Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA
Tiga puluh tahun telah berlalu sejak malam kelam itu.
Namun bagi Rakha, luka itu tidak pernah sembuh—tidak pernah pudar, bahkan tidak pernah melemah sedikit pun. Semua masih sama seperti dulu. Masih jelas dalam ingatannya: tangisan kakaknya Aira, tubuhnya yang dingin berlumuran darah, dan jeritan ibunya yang hancur.
Sejak malam itu, rumah kontrakan mungil mereka tak pernah lagi dipenuhi tawa. Ibunya berubah jadi wanita pendiam, selalu larut dalam kesedihan. Hampir setiap malam Rakha kecil melihat ibunya duduk memeluk baju peninggalan Aira, menangis dalam diam hingga tertidur. Itu menjadi mimpi buruk yang terus menghantui Rakha sampai ia dewasa.
Waktu boleh berjalan, tapi sakitnya tetap sama. Sama perihnya seperti semalam Aira meregang nyawa di pelukannya.
Kini Rakha berusia 36 tahun. Ia bukan lagi bocah polos yang dulu hanya bisa menangis dan berjanji di samping jasad kakaknya. Ia sudah tumbuh jadi pria matang dengan karier cemerlang.
Ia berhasil mendirikan firma hukum ternama di Jakarta—firma yang menjadi langganan para artis besar, politisi, hingga pengusaha papan atas. Namanya disegani, reputasinya tak terbantahkan. Semua itu bukan sekadar ambisi kosong. Itu adalah hasil dari tekad yang ia rajut sejak kecil: tekad untuk berdiri sejajar dengan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya.
Namun jauh di balik kesuksesan, ada bara dendam yang tidak pernah padam.
Rakha tidak pernah melupakan nama itu—Hardi Adi Soetomo.
Laki-laki bajingan yang memperkosa kakaknya, yang membuat Aira kehilangan masa depan, kehilangan hidup, kehilangan segalanya.
Rakha mengepalkan tangan di balik meja kerjanya yang mewah, menatap foto keluarga kecilnya yang tersisa.
"Aku janji, Kak... aku nggak akan berhenti sebelum laki-laki itu merasakan sakit yang sama. Aku akan buat dia menjerit, seperti aku mendengar tangisanmu malam itu."
Sumpah mati itu sudah jadi bagian dari darahnya. Ia tahu, membalas langsung pada Hardi bukan perkara mudah—laki-laki itu kini terlalu kuat, terlalu kebal oleh uang dan kekuasaan.
Tapi Tuhan selalu memberi jalan. Hardi punya satu-satunya anak—seorang putri yang masih muda, cantik, dan terkenal: Maharani Ayudia Soetomo, 22 tahun, artis sekaligus penyanyi yang tengah bersinar di industri hiburan.
Rakha tersenyum tipis, dingin, penuh perhitungan.
"Anakmu akan jadi jalanmu, Hardi... aku akan buat kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Kamu akan menjerit, sama seperti Ibu dulu menjerit. Kamu akan hancur, sama seperti Kak Aira hancur."
Bagi Rakha, ini bukan sekadar rencana. Ini adalah takdir yang harus ia jalani. Dan ia bersumpah, dengan segala kekuatan yang sudah ia bangun selama dua puluh tahun, dendam itu akan lunas—melalui darah daging Hardi sendiri.
***
Rakha berdiri mematung di balik jendela besar kantornya. Gedung-gedung tinggi Jakarta memantulkan cahaya lampu malam, namun matanya tak benar-benar melihat ke luar. Fokusnya hanya pada selembar foto di tangannya—wajah Maharani Ayudia Soetomo, tersenyum cerah dalam balutan gaun konser. Senyum yang polos... terlalu murni untuk seorang anak dari bajingan bernama Hardi Adi Soetomo.
Rakha menghela napas berat, tatapannya mengeras. Tapi tiba-tiba—Pintu ruangannya terbuka tanpa permisi.
"Yo, Big Boss."
Rakha buru-buru membalikkan badan. Ia meletakkan foto Maharani di atas meja kerjanya dengan cepat, seolah tak berarti apa-apa. Namun terlambat—mata tajam Aditya Fahlevi sudah sempat melirik, menangkap sekilas siapa gadis dalam foto itu.
Aditya, sahabat sekaligus rekan sejak SMA, kini pengacara andalan di Wiratama Law Firm, masuk dengan santai. Tanpa basa-basi ia menjatuhkan diri ke sofa kulit mahal, meraih camilan kacang dari meja, lalu menjejalkannya ke mulut sambil tersenyum menyebalkan.
"Jangan ditatap terus deh, Kha. Hati-hati lo beneran jatuh cinta sama Maharani." Nada suaranya penuh ejekan.
Rakha menghela napas, mencoba menahan diri. Ia meraih cangkir kopi hitamnya dan duduk perlahan di sofa seberang Aditya. "Persetan dengan cinta, Dit. Nggak ada kata itu dalam kamus hidup gue."
