NovelToon NovelToon
Tiga Puluh Hari Untuk Arven Jatuh Cinta

Tiga Puluh Hari Untuk Arven Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: @Caramel_Machiato

Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.

Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.

Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.

Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 ( Kalau Aku Punya Waktu )

Malam itu Arven tidak bisa tidur.

Berkali-kali ia memejamkan matanya, namun ucapan Alena terus mengisi pikirannya.

" Ya kalau mau cemburu juga ga apa apa sih "

Arven menatap langit-langit kamarnya.

Kemudian ia meraih buku yang masih terbuka diatas mejanya.

Menyatakan perasaan kepada Alena

Arven tersenyum kecil

Namun beberapa detik, senyum itu pun menghilang

" Kalau gue bilang sekarang.. "

" Terus tiba-tiba gue pergi gimana ? "

Arven merasa tidak tenang, kemudian ia pun mencoba menghubungi kedua temannya itu Reza dan juga Bayu

[Arven : Kalau gue tiba-tiba mati, lo berdua sedih ga ? ]

Arven pun menunggu balasan dari dua temannya itu

[Dokter Reza : Ga..]

[Bayu : Engga]

Arven kembali membalas

[Arven : Serius ?]

[Dokter Reza : Intinya aja apa]

[Bayu : Paling orang bucin lagi galau ]

[Arven : Bucin ? Apa itu ? ]

[Bayu : Budak Cinta bodoh]

[Dokter Reza : Bos lo ko bodoh sih Bay ]

[Bayu : Ga tau gue juga, ko bisa CEO bodoh]

Arven tersenyum sinis membaca pesan dari kedua temannya itu.

[Arven : Kayaknya gue mau cari dokter baru sama sekretaris baru]

[Bayu : Ga ada yang mau]

[Dokter Reza : Betul, ga ada yang sanggup]

[Dokter Reza : Lo kenapa sih ? Gue tau berhubungan dengan Alena pasti kan ?]

[Bayu : Lo masih takut bikin Alena sedih ? ]

[Dokter Reza : Arven, anggap lo itu ga sakit. Anggap aja lo baik-baik aja. ]

[Dokter Reza : Gue tau lo pasti lagi mikirin soal Alena]

[Dokter Reza : Lebih baik ada kenangan daripada ga ada sama sekali Arven ]

[Bayu : Bener Ar, lo ga perlu takut sama hal yang bikin lo tambah setres]

[Bayu : Lo baik baik aja Arven ]

Arven tak menjawab pesan itu, tapi ia membacanya terus menerus.

" Gue ga egois kan ? " ucapnya pada diri sendiri.

...

Pagi pagi Alena terbangun dan meraih ponselnya.

Alena melihat banyak pesan masuk dari Arven pagi ini, padahal biasanya pria itu hanya mengirimkan pesan singkat untuk dirinya.

[Arven : Pagi Alena]

[Arven : Hari ke 11]

[Arven : Hari ini kosong kan?]

[Arven : Gue mau ngajak lo pergi nih]

Alena langsung tersenyum membaca pesan dari Arven

[Alena : Pagi.. ]

[Alena : Bawel banget pagi pagi tumben]

[Alena : Tumben juga nih ngajak gue jalan]

Alena menunggu jawaban dari Arven

[Arven : Gue lagi rajin aja ]

[Alena : Bohong..]

[Arven : Kangen]

[Arven : Dikit]

Alena langsung membeku

Jantungnya berdebar-debar dengan kencang

Beberapa detik kemudian ia pun membalasnya

[Alena : Udah ga cemburu nih? ]

[Arven : Siapa yang cemburu? ]

[Alena : Arven, si cowok nyebelin ]

[Arven : Nyebelin tapi sayangkan ? ]

[Arven : Gausah senyum gitu, gue ga bisa liat. Nanti aja senyum nya didepan gue ]

Alena merasa wajahnya mulai panas

[Alena : Dih so tau, dukun lo ]

[Arven : Kalau gue dukun, pelet gue berhasil ga ?]

[Alena : Engga..]

Alena langsung menutup layar ponselnya, ia tidak bisa mengontrol dirinya saat ini.

" Kenapa ga ada yang ngasih tau gue, kalau jatuh cinta kayak gini sih "

Alena menutup wajahnya dengan bantal miliknya.

...

Tepat seperti ucapannya..

Arven pun datang untuk menjemput Alena

Kali ini, Arven tidak mengajak Alena ke kantor nya

Melainkan ia mengajak Alena pergi ke sebuah bukit kecil dipinggir kota.

Tempat itu sepi.

