NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Suci yang Dingin

Hari yang paling ditakuti Halra akhirnya tiba.

​Tidak ada hiruk-pikuk dekorasi bunga mawar putih yang megah, tidak ada alunan musik orkestra yang romantis, dan tidak ada ratusan tamu undangan dari kalangan elit korporat yang memenuhi ruangan. Pernikahan itu digelar secara rahasia di sebuah kapel privat berasitektur gotik kuno di pinggiran kota rombright. Cahaya matahari sore yang temaram masuk menembus kaca-kaca patri besar yang berwarna-warni, memantulkan bayangan yang panjang dan sunyi di atas lantai altar.

​Halra berdiri di sana, mengenakan gaun pengantin putih polos tanpa corak renda sedikit pun. Rambut hitamnya dibiarkan terurai pasrah, tertutup oleh selembar kain transparan (veil) yang tipis. Di cermin kapel sebelum keluar tadi, ia melihat dirinya tidak seperti seorang pengantin, melainkan seperti domba persembahan yang siap disembelih. Wajahnya pucat, dan bibirnya yang diolesi lipstik merah tipis tampak terkatup rapat, menahan getaran kecemasan yang luar biasa.

Nenek Daisa yang melihat penampipan sang cucu langsung naik pitam dan mengerahkan pelayan untuk menyiapakan halra agar tampil sebaik mungkin.

Dengan terpaksa halra hanya diam didandani bak boneka yang mematung.

Setelah selesai berhias Halra di temani sang bibi dari ibunya keluar bersama calon suaminya.

​Di sampingnya, berdiri Sano Joharo.

Pria berusia dua puluh empat tahun itu tampak begitu menjulang tinggi, mendominasi atmosfer kapel yang sunyi dengan setelan jas hitam arang yang dijahit sempurna tanpa cela.

Postur tubuhnya tegap, wajahnya luar biasa tampan dengan garis rahang yang tegas dan tajam layaknya pahatan batu marmer. Namun yang membuat bulu kuduk Halra meremang adalah sepasang mata elang berwarna cokelat gelap milik Sano.

Mata itu begitu dingin, datar, dan kosong—sama sekali tidak memancarkan emosi, kebahagiaan, atau bahkan rasa bersalah. Pria itu berdiri di sana seperti patung es yang hidup.

​Pemuka agama di depan mereka mulai membacakan sumpah pernikahan. Suaranya yang berat menggema di langit-langit kapel yang tinggi, namun bagi Halra, setiap kalimat sumpah itu terdengar seperti pasal-pasal hukuman mati.

​"Sano Joharo, apakah engkau bersedia menerima Halra Wiragata sebagai istrimu yang sah, mengasihinya di waktu sehat maupun sakit, dan berjanji untuk menjaganya seumur hidupmu?"

​Sano tidak segera menjawab. Jeda beberapa detik itu terasa seperti siksaan yang tak berujung bagi Halra. Atmosfer di sekitar mereka mendadak menjadi begitu berat. Halra melirik samar dari balik kain penutup wajahnya, melihat jakun Sano bergerak naik-turun sekali sebelum suara berat dan dalamnya memecah keheningan.

​"Ya, saya bersedia," ucap Sano. Singkat, padat, dan sedingin es. Tidak ada getaran emosi sedikit pun di dalam suaranya. Sumpah itu terdengar lebih seperti sebuah persetujuan kontrak bisnis daripada janji suci di hadapan Tuhan.

​Pemuka agama kemudian beralih menatap Halra. "Halra Wiragata, apakah engkau bersedia menerima Sano Joharo sebagai suamimu yang sah..."

​Pertanyaan itu belum selesai, namun dada Halra sudah berdenyut menyakitkan. Tangannya yang memegang buket bunga kecil di depan gaunnya mencengkeram begitu erat hingga batang-batang bunga itu patah di balik sarung tangannya. Ia ingin berteriak 'tidak'. Ia ingin berlari keluar dari kapel ini, menjauh dari pria yang membawa nama belakang pembunuh orang tuanya. Ia melirik ke kursi jemaat baris depan, di mana Nenek Daisa duduk di kursi roda dengan tatapan memohon yang sangat dalam.

​“Ini demi melindungimu, Halra...” Kalimat neneknya malam itu kembali berbisik di telinganya.

​Halra memejamkan mata erat-erat, membiarkan setitik air mata yang sudah ia tahan sejak pagi jatuh di balik kain transparan yang menutupi wajahnya. Dengan napas yang gemetar dan suara yang nyaris habis, ia memaksakan bibirnya terbuka.

​"Ya... saya bersedia," bisik Halra, parau dan penuh keterpaksaan.

​"Dengan ini, di hadapan saksi dan Tuhan, kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Silakan pasangkan cincin pernikahan kalian."

​Sano berbalik badan menghadapi Halra. Gerakannya begitu efisien dan tenang.

Ia mengambil cincin emas putih polos dari kotak beludru, lalu meraih tangan kanan Halra. Saat kulit telapak tangan Sano yang besar dan hangat bersentuhan dengan jari-jari Halra yang sedingin es, Halra tersentak samar. Ia ingin menarik tangannya kembali, namun cengkeraman jari-jari Sano di pergelangan tangannya begitu kuat dan protektif, seolah sedang mengunci gadis itu agar tidak bisa kabur ke mana pun.

​Sano mendorong cincin itu masuk ke jari manis Halra dengan perlahan. Di saat itulah, untuk pertama kalinya sejak mereka berdiri di altar, Sano menundukkan kepalanya sedikit dan menatap lurus ke dalam sepasang mata Halra yang basah oleh air mata dari balik kain penutup wajah. Tatapan elangnya yang tajam mengunci netra Halra, memberikan sebuah pesan tak tersurat yang membuat jantung Halra berdegup liar karena takut—sekaligus penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!