Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. : 3
Lisa terus berjalan tanpa henti. Kaki kecilnya melangkah telanjang di atas tanah, bebatuan, dan akar pohon. Di Surga, ia tak pernah mengenal alas kaki, tanah di sana lunak dan suci. Jadi ia tak sadar bahwa di sini, kakinya mulai lecet, berdarah, dan terluka. Ia terus berjalan menahan rasa sakit demi sampai ke tujuan.
Hingga tiba-tiba…
“HEI, SERAHKAN SEMUA HARTA KALIAN!!!”
“JANGAN BANYAK BICARA, BUNUH SAJA MEREKA!!!”
Suara teriakan keras terdengar dari seberang jalan raya. Lisa menghentikan langkahnya dan mengintip dari balik semak belukar.
Di sana, sebuah kereta kuda mewah dikepung oleh belasan orang berwajah garang dan membawa senjata tajam. Di dalam kereta, terlihat seorang wanita bangsawan yang cantik namun ketakutan, sedang memeluk erat seorang anak perempuan dan seorang bayi laki-laki. Para pengawal mereka sudah kewalahan dan terpojok, jumlah musuh terlalu banyak.
Mata Lisa menyala. Rasa ingin melindungi muncul secara alami.
*“Aku akan menghancurkan mereka!” bisiknya penuh amarah. Ia siap melepaskan kekuatan dahsyatnya untuk melenyapkan semua penjahat itu dalam sekejap.
Namun, para peri langsung berteriak panik di dekat telinganya.
“JANGAN, YANG MULIA!!! JANGAN GUNAKAN KEKUATAN DEWA DI DUNIA MANUSIA ITU AKAN BERAKIBAT BESAR!!!”
“Di dunia manusia, kekuatan Anda terikat dan ditahan! Jika Anda memaksanya keluar, tubuh kecil Anda tidak akan kuat menahan beban energi itu! Anda akan terkena serangan balik dan Itu akan menyakiti diri anda sendiri!!!”
Lisa menghentikan gerakannya, napasnya memburu. “Lalu apa yang harus kulakukan? Mereka akan mati!”
“Gunakan ini, Nona Lisa!”
Salah satu peri mengeluarkan sebuah benda berkilau. Sebuah pedang pendek namun indah, gagangnya terbuat dari kayu ajaib dan bilahnya berkilau biru.
“Ini adalah Pedang Inti Peri! Kami menempa dan menjaganya sejak ribuan tahun lalu. Ini adalah warisan leluhur kami. Pedang ini cukup kuat untuk melindungi Anda, tapi tidak akan menyakiti tubuh Anda.”
Lisa menerima pedang itu. Rasanya pas dan ringan di tangannya.
“Terima kasih, teman-temanku…”
Wush!
Dengan lompatan ringan namun cepat, Lisa melompat tinggi dan mendarat tepat di tengah-tengah antara para penjahat dan kereta kuda!
“Hah?!”
Semua orang terkejut. Mereka melihat sosok anak kecil memakai jubah gelap dan penutup mata, memegang pedang kecil.
“Woi, Bos! Lihat itu! Kok ada anak kecil di sini?” teriak salah satu perampok.
“Hahaha, kulitnya mulus banget dan cantik! Bagaimana kalau kita tangkap dia juga? Jual ke tempat lelang pasti laku mahal!” ejek yang lain.
“Tangkap semua! Jangan sisakan satu pun nyawa di sini!”
Lisa menatap mereka dengan tatapan dingin yang menakutkan. Ia mengangkat pedangnya dan berkata dengan suara lantang namun polos.
“BERANI KALIAN MENYENTAHKU?! AKU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN! AKU AKAN MEMUTUS TANGAN DAN KAKI KALIAN, MEMBUAT KALIAN MERASAKAN SAKIT YANG LEBIH DARIPADA MATI! ITU ADALAH HAL YANG TIDAK AKAN KALIAN INGINKAN RASAKAN!!!”
🗣️🔊 [Bahasa Dewa: Suaranya agung, berat, dan mengandung kekuatan, tapi bagi telinga manusia…]
👂👀 “Wablemumum… hablrumm… brrrrmmm…”
Para perampok itu malah tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHA! GILA ANAK INI! KAYAK ANAK UMUR 5 TAHUN BELAJAR BICARA! NGOMONG APAAN SIH GAK JELAS!”
