"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Angin malam menyentuh wajahku, membawa aroma asin yang khas dari laut gelap yang membentang luas di hadapanku. Ombak bergerak tenang, seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja kami lewati. Bulan menggantung rendah, cahayanya memantul di permukaan air seperti serpihan perak yang patah.
Aku duduk di tepi pantai dengan lutut tertekuk. Jemariku perlahan menggenggam pasir yang dingin dan halus—seakan mencoba menahan sesuatu yang tak bisa benar-benar kugenggam. Di sampingku, ia tidak berusaha mengisi keheningan ini. ia tidak pula memecahnya dengan kata-kata. Ia hanya duduk di sana, hadir sepenuhnya, seperti laut yang setia pada garis cakrawala—diam, tetapi tidak pernah pergi.
Aku melirik ke arahnya sejenak, lalu kembali memandang lautan yang teramat indah ini. Jika ini di waktu normal, ini pasti akan menjadi kencan yang sangat sempurna. Tapi saat ini, baik aku maupun dia, baru saja melewati neraka beberapa jam yang lalu. Aku harus menceritakan segala hal tentangku. Apa yang terjadi di masa lalu. Dan apa awal mula dari kisahku ini. aku harus menceritakan semuanya pada pria ini. Sebelum aku menyatakan cintaku padanya.
...****************...
“Sungguh penampilan yang sangat menyedihkan.”
Itu adalah kalimat yang terucap ketika aku melihat kondisiku di cermin. Mata sembab dan wajah pucat. Hanya karena kehilangan satu orang. Namun itu bukanlah sesuatu yang lucu.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Aku berjalan dengan linglung ke ruang tamu. Menghidupkan tv. Bukan untuk menonton film dan mengulangi kejadian yang sama seperti sebelumnya, tapi untuk mencari tahu informasi yang sangat penting.
“7 April 2010.” Itu merupakan tanggal yang sama dengan dua kejadian sebelumnya.
Aku sering dipuji oleh paman dan orang tuaku karena kecerdasan dan pola pikirku yang cepat tumbuh dari kebanyakn anak lainnya, dan aku senang mendengar semua pujian itu. Tapi sekarang aku membencinya.
Aku kembali mematikan tv. Lalu tenggelam ke dalam pikiranku sendiri.
Jujur saja, kejadian aneh dan keputusasaan ini dapat membuatku gila kapan saja. Kejadian aneh ini pasti bukanlah karena semacam sihir atau semacamnya. Karena paman bilang kalau sihir itu sama sekali tidak ada. Ini juga bukan mimpi. Rasa sakit dari cubitanku ini nyata. Lalu kenapa? Apa ini ada kaitannya dengan paman yang tidak datang? Apa kejadian aneh ini akan hilang jika aku bertemu dengan paman? Kalau begitu aku harus mencarinya.
“Tapi… kemana aku harus mencarinya?”
Aku tidak pernah keluar rumah sendirian. Ayah dan ibu sering bilang kalau di luar itu berbahaya jika aku pergi sendiri. Karena itu aku harus pergi dengan pamanku. Tapi sekarang paman tidak ada. Paman tidak akan datang meskipun aku menunggunya. Karena itu aku harus mencarinya keluar. Tapi sebelum itu, apa aku bisa bertahan sampai bertemu paman?
Keraguan dan ketakutan itu terus terlintas dibenakku. Pikiranku menjadi kacau. Aku tidak tahu lagi pilihan apa yang benar.
“Itulah adalah hal yang wajar.”
Wajar? Apanya?
“Kau itu masih berumur 5 tahun. Ini bukanlah sesuatu yang perlu kau pikir dan kau selesaikan sendiri. Ini adalah tugas orang dewasa.”
Tugas orang dewasa? Apa mereka akan percaya jika aku menceritakan semua ini? Tidak, mereka tidak akan percaya.
“Kalau begitu apa yang akan kau lakukan? Menyerah juga merupakan suatu pilihan.”
“AKU TIDAK AKAN MENYERAH!”
Teriakanku memenuhi ruangan. Kepalaku tertunduk. Bajuku basah oleh keringat. Dadaku naik turun. Napasku memburu dengan cepat.
Ya, aku tidak akan menyerah. Aku harus bertemu dengan paman. Bermain dan tertawa seperti sebelumnya.
Aku mengangkat kepalaku perlahan. Menatap boneka beruang pemberian paman di samping tv. Ingatan tentang kenangan kami terlintas dengan cepat. Bibirku bergetar. Air mata menggenang di sudut mataku.
PLAK!
Suara tamparan terdengar jelas. Itu adalah tamparan yang aku berikan kepada kedua pipiku. Tanda kemantapan hatiku.
Aku segera berlari ke dapur. Mengambil gelas. Lalu mengisinya dengan air dari kran wastafel. Aku menatap air yang terisi penuh di gelas itu sejenak. Awalnya aku merasa ragu. Tapi, air tetaplah air. Akupun meneguk air dalam gelas itu sampai habis. Ada perasaan aneh yang kurasakan di perutku disertai keinginan untuk memuntahkannya. Namun aku berhasil menahannya. Tidak berhenti disitu, aku kembali mengisi gelas di tanganku, lalu meminumnya. Perasaan yang sama kembali terasa, namun aku berhasil menahannya. Dan aku mengulanginya sampai sepuluh kali. Namun pada gelas kesepuluh, aku dapat merasakan sesuatu yang terus naik dari perutku. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Menahannya sekuat tenaga, lalu menelannya kembali.
“Haah… Huuh… Haah…”
Napasku benar-benar tak karuan. Aku masih dapat merasakan perasaan aneh saat menelan air itu. Tapi tetap saja, ini lebih baik dari pada kehausan dan kembali jatuh pingsan seperti sebelumnya.
Setelah napasku kembali stabil, aku segera memperbaiki penampilanku. Pergi mandi. Mengganti pakaian. Mengambil uang di kamar orang tuaku, lalu memasukkannya ke dalam tas sandang berwarna pink dengan motif kupu-kupu pemberian paman.
… yang terakhir itu seharusnya bukanlah sesuatu yang pantas untuk dilakukan.
“Aku akan minta maaf setelah ini!”
Dengan perasaan dan hati yang mantap, aku akhirnya pergi keluar rumah sendirian. Dengan misi mencari paman yang sangat berharga bagiku.