NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Nama Chen Nan

Setelah selesai menulis, Wang Hao memberikan daftar itu kepada Patriark Sheng. Pria tua itu menerimanya dengan satu tangan, lalu matanya bergerak menelusuri setiap karakter yang tertulis di atas kertas. Semakin lama ia membaca, semakin menyipit matanya. Beberapa tanaman obat dalam daftar itu cukup langka, dan satu di antaranya bahkan hanya tumbuh di pegunungan terpencil di luar kota.

Patriark Sheng menghela napas panjang, lalu menyerahkan daftar itu kepada seorang pelayan yang berdiri di sampingnya.

"Cari semua tanaman ini secepatnya. Kerahkan semua orang yang bisa dikerahkan. Aku ingin semua bahan sudah terkumpul maksimal dua hari dari sekarang."

Pelayan itu membungkuk dalam-dalam, lalu berjalan keluar dari aula dengan langkah cepat.

Patriark Sheng mengalihkan perhatiannya kembali kepada Wang Hao. "Selama menunggu bahan-bahan itu terkumpul, kau akan tinggal di Klan Sheng. Aku sudah menyiapkan kamar tamu untukmu."

"Itu bukan tawaran," Wang Hao menatapnya datar, "melainkan antisipasi."

"Tepat." Patriark Sheng tidak berusaha menyangkal. "Jika kau berbohong, kau tidak akan bisa melarikan diri. Jika kau benar-benar bisa menyembuhkanku, kau akan diperlakukan sebagai tamu terhormat. Dua kemungkinan itu bergantung sepenuhnya pada dirimu sendiri."

"Saya tidak keberatan."

Kata-kata itu diucapkan dengan begitu ringan sehingga Patriark Sheng hampir tidak percaya. Ia menatap Wang Hao lebih lama, seolah mencoba menemukan celah di balik topeng ketenangan pemuda itu, tetapi tidak menemukan apa pun.

"Satu hal lagi yang ingin kutanyakan," Patriark Sheng menyandarkan punggungnya ke kursi. "Siapa namamu, pemuda? Dan bagaimana kau bisa tahu hal-hal yang bahkan alkemis tingkat dua dari kota besar tidak tahu?"

"Nama saya Chen Nan."

Wang Hao mengucapkan nama itu tanpa keraguan.

"Tentang pengetahuan saya..." Wang Hao melanjutkan dengan suara datar, "saya mendapatkannya dua tahun lalu, saat tersesat di sebuah hutan. Saya bertemu seorang senior yang sedang sekarat. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, senior itu menurunkan semua ilmunya kepada saya."

Patriark Sheng mengusap janggutnya perlahan. Alasan itu masuk akal. Di dunia kultivasi, kisah tentang seorang guru yang menurunkan ilmunya kepada murid yang ditemukan secara kebetulan bukanlah hal yang langka. Banyak kultivator tua yang memilih mewariskan pengetahuan mereka di saat-saat terakhir daripada membiarkannya lenyap bersama kematian.

"Beruntung sekali kau," kata Patriark Sheng akhirnya. "Mendapatkan guru yang begitu hebat. Siapa nama senior itu?"

"Dia tidak menyebutkan namanya. Hanya ilmunya yang ia tinggalkan."

"Sayang sekali." Patriark Sheng tidak mendesak lebih jauh. Dalam dunia kultivasi, banyak pertemuan yang memang terjadi tanpa nama, hanya meninggalkan warisan yang mengubah jalan hidup seseorang. "Baiklah, Chen Nan. Kita lihat saja apakah ilmu yang kau dapatkan dari gurumu itu benar-benar bisa menyembuhkanku."

Ia memberi isyarat kepada seorang pelayan perempuan yang berdiri di dekat pintu. "Antarkan Tuan Chen ke kamar tamu sayap timur. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi."

Pelayan itu membungkuk hormat, lalu berjalan mendekati Wang Hao.

