NovelToon NovelToon
The Quite Predator In Class

The Quite Predator In Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yan Hidayat

"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."

Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bom Soda dan Artefak yang Retak

TEEEETTT... TEEEEETTT...

Suara bel sekolah berdering nyaring ke setiap penjuru koridor, menggema membelah keheningan fajar di SMA Taruna Cemerlang. Nada panjang itu menjadi pertanda bahwa jam pelajaran pertama telah usai, sekaligus menandakan dimulainya waktu istirahat pertama yang dinanti-nantikan oleh seluruh murid.

Begitu Pak Andi merapikan buku-bukunya dan melangkah keluar dari pintu kelas 10-2, atmosfer ruangan yang tadinya tegang mendadak cair. Alvin segera menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, merenggangkan otot-otot leher dan bahunya yang terasa kaku setelah berakting menjadi murid teladan selama berjam-jam.

"Hampir tiga jam belajar bahasa yang baik dan benar... pegel juga otak gue. Hmmp, haus pula," gumam Alvin dengan suara kecil. Setelah sekian lama berada di medan operasi yang keras, duduk diam mencatat rumus subjek-predikat-objek ternyata cukup menguras energinya.

Ternyata, gumaman pelan itu terdengar oleh Bagas yang sedang merapikan kotak pensilnya. Bagas menoleh, lalu dengan gerakan sigap merogoh kantong jaring di sisi tas ranselnya. Dia mengeluarkan sebuah botol minuman soda dingin berukuran sedang yang masih tersegel rapat.

"Nih, Bro, minum dulu," ucap Bagas ramah sembari meletakkan botol soda itu di atas meja kayu mereka.

Melihat botol dingin yang berembun tersebut, sepasang mata Alvin mendadak berbinar cerah. Sisi remaja polosnya sedikit keluar. "Wah... terima kasih banyak loh! Baik bener lo, Gas," ucap Alvin tulus, langsung meraih botol tersebut.

Namun, tepat ketika ujung jari Alvin baru saja menyentuh permukaan botol, sebuah suara familiar yang sangat mengganggu kembali terdengar dari barisan depan Alvin.

RRRITTTTRRR!

Suara gesekan kaki kursi besi itu berderit nyaring, memotong keriuhan murid-murid yang mulai bersiap ke kantin. Rahman berdiri menyentak dari duduknya. Rupanya, berandalan kelas itu sengaja menahan diri dan menunggu momentum yang pas—menunggu hingga Pak Andi benar-benar menghilang di belokan koridor sebelum dia melancarkan aksi balas dendamnya.

Seketika, beberapa pasang mata murid yang masih berada di dalam kelas langsung tertuju pada Rahman. Atmosfer kelas kembali menegang saat melihat Rahman mulai melangkah, menatap lurus ke arah Alvin dengan pandangan mata yang menyala penuh amarah, hingga urat-urat di lehernya tampak menegang kasar.

Alvin menyadari pergerakan itu, namun dia sama sekali tidak menoleh. Dengan ketenangan seorang profesional, Alvin mengangkat botol minuman soda itu, lalu mulai mengocoknya secara konstan dengan gerakan ringan.

"Gas," panggil Alvin dengan nada suara yang teramat santai, seolah-olah Rahman yang berjalan ke arah mereka hanyalah seonggok angin lalu.

"Oy?" sahut Bagas. Dia melirik Alvin, ikut memasang ekspresi santai namun matanya tetap waspada memantau pergerakan Rahman melalui sudut matanya.

"Katanya... kalau soda diguncang-guncang kayak gini, pas dibuka bisa meledak ya?" tanya Alvin polos. Tangannya perlahan menaikkan ritme guncangan botol tersebut.

Krecek... krecek... krecek...

Suara cairan berkarbonasi di dalam botol itu terdengar nyaring di tengah keheningan kelas yang mendadak mencekam. Di dalam botol plastik itu, ribuan buih dan gelembung putih mulai bermunculan dengan sangat agresif, menciptakan tekanan udara yang tinggi hingga permukaan botol plastik itu perlahan mengeras dan memadat di genggaman Alvin.

Alvin mengarahkan ujung tutup botol tersebut sedikit miring, tepat ke arah jalur kedatangan Rahman, sementara ibu jarinya sudah bertengger manis di atas tutup botol, siap memutarnya kapan saja.

Melihat taktik tak terduga dari teman sebangku barunya, sudut bibir Bagas berkedut. Dia langsung menangkap rencana licik Alvin yang berniat mengubah minuman segar itu menjadi sebuah granat gas cair.

Sambil menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kelicikan yang sama, Bagas menyahut pelan, "Coba aja, Vin."

Dengan langkah yang sengaja dibuat mendominasi, Rahman berjalan membusungkan dadanya, dagunya terangkat angkuh. Di kanan dan kirinya, dua orang siswa bertubuh gempal mengekor sebagai antek setianya. Meskipun ekspresi wajahnya berusaha dibuat sesangar mungkin, Rahman tidak bisa menyembunyikan sedikit pincang pada langkahnya—efek sisa nyeri dari punggung kakinya yang baru saja digilas habis oleh Alvin.

