NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MELEPAS RINDU

Sudah hampir dua minggu berlalu. Waktu yang terasa begitu panjang dan lambat bagi Angkasa maupun Arum. Kesibukan Angkasa ternyata memakan waktu lebih lama dari perkiraan awal. Urusan administrasi, pengiriman barang, dan pengawasan di lapangan harus ia tangani sendiri sampai tuntas, membuatnya benar-benar tenggelam dalam pekerjaan, pulang larut malam, dan hampir tak punya waktu istirahat, apalagi untuk sekadar berkunjung ke rumah Arum.

Dua minggu tanpa bertemu. Dua minggu hanya berkomunikasi lewat pesan singkat dan telepon pendek di sela-sela waktu luang. Bagi Angkasa, rasanya berat sekali. Setiap hari dia selalu ingin cepat menyelesaikan semuanya, berharap waktu berjalan lebih cepat agar dia bisa segera menatap wajah gadis yang dicintainya itu. Dan hari ini, akhirnya semuanya beres. Tanda tangan terakhir sudah dibubuhkan, barang-barang sudah terkirim, dan pekerjaan besar itu resmi selesai.

Angkasa tidak membuang waktu sedikit pun. Ia tidak memberi tahu Arum sama sekali. dia sengaja diam, ingin memberikan kejutan terindah setelah sekian lama berpisah jarak. Ia mandi, berganti pakaian dengan rapi dan wangi, lalu segera melajukan mobilnya menuju rumah Arum, dengan hati yang berdebar kencang dan rasa rindu yang sudah tak tertahankan lagi.

Di rumah Arum, suasana siang itu terasa biasa saja, bahkan sedikit membosankan. Arum baru saja selesai makan siang, lalu masuk kembali ke kamarnya. Seperti hari-hari sebelumnya, rasa jenuh dan rindu itu kembali datang menyerang. Ia berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamar, memegang ponselnya sesekali berharap ada pesan masuk dari Angkasa, tapi kembali kecewa karena tahu kekasihnya itu pasti masih sibuk.

"Belum selesai juga ya kerjanya... Lama banget rasanya," gumam Arum pelan sambil memutar-mutar bantal peluknya.

Dia malas sekali bergerak, malas melakukan apa pun, rasanya ingin saja mengurung diri di kamar sampai rasa rindunya hilang padahal ia tahu itu mustahil.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara langkah kaki mendekat ke kamarnya, disusul ketukan pelan di pintu.

"Arum... Nak... Ada yang nyariin tuh di depan," suara Bu Saras terdengar dari balik pintu, nadanya terdengar sedikit menahan senyum.

Arum yang sedang berbaring itu hanya berguling malas. Hatinya tak tertarik sedikit pun. Siapa pula yang mau mencarinya di siang bolong begini? Pasti tetangga yang mau pinjam barang atau Intan yang minta tolong lagi.

"Iyaaa... Sebentar bun" jawab Arum dengan nada malas, panjang, dan tak bersemangat sama sekali.

Dia bangkit dari kasur dengan gerakan lambat, mengerutkan kening karena terganggu rasa malasnya. Dengan langkah gontai, rambut yang masih sedikit berantakan, dan pakaian rumah yang sederhana, Arum membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar menuju ruang tamu.

"Siapa sih bun?" Tanya Arum dengan malas

"Udah sana liat sendiri,bunda mau ke dapur lagi" jawab bu saras

Di dalam hati ia bergumam kesal: "Siapa sih siang-siang begini? Padahal lagi enak-enaknya bengong."

Langkah kakinya melambat saat sampai di ambang pintu ruang tamu. Di sana, berdiri sesosok laki-laki yang tegap, dengan senyum yang paling dia rindukan . Laki-laki itu berdiri tenang sambil menatapnya lekat-lekat, matanya berbinar penuh rasa rindu dan kasih sayang.

Dunia Arum rasanya berhenti berputar seketika. rasa malasnya lenyap tak bersisa. Mulutnya terbuka sedikit karena kaget, matanya membelalak tak percaya.

"Mas... Angkasa?" bisiknya nyaris tak terdengar.

