Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi ini udara terasa lebih sejuk karena semalam gerimis turun membasahi ibu kota.
Budi sudah berdiri di depan cermin kamarnya dengan pakaian kerja yang rapi.
Di tangannya terdapat kacamata berbingkai hitam tebal yang dia dapatkan dari sistem semalam.
Kacamata Kesan Pertama itu terlihat sangat biasa dan tidak mencolok sama sekali.
'Lebih baik aku pakai kacamata ini tepat sebelum masuk ke ruang divisi saja.'
'Durasi pakainya juga cuma satu jam, jadi aku harus menghematnya.'
Budi memasukkan kacamata itu ke dalam tas selempangnya dengan sangat hati hati.
Dia mengunci pintu kamar kosnya dan mulai berjalan menuju halte bus.
Saldo sistemnya pagi ini sudah bertambah menjadi tujuh puluh lima ribu rupiah berkat warung Pak Mamat.
Perasaan Budi sangat riang gembira seolah olah beban utang di pundaknya perlahan memudar.
Sesampainya di gedung kantor, suasana lobi masih cukup sepi karena ini baru pukul tujuh lewat lima belas menit.
Budi sengaja datang lebih awal untuk menghindari keramaian di dalam lift karyawan.
Setibanya di lantai divisinya, Budi merogoh tasnya dan mengambil kacamata hitam tebal itu.
Dia memakai kacamata tersebut tepat sebelum mendorong pintu kaca ruang divisi administrasi.
Trut trut trut.
Terdengar suara mekanis kecil yang hanya bisa didengar oleh telinga Budi saat kacamata itu aktif.
Pandangan Budi tiba tiba dihiasi oleh garis garis cahaya tipis yang membentuk bingkai virtual di sekelilingnya.
Ruangan divisi itu masih kosong namun Budi bisa melihat antarmuka sistem bekerja dengan sangat jernih.
Di pojok kanan atas pandangannya, terdapat angka hitung mundur durasi pemakaian yang dimulai dari enam puluh menit.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka dari belakang dan seseorang melangkah masuk.
Itu adalah Reno yang datang dengan napas sedikit terengah engah.
"Pagi Bud, tumben kau datang sepagi ini."
Reno menyapa sambil meletakkan tas ranselnya di atas meja kerja.
Budi menoleh ke arah sahabatnya itu dan seketika pandangannya terfokus pada sebuah kotak informasi yang melayang tepat di atas kepala Reno.
Kotak itu berisi sebuah bar pengukur yang terisi penuh dengan warna hijau terang yang menyegarkan mata.
Di bawah bar tersebut terdapat tulisan Tingkat Kepercayaan Sembilan Puluh Lima Persen.
"Pagi juga Ren, kebetulan tadi busnya sepi jadi cepat sampai."
Budi menjawab santai sambil terus memperhatikan tulisan tambahan yang muncul di bawah kotak informasi Reno.
Teks itu berbunyi Sahabat yang sangat tulus dan tidak memiliki niat buruk sama sekali terhadap pengguna.
Senyum lega langsung mengembang di wajah Budi membaca analisis dari sistem tersebut.
Reno membalas senyuman Budi lalu menatap wajah sahabatnya itu dengan kening berkerut.
"Loh kacamata siapa yang kau pakai itu Bud, tebal sekali bingkainya."
"Kelihatannya seperti kacamata guru matematika zaman dulu saja."
Budi tertawa pelan mendengar ledekan Reno yang memang benar adanya.
"Ini kacamataku sendiri Ren, baru beli tadi malam di pinggir jalan raya."
"Ini kacamata anti radiasi komputer supaya mataku tidak perih kalau harus lembur mengetik data lagi."
Reno menganggukkan kepalanya tanda mengerti tanpa menaruh curiga sedikit pun.
"Bagus juga idemu Bud, aku juga sering pusing kalau terlalu lama menatap monitor."
"Nanti sepulang kerja beri tahu aku tempat membelinya ya, aku juga mau beli satu."
"Beres Ren, nanti aku tunjukkan tempatnya."
Budi menjawab asal asalan saja karena tentu saja tempat membelinya tidak ada di dunia nyata.
Trak trak trak.
Suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai keramik terdengar dari arah koridor.
Pintu ruangan terbuka dan Siska melangkah masuk dengan gaya angkuhnya yang sangat khas.
Siska meletakkan tas merek mahalnya di atas meja lalu melirik ke arah Budi dan Reno.
"Selamat pagi dunia, tumben sekali dua karyawan teladan ini sudah datang."
Siska menyindir dengan nada suara yang dibuat buat dan sangat menyebalkan.
Tatapan Siska kemudian terpaku pada wajah Budi yang kini mengenakan kacamata tebal.
"Astaga Budi, ada apa dengan penampilanmu pagi ini."
Siska tertawa mengejek sambil menunjuk nunjuk wajah Budi dari mejanya.
"Kamu mau bergaya jadi kutu buku atau mau melamar jadi penjaga perpustakaan keliling."
"Sudah miskin tidak usah banyak gaya pakai aksesoris yang aneh aneh Budi."
Biasanya Budi hanya akan diam dan menundukkan kepalanya jika mendapat hinaan seperti itu.
