NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5 — Lima Belas Jam

Nama yang belum pernah Reza Firmansyah anggap sebagai pesaing terus menyala di layar ponselnya.

Surya Pratama.

Di grup alumni, Maya baru saja mengirim foto dirinya memakai pakaian operasi.

Hari pertama jadi asisten kedua. Lumayan untuk langkah awal.

Surya membalas tanpa gambar wajah, hanya potongan laporan operasi dan notifikasi insentif.

Hari pertama jadi operator utama. Lima belas menit. Rp90.000.000.

Grup itu diam selama tujuh detik.

Lalu meledak.

Maya: Itu operasi kecil, kan?

Rizki: Tetap operator. Asisten kedua kok tanya-tanya dari belakang meja?

Farhan: Tolong panggil pemadam. Ada yang terbakar.

Surya baru hendak menyimpan ponsel ketika alarm bencana internal berbunyi di seluruh IGD.

"Kecelakaan beruntun di jalan tol!" teriak perawat koordinator. "Tiga bus, dua truk, sebelas mobil. Korban pertama tiba tujuh menit lagi!"

Tawa di ruang jaga lenyap.

Pak Hendra keluar dari kantornya sambil mengenakan sarung tangan. "Aktifkan triase massal. Area merah di resusitasi, kuning di lorong timur. Semua dokter muda ikut tim yang ditunjuk. Surya, sama saya."

Pintu ambulans terbuka satu demi satu.

Darah, debu, serpihan kaca, dan suara tangis memenuhi IGD. Seorang perempuan dengan perdarahan kepala. Sopir yang dadanya terjepit kemudi. Anak kecil yang memanggil ibunya. Petugas menempelkan label merah, kuning, atau hijau sambil bergerak tanpa berhenti.

Surya menangani jalan napas pasien pertama, memasang akses pada pasien kedua, lalu menekan perdarahan paha pasien ketiga. Tangan Emas 80 persen membuat setiap gerak lebih cepat, tetapi jumlah korban terus bertambah.

"Dua amputasi traumatik!" seru petugas ambulans. "Satu kaki kanan terputus total. Satu lagi hampir putus, hanya tersisa jaringan posterior."

Pak Hendra melihat daftar operator. "Kita butuh dua tim replantasi sekarang."

Suara tenang menjawab dari belakangnya. "Saya ambil satu."

Seorang pria muda melepas jaket perjalanan dan menyerahkannya kepada perawat. Wajahnya bersih, gerakannya terukur, dan kartu identitas tamu tergantung di dada.

Reza Firmansyah.

Lulusan terbaik FK Universitas Airlangga dalam dua puluh tahun terakhir. Dokter muda yang namanya sudah dibicarakan jauh sebelum lulus. Dia baru kembali dari program pelatihan di Jakarta dan datang untuk observasi, tetapi malam itu rumah sakit tak punya kemewahan untuk menolak tangan tambahan.

Matanya berhenti pada Surya.

"Jadi lo Surya?"

"Tergantung. Kalau mau minta foto, nanti saja."

"Gue mau lihat seberapa cepat operator lima belas menit bekerja kalau kasusnya bukan apendisitis."

Pak Hendra memotong, "Kalian boleh adu ego setelah semua pasien hidup. Reza ambil pasien amputasi total. Surya ambil pasien yang hampir putus. dr. Mahmud supervisi dua meja."

Di dua OK yang berdampingan, jam mulai berjalan.

Pasien Surya adalah petugas pemadam berusia sembilan belas tahun. Ledakan setelah tabrakan membuat tulang tungkai bawahnya hancur, pembuluh terputus, dan kaki hanya terhubung oleh sebagian jaringan.

Surya menilai urutan kerja.

Tulang lebih dulu untuk memulihkan panjang. Tendon. Arteri. Vena. Saraf. Setiap menit tanpa aliran darah mengurangi peluang kaki itu diselamatkan.

"Mulai waktu iskemia," katanya.

dr. Mahmud berdiri di antara dua pintu, berpindah memantau. "Jangan mengejar kecepatan sampai mengorbankan anastomosis."

"Saya mengejar aliran darah, Dok."

Surya menstabilkan tulang, menyambung tendon, lalu masuk ke pekerjaan mikrovaskular. Jarum halus bergerak di bawah pembesaran. Tidak ada tarikan berlebih. Tidak ada tusukan kedua pada titik yang sama.

Di OK sebelah, Reza juga bekerja cepat. Dia meminta instrumen sebelum asistennya sempat menaruh yang lama. Untuk standar dokter seusianya, gerakannya nyaris sempurna.

Namun ketika perawat masuk membawa permintaan darah, dia mendengar satu kabar.

"Aliran darah pasien Dokter Surya sudah kembali."

Reza menoleh ke jam.

Lima puluh lima menit.

"Tidak mungkin," katanya.

Dia sendiri baru menyelesaikan pembuluh utama. Kasusnya lebih bersih, ujung amputasi lebih rapi, tetapi waktu sudah lewat satu jam.

"Fokus, Dok," ingat asistennya.

Reza mengatupkan rahang dan kembali bekerja.

