PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROYEK PERTAMA
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar mampu menembus kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di Kota Aurelia, Primus sudah berada di ruang kerjanya. Sejak pukul enam pagi, aroma kopi hitam yang kuat telah memenuhi ruangan yang terletak di sayap barat mansion tersebut.
Ruangan itu tidak terlalu luas, apalagi jika dibandingkan dengan kantor megah milik para petinggi keluarga Aristokrat yang berlapis emas dan marmer mahal. Namun, bagi Primus, ini adalah bentengnya. Dinding-dindingnya dipenuhi rak buku kayu tua yang menjulang hingga ke langit-langit, sementara beberapa layar monitor menampilkan aliran grafik saham yang terus berkedip secara real-time.
Primus menyesap kopinya, merasakan pahit yang membakar lidahnya. Matanya tertuju pada berkas tebal bersampul biru yang dikirimkan dewan tetua semalam.
"Proyek Cabang Timur," gumamnya pelan.
"Cabang Timur... mereka benar-benar memberiku 'hadiah' yang hampir mati," batin Primus sambil membalik halaman demi halaman.
Semakin ia membaca, semakin dalam kerutan di alisnya. Perusahaan manufaktur yang menjadi tanggung jawabnya ternyata sedang berada di ambang kehancuran. Penjualan anjlok drastis, manajemen internalnya dipenuhi dengan praktik korupsi terselubung, dan para investor besar mulai menarik dana secara massal. Rumor tentang kebangkrutan sudah menyebar di pasar seperti api yang melalap jerami kering.
"Mereka tidak sedang memberiku tantangan. Mereka sedang memberiku peti mati," pikir Primus. Ada rasa perih yang sempat melintas di dadanya—rasa kecewa yang terkubur dalam-dalam terhadap kakeknya sendiri. "Apakah kakek juga ingin melihatku hancur, atau ini hanya cara mereka untuk menyingkirkanku secara halus tanpa harus mengotori tangan mereka sendiri?"
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," ucap Primus, segera membuang jauh-jauh emosi negatif itu dan kembali ke topeng datarnya.
Seorang pria tua dengan rambut putih yang tertata sangat rapi masuk membawa map tambahan. Leonard, kepala pelayan senior yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade, membungkuk dalam.
"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa Leonard.
"Pagi, Paman Leonard. Terima kasih sudah mengantarkan ini secara pribadi."
Leonard tersenyum tipis. Di rumah yang penuh dengan intrik ini, Primus adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih sudi memanggilnya dengan sebutan paman. "Tuan Muda ini... dia memiliki mata ibunya. Terlalu baik untuk tempat sekejam ini," batin Leonard dengan rasa haru yang tersembunyi.
"Ini laporan audit internal terbaru dari Cabang Timur," Leonard meletakkan map itu, lalu terdiam sejenak. "Tuan Muda... jika boleh saya memberikan saran..."
"Katakan saja, Paman."
"Kompetisi ini bukan sekadar tentang angka dan profit. Saya sudah melihat terlalu banyak pewaris yang tumbang bukan karena kebodohan, tapi karena mereka tidak menyadari bahwa musuh yang paling berbahaya adalah orang yang memeluk mereka di meja makan."
Primus menatap mata Leonard, menangkap ketulusan di sana.
"Maksud Paman... seseorang akan menggunakan cara kotor?"
Leonard menghela napas, wajahnya tampak lebih tua dari biasanya. "Hati-hati dengan Tuan Muda Adrian. Dia sudah mulai menggerakkan pion-pionnya sejak fajar tadi."
Setelah Leonard pergi, ruangan kembali sunyi. Primus bersandar di kursi kerjanya, memutar-mutar pena perak di sela jarinya.
"Adrian lagi. Vanessa memperingatiku, sekarang Leonard juga. Sepertinya sepupuku itu benar-benar tidak sabar untuk menguburku hidup-hidup," batin Primus. Ia menatap ke luar jendela, melihat matahari yang mulai meninggi. "Kau pikir aku akan takut dengan permainan kotor, Adrian? Kau tidak tahu bahwa aku sudah terbiasa hidup di dalam lumpur sejak hari kematian ibuku."
Dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah rencana radikal mulai terbentuk di kepala Primus. Ia melihat apa yang tidak dilihat oleh para manajer profesional selama berbulan-bulan. Masalah terbesar Cabang Timur bukanlah produk yang ketinggalan zaman, melainkan struktur manusianya yang telah membusuk dari dalam.
Saat jemarinya menari di atas keyboard, ponselnya bergetar. Nama "Vanessa" muncul di layar.
"Halo?"
"Primus... apa kau sudah mulai bekerja?" suara Vanessa terdengar sedikit tergesa.
"Sedikit. Ada apa?"
"Hanya ingin mengingatkan tentang pesta makan malam minggu depan. Kau... kau benar-benar harus datang tepat waktu. Jangan sampai telat sedetik pun."
Primus mengernyit. "Kau sudah bilang itu berkali-kali kemarin."
"Aku tahu! Tapi kali ini... ah, lupakan saja. Intinya, pakai jas yang kukirim dan jangan bicara sembarangan di depan Ayahku. Aku menunggumu."
Klik. Sambungan terputus.
"Suaranya... dia gemetar," batin Primus, menatap layar ponselnya yang menggelap. "Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Apakah keluarga Laurent juga terlibat dalam permainan Adrian? Jika iya... maka pertunangan ini benar-benar akan menjadi perang terbuka."
Tiba-tiba, telepon kantornya berdering.
"Ya?"
"Tuan Muda Primus, ini sekretaris eksekutif Cabang Timur. Direktur utama meminta Anda datang sekarang untuk rapat darurat. Beliau mengatakan ini menyangkut kelangsungan operasional hari ini."
Primus melihat jam tangannya. "Masih pagi sekali untuk rapat darurat."
"Tuan Muda Adrian sudah berada di sini sejak pukul lima pagi tadi, Tuan Muda. Beliau membawa tim audit eksternal dan membekukan sementara beberapa rekening divisi."
Mata Primus menyipit tajam. Kilat amarah yang langka muncul sekejap di matanya.
"Luar biasa. Belum dua belas jam sejak rapat dimulai, dan dia sudah berani menyentuh wilayah kekuasaanku? Dia ingin mematikan langkahku sebelum aku sempat melangkah ke pintu kantor," batin Primus sambil menarik napas panjang untuk mendinginkan kepalanya.
Ia berdiri, menyambar jas hitam sederhananya, dan merapikan manset peraknya. Senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya.
"Kau ingin bermain agresif, Adrian? Baiklah," gumamnya pelan. "Mari kita lihat, siapa yang akan menjadi mangsa dan siapa yang akan menjadi pemangsa di kandang singa ini."
Di saat yang sama, di lantai teratas Gedung Aristokrat Pusat yang megah.
Adrian berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah distrik timur. Di tangannya terdapat segelas anggur vintage yang mahal. Di belakangnya, sekelompok pria bersetelan gelap berdiri dengan sikap formal yang kaku.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Adrian tanpa menoleh.
"Sudah, Tuan Muda. Orang-orang kita di Cabang Timur sudah memprovokasi serikat pekerja dan menyabotase data keuangan di server utama. Tuan Muda Primus tidak akan bisa menemukan satu pun dokumen yang benar saat dia tiba nanti."
Adrian tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan penuh kemenangan. Ia mengangkat gelasnya seolah sedang bersulang dengan bayangan kota.
"Kasihan sekali kau, Primus. Kau mungkin cucu kesayangan di mata dewan, tapi kau hanyalah sampah di mataku. Dalam tiga hari, aku akan memastikan kau diusir dari keluarga ini dengan hinaan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."
Adrian menyesap anggurnya, merasa sangat yakin bahwa kompetisi ini telah ia menangkan bahkan sebelum dimulai. Yang sama sekali tidak ia sadari adalah bahwa pria yang ia sebut "sampah" itu saat ini sedang menuju ke arahnya dengan membawa badai yang akan meruntuhkan seluruh gedung kesombongannya.
"BERSAMBUNG"