Namun kali ini Budi berdiri tegak dan menatap langsung ke arah wajah Siska.
Di atas kepala Siska, sebuah kotak informasi perlahan muncul dan terbuka dengan efek suara mekanis.
Bar pengukurnya dipenuhi oleh campuran warna oranye dan merah yang berkedip kedip cepat.
Tingkat Permusuhan Tujuh Puluh Persen.
Namun yang membuat Budi tersenyum adalah bar kedua yang berwarna kuning pucat di bawahnya.
Tingkat Kecemasan dan Ketakutan Delapan Puluh Lima Persen.
Teks penjelasan rahasia langsung bermunculan tepat di bawah bar kuning tersebut.
Target sedang mengalami ketakutan luar biasa akan kemungkinan dipecat bulan ini.
Target diam diam sering membuat kesalahan dalam laporan pemasukan harian divisi.
Sikap angkuh target hanyalah mekanisme pertahanan diri untuk menutupi rasa ketidakmampuannya dalam bekerja.
Budi membaca rentetan kalimat itu dengan perasaan takjub sekaligus geli yang tertahan.
'Jadi selama ini perempuan sombong ini sebenarnya sangat ketakutan dan tidak becus bekerja.'
'Dia hanya bisa menggonggong keras supaya orang lain tidak melihat kelemahannya.'
"Ini cuma kacamata kesehatan biasa Siska, bukan untuk gaya gayaan."
Budi membalas ucapan Siska dengan nada yang sangat tenang dan penuh percaya diri.
"Lagipula lebih baik gayaku yang aneh tapi hasil kerjaku beres, daripada gayanya mewah tapi hasil kerjanya banyak yang salah."
Siska langsung terdiam dan gerakan tangannya yang sedang merapikan rambut terhenti mendadak.
Wajahnya berubah sedikit pucat dan matanya melebar menatap Budi dengan penuh kewaspadaan.
"Apa maksud ucapanmu itu Budi."
Suara Siska kini terdengar sedikit bergetar dan tidak selantang tadi.
"Tidak ada maksud apa apa Siska, aku cuma bicara fakta secara umum saja kok."
Budi mengangkat bahunya dengan santai lalu kembali duduk di kursinya.
Dia bisa melihat bar kuning di atas kepala Siska semakin menyala terang menandakan kepanikannya memuncak.
Siska buru buru duduk di kursinya dan langsung menyalakan komputernya tanpa berani membalas ucapan Budi lagi.
Reno menyenggol lengan Budi dari bawah meja dan berbisik pelan.
"Tumben sekali mulut pedasnya si Siska langsung kicep begitu kau balas Bud."
"Sesekali orang seperti dia memang harus ditegur Ren supaya tidak seenaknya sendiri."
Tidak lama setelah itu pintu ruangan kembali terbuka dan kali ini Pak Anton yang masuk.
Suasana ruangan yang tadinya mulai ramai oleh kedatangan karyawan lain seketika menjadi sunyi senyap.
Pak Anton berjalan dengan perut buncitnya menuju tengah ruangan untuk memberikan arahan pagi.
"Selamat pagi semuanya, tolong perhatikan baik baik."
Budi langsung mengarahkan pandangannya ke wajah bosnya yang menyebalkan itu.
Kotak informasi besar seketika muncul di atas kepala Pak Anton dengan warna merah pekat yang sangat gelap.
Tingkat Kesombongan dan Keserakahan Sembilan Puluh Lima Persen.
Teks penjelasan rahasia mulai terbuka baris demi baris di depan mata Budi.
Target sedang merencanakan penggelapan sebagian dana operasional divisi bulan depan.
Target berencana memanipulasi nota pengadaan barang kantor dan memasukkan selisih uangnya ke rekening pribadinya.
Target sudah menyiapkan rencana untuk menjadikan salah satu staf administrasi sebagai kambing hitam jika aksinya dicurigai oleh direksi pusat.
Budi menahan napasnya membaca rencana busuk yang tertulis jelas di kotak informasi tersebut.
'Orang ini bukan cuma bos yang galak, tapi dia juga seorang pencuri yang licik.'
'Dan staf administrasi yang mau dijadikan kambing hitam itu pasti antara aku atau Reno.'
"Bulan depan target laporan kita akan dinaikkan dua puluh persen dari bulan ini."
Pak Anton berbicara dengan suara keras tanpa menyadari bahwa rahasia terbesarnya sudah terbongkar.
"Saya minta semuanya bekerja lebih keras dan jangan ada yang berani melakukan kesalahan sekecil apa pun."
Budi mengepalkan tangannya kuat kuat di atas paha untuk meredam emosinya yang mulai naik.
Berbekal informasi dari kacamata ini, Budi tahu dia harus mulai mengumpulkan bukti secara diam diam.
Dia tidak akan membiarkan dirinya ditumbalkan oleh bos korup tersebut.
Budi melirik hitung mundur di pojok matanya yang menunjukkan sisa waktu kacamata tinggal lima puluh menit lagi.
Dia segera melepaskan kacamata tebal itu dari wajahnya dan memasukkannya kembali ke dalam laci mejanya.
Pandangannya kembali normal tanpa ada garis cahaya maupun kotak melayang di udara.