Satu jam empat puluh lima menit setelah mulai, dia menyelesaikan penyambungan. Hasilnya bagus. Dalam keadaan normal, itu cukup membuat satu rumah sakit kagum.

Malam itu, semua orang justru membicarakan angka lima puluh lima menit dari ruangan sebelah.

Reza melepas masker dan masuk ke ruang Surya. "Siapa operatornya?"

Surya masih menutup luka. "Saya."

"Lo dibantu menyelesaikan pembuluh?"

"Tidak."

"Ini tidak ilmiah."

Surya melirik monitor. "Denyut di kaki pasien ilmiah. Mau periksa sendiri?"

Reza mendekat, meraba nadi distal, dan kehilangan kalimat berikutnya.

Namun bencana belum selesai.

Begitu satu pasien keluar, pasien lain masuk. Fraktur panggul dengan perdarahan. Cedera abdomen. Luka tembus. Seorang korban mengalami henti jantung di meja operasi dan harus diresusitasi sebelum tindakan dilanjutkan.

Surya berpindah dari satu OK ke OK lain.

Jam ketiga.

Jam keenam.

Jam kesembilan.

Punggungnya mulai kaku. Pandangan terasa berat. Ketika tangannya bergetar untuk pertama kali, dia masuk ke ruang ganti dan mengeluarkan Botol Energi Kecil dari ruang sistem.

Cairan itu terasa dingin saat diminum.

Dalam beberapa detik, kelelahan enam jam terakhir surut. Napasnya kembali teratur. Fokusnya menajam.

『Peringatan: kemampuan ini meminjam cadangan energi tubuh. Setelah efek berakhir, Inang wajib beristirahat.』

"Nanti," gumam Surya.

『Semua Inang selalu bilang begitu.』

Ketika dia kembali ke OK, Reza masih berada di meja lain. Keringat membasahi penutup kepalanya. Tangannya tetap terampil, tetapi bahunya mulai turun.

Pada jam kedua belas, Reza salah menyebut instrumen.

Pada jam ketiga belas, dia harus bersandar pada meja selama beberapa detik.

"Keluar dan istirahat," kata dr. Mahmud.

"Saya masih bisa."

"Ini perintah."

Reza melangkah mundur. Baru dua langkah, lututnya kehilangan tenaga. Perawat menangkap bahunya sebelum kepalanya menghantam lantai.

Dia dibawa keluar dengan brankar.

Saat kesadarannya kembali beberapa menit kemudian, suara mesin anestesi masih terdengar dari balik dinding. Dia menoleh kepada perawat.

"Surya?"

"Masih operasi."

"Dia belum berhenti?"

"Belum."

Reza menatap langit-langit. "Dia Superman?"

Lima belas jam setelah alarm pertama, pasien terakhir meninggalkan OK dalam keadaan stabil.

Surya melepas sarung tangan. Kulit jarinya keriput oleh keringat. Di luar, matahari pagi sudah memutihkan jendela koridor.

Keluarga korban memenuhi ruang tunggu. Mereka berdiri ketika Surya lewat. Ada yang menangis, ada yang merapatkan kedua tangan di dada, ada yang hanya mampu mengucapkan terima kasih berulang kali.

Cahaya keemasan membanjiri pandangannya.

『Botol Pahala penuh.』

『Hadiah khusus: Super Dopamin pertama diperoleh. Durasi penguatan: lima belas menit.』

Botol itu kosong sesaat.

Lalu gelombang rasa terima kasih berikutnya masuk begitu deras hingga cahaya meluap dari mulutnya.

『Pahala melampaui kapasitas. Bonus limpahan diaktifkan.』

Tujuh kartu cahaya berputar di hadapan Surya.

『Keahlian tingkat dunia diperoleh: transplantasi paru, replantasi ekstremitas, reseksi hemipelvis posterior, pengangkatan ginjal transplantasi, bypass arteri dengan vena safena, dan selective posterior rhizotomy untuk cerebral palsy.』

『Tangan Emas mencapai 100 persen.』

Sensasi panas menyapu kedua lengannya. Surya menatap tangannya sendiri. Lima belas jam lalu, tangan itu milik dokter muda berbakat.

Sekarang, ketepatannya setara dengan ahli bedah yang menghabiskan puluhan tahun di meja operasi.

Pak Hendra datang membawa dua gelas kopi. "Minum. Setelah itu pulang dan tidur."

Surya menerima gelasnya. "Semua pasien?"

"Yang masuk OK, stabil. Termasuk dua kaki yang kalian sambung." Pak Hendra menatapnya lama. "Malam ini nama kamu tidak cuma dikenal pasien. Seluruh rumah sakit melihatnya."

Ponsel Pak Hendra berbunyi. Dia membaca pesan dari Onkologi, lalu ekspresinya berubah.

"Ada pasien kanker hati lanjut," katanya. "Prof. Tarmidi akan datang. Mereka bilang operasinya mungkin tidak bisa dilakukan."

Surya menggenggam kopi hangat itu.

Di dalam kepalanya, pengalaman operasi kanker hati stadium empat baru saja terbuka sempurna.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!