Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Proyek Di Tanah Panti Asuhan
Pengusiran dan perlawanan yang ada di panti asuhan menjadi penyebab kenapa taman bisa terjadi kerusuhan. Semua jalan seperti ditutupi oleh mereka. Bahkan barang-barang terlempar di jalanan tak sengaja melukai orang lewat. Orang yang panik mulai berlarian tak karuan.
Naja menengok pada Satria. "Aku ngerasa ada yang tidak beres di sini," ucapnya, dia melirik ke arah langit sekilas.
Satria mengangguk ucapan Naja. "Kamu benar, tapi gimana kita akan menyelidikinya?"
Naja menghela napas, dia juga bingung karena semua orang tampak tidak bisa fokus diajak bicara. Belum lagi, si pemilik panti tampak pingsan karena tekanan yang di alami. Gadis itu memandang Satria dengan perhatian.
"Kita harus pelan-pelan sih ini, kalau terburu-buru nanti kita salah tangkap lagi seperti waktu Evan. Big no," jelas Naja, kalimatnya nyentrik tetapi berbanding terbalik dengan suaranya yang pelan, seolah menunjukkan kewaspadaan.
Ucapan Naja diangguk sekali lagi oleh Satria. Bahkan lelaki itu membalas kekhawatiran Naja dengan senyuman. "Aku akan membantumu lagi. Jangan banyak pikiran," ucapnya lembut berusaha menenangkan.
Naja dan Satria memutuskan untuk pulang saat hari sudah mulai sore. Mereka tidak sengaja melewati panti asuhan saat berjalan. Keduanya berhenti sejenak memandang kondisi tempat itu yang seperti rongsokan daripada rumah.
Melihat kondisi orang-orang di sana, Naja dan Satria memilih bertahan di sini. Mereka menghampiri salah satu penjaga panti yang masih dalam keadaan sedih. Dengan senyum kecil, Naja berusaha menenangkan suasana yang hening di sana.
"Permisi kak, saya mau tanya apa yang terjadi di sini? Kenapa banyak barang berantakan?" tanya Naja lembut sambil tersenyum ramah tapi di tatapannya ada rasa khawatir.
Penjaga panti itu mengangkat bahu tak acuh. Pandangannya sudah seperti tidak fokus. Dia tidak membalas senyuman Naja. Bahkan membalas tatapan lembut itu dengan rasa kecewa yang dalam.
"Semua ini ulah para penguasa, saya sudah lelah," lirih penjaga itu sebelum akhirnya ambruk.
“Kami terus dapat ancaman kak, walaupun kami miskin, apa pantas kami diperlakukan begitu?”
Mendengar itu, jantung Naja berdesir. Tatapan gadis itu memicing dan alisnya mengerut. Dia menatap tajam sambil mengepalkan tangan. Saat Naja hendak mengubah sosoknya menjadi wujud menyeramkan, dia dicegah oleh Satria.
Satria memandang Naja lembut sambil menggelengkan kepala. "Jangan terlalu emosi Naj, mereka butuh bantuan kita," tegur lelaki itu yang berhasil membuat amarah Naja mereda.
Naja tersenyum dan berubah menjadi sosok cantik lagi ketika berpaling melihat kepada anak-anak panti. "Anak-anak jangan khawatir ya, aku yang cantik ini dan mas yang jelek disebelahku akan membantu kalian," ucap gadis itu berusaha menenangkan anak-anak yang masih ketakutan karena kejadian tadi pagi.
“Maksudnya kami akan bantu kalian.” Koreksi Satria sambil menyikut perut Naja.
Melihat barang yang berantakan di sekitar, Naja pun memilih untuk merapikan. Sementara Satria juga membereskan beberapa pecahan barang yang membuat luka orang. Saat mereka dihadapi untuk mengangkat barang besar yang menghalangi jalan, tiba-tiba saja satu per satu anak panti datang menghampiri mereka.
"Kak, biarkan kami bantu!" ucap anak-anak itu lalu berbaris membantu Naja dan Satria mengangkat barang itu. Barang besar itu pun akhirnya tersingkirkan.
Melihat itu, Naja menjadi makin senang. Dia tersenyum melihat anak-anak polos itu. "Terima kasih, adik-adik," ucapnya ceria.
Sementara itu, hati Satria melihat banyak orang yang terkapar tak berdaya di lantai. Mereka tampak pucat dan pandangan mereka kosong. Satria berpikir bahwa mereka sedari tadi terus berusaha melakukan pertengkaran sebagai bentuk perlindungan. Namun, tanpa sadar mereka tidak bisa.merasakan sakit karena kelaparan.