Aditya terkekeh, mulutnya penuh camilan. "Ah, bullshit! Lo udah merhatiin anak itu dari dia masih 12 tahun. Dari jaman dia pake seragam putih biru sampai sekarang jadi artis terkenal, gue yakin lo tahu semua perkembangannya. Dari...," ia menggerakkan tangannya nakal, "...dada rata sampai sekarang udah montok."
Rakha melotot. "Bangsat, Dit!" bentaknya, menaruh cangkir dengan keras. "Otak lo isinya selangkangan mulu."
Aditya justru tertawa makin keras, nyaris tersedak. "Ya realistis lah, bro! Kita cowok, udah kepala tiga, kebutuhan normal itu. Jangan sok suci lo."
Rakha mengusap pelipisnya, malas menanggapi. "Terserah deh. Gue nggak tertarik sama obrolan murahan lo."
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar bunyi jarum jam di dinding dan denting sendok ketika Rakha mengaduk kopi. Aditya mencondongkan tubuh, kini suaranya lebih serius.
"Jadi apa langkah lo, Kha? Lo mau terus jadi pengamat dari jauh? Atau akhirnya mau muncul di hadapan Maharani?"
Rakha terdiam. Pandangannya turun ke arah foto yang masih tergeletak di meja. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya—amarah bercampur dengan sesuatu yang tak mau ia akui.
Setelah beberapa detik, suaranya keluar rendah dan dingin.
"Kayaknya... udah waktunya gue muncul di hadapan Maharani sekarang."
Aditya mengangkat alis, tersenyum lebar. "Wow. Akhirnya. Jadi predator keluar kandang juga, ya?"
Rakha menatapnya tajam. "Ini bukan main-main, Dit. Gue nggak sekadar mau deketin dia. Ini soal tiga puluh tahun dendam yang harus gue tagih."
Aditya bersiul kecil, pura-pura kagum. "Serem juga lo kalo udah ngomong gitu. Tapi hati-hati, bro. Jangan sampe lo kebalikannya... lo yang jatuh ke dalam permainan dia."
Rakha meneguk kopinya habis, lalu menatap langit malam di balik kaca. "Permainan ini bukan milik dia, Dit. Ini permainan gue."
***
Basement apartemen mewah itu luas, licin, dan dipenuhi mobil-mobil seharga miliaran rupiah yang berjejer rapi. Lantai keramik abu-abu berkilau memantulkan cahaya lampu putih yang dingin, membuat suasananya tampak steril. Meski megah, malam itu begitu sunyi—hanya ada dengung mesin pendingin dan sesekali bunyi tik... tik... air menetes dari pipa di sudut.
Di tengah kesunyian itu, Maharani Ayudia Soetomo berdiri gusar di samping mobil sport putihnya. Ia sudah mencoba menyalakan mesin lebih dari sepuluh kali, tapi yang terdengar hanya bunyi klik pendek, tanpa ada tanda-tanda mesin mau hidup.
"Ya ampun... jangan sekarang dong..." desahnya, jemari mungilnya menekan setir dengan gelisah. Ia keluar dari mobil, langkah high heels-nya terdengar nyaring memecah keheningan basement.
Ia membuka kap mesin dengan sedikit tenaga, lalu berdiri menatap komponen-komponen logam yang asing baginya. Hidungnya berkerut. "Apa sih yang rusak... kayaknya kabelnya? Atau apa ini namanya..." gumamnya, jelas ia tidak tahu apa-apa soal mesin.
Udara basement dingin menggigit. Tanpa sadar, ia merapatkan cardigan ke tubuhnya, menoleh kiri-kanan. Kosong. Tak ada satu pun satpam, teknisi, atau penghuni lain. Sunyi yang terlalu sunyi, hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
Lalu—suara langkah.
Tok... tok... tok...
Berat, mantap, teratur. Gema sepatu kulit itu terdengar jelas di antara tiang-tiang beton.
Maharani sontak menoleh cepat, jantungnya berdetak kencang. Dari balik bayangan, seorang pria muncul perlahan. Tubuh tegap, jas hitam rapi, sorot mata tajam bagaikan pisau. Wajahnya tenang, tapi aura yang dibawanya membuat udara basement seolah menegang.
Rakha Adiwangsa Wiratama.
"Mobilnya nggak bisa hidup?" suaranya dalam, datar, tapi berwibawa.
Maharani menelan ludah, mundur setengah langkah tanpa sadar. "I—iya... entah kenapa nggak bisa nyala. Saya sudah coba berkali-kali."
Rakha berjalan mendekat dengan langkah mantap. Cahaya putih pucat memantul di jas hitamnya, membuat siluetnya terlihat semakin tegas. Saat jarak mereka hanya beberapa meter, aroma parfum maskulin samar ikut terbawa.
"Boleh saya lihat?" tanyanya singkat.