*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Bertemu Mantan.
Ben hanya bisa mengantar Junee hingga di panti asuhan. Pria itu mendapat panggilan dadakan, jika ada masalah di salah satu proyeknya. Dan mengharuskan Ben untuk segara datang.
Junee tidak mempermasalahkan hal itu. Ia justru meminta Ben untuk tidak mengantarnya ke panti. Dan segera pergi ke proyek. Namun pria itu bersikeras untuk mengantar sang istri.
Ben juga memberikan sebuah kartu ATM untuk Junee berbelanja dengan anak - anak.
Pukul 9 pagi, Junee tiba di salah satu pusat perbelanjaan bersama 5 orang anak dan 2 pengurus panti. Dengan menyewa sebuah mobil mini bus.
Dika paling antusias. Karena selain membeli seragam sekolah, Junee mengatakan mereka boleh membeli satu barang yang diinginkan.
Dan bocah itu akan membeli peralatan melukis.
Saat sedang menemani anak - anak memilih seragam, ada suara familiar yang memanggil nama Junee dari arah belakang.
“Junee?”
Wanita itu pun menoleh.
Tubuh Junee seketika kaku. Seorang pria berdiri di belakang sana. Arga—Mantan kekasihnya saat kuliah dulu.
“Arga? Sedang apa kamu di sini?” Tanya Junee dengan canggung. Mereka sudah lama tidak bertemu.
Arga tersenyum. “Membeli laptop untuk proyek. Tidak menyangka akan bertemu kamu di sini. Apa kamu masih menjadi guru panti?”
Junee mengangguk pelan. “Iya. Kamu sendiri? Aku mendengar, kamu sudah menjadi arsitek.”
Arga menganggukkan kepalanya. “Lumayan. Oh ya, Junee… aku mendengar kamu menikah dengan Ben Pratama?”
Junee terkejut. Darimana Arga bisa mengetahui kabar itu? Padahal tidak banyak orang yang tau. Karena mereka hanya menikah secara tertulis saja.
“Iya.” Jawab wanita itu pelan.
Arga melihat anak-anak yang sedang memilih seragam. “Kamu masih sama seperti dulu. Rela berkorban untuk orang lain.”
Junee mengerutkan keningnya. “Apa maksud kamu, Arga?”
“Junee, aku bisa menebus panti itu. Tidak perlu menikah kontrak dengan Ben Pratama. Aku menyukai kamu dari dulu, kamu tau itu ‘kan?” Imbuh pria itu lagi.
Junee menggelengkan kepalanya.
“Terima kasih, Arga. Tapi sudah tidak perlu lagi. Panti sudah aman.” Ucap wanita itu.
“Kenapa tidak perlu? Kamu tau ‘kan kontrak kamu sama Ben itu apa isinya?” Tanya Arga pelan, tapi tajam.
“Darimana kamu tau, Arga? Semua itu tidak benar.” Tukas Junee.
Arga menyunggingkan sudut bibirnya. “Aku mendengar dari seorang teman yang bekerja di Holding. Dia biang, kamu ‘melayani’ Ben Pratama setiap malam. Demi panti tidak di gusur.” Ucap Arga.
Mata Junee membulat sempurna. Arga bahkan tau hingga sedetail itu. Siapa sebenarnya yang memberitahu pria itu?
Wanita itu pun mundur selangkah.
“Tolong jaga ucapan kamu, Arga. Kamu tidak perlu ikut campur urusan pribadi aku.”
Arga mengangkat tangan. “Sorry. Aku hanya tidak mau kamu hancur, Junee.”
Junee menarik napas panjang.
“Arga. Terima kasih untuk perhatian kamu. Aku bisa mengatasi semuanya. Sungguh saat ini, keadaannya sudah baik - baik saja.” Ucapnya.
Junee pun meninggalkan pria itu, kemudian menghampiri anak - anak.
Ia tidak mau berurusan lebih lama dengan Arga. Entah dari siapa pria itu mengetahui tentang pernikahannya dengan Ben.
