NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Jebakan Berdarah di Gerbang Mansion

Bab 19: Jebakan Berdarah di Gerbang Mansion

​Malam itu, udara di Mansion Dirgantara terasa begitu tenang, terlalu tenang. Aline sedang menemani Kenzo dan Keira di teras belakang yang menghadap ke arah gerbang depan utama. Si kembar sedang sibuk dengan tablet mereka, sementara Aline duduk di kursi rotan, berpura-pura mengawasi mereka sambil sesekali membetulkan letak kacamata tebalnya.

​Namun, di balik kepura-puraannya, pendengaran Aline menangkap sesuatu yang tidak beres. Dari kejauhan, di luar tembok tinggi mansion, terdengar deru mesin mobil sport yang melambat—bukan suara mobil biasa yang lewat, melainkan suara mobil yang sengaja menahan transmisi untuk kecepatan tinggi yang tiba-tiba.

​Insting tempurnya menyala.

​"Kenzo, Keira," bisik Aline dengan suara yang tiba-tiba berubah dingin dan tegas, meninggalkan logat desa yang biasanya ia gunakan. "Masuk ke bawah meja. Sekarang."

​Kenzo dan Keira yang sudah memahami kode tersebut—karena mereka juga merasakan ketegangan yang sama—tanpa bertanya langsung meluncur ke bawah meja beton yang kokoh di teras.

​Detik berikutnya, dunia berubah menjadi kebisingan yang memekakkan telinga.

​DOR! DOR! DOR!

​Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor mendadak menerobos gerbang depan dengan kecepatan tinggi, dan dari kaca jendela yang terbuka, moncong senjata otomatis menyalak liar ke arah teras mansion. Peluru-peluru panas menyapu udara, menghancurkan vas bunga, pilar marmer, dan memecahkan kaca jendela utama dengan suara dentuman yang mengerikan.

​Aline tidak berteriak. Ia tidak menangis.

​Tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi seorang gadis biasa. Ia melompat melewati meja beton, menangkap tubuh Kenzo dan Keira dengan lengannya yang kuat, lalu membanting mereka ke lantai di balik pilar beton yang paling tebal.

​Aline memosisikan tubuhnya sebagai perisai manusia di atas kedua bocah itu. Ia tidak menutup mata. Di balik lensa kacamatanya yang sedikit retak terkena serpihan beton, mata Aline menatap tajam ke arah sumber tembakan. Ia menghitung ritme tembakan, arah luncuran peluru, dan sudut perlindungan pilar.

​Itu adalah gerakan seorang bodyguard profesional tingkat tinggi—pergerakan yang terhitung, presisi, dan tanpa keraguan sedikit pun.

​"Jangan bergerak," perintah Aline tegas. Ia kemudian meraih sebuah piring keramik kecil di atas meja yang terjatuh, dan dengan satu lemparan yang penuh tenaga, ia melemparkannya ke arah lampu taman di sisi lain untuk mengalihkan perhatian penyerang.

​DOR!

​Para penyerang di dalam mobil yang melaju kencang itu secara refleks menembak ke arah lampu yang pecah, memberikan sepersekian detik waktu bagi Aline untuk menarik napas dan memastikan posisi si kembar tetap aman.

​Tiba-tiba, dari arah pintu utama, terdengar suara tembakan balasan yang jauh lebih dahsyat dan presisi.

​DOR! DOR! DOR!

​Tiga tembakan tunggal, tiga peluru, tiga target lumpuh. Adrian Dirgantara muncul dari balik pintu, memegang pistol semi-otomatis dengan tatapan mata yang berkilat layaknya iblis yang sedang berburu. Para penyerang di mobil hitam itu, yang menyadari bahwa target utama mereka—Adrian—telah keluar dan membalas dengan akurasi mematikan, langsung tancap gas meninggalkan mansion, meninggalkan jejak asap ban di atas aspal.

​Suasana kembali senyap seketika, menyisakan bau mesiu yang menyengat di udara malam.

​Adrian berlari menuju teras, napasnya memburu karena adrenalin. Ia melihat Aline masih menutupi tubuh si kembar dengan posisi melingkar yang sempurna.

​"Kenzo! Keira!" teriak Adrian.

​"Kami tidak apa-apa, Daddy!" sahut Keira dengan suara yang sedikit bergetar, namun ia terlihat tidak syok berlebihan karena ia tahu dia berada di bawah perlindungan Aline.

​Adrian mendekat, tangannya gemetar sedikit saat ia menarik si kembar dari balik pilar. Namun, pandangannya terkunci pada Aline.

​Gadis itu perlahan bangkit berdiri. Kacamata bulat tebalnya sedikit miring, rambutnya berantakan, dan noda tanah menempel di kemejanya. Namun, apa yang membuat darah Adrian mendidih adalah ekspresi wajah Aline.

​Tidak ada histeria. Tidak ada tangisan ketakutan. Tidak ada raut wajah syok yang wajar dimiliki oleh seorang gadis desa yang baru saja menghadapi moncong senjata otomatis untuk pertama kalinya dalam hidup.

​Aline justru sedang berdiri dengan tegak, memeriksa denyut nadi Kenzo dan Keira dengan jemari tangannya yang sangat tenang, memastikan tidak ada luka fisik sedikit pun. Ia bahkan sempat menatap ke arah mobil yang kabur dengan tatapan yang dingin dan menganalisis, seolah-olah ia sedang memetakan pelat nomor atau jenis kendaraan yang digunakan musuh.

​"T-Tuan Besar..." Aline tersentak, menyadari kehadiran Adrian. Dalam waktu satu detik, topengnya kembali terpasang. Ia memegang dadanya sendiri, bahunya mulai naik-turun dengan napas yang memburu, dan ia mulai terisak kecil. "A-Aduh, saya takut sekali... Tadi ada suara tembakan... Saya kira ada perampok babi hutan... Hiks, Tuan Muda dan Nona Muda ndak terluka kan?"

​Adrian tidak menjawab. Ia berdiri mematung di depan Aline, menatap manik mata gadis itu di balik kacamata tebal yang retak.

​Pria itu telah melihat segalanya. Ia melihat bagaimana Aline bergerak, bagaimana ia memosisikan diri, dan bagaimana ia menenangkan diri di tengah desingan peluru. Itu bukanlah refleks seorang pelayan desa. Itu adalah refleks seorang tentara yang terbiasa hidup dan mati di medan perang.

​Kecurigaan Adrian terhadap Aline Shandika baru saja mencapai titik didih yang tak lagi bisa dibendung.

​"Kau..." Adrian melangkah maju, menodongkan senjata apinya yang masih panas ke arah Aline, bukan untuk menyakitinya, tapi untuk memaksa Aline berhenti berakting. "Siapa kau sebenarnya, Aline? Gadis desa mana yang bisa mengalkulasi sudut perlindungan peluru dalam hitungan milidetik?"

​Aline membeku. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia telah melangkah terlalu jauh dalam penyamarannya.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!