"Tuan Chen, silakan ikuti saya."

Wang Hao mengikuti pelayan itu keluar dari aula utama, melewati koridor panjang dengan lentera-lentera merah di kedua sisinya, lalu berbelok ke sebuah halaman kecil yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan batu.

Begitu sampai, dia mendapati kamar tamu sayap timur cukup luas untuk ukuran kamar tamu klan. Sebuah dipan batu dengan bantal dan selimut sutra, meja kayu jati, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke taman dalam. Cahaya bulan masuk melalui celah-celah jendela, menciptakan bayangan-bayangan lembut di lantai batu.

Wang Hao menutup pintu, lalu duduk bersila di atas dipan batu.

Ia membutuhkan kultivasi yang lebih tinggi untuk membuat pil yang diperlukan. Pil Pembuka Gerbang Kehidupan adalah pil tingkat dua, dan membuatnya membutuhkan setidaknya Kondensasi Qi lapis ketiga. Saat ini ia baru berada di lapis kedua. Berarti ia harus melakukan terobosan satu lapis lagi dalam waktu dua hari.

Itu bukan hal yang sulit baginya. Dengan fondasi yang telah ia bangun tanpa cacat, naik ke lapis ketiga hanya masalah waktu dan konsentrasi. Tetapi Wang Hao tidak ingin terburu-buru. Setiap terobosan harus dilakukan dengan perhitungan matang, tanpa meninggalkan celah sedikit pun.

Ia menutup matanya dan mulai mengedarkan Teknik Napas Langit Mendalam. Energi spiritual di kediaman Klan Sheng sedikit lebih tebal dibandingkan di Balai Ramuan Giok Hijau. Wang Hao menyerap energi itu dengan perlahan, setetes demi setetes, memadatkannya di dasar lautan spiritualnya.

*****

Sementara itu, di Balai Ramuan Giok Hijau, Gu Yan sedang duduk gelisah di belakang meja kayunya ketika suara pintu depan terdengar terbuka. Ia mendongak cepat, berharap melihat Wang Hao masuk, tetapi yang muncul justru Lao Fan dengan jubah abu-abunya yang masih robek di beberapa bagian.

"Lao Fan!" Gu Yan melompat berdiri dan berlari menghampiri. "Kau selamat! Di mana Tuan Muda? Apa yang terjadi? Kenapa kau..."

Lao Fan mengangkat tangannya untuk menghentikan rentetan pertanyaan itu, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko yang sudah sepi. "Ajak bicara di dalam ruangan yang lebih tertutup, Saudara Gu. Ini tidak aman dibicarakan di sini."

Gu Yan menelan ludah, mengangguk cepat, lalu menutup pintu toko dan menguncinya. Mereka berjalan ke ruang belakang, tempat tungku alkemis berada. Di sana, di bawah cahaya lampu minyak yang redup, Lao Fan akhirnya duduk di atas bangku kayu dengan napas berat.

"Mereka klan sheng menculikku siang tadi. Mereka ingin Tuan Muda datang, dan tuan muda benar benar datang." Lao Fan menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku disuruh pulang. Tuan Muda menyuruhku pergi, dan aku... aku tidak bisa berbuat apa-apa."

"Dia menyuruhmu pulang?" Gu Yan mengerutkan keningnya. "Lalu dia tinggal sendirian di sana?"

Lao Fan mengangguk lesu. "Aku khawatir, Saudara Gu. Klan Sheng bukan klan biasa. Patriark Sheng adalah kultivator Pendirian Fondasi. Jika Tuan Muda dituduh sesuatu... dia tidak akan bisa melawan."

Gu Yan berjalan mondar-mandir di depan tungku. Pikirannya bekerja keras, mencoba mencari tahu apa yang bisa ia lakukan. Tetapi semakin ia berpikir, semakin ia sadar bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia hanyalah pemilik toko ramuan, melawan Klan Sheng adalah bunuh diri.