Tanpa basa-basi, begitu tiba di depan meja barisan tengah itu, Rahman langsung mengayunkan telapak tangannya.

DUAAARRR!

Hantaman keras pada permukaan meja kayu Alvin menggema kencang, sukses membuat seisi kelas yang tadinya mulai bising langsung hening seketika. Seluruh pasang mata di dalam ruangan kini tertuju penuh ke arah barisan tengah, menatap horor pada Rahman yang sudah diselimuti emosi.

Melihat ketakutan di wajah murid-murid lain, salah satu antek Rahman beraksi. Dengan kasar, dia langsung merangkul pundak Bagas dari belakang, mencoba mengintimidasi teman sebangku Alvin itu agar tidak ikut campur.

Namun, di luar dugaan si antek, Bagas sama sekali tidak gemetar. Pemuda ramah itu justru melipat kedua tangannya di dada dengan santai. Tatapannya bergerak tenang dari Alvin lalu beralih ke wajah Rahman yang makin memerah. 'Kira-kira apa yang bakal lo lakuin sekarang, Vin?' batin Bagas penasaran, malah merasa kasihan pada nasib Rahman setelah ini.

"Lo sengaja kan injek kaki gue tadi?!" bentak Rahman dengan wajah masam, jari telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah Alvin.

Alvin tidak mundur setingenti pun. Dia hanya mendongak, menatap Rahman dengan pandangan mata yang teramat datar dan kosong.

"Ooy," sahut Alvin pendek dengan nada malas.

Di bawah permukaan meja, jemari Alvin perlahan memutar sedikit tutup botol soda yang sedari tadi digenggamnya.

Cessssss...

Suara desisan gas karbonasi yang tertahan mulai terdengar, menandakan tekanan di dalam botol plastik itu sudah berada di titik maksimal dan siap meledak kapan saja. Dengan gerakan yang sangat konstan dan tenang, Alvin meletakkan botol soda bertekanan tinggi itu di atas meja. Dia menggesernya sedikit, dengan sengaja mengarahkan moncong tutup botol miring ke atas—tepat membidik ke area resleting celana abu-abu milik Rahman.

Detik berikutnya, aura Alvin berubah total. Tatapan datarnya mendadak runtuh, digantikan oleh sorot mata sedingin es yang memancarkan intimidasi tingkat tinggi khas seorang pembunuh bayaran profesional. Sudut bibir Alvin terangkat, membentuk sebuah senyuman kecut yang teramat meremehkan.

Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya sendiri, emosi Rahman langsung membakar habis akal sehatnya. "Tengil amat lo ya, anak baru!" raung Rahman.

Tangan kanan Rahman mengepal hebat hingga urat-uratnya menonjol keluar. Genggaman kuat itu terangkat tinggi ke udara. Dengan sisa seluruh tenaganya, Rahman menghantam meja Alvin untuk kedua kalinya dengan maksud menghancurkan mental sang murid baru.

Namun, hantaman keras itu justru memicu pelatuk senjata cair milik Alvin. Getaran meja membuat cengkeraman tangan Alvin pada tutup botol sengaja terlepas.

BRUSSSSSSSSSSS!!!

Tekanan gas yang sudah menggunung di dalam botol langsung meledak hebat. Semburan deras air soda berwarna gelap beserta busa putihnya melesat kencang bagai meriam air, menghantam telak bagian depan celana Rahman. Tak hanya itu, tutup botol plastik yang terlontar akibat tekanan gas ikut melesat cepat dan menghantam dengan akurat aset masa depan di selangkangan Rahman.

PLUK!

"ARRRGGGHHH...!!" Rahman spontan menjerit melengking, suaranya naik dua oktav.

Tubuh berandalan sekolah itu langsung membungkuk dalam sekejap. Kedua tangannya beralih memegangi pangkal pahanya dengan wajah yang berkerut menahan rasa nyeri yang luar biasa amat sangat. Selangkangannya berdenyut hebat akibat hantaman tutup botol, sementara cairan soda yang lengket merembes cepat, membasahi seluruh bagian depan celana abu-abunya dari pinggang hingga paha.

Suasana kelas yang tadinya tegang mendadak pecah oleh keheningan yang canggung sebelum akhirnya beberapa murid di barisan belakang tidak bisa menahan tawa mereka. Penampakan Rahman saat ini benar-benar mengenaskan—dengan celana depan yang basah kuyup merembes lebar, dia terlihat persis seperti anak TK yang baru saja mengompol massal di dalam kelas.

Antek Rahman yang tadi merangkul Bagas langsung melepaskan tangannya dengan canggung, melongo menatap bosnya yang kini hampir berlutut menahan tangis dan malu. Sementara Alvin, dia hanya kembali bersandar di kursinya, menatap botol sodanya yang kini sudah kosong dengan helaan napas pelan.

Antek Rahman yang tadinya merangkul pundak Bagas dengan sok jagoan, seketika melepaskan tangannya. Dia melongo syok, lalu buru-buru menghampiri bosnya yang masih membungkuk kesakitan di lantai koridor kelas.

