Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Jam istirahat makan siang akhirnya tiba. Suasana di dalam posko kesehatan darurat tampak sedikit lebih santai. Tiga puluh relawan medis, termasuk para dokter dan perawat, duduk melingkar di area tengah tenda sembari menikmati nasi kotak yang disediakan oleh manajemen proyek. Mereka tampak mengobrol dan bersenda gurau untuk melepas penat setelah berjam-jam mengurus puluhan pekerja yang kelelahan.
Nada duduk di antara mereka, menyuap makanannya dengan tenang sembari sesekali menanggapi obrolan ringan rekan sejawatnya. Di tengah riuhnya suasana makan bersama itu, tirai depan posko kembali tersingkap.
Sosok Kelvin Alexander melangkah masuk dengan langkah tegap, ditemani oleh Pak Baskoro. Pria itu datang untuk memantau situasi posko di jam istirahat, memastikan tidak ada kendala fasilitas di hari pertama. Kehadiran sang CEO yang mendadak seketika membuat beberapa perawat tersedak dan buru-buru merapikan sikap duduk mereka karena tegang. Kelvin hanya mengangguk samar, matanya menyapu ruangan sebelum bergerak menuju ruang sterilisasi dan penyimpanan obat di bagian belakang tenda untuk memeriksa inventaris bersama manajer.
Melihat suaminya berjalan ke ruang belakang, Nada meletakkan kotak makannya. Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat natural, lalu menyambar sebuah tas jinjing kecil kain yang sedari tadi ia simpan di dekat meja kerjanya.
"Aku ke ruang belakang sebentar ya, mau mengecek sisa stok kasa steril," izin Nada pada perawat di sampingnya, yang langsung diangguki tanpa curiga.
Di ruang penyimpanan obat yang dibatasi oleh sekat kain tebal dan pintu tripleks, Kelvin baru saja selesai mendengarkan laporan singkat dari Pak Baskoro.
"Baik, Pak Baskoro. Anda bisa kembali ke lini depan. Biarkan saya memeriksa sisa dokumen logistik medis ini sendiri," perintah Kelvin dingin.
Begitu Pak Baskoro keluar dan pintu tertutup, Kelvin mengembuskan napas berat. Namun, belum sempat ia memeriksa berkas di tangannya, pintu ruangan kembali berderit terbuka dan tertutup dengan cepat. Kelvin menoleh dengan tatapan tajam, siap mengomeli siapa pun yang berani mengganggunya.
Tatapan tajam itu langsung membeku saat mendapati Nada sudah berdiri di sana. Wanita itu langsung mengunci pintu dari dalam, lalu melangkah mendekati meja kerja Kelvin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kau—kenapa kau berani masuk ke sini? Jika ada yang melihat—"
"Tidak akan ada yang curiga, Mas. Aku masuk ke sini dengan alasan memeriksa stok obat," potong Nada santai. Ia meletakkan tas jinjing yang dibawanya ke atas meja, tepat di depan berkas-berkas Kelvin.
Nada membuka tas tersebut, mengeluarkan sebuah kotak bekal premium berwarna biru tua yang masih terasa hangat saat disentuh. "Ini makan siangmu. Aku sudah menyiapkannya dari rumah subuh tadi sebelum kita berangkat."
Kelvin menatap kotak makanan itu, lalu beralih menatap wajah Nada dengan raut tidak suka. "Aku tidak memintamu membawakanku makanan lagi, Denada. Sudah kukatakan kemarin, jangan bertingkah sok perhatian di kantorku, apalagi di lokasi proyek seperti ini!"
Nada tidak memedulikan gertakan itu. Dengan gerakan yang sangat telaten, ia membuka tutup kotak bekal, menampilkan hidangan ayam gulung sayur saus tiram dan nasi merah yang mengepulkan aroma gurih yang sangat menggugah selera. Nada menatap Kelvin dengan pandangan keibuan yang penuh perhatian, murni sebagai seorang dokter yang mencemaskan pasiennya.
"Aku tidak peduli kau minta atau tidak, Mas Kelvin. Ini sudah jam satu siang, dan kau belum memasukkan makanan apa pun ke perutmu sejak sarapan tadi. Kau berjalan memutari perbukitan proyek yang terik ini selama berjam-jam. Jika kau keras kepala dan menolak makan, maag-mu akan kambuh lagi dan kau akan merepotkan orang-orang di posko ini," tutur Nada lembut namun sarat akan penekanan yang tegas.
Kelvin mendengus sinis, matanya berkilat penuh ancaman. Ia memajukan tubuhnya, menatap Nada dari jarak dekat dengan aura intimidasi yang mematikan. "Kau sengaja menantangku, hm? Jangan lupa di mana posisimu sekarang, Denada. Aku bisa saja membatalkan status relawanmu di sini detik ini juga dan menyuruh sekuriti menyeretmu keluar dari area Alexander Group jika kau terus kelayapan mendekatiku."
Mendengar ancaman kejam dari sang CEO agung, Nada justru tidak bergeming sama sekali. Ia tidak gemetar, tidak takut, dan tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Sebaliknya, Nada justru mengulas sebuah senyuman manis yang teramat tenang—sebuah ketenangan yang justru membuat ancaman Kelvin terasa tumpul dan tidak berpengaruh sama sekali padanya.
"Silakan saja jika kau mau melakukannya, Mas," balas Nada teramat santai, sembari menyodorkan sendok ke tangan Kelvin. "Pecat saja aku. Tapi, apa kau sudah siap menjelaskan pada Eyang Arka nanti malam mengapa kau memecat dokter relawan yang merupakan istrimu sendiri, hanya karena dia mencoba menyuapimu makan siang agar kau tidak jatuh sakit? Kau tahu sendiri seberapa sayangnya Eyang padaku sekarang, bukan?"
Kelvin seketika bungkam seribu bahasa. Rahangnya mengetat hebat karena sadar ia kembali kalah telak di bawah kendali taktik wanita di hadapannya ini. Ancaman kekuasaannya sama sekali tidak mempan menghadapi keberanian dan kecerdasan Nada yang selalu bisa memanfaatkan situasi dengan cerdik.
"Makanlah, Suamiku. Jangan biarkan makanan sehat ini mubazir," bisik Nada manis, memberikan kedipan mata yang menggoda sebelum berbalik arah untuk keluar dari ruangan, meninggalkan Kelvin yang hanya bisa menatap kotak bekal itu dengan perasaan dongkol bercampur lapar yang luar biasa.