"Kita hanya bisa menunggu," kata Gu Yan akhirnya, suaranya pelan dan berat. "Dan percaya pada Tuan Muda."

*****

Keesokan harinya, Wang Hao membuka matanya. Lautan spiritualnya kini berisi tiga lapis energi yang tersusun rapi, masing-masing dipadatkan hingga batas maksimal. Kondensasi Qi lapis ketiga telah tercapai, dan fondasinya tetap kokoh tanpa cacat.

Proses itu memakan waktu sepanjang malam. Wang Hao tidak tidur sedikit pun, tetapi tubuhnya tidak merasa lelah. Sebaliknya, energi spiritual yang mengalir melalui meridiannya memberikan kekuatan baru yang membuatnya merasa lebih segar.

Ia bangkit dari dipan batu, merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu melangkah keluar dari kamar tamu. Pagi sudah cukup terang, dan sinar matahari memenuhi koridor-koridor batu Klan Sheng.

Ketika ia tiba di aula utama, suara percakapan sudah terdengar dari dalam. Wang Hao melangkah masuk dan mendapati tiga sosok duduk di sekitar meja kayu besar. Patriark Sheng duduk di kursi utamanya. Di hadapannya, duduk Lu Zheng sang pedagang kain dan Yue'er, putrinya.

Yue'er adalah orang pertama yang menyadari kehadiran Wang Hao. Gadis itu langsung bangkit dari kursinya dengan mata membelalak lebar.

"Ini tuan chen yang anda maksud, tuan patriark?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar karena antusiasme.

Patriark Sheng menganggukkan kepalanya. "Benar. Dialah pemuda berbakat itu."

Lu Zheng menoleh ke arah Wang Hao, lalu wajahnya langsung berubah cerah. "Ternyata ini tuan muda Chen Nan! Kami bertemu beberapa hari lalu di perjalanan, dan tuan muda inilah yang menyelamatkan kami dari serangan serigala batu!"

Patriark Sheng mengangkat alisnya, lalu menatap Wang Hao dengan sorot yang sedikit berubah. "Oh? Kau tidak bercerita tentang itu."

"Tidak ada yang perlu diceritakan," jawab Wang Hao singkat.

"Tidak ada yang perlu diceritakan?" Lu Zheng tertawa kecil. "Tuan Muda terlalu rendah hati. Kau mengusir lima Serigala Batu hanya dengan gerakan jari. Aku belum pernah melihat yang seperti itu seumur hidupku."

Yue'er mengangguk cepat, mengiyakan kata-kata ayahnya. Raut wajahnya menunjukkan kekaguman yang tidak disembunyikan sama sekali.

Patriark Sheng menatap Wang Hao lebih dalam, tetapi tidak mengomentari lebih jauh. Ia memberi isyarat ke sebuah kursi kosong di dekat meja.

"Duduklah, Chen Nan. Sarapan sudah disiapkan."

Wang Hao melangkah ke kursi itu dan duduk tanpa basa-basi. Seorang pelayan segera meletakkan semangkuk bubur beras roh, sepiring daging panggang, dan secangkir teh hangat di hadapannya. Wang Hao mulai makan dengan perlahan, menikmati setiap suapan tanpa terburu-buru.

"Tuan Muda Chen Nan," kata Lu Zheng sambil menyesap tehnya, "aku dan Yue'er kebetulan sedang mengantar kain pesanan Klan Sheng. Kami tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Apa yang membawamu ke kediaman Klan Sheng?"

"Ada urusan," jawab Wang Hao tanpa menjelaskan lebih jauh.

Patriark Sheng memotong sebelum Lu Zheng bisa bertanya lebih banyak. "Tuan Chen di sini untuk membantu Klan Sheng dengan sebuah kerjasama kecil. Itu saja yang perlu diketahui."