“DASAR ANAK BODOH! MAU KAU LAWAN KAMI?!”
Dari dalam kereta, Ibu bangsawan itu panik setengah mati.
“NAK!!! JANGAN!!!” teriaknya. “Apa yang kamu lakukan?! Ini sangat berbahaya! Ayo cepat masuk ke sini! Masuk ke dalam kereta! Biarkan para pengawal yang melawan! Kamu anak baik, jangan di situ!”
Lisa menoleh sedikit ke arah wanita itu, lalu berkata dengan tenang dan bijak (tapi masih pakai bahasa Dewa):
“JIKA AKU MASUK, KITA SEMUA AKAN MATI. TAPI JIKA AKU YANG YANG MELAWAN, KALIAN AKAN HIDUP.”
🗣️🔊 “Blablabla… matii… hiduupp…”
Wanita itu bingung, tapi ia bisa merasakan keteguhan dari anak kecil itu.
Lisa kembali menatap para perampok yang masih tertawa. Wajahnya kini benar-benar datar dan dingin.
“Kalian menertawakanku… Baiklah. Rasakan ini.”
Tanpa ragu sedikitpun, Lisa melompat maju. Ia mengayunkan Pedang Inti Peri dengan gerakan yang lincah dan indah. Walaupun ia tidak bisa menggunakan kekuatan magisnya, insting bertarung seorang Dewa tetap ada di dalam darahnya.
Srett! Jleb!
“Aaaarrghhh!!!”
Beberapa bandit berteriak kesakitan. Meskipun luka yang dibuat Lisa terlihat kecil, pedang itu terbuat dari energi murni. Luka itu terasa sangat perih, dingin, dan terus mengeluarkan darah, membuat para perampok itu mengamuk kesakitan.
“Sialan! Anak kecil ini menyakitiku!!!” teriak salah satu bandit sambil memegang lengannya yang berdarah.
Karena kesakitan dan emosi, kekuatan fisik para bandit itu jauh lebih besar dibanding tubuh kecil Lisa. Mereka mulai membalas dengan serangan yang buas.
Bugh! Plak!
Lisa terpental, terhantam pedang dan pukulan. Tubuhnya tak kuat menahan. Ia terbatuk, kakinya lemas, dan akhirnya ia jatuh terduduk di tanah, tak sanggup lagi bangkit. Ia kalah telak.
“Hahaha! Dasar anak kecil sombong!”
Kau kira kau bisa melawan kami hanya dengan main-main?!
Pemimpin bandit melangkah mendekat, matanya merah penuh kebencian. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap untuk menghabisi nyawa gadis kecil itu.
“MATILAH KAU!!!”
SYYUUUUUTTT!!!
Pedang itu dihunuskan dengan cepat ke arah dada Lisa! Lisa memejamkan mata, siap menerima rasa sakit.
NAMUN…
DONG!!!
Suara benturan keras terdengar. Tiba-tiba sebuah lapisan cahaya putih transparan muncul melindungi Lisa dan seluruh kereta kuda!
Pedang sang pemimpin bandit itu terpental, tak bisa menyentuh kulit Lisa sedikitpun.
“APA INI?!” teriak mereka kaget.
“Cepat serang! Hancurkan pertahanan ini!”
Para bandit mengeroyok. Mereka memukul, menebas, bahkan melempar sihir gelap ke arah lapisan pelindung itu. Tapi…
DUNG! DUNG! DUNG!
Semua serangan itu terpental begitu saja. Lapisan cahaya itu kokoh seperti berlian langit, tak tergores sedikitpun. Itu adalah perlindungan maksimal dari para peri yang tidak bisa membiarkan Putri mereka terluka lebih jauh.
“Sial! Sialan!!!” geram pemimpin bandit frustrasi. “Kenapa pertahanannya sekuat ini?! Apa ini pekerjaan penyihir kuat?! Hancurkan! Hancurkan semuanya! Jangan sampai bantuan datang! Kita tidak boleh pulang dengan tangan kosong!”
Mereka menghajar tanpa henti, tapi pelindung itu tetap tak bergeming. Mereka akhirnya mundur karena lelah dan takut ada pasukan kerajaan yang datang.
