NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kedangkalan Ilmu dan Kedatangan Dua Orang

Huang menghela napas, lalu wajahnya berubah serius. "Aku tidak pernah mengganggu, dan tidak ingin diganggu."

Huang memegang gagang pedangnya semakin kuat.

"Jika kalian memaksa... aku tidak keberatan menunjukkan kedangkalan ilmuku untuk membela diri."

Pria itu terkekeh. "Kalau begitu, tidak perlu banyak bicara."

Wanita itu melesat ke arah Huang.

"Huang! Sebaiknya kau mati saja agar tidak menyakiti dirimu sendiri!"

Huang langsung melesat menjauh dari paviliun miliknya. Dia takut bangunan itu akan hancur meskipun ada pelindung formasi.

Setelah jaraknya cukup jauh dari paviliun, Huang berhenti lalu berbalik. Dia melihat kedua orang itu sudah melesat ke arahnya dengan kecepatan penuh.

Huang mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Teknik Pedang Gravitasi!"

Huang mengayunkan pedangnya ke bawah.

"Tekan!"

Dum!

Kedua orang itu yang sudah dekat langsung membungkuk. Bahu mereka turun, lutut mereka gemetar menahan beban mendadak yang menghantam seluruh tubuh mereka.

Namun wanita itu terkekeh. "Kau bodoh. Kami sudah melihat pertarunganmu secara langsung di sekte luar. Kau pikir bisa menahan kami dengan teknik ini?"

Huang tersenyum. "Kita lihat saja."

Huang menekan pedangnya lebih rendah.

"Tekan lebih kuat!"

Wumm!

Tekanan gravitasi meningkat dua kali lipat. Lantai batu di bawah kedua orang itu mulai retak. Pada saat itu lutut mereka benar-benar menghantam tanah.

"Apa?!" Wanita itu membelalakkan matanya. "Kekuatan teknik ini... tidak seperti yang kulihat di kompetisi!"

Pria itu menggertakkan giginya. "Berat sekali... sialan!"

Huang segera melesat cepat ke arah mereka. Namun pria itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ning Su di kompetisi sebelumnya.

Dia menendang wanita itu ke samping dengan keras.

Duk!

Wanita itu terlempar keluar dari area gravitasi. Tubuhnya berguling di tanah sekali sebelum akhirnya bangkit dengan posisi belum stabil.

Huang tidak memberikan kesempatan. Dia langsung mengubah arah, melesat ke arah wanita itu yang masih berusaha menyeimbangkan diri. Dengan gerakan cepat, Huang menebas ke arah dada.

Sret!

Wanita itu langsung terluka. Darah segar mengalir dari robekan di jubahnya.

"Aah!" Dia meringis kesakitan, namun wajahnya semakin muram.

"Aku tidak akan memaafkanmu, bocah!" Wanita itu melakukan serangan balik dengan menebas ke leher Huang.

Shing!

Huang mundur menjauh, menghindari tebasan itu.

"Sialan," geram wanita itu.

Lalu dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Di atasnya terbentuk ular berkepala tiga yang mengerikan, terbuat dari energi spiritual berwarna ungu gelap. Ular itu mendesis keras, mulutnya menganga lebar.

"Teknik Ular Kegelisahan! Berikan kegelisahan pada musuhku!"

Dia mengarahkan pedangnya ke Huang.

"Pergilah!"

Ular itu langsung melesat ke arah Huang. Huang bisa merasakan kekuatan ini. Terlalu mengerikan untuknya. Tekanan spiritual dari ular itu membuat bulu kuduknya berdiri.

Namun tiba-tiba...

Wush!

Cahaya kebiruan energi pedang melesat dari arah samping.

Duar!

Keduanya meledak. Energi pedang itu menghantam ular berkepala tiga dan menciptakan ledakan besar. Fluktuasi energi yang cukup kuat mendorong Huang mundur beberapa langkah. Angin dari ledakan menerpa wajahnya.

Huang menoleh ke samping. Luo Mei berdiri tidak jauh dari sana. Pedangnya masih terangkat. Wajahnya sedingin es.

"Gao Ding, Jiu Yue, hentikan semua ini." Suara Luo Mei datar namun tajam.

Wanita yang dipanggil Jiu Yue menyipitkan matanya. "Luo Mei... sejak kapan kau ikut campur urusan orang lain?"

Pria bernama Gao Ding bangkit dari tanah. Gravitasinya sudah hilang setelah kedatangan Luo Mei.

"Ini bukan urusanmu, Luo Mei. Lebih baik kau pergi."

