NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di balik Topeng Sang CEO

Suasana malam di lantai lima puluh lima Menara Alfarezel selalu sunyi, seolah-olah seluruh hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana tidak diizinkan naik ke atas. Jam dinding di kamar Anya menunjukkan pukul dua dini hari. Anya berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasur empuk kamar tamunya, namun matanya menolak terpejam. Pikirannya masih dipenuhi oleh rentetan kejadian gila yang mengubah statusnya dari seorang pengangguran terdesak menjadi calon istri seorang miliarder dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam.

Merasa tenggorokannya kering karena cemas, Anya akhirnya memutuskan bangkit dari tempat tidur. Ia mengenakan piyama katun panjangnya yang longgar, melangkah pelan membuka pintu kamar, dan berjalan menyusuri lorong temaram menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat.

Namun, langkah kaki Anya mendadak terhenti saat ia melewati area ruang kerja pribadi Devan.

Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang memancarkan pendar cahaya lampu meja yang redup. Dari dalam ruangan, terdengar sebuah suara yang membuat bulu kuduk Anya meremang. Bukan suara amarah atau bentakan angkuh yang biasa ia dengar, melainkan suara napas yang terengah-engah, pendek, dan tersendat-sendat, diiringi oleh denting halus gelas kaca yang bergetar hebat.

Anya mengerutkan kening. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ia melangkah mendekat, lalu mengintip dengan sangat hati-hati melalui celah pintu yang terbuka.

Di balik meja marmer hitamnya, Devan Alfarezel sama sekali tidak terlihat seperti tirani arogan yang menakutkan. Pria itu terduduk lemas di kursinya dengan kemeja putih yang sudah kusut dan basah oleh keringat dingin. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar hebat. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam rapat, dan wajah tampannya tampak pucat pasi memancarkan rasa sakit serta ketakutan yang teramat sangat.

Pria itu sedang mengalami panic attack yang hebat.

"Tidak... jangan..." Devan menggumam lirih dengan suara serak yang patah-patah, seolah sedang memohon pada bayangan masa lalu yang menakutinya di dalam kegelapan mimpi buruk.

"Ibu... kenapa..."

Anya terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada Devan, melainkan karena rasa simpati yang mendadak menghantam dadanya melihat kerapuhan pria itu. Selama ini, Devan selalu tampil sempurna seperti robot tanpa celah dingin, berkuasa, dan kejam. Namun malam ini, di dalam ruang kerjanya yang sunyi, topeng kokoh itu hancur berantakan, menyisakan seorang pria biasa yang sedang tersiksa oleh luka masa lalunya sendiri.

Anya tahu ia tidak boleh mencampuri urusan pribadi Devan sesuai kesepakatan kontrak. Namun, melihat pria itu mulai memegang dadanya dengan napas yang kian tercekat, Anya tidak bisa tinggal diam dan membiarkan sisi kemanusiaannya mati.

Tok, tok, tok.

Anya mengetuk pintu kayu itu dengan lembut sebelum mendorongnya terbuka lebar. "Devan?" panggilnya dengan suara selembut mungkin agar tidak mengejutkan pria itu.

Devan tersentak. Ia mendongak lambat dengan mata elangnya yang kini tampak sayu, merah, dan dipenuhi oleh sisa-sisa kepanikan yang liar.

Begitu melihat Anya berdiri di ambang pintu, insting pertamanya adalah kembali membangun benteng pertahanannya. Ia mencoba menegakkan punggungnya dan mengatur napasnya yang masih berantakan.

"Siapa... yang menyuruhmu masuk? Keluar..." desis Devan dengan sisa-sisa suaranya yang parau, mencoba terdengar mengintimidasi namun gagal total karena tubuhnya masih gemetar.

Anya tidak mundur satu langkah pun. Ia justru berjalan mendekat ke arah meja, meletakkan gelas air hangat yang ia bawa ke depan Devan.

"Napas Anda terlalu cepat, Devan. Ikuti saya,"

ucap Anya tenang. Ia mengabaikan tatapan tajam Devan, lalu menduduki ujung meja di dekat pria itu. Anya menarik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu mengembuskannya perlahan lewat mulut secara berulang kali. "Tarik napas perlahan... satu, dua, tiga... embuskan."

Devan menatap Anya dengan pandangan bingung sekaligus kesal, namun paru-parunya yang kekurangan oksigen terpaksa mengikuti ritme napas yang dicontohkan oleh wanita di depannya. Setelah melakukan hal itu selama beberapa menit, perlahan-lahan detak jantung Devan mulai melambat, dan pasokan udara kembali mengisi dadanya yang sesak. Gemetar di tangannya berangsur reda.

Ruangan itu kembali hening, namun keheningan kali ini terasa sangat berbeda tidak ada lagi pembatas profesional tebal yang memisahkan mereka. Devan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas, menatap gelas air hangat di depannya sebelum meraihnya dan meneguknya hingga tandas.

"Jangan katakan pada siapa pun... tentang apa yang kau lihat malam ini," ucap Devan tanpa memandang Anya, suaranya kembali datar namun ada nada kelelahan yang mendalam di sana. "Jika kakekku atau Karina tahu..."

"Saya tidak akan mengatakannya pada siapa pun," potong Anya dengan nada suara yang tulus.

Ia menatap Devan dengan seulas senyum tipis yang hangat senyuman tulus pertama yang ia berikan pada pria itu sejak mereka bertemu. "Di dalam kontrak kita tertulis untuk menjaga reputasi masing-masing, bukan? Anggap saja ini bagian dari pekerjaan saya sebagai asisten dan... sekutu Anda."

Devan mendongak, menatap lekat-lekat wajah Anya di bawah temaram lampu meja. Untuk pertama kalinya, pria yang membenci komitmen dan tidak pernah memercayai siapa pun itu, merasakan sebuah kehangatan asing yang perlahan merembes masuk dan mencairkan dinding es di dalam hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!