Lu Zheng mengangguk cepat. Ia cukup berpengalaman untuk tahu kapan harus berhenti bertanya. Sebagai pedagang, ia paham bahwa beberapa urusan klan besar tidak boleh dicampuri oleh orang luar.

Obrolan berlanjut ke topik-topik ringan. Lu Zheng bercerita tentang perjalanan dagangnya, harga kain di kota-kota tetangga, dan berita-berita kecil yang ia dengar selama di jalan. Patriark Sheng mendengarkan dengan sesekali mengangguk, sementara Wang Hao terus makan dalam diam.

Yue'er beberapa kali mencuri pandang ke arah Wang Hao. Ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit diartikan, campuran antara rasa ingin tahu dan kekaguman yang belum pudar sejak pertemuan pertama mereka di padang rumput.

Setelah sarapan selesai, Lu Zheng dan Yue'er berpamitan untuk melanjutkan urusan dagang mereka. Sebelum pergi, Yue'er berhenti sejenak di depan Wang Hao.

"Sampai jumpa lagi, Tuan Chen," katanya pelan.

Wang Hao mengangguk kecil. "Hati-hati di jalan."

Dua kata itu mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tetapi Yue'er tersenyum cerah mendengarnya. Ia membungkuk hormat, lalu mengikuti ayahnya keluar dari aula.

*****

Dua hari berlalu.

Wang Hao menghabiskan waktunya di kamar tamu, bermeditasi dan memperkuat lapis ketiga Kondensasi Qi yang baru saja ia capai. Ia tidak terburu-buru menaikkan kultivasinya lebih tinggi, melainkan memadatkan setiap tetes energi spiritual yang tersimpan di lautan spiritualnya hingga mencapai kepadatan maksimal.

Pada pagi hari ketiga, seorang pelayan datang ke kamarnya dan memberi tahu bahwa semua tanaman obat yang diminta sudah terkumpul. Wang Hao mengikutinya ke aula utama, tempat Patriark Sheng sudah menunggu.

Di atas meja kayu besar di tengah aula, berjejer puluhan tanaman obat yang masih segar. Akar Petir Ungu, Daun Embun Malam, Bunga Sutra Darah, Jamur Kayu Roh, dan beberapa tanaman langka lainnya tersusun rapi dalam kotak-kotak kayu. Di sampingnya, berdiri sebuah tungku kecil berwarna hijau dengan ukiran awan di permukaannya. Tungku itu terbuat dari batu giok roh, cukup bagus untuk ukuran kota kecil seperti Kota Lanyu.

"Semua sudah siap," kata Patriark Sheng. "Tungku itu adalah tungku terbaik yang bisa kutemukan dalam waktu singkat. Apakah cukup?"

Wang Hao memeriksa tungku itu sekilas, lalu mengangguk. "Cukup."

Ia berjalan mendekati meja dan mulai memeriksa setiap tanaman obat satu per satu. Jari-jarinya menyentuh daun, akar, dan kelopak bunga, merasakan energi spiritual yang terkandung di dalamnya. Semua masih segar, baru dipetik maksimal satu hari yang lalu. Itu bagus. Semakin segar bahannya, semakin tinggi kemurnian pil yang bisa dihasilkan.

"Saya butuh ruangan tertutup tanpa gangguan selama proses pembuatan pil," kata Wang Hao. "Siapa pun tidak boleh masuk sampai saya keluar sendiri."

"Aku sudah menyiapkan ruangan di belakang. Tidak ada yang akan mengganggumu di sana."

"Baik." Wang Hao mulai memasukkan tanaman obat dan tungku hijau itu ke dalam cincin ruangnya. "Antarkan saya ke sana sekarang."

1
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur ceritanya sudah bagus tapi MC nya Tingkat Kultivasi masih Tingkat Rendah.
Zerro One: Oalah mbah😪
Mbah gak lupa ya, Wang Hao pernah berdiri di puncak kultivasi? Mbah apa lupa, Wang Hao bisa menerobos secepat mungkin 'jika dia mau'.