Satria menghampiri Naja yang sedang berbicara dengan anak-anak panti. "Aku akan membeli makanan untuk mereka," bisik lelaki itu.
Naja mengerutkan kening, dia melihat sekeliling sini tidak ada warung makan. Gadis itu mengajak Satria minggir beberapa langkah menjauhi dari anak-anak.
"Yasudah sana. Eh, di sini tidak ada yang jualan makanan. Di mana kamu mau beli makan?" tanya Naja berbisik tapi suaranya penuh tekanan.
Satria memandang sekeliling kita taman yang sudah sunyi. Memang benar di situ tidak ada penjual makanan sama sekali. Namun, itu tidak menghentikan niat baiknya untuk menolong orang-orang yang ada di panti.
"Aku akan berusaha mencarikan mereka makanan. Tidak peduli jika langkahnya sejauh 10 km," jelas Satria pada Naja. Dia menatap gadis itu tajam, suaranya tegas berusaha menyakinkan gadis itu.
Mendengar itu, Naja hanya tersenyum sambil menghela napas. Dia menepuk pundak Satria, memberinya semangat. "Baiklah kalau itu mau mu, aku akan di sini," jawabnya sambil menatap Satria dengan tatapan lembut.
Satria membalas senyuman itu. "Aku pergi sebentar, jaga mereka baik-baik ya," ucap Satria sebelum pergi dari panti untuk membeli makan sebentar di daerah yang cukup jauh dari panti.
"Hati-hati di jalan!" ucap Naja saat Satria mulai pergi dari panti. Dia pun berbalik dan berusaha mengajak obrol orang-orang yang ada di panti, terutama anak-anak kecil itu.
"Adik-adik, sini lebih dekat," ucap Naja lembut sambil melambaikan tangan. Dia berjongkok, mensejajarkan tinggi dengan anak-anak itu.
Pelan-pelan, anak-anak itu mulai mendekat. Salah satu ada yang ragu, masih berdiri di pojokan dengan wajah pucat. Namun, pada akhirnya dia memilih mendekat saat teman-teman yang lain sudah bersama Naja.
Naja tersenyum memegang pipi anak-anak itu. Senyuman yang terasa hangat dan tidak penuh tekanan.
"Kalian tahu tidak? Kalian tadi melakukan sesuatu yang luar biasa," ucap Naja antusias.
Mereka menolehkan pandangan satu sama lain. Salah satu menatap Naja dengan polos sambil mengerutkan kening.
"Hebat? Kami sama sekali tidak melakukan apa-apa, Kak. Kami sangat takut," ucap salah satu anak itu, diangguki oleh teman-teman yang lain.
"Iya, apalagi mereka juga berteriak pada kami dan merusak mainan kami," timpal yang lain.
Naja tersenyum, dia memberikan salah satu boneka yang sudah dia rapikan di meja pada salah satu anak itu. Dia menerima dengan rasa polos.
"Takut itu wajar. Kalian tetap saling bantu, itu yang bikin kalian hebat."
Suasana yang tadi tegang mulai sedikit mencair. Beberapa anak saling melirik sebelum akhirnya mereka duduk melingkar di dekat Naja. Melihat itu, Naja menjadi lebih tenang.
"Anak-anak, daripada kita berlarut dalam kesedihan dan membuang waktu, lebih baik kita bermain. Apa kalian mau?" usul Naja sambil memainkan bola di tangannya.
"Mau kak!" jawab mereka serempak.
"Baik, kita akan bermain sambil bernyanyi. Jika terkena balon ini berhenti di akhir lagu akan terkena hukuman," ujar Naja sambil tersenyum.
Naja pun melempar bola itu secara random ke salah satu anak itu dan bola itu bergilir secara bergantian. Saat bola itu terhenti di salah satu pangkuan anak karena lagu berhenti, anak itu pun mendapat hukuman ringan dari Naja seperti menyanyi.
Sejenak, semua orang merasa tenang dengan keaktifan Naja menghibur anak-anak di sana. Penjaga panti asuhan melihat Naja merasa tenang. Tanpa sadar mata penjaga itu berkaca-kaca, menangis terharu.
Sesaat mereka melupakan masalah pemerintah yang merampas tanah mereka. Namun, diam-diam, Naja masih memikirkan rencana penyelidikan.