Anginnya sejuk

Dan pemandangan matahari terbenam yang cukup jelas

Alena menatap sekelilingnya.

" Lo tau darimana tempat ini ? "

" Rahasia "

" Ko Romantis banget "

Arven hampir tersedak mendengar kata romantis

Sedangkan Alena justru tertawa

" Biasa aja kali, gue cuma nanya "

" Gue juga udah biasa kali Al "

Perlahan-lahan matahari mulai turun

Suasana pun semakin tenang.

" Alena.. "

" Hmm "

" Menurut lo, orang sakit itu boleh jatuh cinta ga ? "

Alena menoleh

Alena tau kemana Arven akan mengarahkan pembicaraannya

" Engga "

Arven terdiam

" Ya boleh lah, emang siapa sih yang larang ? "

" Tapi gimana kalau nanti dia ninggalin orang yang dia sayang ? "

Alena terdiam

Lalu ia menjawab dengan pelan

" Semua orang bisa ninggalin "

" Orang sehat juga bisa pergi duluan "

" Ga ada yang tau "

" Bisa aja nanti pulang dari sini gue mati ? Emang ada yang tau soal itu ? "

Arven menatap Alena sesaat, kemudian ia kembali menatap lurus kedepan.

" Alena "

" Hmm "

" Lo bilang, lo punya feeling yang kuat kan ? "

" Ya. Terus ? "

" Selama ini lo tau atau lo pura-pura ga tau ? "

Alena menoleh dan begitu juga dengan Arven

Kedua pun saling bertatapan

Alena ingin menjawab, tapi entah kenapa lidahnya terasa Kaku

" Alena "

" Hmm "

" Kayaknya.. "

Arven tersenyum gugup

" Kayaknya apa ? "

Jantung Alena terus berdegup dengan kencang

" Kayaknya misi lo berhasil "

Alena membeku

Angin berhembus dengan kencang

Suasana tiba-tiba hening..

" Arven, lo lagi bercanda ya ? "

" Atau lo lagi bohong ? "

Alena mencoba mencairkan suasana

Arven meraih tangan Alena, dengan lembut ia mengusap punggung perempuan itu.

" Lo sendiri kan yang bilang, kalau gue ga pinter bohong "

Alena tak bisa berkutik..

Bahkan ia sendiri tak tau harus menjawab apa..

" Tapi yaa belum sepenuhnya "

" kenapa ? "

" Karena gue masih takut Alena "

" Gue takut ngasih lo harapan "

" Gue takut bikin lo nangis suatu hari nanti "

" Gue takut —"

" Gue ngerti Arven, lo ga perlu lanjutin "

" Masih ada waktu, masih ada hari-hari yang harus kita jalanin "

" Gausah buru-buru "

Alena tersenyum dengan hangat

Untuk pertama kalinya setelah Arven didiagnosis kanker

Arven merasa jika masa depan tidak sesuram yang ia bayangkan.

Alena menyandarkan kepalanya di pundak Arven dengan tatapan lurus kedepan.

" Kita masih punya waktu lima puluh tahun Arven "

Arven menahan air matanya

" Iyah Alena "

....

Malam hari Arven membuka buku miliknya

Ia memberikan tanda centang pada misi dirinya :

✓ Punya Sahabat

✓ Jalan jalan tanpa mikir kerjaan

✓ Melihat matahari terbenam

Tangannya berhenti tepat didepan nomor 11

Menyatakan perasaan kepada Alena

Arven tidak memberikan tanda centang pada kalimat itu

Tetapi Arven menuliskan catatan kecil dibawah tulisan itu

" Segera "

Arven tersenyum

Arven membuka galeri di ponselnya

Ia menatap foto Alena yang ia simpan dengan rapih

" Kalau gue emang cuma punya sisa waktu satu sampai dua tahun lagi "

" Gue pengen habisin sisa waktu itu sama lo, Alena "

Arven tersenyum memandangi foto Alena

...

Alena terus memikirkan Arven..

Misinya hampir berhasil..

Tapi bagaimana dengan perasaannya?

" Gimana kalau gue jatuh cinta ? "

" Apa itu artinya gue gagal ? "

Ditengah pikirannya yang kacau..

Alena mendapatkan pesan masuk dari Arvan

[Arven : Nilai Lo 10/10]

Alena langsung membalas pesan itu

[Alena : Kenapa ? ]

Arven pun langsung membalas dengan cepat

[Arven : Karena lo udah bikin gue bahagia hari ini ]

Sungguh rasanya Alena tak akan bisa tidur malam ini..

Alena terus membayangkan Arven

" Lo egois Arven kalau lo larang gue buat ga jatuh cinta sama Lo "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!