Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 3 Deadline Jawaban
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Rania Azarina gagal fokus bekerja.
File proposal kampanye kuartal ketiga sudah terbuka di layar laptopnya selama hampir empat puluh menit.
Namun alih-alih merevisi strategi pemasaran digital, matanya justru terpaku pada satu baris yang sejak tadi ia baca berulang kali tanpa benar-benar memproses isinya.
Projected Growth: 18%
Delapan belas persen.
Bukan “nikah kontrak”.
Bukan “akad hari Sabtu”.
Bukan wajah menyebalkan Gavin Mahendra yang sejak siang terus muncul di kepalanya seperti iklan premium yang entah bagaimana berhasil menembus adblock mentalnya.
Rania mengembuskan napas panjang lalu menutup laptop.
Ini gila.
Sangat gila.
Ia menoleh ke arah jam digital di apartemennya.
Pukul dua puluh dua lewat lima puluh tiga menit.
Sudah hampir tengah malam, tapi otaknya masih sibuk memikirkan sesuatu yang seharusnya sudah ia tolak mentah-mentah sejak siang tadi.
Nikah kontrak?
Dengan Gavin?
Lebih masuk akal menikahi printer kantor yang suka error saat deadline.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Layar menyala.
MAMA
Rania memejamkan mata.
Semesta benar-benar sedang mengujinya.
Ia mengangkat panggilan itu.
“Halo, Ma.”
“Rania!”
Suara Ratna Mawarni terdengar terlalu ceria untuk jam segini.
“Kamu lagi sibuk?” tanya sang mama.
“Sedikit.”
“Bagus. Mama cuma mau tanya satu hal.”
Rania sudah tahu ke mana arah percakapan ini.
Dan firasatnya benar.
“Kapan kamu nikah?”
Rania menatap langit-langit apartemennya.
Tentu saja.
“Tepat sekali, Ma. Pertanyaan yang sangat segar. Aku belum pernah dengar minggu ini.”
“Jangan bercanda. Mama serius.”
“Mama selalu serius kalau bahas pernikahan.”
“Ya jelas. Umur kamu dua puluh sembilan.”
“Dan masih hidup sehat.”
“Rania.”
“Oke, oke.”
Ratna mendesah panjang.
“Tadi mama ketemu Tante Lilis di arisan.”
Nah.
Ini pasti buruk.
“Terus?”
“Anaknya yang lebih muda tiga tahun dari kamu baru melahirkan anak kedua.”
Rania menutup mata.
Kalimat klasik.
Serangan rutin.
Checklist wajib setiap ada telepon keluarga.
“Selamat buat mereka.”
“Jangan alihkan topik.”
“Mama, aku lagi fokus karier.”
“Karier nggak bisa nemenin kamu pas sakit.”
“Kalau gitu aku beli humidifier.”
“Rania!”
Rania tersenyum tipis.
Ia tahu ibunya pasti sedang memijat pelipis sekarang.
Mirip seperti yang sering ia lakukan saat menghadapi Gavin.
Dan kenapa ia malah kepikiran pria itu lagi?
“Mama cuma pengin kamu punya pasangan yang bisa jaga kamu.”
Nada Ratna melunak.
Rania ikut melembut.
“Aku tahu, Ma.”
“Kalau ada yang serius, kenalin.”
Rania terdiam.
Lalu, tanpa berpikir panjang, ia bertanya,
“Kalau misalnya… aku menikah mendadak, Mama bakal gimana?”
Hening.
Lalu suara benda jatuh terdengar dari seberang telepon.
“Mama jatuhin gelas?”
“Itu nggak penting!”
Nada Ratna langsung naik.
“Kamu mau nikah? Sama siapa?”
Rania langsung menyesal.
“Ini cuma hipotesis.”
“Nama.”
“Ma—”
“NAMA.”
Rania memijat pelipis.
Kalau ia menyebut Gavin sekarang, kemungkinan besar ibunya akan langsung booking gedung resepsi sebelum subuh.
“Belum ada siapa-siapa.”
“Jangan bohong sama mama.”
“Serius.”
Ratna terdiam beberapa detik.
Lalu berkata penuh curiga,
“Jangan-jangan anak yang waktu acara kantor pakai jas abu-abu itu?”
Rania membeku.
Kenapa tebakannya bisa tepat?
“Yang senyumnya nyebelin tapi ganteng.”
Rania nyaris tersedak.
“Mama ingat dia?”
“Tentu. Mama punya mata.”
Ya Tuhan.
“Sudah malam, Ma. Aku tutup dulu.”
“Rania—”
Klik.
Ia memutus sambungan.
Lalu menjatuhkan diri ke sofa.
Ini buruk.
Sangat buruk.
Karena untuk pertama kalinya, kemungkinan menikah dengan Gavin tidak lagi terdengar mustahil.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan masuk.
Dari orang yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya.
Gavin Mahendra
Jantung Rania berdetak sedikit lebih cepat.
Menyebalkan.
Ia membuka pesan itu.
Gavin:
Masih hidup?
Rania mendelik.
Rania:
Sayangnya, iya.
Balasan datang cepat.
Gavin:
Bagus.
Saya butuh jawaban besok jam 12.00.
Rania:
Excuse me?
Gavin:
Ruang meeting kecil lantai 9.
Rania mengetik cepat.
