembang."

Ia berhenti sejenak. "Maaf karena ucapanku membuat nama baikmu rusak."

Vira hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Daril kembali duduk. Namun di balik wajahnya yang tampak tenang, rahangnya mengeras.

"Tunggu saja, Vira. Hari ini memang aku kalah. Tapi bukan berarti semuanya sudah selesai."

Terakhir, Yanti berdiri. Begitu menghadap Vira, air matanya langsung mengalir deras. Ia bahkan sampai terisak.

"Ra..." Suaranya bergetar. "Aku minta maaf."

Tangisnya semakin menjadi. "Aku salah. Aku gak seharusnya ngomong kayak gitu tentang kamu."

Yanti menundukkan kepala. "Maafin aku, Ra. Aku khilaf."

Beberapa ibu tampak menghela napas. Sebagian bahkan mulai merasa iba melihat tangisan Yanti.

Namun, di balik wajah yang basah oleh air mata itu, hati Yanti justru dipenuhi amarah.

"Menanglah sekarang, Vira. Tapi ingat... Aku gak bakal berhenti sampai hidupmu benar-benar hancur."

Vira memandang ketiganya bergantian. Tak ada rasa puas. Tak ada pula keinginan untuk membalas.

Ia hanya merasa sedih. Orang-orang yang pernah dianggap keluarga ternyata mampu melukainya sedalam ini.

Pak Kades kembali angkat bicara. "Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Mulai hari ini, saya tidak ingin lagi mendengar ada warga yang menyebarkan kabar tanpa bukti."

Semua orang mendengarkan, tak satupun yang bicara.

"Kalau ada persoalan, selesaikan dengan cara yang benar. Jangan menghancurkan hidup orang lain hanya karena prasangka atau rasa sakit hati."

Seluruh warga mengangguk pelan.

Sore itu, bukan hanya nama baik Vira yang dipulihkan.

Tetapi seluruh warga juga akhirnya mengetahui siapa orang-orang yang selama ini menjadi sumber fitnah di desa mereka.

Setelah Pak Kades menutup pertemuan, warga mulai meninggalkan balai desa sedikit demi sedikit.

Vira berjalan pulang bersama Arvin, sementara Mirna dan Daril melangkah lebih dulu dengan wajah muram.

Di belakang rombongan, Yanti sengaja memperlambat langkahnya.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku, lalu mengetik sebuah pesan dengan cepat.

Bagaimana rencana malam ini?

Beberapa detik kemudian, layar ponselnya menyala.

Tetap jalan.

Sudut bibir Yanti perlahan terangkat.

Ia mengangkat pandangannya ke arah punggung Vira yang semakin menjauh.

"Nikmati saja kemenanganmu hari ini, Vira..." batinnya.

"Malam ini, semuanya akan berubah."

 

...✨"Fitnah tidak berhenti saat kebohongan terbongkar. Kadang, ia berubah menjadi dendam yang mencari kesempatan berikutnya."...

..."Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan adalah memilih melangkah tanpa membawa kebencian."✨...

.

To be continued

1
Wirad Nyani
nah bener kan yang nolong Vira adalah arvin
Wardi's
waduh pd gk kapok ya.. gk ckp sidang desa.. kyk nya pengen sidang d kantor polisi..
Anitha
Ga kapok rupanya kalian masih ingin menghancurkan Vira...

silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
Uthie
Emang dasar manusia yg culas, jahat!! susah di ubahnya dan di sadarkan!! walau kesalahannya telah ditelanjangi publik begitu!!😡😡
Uthie
Pak Kades nya Bijaksana 👍👍👍
Uthie
cecar terus pak Kades 😡👍
Uthie
makin tegang dehh tuhh kalian 😏
abimasta
daril Mirna Yanti sudah salah tidak mau mengakui,bahkan masih punya rencana jahat
Wirad Nyani
Vira hati² ya, soalnya ketiga orang itu akan beraksi
Ari Peny
setan aja gk saling menyakiti tp manusia bisa🤣🤣🤣🤣
kymlove...
gak tau mau komen aja..... sebelum 3 manusia dajjal ini binasa, konflik bakalan terus berkembang, tinggal lihat aja gimana vira menyingkapi dan melawan ke gilaan mereka.
^ã^😉
jauhilahhh orang² yang tak pernah menghargai kebaikan Kita ,
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..

keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka

keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
^ã^😉
bukan ya kapok malah membuat rencana yang lain lagi huhh Sadar iblis kalian itu
asih
kalian ber 3 the real setan wujud manusia ..minta maaf di mulut saja ..berharap rencana mereka berbalik menyerang mereka sendiri ..

ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
LibraGirls
Si vira masih mau nampung di yanti???? usir lah ngapain lagi di tampung 😡😡😡😡😡
Dew666
Kalo Yanti gak diusir betapa bodohnya vira
LibraGirls
Kira² di terima gk ya lamaran hartot sama vira 😂😂😂
LibraGirls
weeehhhhh pak kades dah kayak hakim lebih keren pak kades dr hakim yg lagi viral 😂😂😂😂😂
LibraGirls
Laaahh dia ada duit buat bayar pereman dari pada buat ngisi perutnya sama ibu ny BEGPOOOOOO emosi jiwa baca si benalu gk tau diri 😡😡😡😡😡 pengen tak jambak² rasanya 😂
Anitha
Vira diam bukan berarti kalah,Arvin mau megang tangannya Vira ga jadi,karena ia sadar diri tapi Arvin tetap berada di sisi Vira tidak akan meninggalkan Vira sendirian,semoga Arvin adalah jodohnya Vira yang sudah di takdirkan.

Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!