Luo Mei tidak bergerak, matanya tajam. "Kalian menyerang adik seperguruanku di depan paviliunnya sendiri. Tentu saja ini urusanku."

Jiu Yue terkekeh sinis. "Adik seperguruan? Huang baru saja menjadi murid Tetua Xu. Jangan terlalu berlebihan."

"Sudah cukup." Suara berat terdengar dari arah lain.

Lei Shan berjalan mendekat dengan langkah lebar. Pedang besarnya sudah berada di tangannya. Aura Ranah Fondasi Tahap Kesempurnaan Agung menyebar dari tubuhnya. "Kalian berdua, menyerang murid baru secara berkelompok. Tidak malu?"

Gao Ding menatap Lei Shan dengan ekspresi tidak suka. "Lei Shan, kau juga mau ikut campur?"

Lei Shan berdiri di samping Huang. "Tentu saja. Huang adalah temanku."

Jiu Yue mendengus. "Teman? Sejak kapan kau berteman dengan murid luar?" Dia menatap Huang dengan sinis. "Ah, lupakan. Dia sudah bukan murid luar lagi sekarang."

Huang mengusap darah di sudut bibirnya. Dia menangkupkan kedua tangannya ke arah Luo Mei dan Lei Shan.

"Terima kasih, Kakak Senior Luo, Kakak Senior Lei. Tapi ini bukan urusan yang perlu melibatkan kalian."

Lei Shan melirik Huang. "Jangan bicara bodoh. Kau baru saja naik ke Ranah Fondasi. Mereka sudah berada di Tahap Akhir. Itu bukan pertarungan yang adil."

Gao Ding tertawa pendek. "Adil? Di dunia kultivasi tidak ada yang namanya adil, Lei Shan. Kau sendiri tahu itu."

Luo Mei melangkah maju. "Kalau begitu, kau juga harus tahu. Jika kalian berdua menyerang satu orang, maka aku dan Lei Shan berhak membalas dengan jumlah yang sama."

Suasana langsung tegang.

Jiu Yue dan Gao Ding saling berpandangan. Mereka berdua berada di Ranah Fondasi Tahap Akhir. Luo Mei dan Lei Shan berada di Ranah Fondasi Tahap Kesempurnaan Agung. Jika ditambah Huang yang memiliki teknik gravitasi aneh, pertarungan ini bisa berubah menjadi sangat buruk bagi mereka.

Jiu Yue menyimpan pedangnya.

"Cih. Membosankan."

Gao Ding juga menurunkan tinjunya. "Kami hanya ingin menguji kemampuan murid baru. Tidak lebih."

"Kalau ingin menguji, lakukan di arena latihan," ucap Luo Mei dingin. "Bukan di depan paviliun orang."

Jiu Yue berbalik. "Baiklah. Kami pergi."

Dia melangkah beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh ke arah Huang.

"Tapi ingat, Huang. Tidak semua orang di sekte ini akan melindungimu seperti mereka. Suatu hari nanti kau akan keluar dari sekte untuk misi. Dan saat itu..."

Dia tersenyum tipis. "Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan."

Gao Ding mengikuti di belakangnya. "Nikmati perlindunganmu selagi bisa, anak baru."

Keduanya pergi meninggalkan area paviliun.

Huang menghela napas panjang. Darah di sudut bibirnya sudah mulai mengering.

Lei Shan menepuk bahu Huang. "Kau tidak apa-apa?"

Huang menggeleng. "Hanya luka ringan. Terima kasih, Kakak Senior Lei, Kakak Senior Luo."

Luo Mei memandang ke arah kepergian Gao Ding dan Jiu Yue. Matanya masih dingin.

"Mereka tidak akan menyerangmu secara terang-terangan setelah ini. Setidaknya untuk sementara waktu."

"Tapi di luar sana..." Lei Shan menambahkan, "Kau harus berhati-hati. Banyak murid dalam yang bisa disewa untuk mengganggu misi seseorang."

Huang menangkupkan kedua tangannya. "Saya mengerti. Saya akan mempersiapkan diri."

Luo Mei menatap Huang. "Kultivasimu naik cepat. Dalam lima belas hari mencapai Ranah Fondasi Tahap Menengah. Itu pencapaian yang langka." Dia berhenti sejenak. "Tapi itu juga membuatmu semakin diperhitungkan."

Lei Shan mengangguk setuju. "Dhu Yan tidak akan tinggal diam. Orang-orang seperti Gao Ding dan Jiu Yue hanyalah awal. Masih banyak murid dalam lain yang berada di pihaknya."

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!