Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrol
Di dalam mobil hening, gerimis di luar kaca semakin deras.
Revan belum menyalakan mesin. Ia menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.
Serena duduk kaku di kursi sebelahnya. Tangannya masih mengepal di atas pangkuan. Ia lebih memilih diam. Setiap kali ia bersuara sedikit saja, keadaan selalu menjadi lebih buruk.
Keheningan itu tidak bertahan lama.
"Lo ngapain ngobrol lama-lama sama dia, hah?" suara Revan pelan, tapi ada nada menahan marah di dalamnya.
"Gue dari tadi liat. Dia berdiri deket banget sama lo, Rena."
Serena menelan ludah.
"Aku... aku nggak ngapa-ngapain, kak. Dia cuma nanya aku pulang sama siapa."
Revan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, menyisir wajah Serena dari atas sampai bawah.
"Selain itu?"
Serena mengangguk kecil. Jantungnya mulai tidak beraturan.
"Enggak ada kak. Kita cuma temen."
"Cuma temen?" Revan mengulang pelan, bibirnya menyungging senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
"Temen kok liatin lo kayak gitu? Gue nggak buta, Serena."
"Aku nggak tahu dia ngeliat aku gimana," suara Serena semakin pelan. "Tapi aku nggak ngasih dia harapan apa-apa kak, aku janji."
Revan mendengus pelan. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih.
"Janji lo nggak ada artinya kalau lo masih mau ngobrol sama dia. Gue udah bilang kan? Mulai sekarang, nggak ada cowok lain yang boleh deket sama lo. Ngerti?"
Serena tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menahan napas.
Belum berani melawan. Belum berani bersuara.
Revan menyalakan mesin dengan kasar, lalu menginjak gas lebih dalam dari biasanya.
Mobil melesat keluar kampus. Jarum spidometer naik cepat, menembus batas aman.
Kecepatan tinggi itu seperti cara Revan melampiaskan emosi yang tidak bisa ia ucapkan.
Setiap tikungan tajam ia ambil dengan kasar, membuat tubuh Serena tersentak ke samping.
"Kak Re, pelan-pelan-"
Serena baru bisa berbisik pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin.
Revan tidak menjawab. Matanya tetap menatap lurus ke jalan, tapi rahangnya semakin mengeras.
Di luar, gerimis berubah jadi hujan deras. Lampu jalan berpendar buram di kaca mobil.
Di sebelahnya, ponsel Serena bergetar sekali. Pesan dari Jake:
Lo udah pulang belum Ren?
Serena menatap layar itu. Jemarinya gemetar.
Dia tidak berani membuka chat itu.
Dia juga tidak berani mematikan notifikasinya.
Mobil akhirnya berhenti di basement apartemen dengan rem mendadak.
Suara ban berdecit masih menggema di telinga Serena.
Revan membuka pintu dan keluar duluan tanpa menoleh. Langkahnya cepat, marah yang belum tuntas masih terbaca dari bahunya yang kaku.
Serena buru-buru mengikutinya dari belakang, jantungnya masih berdetak kencang karena tadi di jalan.
Pintu apartemen ditutup dengan suara keras.
Bruk.
Revan melempar kunci mobil ke meja, lalu berbalik menatap Serena. Matanya gelap.
"HP lo."
Serena menahan napas. "Kak?"
"Gue bilang, HP lo," suaranya rendah, tapi ada tekanan yang membuat Serena tidak bisa menolak.
"Gua nggak suka ada notifikasi dari dia masuk ke HP lo."
Serena meremas ujung bajunya. "Kak, itu privasi aku-"
"Privasi?" Revan memotong, langkahnya mendekat dalam dua langkah besar.
"Lo ngomong privasi sama gue setelah gue liat lo ketawa-ketiwi sama dia?"
Serena mundur selangkah. Tangannya otomatis menyembunyikan ponsel di belakang punggung.
"Aku nggak ketawa-ketiwi, kak. Sumpah. Aku cuma jawab seperlunya."
"Sini HP lo sekarang, Serena."
Nada Revan datar, tapi ada ancaman di dalamnya yang Serena kenal baik.
Serena menatap wajah itu lama. Wajah yang tadi malam masih berbisik maaf di telinganya, sekarang dingin seperti orang asing.
Perlahan, dengan tangan gemetar, ia menyerahkan ponselnya.
Revan merebutnya kasar. Matanya langsung tertuju ke layar. Nama Jake terpampang di notifikasi paling atas.
Jari Revan berhenti di atas layar itu.
"Lo belum bales kan?" Tanya Revan pelan.
"Belum, kak. Aku nggak buka."
Revan menatapnya dalam-dalam, seolah mencari kebohongan di setiap sudut matanya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia mengangguk pelan.
"Bagus. Mulai sekarang, gue yang pegang HP lo."
Dia mematikan data seluler, lalu memasukkan ponsel itu ke saku jasnya.
"Gue nggak mau denger lagi nama dia keluar dari mulut lo, ngerti?"
Serena menunduk. Suaranya hampir tidak terdengar.
"Iya, kak maaf.."
Maaf, lagi-lagi kata itu yang selalu Serena ucapkan. Dan akan selalu dia ucapkan, walau dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Revan menatap serena beberapa detik. Lalu menghela nafas sambil mendongak ke atas, seolah lelah. Dia mengusap wajahnya kasar, lalu tiba-tiba menarik Serena ke dalam pelukannya.
Pelukannya terlalu erat, seperti takut Serena akan hilang kalau dilepas sedetik saja.
"Gue nggak mau marah sama lo, Na," gumamnya di atas kepala Serena. Suaranya serak.
"Tapi lo bikin gue gila kalau lo masih deket sama dia."
Serena memejamkan mata. Dia tidak membalas pelukan itu.
Dia juga tidak mendorongnya pergi.