Betapa idiots nya Wang Hao, jika ber kultivasi secepat mungkin, yang membuat kesalahan sama terulang lagi. Btw Wang Hao bisa aja dalam setahun sampai Ascendant, dengan metode penyerapan inti bumi. Bisa dilakukan bahkan saat Kondensasi qi.
Tapi masa iya, orang memperluas Dao, disuruh seperti pahlawan klise meridian tersumbat, dantian retak, sampah klan terhina kan. Ya kan gak mungkin mbah.

Apalagi kayak komentar bang agus. Dia bilang kelemahan ceritanya karena Wang Hao sombong dan angkuh.

Lah, jadi maunya pembaca MC dibuat seperti pendekar muda, yang belum paham apa apa tentang kultivasi? yang gak tau, keramahan adalah kemewahan sia sia, terlalu banyak berhubungan dengan seseorang akan memperbanyak ikatan karma sebab akibat yang tidak perlu.

Author padahal berharap, komentar pembaca itu mengeluhkan ceritanya terlalu bertele-tele, atau gaya penulisan yang kurang ngena. Jadi author bisa ubah, sesuai dengan kritik.
Contohnya yang ngasih author bintang satu itu. Karena dia, cerita ini langsung berhenti dipromosikan, padahal sebelumnya, perkembangan cukup bagus. Tapi yaudahlah, author bisa apa, karena mungkin terlalu bertele-tele banget, jadi sangat pantas cerita ini terbenam dan gak layak di sebarluaskan. Author sadar diri kok, karena itu ceritanya kemungkinan besar dipercepat end S1, meskipun gak akan ada S2.
total 1 replies
Nanik S
Mantap Poooool👍💪💪💪
Nanik S
Tidak ada kata takut buat Wang Hao
Zerro One: Betul-betul betul/Determined/
total 1 replies
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Wang Hao.... datang saja ke lembah batu
Nanik S
Wang Hao selalu jadi rebutan demi kepentingan masingasing
Agus Rose
Novel ini sebenar nya bagus dari penyusunan kata,penjelasan alur cerita.
yang kurang itu si MC terlalu angkuh sombong dengan ingatan masa lalu sedangkan kehidupan sekarang belum kuat tapi selalu bertindak sok kuat yang berlebihan.
Zerro One: Terimakasih banyak, itu artinya author gak gagal.

Tentang sifat Wang Hao...

Bro kurang memperhatikan detail keci, dan yang dilihat sesuatu yang sangat jelas saja. Padahal karakter Wang Hao ini abu abu, tidak hitam, atau putih, tidak sombong ataupun ramah. Author gak mau jelaskan panjang lebar, takut bro tersinggung.

Karena itu... kita anggap saja Wang Hao sombong🙏🙏

Author sepakat 🤝
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua pasukan itu jika wang hao sudah kuat cepat bantai raja itu pajang tubuhnya bantai juga semua keluarga raja itu
Nanik S
Apakah mereka akan menjemput Wang Hao
Zerro One: Iya kak 😫
total 1 replies
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
Zerro One: Oke mbah🙏
total 1 replies
Nanik S
Lanjut Terus Tor🙏🙏
Nanik S
Gadis Pintar dan pasti walau hantu tapi mulai memahami situasi
Nanik S
Ceritanya bagus Tor
Nanik S
Untungnya ada Nashuang... hingga Cengle bisa selamat
Nanik S
👍👍👍👍👍👍
Nanik S
Rou Li dibuatkan pedang juga..... keren amat... hantu cantik berpedang
Nanik S
Hansuo jangan meremehkan Wang Hao...💪💪💪
Fajar Fathur rizky
bikin klan du di hukum berat bikin du lou malu
Fajar Fathur rizky
jika sudah ranah jiwa baru lahir nascent soul bikin wang hao bantai klan du thor
Nanik S
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!