"Waduh, Man! Lo gak apa-apa?!" tanya si antek pertama, panik melihat rembesan air soda yang makin meluas di celana abu-abu Rahman. "Wah... aman gak tuh kantong menyan lo?"

Antek yang satunya lagi ikut berlutut di samping Rahman. Bukannya langsung membantu, dia justru menatap area selangkangan Rahman dengan dahi berkerut ngeri sekaligus geli. "Agak ragu juga gue, Man... hantaman tutup botol bertekanan gas murni itu kencang banget kayaknya," timpalnya sambil mati-matian menggigit bibir bawahnya, menahan tawa agar tidak menyembur di depan bosnya yang sedang sekarat menahan malu.

Dengan sisa-sisa harga diri yang sudah runtuh ke dasar bumi, Rahman berusaha berdiri dengan susah payah. Tubuhnya masih agak membungkuk, menolak untuk tegak karena setiap pergerakan kecil membuat asetnya berdenyut nyeri. Wajahnya yang memerah padam kini bercampur dengan ekspresi menahan tangis.

Sambil melangkah pincang dengan paha yang dirapatkan, Rahman berbalik perlahan menuju pintu keluar kelas 10-2. Sebelum benar-benar pergi, dia sempat menoleh ke belakang dan mengacungkan telunjuknya yang gemetar ke arah barisan tengah.

"I-ini... ini belum selesai ya! Liat aja lo, anak baru! Awas lo...!" ancam Rahman dengan suara yang agak serak dan bergetar, sebelum akhirnya buru-buru digandeng oleh kedua anteknya keluar kelas menuju toilet.

Suasana kelas yang tadinya sunyi mendadak pecah oleh gemuruh tawa dari para siswa yang sedari tadi menahan napas.

"Gila, kantong menyan katanya! Hahaha! Gak kuat gue!" seru seorang siswa di barisan belakang, tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul permukaan mejanya.

Beberapa siswi di barisan depan kompak menutup mulut mereka, berpaling ke arah jendela sambil berbisik-bisik geli. "Dih, lagian sok jagoan banget sih jadi orang. Kena karma instan kan, langsung ngompol di tempat," ejek seorang siswi dengan nada puas. Wibawa Rahman sebagai berandalan kelas 10-2 resmi runtuh hari itu juga, digantikan oleh label baru sebagai "anak TK yang mengompol".

Di tengah riuhnya sorak-sorai ejekan kelas, Alvin dengan sangat santai kembali membenarkan posisi botol sodanya yang sudah kosong di atas meja. Dia melirik sekilas ke arah pintu luar tempat Rahman menghilang.

Dengan tatapan yang teramat datar tanpa dosa, Alvin menggumamkan kalimat balasan dengan volume suara yang pas agar bisa didengar oleh sekelilingnya. "Lo yang awas... liat dulu artefak lo retak gak."

Pffttt—Bwahaha!

Pertahanan Bagas runtuh total. Dia langsung meledak dalam tawa lepas yang bising, menepuk-nepuk pundak Alvin dengan keras. "Artefak beneran dong! Sialan lo, Vin! Mulut lo tajam juga ternyata!" seru Bagas di sela-sela tawanya.

Sementara itu, di sudut dekat jendela, Luna Clarisa tidak ikut tertawa bersama murid-murid yang lain. Gadis itu tetap bergeming, menopang dagunya dengan satu tangan sembari menatap tajam ke arah Alvin.

Mata jernih Luna merekam setiap detail gerakan Alvin dengan penuh analisis. Dia tahu betul, insiden botol soda tadi sama sekali bukan sebuah kecelakaan beruntung. Detektor taktis, ketenangan mental, hingga kalkulasi gerakan Alvin saat sengaja melepas tutup botol tepat di depan resleting Rahman adalah kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang yang terlatih dalam pertempuran jarak dekat.

'Gaya bicaranya yang datar, sarkasme yang dingin, dan cara dia melumpuhkan lawan tanpa menyentuh...' batin Luna, dadanya kembali berdegup kencang oleh kombinasi rasa penasaran dan kecurigaan yang makin menebal. 'Pipin... apa itu beneran kamu? Kenapa kamu menyembunyikan kemampuan sebesar ini di balik seragam sekolah?'

Menyadari ada sepasang mata yang terus mengintainya dari arah jendela, Alvin perlahan memutar kepalanya. Detik itu juga, pandangan mata dingin Alvin beradu langsung dengan tatapan penuh selidik milik Luna Clarisa. Dua pasang mata itu saling mengunci di tengah keriuhan kelas, membawa sebuah pesan rahasia yang tak terucapkan di antara mereka berdua.

1
Bollong
tanda kutip/tanda bacanya di perhatikan lagi trus jangan pake kata gue elo/sebagainya pake kata saya saja.kalo pake kata GUE terlalu tidak enak pas di bacanya...
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
Yayan Hidayat
iya Kak
terima banyak,udah baca karya saya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!