“Ayo kita pergi! Besok kita cari mereka lagi!”
Akhirnya para perampok itu pergi dengan menggeram kesal.
Setelah suasana aman, lapisan cahaya itu perlahan menghilang. Lisa langsung lemas dan jatuh.
Wanita bangsawan itu segera turun dari kereta. Ia berlari menghampiri dan mengangkat tubuh kecil Lisa yang penuh luka, lecet, dan kelelahan ke dalam pelukannya.
Wanita itu melihat wajah di balik penutup mata, melihat kaki kecil yang berdarah, dan melihat pakaian yang compang-camping. Hatinya terasa perih luar biasa.
“Ya Tuhan… Anak yang malang…” bisiknya dengan suara bergetar, air mata menetes membasahi pipi Lisa.
Ia mengusap kepala gadis itu dengan sangat lembut, seolah memegang barang paling berharga di dunia.
“Kenapa kau seberani ini, nak? Kenapa kau mau mempertaruhkan nyawamu demi orang yang bahkan tidak kau kenal? Lihatlah dirimu… kau terluka parah…”
Wanita itu memeluk Lisa erat-erat, memberikan kehangatan yang sangat dirindukan gadis kecil itu.
“Jangan takut lagi ya… Ibu bawa kau masuk. Mulai sekarang, kau aman. Tidak ada yang akan menyakiti mu lagi. Saya janji…”
Lisa yang sudah setengah sadar, merasakan kehangatan itu. Walaupun tidak mengerti sepenuhnya kata-katanya, ia bisa merasakan niat baik dan kasih sayang yang tulus dari wanita itu. Perlahan, kesadarannya menghilang dan ia pun pingsan dalam pelukan hangat tersebut.
Kereta kuda itu akhirnya tiba di sebuah rumah besar yang megah dan indah. Begitu berhenti, seorang pria tampan berpakaian bangsawan langsung berlari menghampiri dengan wajah panik.
“Sayang! Apa yang terjadi?! Kalian baik-baik saja?!”
Ia memeluk istrinya dan anak-anaknya dengan gemetar, lalu menepuk jidatnya sendiri penuh penyesalan.
**“Maafkan aku! Ini salahku! Aku seharusnya tidak membiarkan kalian bepergian sendirian! Seharusnya aku mengirim lebih banyak pengawal! Maafkan aku… maafkan Ayah ya…”
Istripun tersenyum lega sambil memegang tangan suaminya. “Kami semua tidak apa-apa, suamiku. Kami selamat.”
“Tapi… anak ini siapa?” tanya sang suami heran sambil menunjuk Lisa yang pingsan dan terluka di pelukan pengawal“Kenapa lukanya parah sekali?”
“Dialah yang menyelamatkan kami,” jawab istrinya lembut.
Tiba-tiba anak perempuan kecil mereka menarik baju ayahnya. “Ayah! Kakak kecil ini hebat sekali! Dia yang melindungi kita! Dia berani lawan orang jahat sendirian! Dia keren banget!”
Wanita itu menatap suaminya dengan tatapan memohon. “Suamiku… bagaimana jika kita mengadopsinya saja? Sepertinya dia tidak memiliki orang tua dan keluarga. Lihatlah dia, begitu malang…”
Sang suami terdiam, mengusap dagunya. “Kita akan memikirkannya, istriku. Kita harus mencari tahu dulu siapa dia dan dari mana asalnya. Kita tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Tapi untuk sekarang, kita rawat dia dulu.”
Lisa pun dibawa ke sebuah kamar yang sangat cantik, empuk, dan penuh hiasan bunga. Mereka memanggil seorang Pendeta penyembuh untuk mengobati luka-lukanya.
Namun, aneh terjadi.
Sang Pendeta mengangkat tangannya, memancarkan cahaya suci berwarna emas ke arah tubuh Lisa. Tapi… cahaya itu seolah menembus begitu saja atau terpantul keluar. Tidak ada efek sama sekali. Luka di kaki dan tangan Lisa tidak tertutup.
“Maafkan aku, Tuan Bangsawan…” kata Pendeta itu dengan keringat dingin. “Sepertinya… anak ini tidak bisa menerima kekuatan suci.”