Rasanya sudah sangat keterlaluan.
---
Menjelang sore, Junee baru sampai di penthouse. Wanita itu bergegas pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
Jantung Junee masih berdebar kencang, mengingat pertemuannya dengan Arga di mall tadi. Entah darimana Arga mengetahui tentang pernikahannya dengan Ben.
Informasi yang pria itu dapatkan begitu akurat. Hingga mengetahui tentang isi kontrak mereka.
Terlalu sibuk dalam pikirannya, Junee tak menyadari kedatangan sang suami.
Pria itu pulang lebih awal dari biasanya.
“Bagaimana hari ini? Apa anak-anak senang?” Tanya Ben sembari duduk di seberang sang istri.
Junee tersenyum canggung, kemudian mengangguk. “Senang. Terima kasih karena kamu sudah mentraktir mereka.”
Junee mengembalikan kartu ATM pemberian pria itu.
“Simpan untuk kamu. Aku masih memiliki yang lain.” Ucap Ben sembari mendorong kartu itu ke arah sang istri.
“Terima kasih, Ben.” Ucap Junee pelan.
Ben menyunggingkan sudut bibirnya. Namun seketika menyadari perubahan raut wajah sang istri.
“Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu di panti?” Tanya Ben penasaran. Sang istri terlihat tidak bersemangat seperti pagi tadi.
Junee terdiam sejenak. Kemudian mulai bercerita.
“Tadi aku bertemu dengan seorang teman lama. Mm, lebih tepatnya, dia mantan aku waktu kuliah. Namanya Arga. Aku tidak tau darimana, dia bisa mengetahui hubungan kita. Tentang kontrak. Bahkan, dia ingin menebus panti untuk aku.” Jelas Junee hati - hati.
Wajah Ben terlihat memerah padam. Pria itu sepertinya sedang marah.
“Mantan kekasih kamu?”
Junee mengangguk pelan. Hubungannya dengan Arga dulu tidaklah berlangsung lama. Junee tidak pernah menginginkannya, karena wanita itu tidak memiliki perasaan yang sama.
“Siapa yang mengatakan hal itu sama dia?” Geram Ben.
Junee menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tau, Ben. Dia mengatakan kalau mendengarnya dari salah satu temannya yang bekerja disini.”
Tangan Ben terkepal sempurna.
“Vania.” Geram pria itu.
“Kenapa dengan Mbak Vania?” Tanya Junee tak mengerti.
“Dia satu-satunya orang yang tau detail kontrak kita. Keterlaluan. Akan aku pecat dia besok.” Amarah Ben pun meluap.
Junee memegang tangan Ben dengan lembut.
“Jangan gegabah, Ben. Mungkin bukan dia. Yang bekerja di gedung ini, ‘kan banyak orang.”
“Junee, aku mengenal Vania selama 5 tahun. Dia pasti tidak terima kamu kembali ke hidup aku. Vania tau tentang dendam aku sama kamu dulu.“
Junee terdiam. Mungkin yang dikatakan Ben, ada benarnya.
“Lalu sekarang bagaimana?”
Ben menggenggam tangan Junee balik.
“Sekarang kamu tidak perlu takut. Aku sudah membatalkan klausul itu. Aku sudah kirim draft kontrak baru ke pengacara. Mulai sekarang, kamu istri aku beneran. Tanpa ada embel-embel.”
Junee menatap Ben dengan serius.
“Ben… kalau Arga datang lagi, apa kamu akan marah?” Tanya wanita itu.
Ben terdiam cukup lama.
“Tentu saja aku marah. Apalagi jika kamu mau pergi sama dia. Kamu itu cuma boleh menjadi milik aku, Junee.”
Junee mengulum bibirnya.
“Aku tidak akan pergi, Ben. Kamu tidak mungkin merebut panti lagi ‘kan?”
Ben menggelengkan kepalanya. “Panti sudah sah menjadi milik kalian. Aku tidak akan merebutnya lagi. Kamu lebih penting dari pada tanah itu.”
- - -