Rania:
Kamu pikir ini interview kandidat asisten pribadi?
Tiga titik muncul.
Lalu balasan datang.
Gavin:
Bukan.
Ini negosiasi masa depan karier kita.
Rania menatap layar.
Lalu mengetik:
Rania:
Dan kalau saya bilang tidak?
Balasan Gavin datang hampir seketika.
Gavin:
Maka saya cari cara lain.
Jeda.
Lalu satu pesan tambahan masuk.
Gavin:
Dan saya tetap akan menang.
Rania menatap layar cukup lama.
Kesal.
Tersinggung.
Tertantang.
Pria itu memang tahu cara memancing emosinya.
Dan bagian terburuknya?
Ancaman itu terdengar realistis.
Karena Rania tahu satu hal.
Gavin Mahendra tidak pernah asal bicara.
Keesokan paginya, Rania datang ke kantor dengan lingkar mata tipis dan mood yang lebih berbahaya dari biasanya.
Nisa yang melihat atasannya langsung berhenti mengunyah roti.
“Bu…”
“Jangan bicara.”
“Baik.”
“Tapi kalau kamu mau kasih kopi, silakan.”
Nisa langsung bangkit.
“Siap.”
Rania duduk di kursinya.
Lalu membeku.
Sebuah sticky note kuning menempel di layar laptopnya.
Tulisan tangan yang sangat ia kenal terpampang jelas.
Jawaban saya tunggu sampai jam 12.00.
— G
Kelopak mata Rania berkedut.
“NI-SA!”
Nisa yang baru kembali membawa kopi nyaris menumpahkannya.
“I-iya, Bu?”
“Siapa yang naruh ini?”
“Pak Gavin.”
“Tentu saja.”
“Beliau datang jam tujuh. Senyum-senyum sendiri. Agak menyeramkan.”
Rania meremas sticky note itu.
Pria itu benar-benar tidak tahu arti menyerah.
Pukul sebelas lima puluh delapan.
Rania berdiri di depan ruang meeting kecil lantai sembilan.
Tangannya mengepal.
Ia belum sepenuhnya yakin kenapa ia datang.
Mungkin karena penasaran.
Mungkin karena marah.
Atau mungkin karena ia memang sedang mempertimbangkan ide paling absurd dalam hidupnya.
Ia menarik napas.
Lalu membuka pintu.
Gavin sudah duduk di sana.
Santai.
Dengan secangkir kopi di tangan.
Seolah ini hanyalah rapat mingguan biasa.
Di atas meja tergeletak sebuah map hitam.
Tebal.
Rapi.
Mencurigakan.
“Apa itu?” tanya Rania.
Gavin menepuk map itu.
“Draft perjanjian nikah kontrak.”
Rania membeku.
“Kamu bikin draft?”
“Semalam.”
“Kamu serius lembur buat ini?”
“Profesionalitas itu penting.”
Rania menatapnya tak percaya.
“Kamu benar-benar sinting.”
“Terima kasih.”
Ia menjawabnya seperti baru menerima pujian.
Rania menarik kursi dan duduk tepat di hadapannya.
Tatapannya tajam.
Ekspresinya dingin.
Rania menatap map hitam itu lama.
Sangat lama.
Ini bukan keputusan profesional lagi.
Ini keputusan yang akan mengubah hidupnya secara legal, sosial, bahkan personal.
Ia benci fakta bahwa satu-satunya orang yang bisa membantunya sekarang justru Gavin Mahendra.
Pria yang selama ini selalu menjadi lawan.
Tapi mungkin justru karena itu...
Gavin adalah satu-satunya orang yang cukup ia percaya untuk menjalani kegilaan ini.
Dan kesadaran itu jauh lebih mengganggu daripada ide pernikahannya sendiri.
“Kalau saya setuju,” kata Rania pelan, “ada syarat.”
“Sebutkan.”
“Jangan pernah campur aduk ini dengan urusan pribadi," ucap Rania.
Gavin terdiam beberapa detik.
"Syarat diterima."
Gavin pikir itu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
Dan kalimat yang keluar dari bibir Rania membuat senyum Gavin melebar.
“Oke.”
Satu kata.
Pendek.
Tegas.
Dan cukup untuk mengubah hidup mereka.
“Saya setuju.”
Untuk sesaat, Gavin tampak terdiam.
Lalu ia tersenyum.
Bukan senyum jahilnya.
Bukan senyum provokatifnya.
Melainkan senyum puas seseorang yang baru saja memenangkan langkah paling menentukan.
Ia mendorong map itu ke arah Rania.
“Selamat datang di keputusan terburuk paling menguntungkan dalam hidup kita.”
Rania menatap map itu.
Lalu bergumam pelan,
“Kita lihat nanti siapa yang paling menyesal.”
Dan tanpa mereka sadari, di luar ruang meeting, seseorang sedang berdiri membeku sambil memegang tablet.
Nisa.
Yang baru saja mendengar semuanya.
Matanya membelalak.
Mulutnya terbuka.
Lalu, dengan tangan gemetar, ia membuka grup chat kantor.
BREAKING NEWS DIVISI 7
Dan mulai mengetik.
TEMAN-TEMAN.
SAYA BARU SAJA MENYAKSIKAN AWAL SEBUAH BENCANA NASIONAL.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.