“Apa? Bagaimana mungkin?!” sang suami terkejut. “Bisa-bisanya ada manusia yang tidak bisa disembuhkan oleh sihir suci?”
“Sulit dipercaya memang, Tuan. Tapi menurut ilmu yang kumiliki, hal ini biasanya terjadi hanya karena dua hal…” Pendeta itu menatap Lisa takjub. “Entah karena kekuatan suci yang ada di dalam tubuh anak ini jauh lebih tinggi dan murni daripada milikku… atau dia memiliki jenis energi magis khusus yang menolak bantuan luar.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Nyonya besar cemas.
“Tenang saja, Tuan Putri… eh, maksudku Nona. Luka ini hanya luka luar biasa. Tidak berbahaya. Biarkan saja, dia akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Tubuhnya menolak obat sihir, jadi biarkan alam yang bekerja.”
Setelah pendeta itu pergi, kamar menjadi sunyi.
Beberapa saat kemudian, perlahan Lisa membuka matanya. Ia melihat langit-langit kamar yang mewah dan indah, sangat berbeda dengan gua atau istana surga.
“Di mana ini…?” gumamnya pelan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka kecil-kecil. Seorang anak perempuan kecil yang lucu mengintip, lalu masuk dengan senyum ceria. Itu adalah anak yang tadi di dalam kereta.
“Kakak…!” panggilnya manja sambil mendekat ke ranjang. “Kakak sudah bangun? Kakak baik-baik saja kan?”
Lisa menatap anak itu, lalu tersenyum tipis. “Aku… aku baik-baik saja.”
Namun, saat mata Lisa menatap tubuh anak kecil itu, senyumnya perlahan menghilang. Wajahnya berubah prihatin.
Dengan mata dewanya, Lisa bisa melihat jelas aliran energi di dalam tubuh manusia. Dan apa yang dia lihat membuat hatinya sesak.
“Aliran mananya… rusak…” batin Lisa sedih.
Saluran energi di tubuh anak ini berantakan, tersumbat, dan berjalan tidak beraturan. Itu sebabnya dia terlihat lemah dan sering sakit-sakitan. Bahkan Lisa bisa merasakan bahwa dengan kondisi seperti ini, anak ini sangat sulit untuk bisa bertahan hidup sampai dewasa.
Lisa ingin sekali mengulurkan tangannya, ingin memperbaikinya dengan kekuatannya. Tapi ia ingat pesan para peri, tubuhnya sekarang lemah dan jika ia memaksakan sihir, ia bisa sakit parah. Belum saatnya.
Akhirnya, Lisa hanya bisa menatap anak itu dengan tatapan penuh kasih sayang dan kesedihan yang mendalam. Ia mengulurkan tangan kecilnya dan membelai kepala anak itu pelan.
“Tahanlah… Suatu hari nanti, aku akan menyembuhkanmu. Aku janji.”Batinya berucap.
Floyen melihat lisa tersenyum, tapi tiba-tiba senyum itu hilang dan diganti dengan tatapan yang dalam dan sedih. Karena masih kecil, Floyen jadi bingung dan merasa sedikit takut atau canggung. Akhirnya dia pun berlari keluar kamar dengan langkah kecil.
Lisa menatap pintu yang tertutup, hatinya sedikit perih.
“Apa… apa dia takut padaku?” batinnya bertanya-tanya. “Apa wajahku terlalu menakutkan? Atau karena aku memakai penutup mata ini? Maafkan aku ...”
Tiba-tiba, cahaya-cahaya kecil muncul di sekeliling kamar. Para peri muncul dengan wajah lelah dan sedikit pucat.
“Yang Mulia Putri Lisa…” ucap pemimpin peri dengan napas terengah. “Maafkan kami… Kami tidak bisa terus menemani Anda untuk saat ini. Kekuatan perisai yang kami keluarkan tadi terlalu besar, menghabiskan banyak energi kami. Kami harus kembali ke Dunia Peri untuk memulihkan diri.”
Lisa terkejut, lalu mengangguk paham. “Baiklah… Aku mengerti. Kalian jangan sakit-sakit ya. Aku akan menunggu kalian kembali, teman-temanku, kakak-kakak peri.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Jagalah diri Anda baik-baik. Jangan lakukan hal berbahaya dulu sampai kami kembali.”
Setelah mengucapkan itu, para peri pun berubah menjadi butiran cahaya dan menghilang perlahan meninggalkan Lisa sendirian.
Tidak lama setelah para peri pergi, pintu kamar terbuka lagi. Masuklah Nyonya Rafaela, Tuan Cedric, dan di belakang mereka ada Floyen yang mengintip malu-malu.
“Nak,” sapa Rafaela lembut sambil duduk di tepi ranjang. “Bagaimana keadaannya? Apakah kamu baik-baik saja? Ada yang sakit atau luka yang perih?”
Lisa menatap mereka, lalu menggeleng pelan dan menjawab dengan bahasanya sendiri yang anggun.
“Aku baik-baik saja.”
Mereka berdua saling pandang. Rafaela lalu berbisik pada suaminya, “Sepertinya dia belum bisa berbicara bahasa kita dengan lancar, sayang.”
“Iya, kau benar,” jawab Cedric pelan. “Tapi dari reaksinya sepertinya dia mengerti apa yang kita bicarakan.”
Rafaela kembali menatap Lisa dengan tatapan penuh kasih. “Nak… apa kamu punya keluarga? Jika punya kami bisa membantu untuk mencari keluarga kamu”
Lisa terdiam. Ia ingin sekali mengangguk keras, mengatakan ia punya Ibu yang hebat di Surga. Tapi ia sadar, di dunia manusia ini… ia tidak punya siapa-siapa. Ia sendirian.
Perlahan, Lisa pun menggelengkan kepalanya.
Melihat itu, hati Rafaela terenyuh. Ia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Cedric menghela napas panjang, lalu duduk lebih dekat ke sisi Lisa.
“Nak…” suaranya berat namun lembut. “Apakah kamu mau… menjadi anak kami?”
Lisa menatap mereka bergantian. Wajah Tuan Cedric yang tegas namun teduh, wajah Nyonya Rafaela yang hangat, dan wajah Floyen yang berharap.
Tiba-tiba Floyen naik ke atas kasur, merangkak mendekat dan duduk tepat di hadapan Lisa.
“Kakak! Jadilah kakakku!” serunya ceria. “Aku ingin kakak menjadi saudaraku yang keren yang bisa lindungi aku! Dan aku juga akan lindungi kakak! Aku jadi pengawal kakak deh! Karena kakak cantik dan hebat banget!”
Mendengar itu, hati Lisa yang dingin dan beku seketika mencair. Senyum murni dan tulus akhirnya terukir di wajahnya. Ia menganggukkan kepala dengan cepat sambil memegang tangan kecil Floyen.
“Baiklah…”
“Namaku Floyen!” kata anak itu bangga.
Rafaela tersenyum melihat itu. “Iya, dia Floyen. Aku Rafaela, dan dia suamiku, Cedric. Dan kamu juga memiliki adik laki laki usia nya masih 1 tahun namanya felix lalu kamu tidak perlu terburu-buru memanggil aku dengan sebutan ibu Kamu bisa panggil aku Bibi, dan panggil kamu juga bisa memanggil cedric Paman ya. Kami tidak memaksamu untuk langsung memanggil Ibu atau Ayah, semuanya pelan-pelan saja.”
Lisa mengangguk paham dan tersenyum.
“Baiklah, istirahatlah dulu ya. Nanti malam kalau sudah siap, ayo makan malam bersama.”
Semua orang hendak keluar, namun sebelum menutup pintu, Tuan Cedric berhenti. Ia menoleh ke arah gadis kecil di ranjang. Ia mengelus kepala Lisa dengan sangat pelan dan lembut, lalu membungkuk dan mencium keningnya.
“Tidurlah dengan nyaman, Nak.”
Bugh!
Jantung Lisa berdegup kencang. Tubuhnya terasa hangat menjalar dari kening ke seluruh tubuh. Ia terkejut, matanya membelalak di balik penutup mata.
Ini adalah pertama kalinya… ia merasakan sentuhan hangat, lembut, dan penuh perlindungan seperti ini dari sosok ayah. Walaupun hanya sebatas ciuman kening, rasanya begitu hangat, begitu aman, dan membuatnya ingin menangis karena bahagia.
“Paman… Cedric…” bisiknya dalam hati. “Terima kasih…”
Bersambung..