Benar. Itu Angkasa. Laki-laki yang sudah hampir dua minggu tak dia temui. Laki-laki yang selama ini hanya ada di layar ponsel dan dalam doanya. Kini ada di sana, berdiri tepat di depannya, nyata, dan tersenyum padanya.

Tanpa pikir panjang lagi, tanpa peduli penampilannya berantakan atau Bu Saras yang melihat dari dapur, kaki Arum bergerak.dia berlari kecil mendekat, lalu begitu sampai di hadapan Angkasa, ia langsung melemparkan dirinya ke dalam pelukan hangat laki-laki itu.

Arum memeluk pinggang Angkasa sangat erat,seolah takut jika dia melepaskan sedikit saja, Angkasa akan hilang lagi. Wajahnya dia benamkan di dada bidang itu, menghirup aroma khas tubuh Angkasa yang selama ini sangat ia rindukan.

Dan detik itu juga, air matanya tumpah deras. Tangis yang tertahan selama dua minggu kesepian itu akhirnya pecah juga. Arum menangis tersedu-sedu, bahunya berguncang hebat, menumpahkan segala rasa kangen, rasa kesal, dan rasa lega yang bercampur jadi satu.

Angkasa terkejut sejenak dengan sambutan Arum, tapi dia segera sadar betapa beratnya hari-hari yang mereka lalui . Dia langsung membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya. Tangan besarnya mengusap lembut punggung dan kepala Arum, mengelusnya penuh rasa sayang dan penyesalan. Ia membiarkan Arum menangis, membiarkan gadis itu melepaskan semuanya.

"Ya Allah... Sayangku... Maafin saya ya... Maafin saya..." bisik Angkasa berulang kali dengan suara parau, ikut menahan rasa haru yang meluap di dadanya. Ia mencium puncak kepala Arum berkali-kali.

"Maaf ya baru bisa datang sekarang. Maaf bikin kamu nunggu lama banget. Maaf ya bikin kamu kangen berat gini."

Arum menggeleng di dalam pelukan itu, tak mau melepaskan sedikit pun. "Jahat... hiks Mas Angkasa jahat banget... hiks Nggak ngasih kabar mau datang... udah gak bisa ketemu hampir dua minggu... Aku kangen banget tau nggak? Hiks..." isak Arum di sela tangisannya, suaranya terdengar sangat manja dan menyayat hati.

"Iya, saya jahat... Saya yang salah. Saya minta maaf ya, Sayang? Saya mau kasih kejutan, mau lihat reaksi kamu kalo aku dateng tiba tiba. Ternyata sampe bikin kamu nangis gini ya... Maafin saya ya?" Angkasa terus membujuk, hatinya terasa sakit sekali melihat kekasihnya menangis karena rindu, tapi di sisi lain dia juga lega dan bahagia luar biasa karena tahu betapa besarnya rasa sayang Arum padanya.

Setelah lama mereka berdiri pelukan di ruang tamu itu, membiarkan waktu berhenti sejenak, membiarkan rasa rindu itu menyatu kembali. Bu Saras yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum haru, lalu perlahan berjalan masuk ke dalam kamar memberi mereka ruang dan waktu berdua.

Setelah tangis Arum mulai mereda dan napasnya mulai teratur kembali, Angkasa perlahan melepaskan pelukannya sedikit saja agar bisa menatap wajah gadisnya itu. Ia mengusap sisa air mata di pipi Arum dengan lembut, menatap wajah yang sedikit bengkak tapi begitu berarti baginya itu.

Arum menatap balik, masih sesenggukan, matanya berkaca-kaca tapi penuh kebahagiaan.

Angkasa tersenyum,lalu berjanji dengan nada serius dan tegas, "Nah, sekarang saya udah di sini. Udah selesai semua kerjaan, dan untuk menebus dua minggu kesibukan saya yang bikin kamu sedih dan kangen... Saya bakal turutin apa yang kamu mau, Sayang. Apapun itu, mau pergi ke mana aja, mau minta apa aja... Saya turutin. Hari ini, besok, lusa... semua waktu saya milik kamu sepenuhnya. Kamu atur aja semuanya, saya cuma ikut dan siap manjain kamu. Gimana? Udah dimaafin belum?"

Mendengar itu, bibir Arum yang tadi cemberut menangis perlahan melebar menjadi senyum paling cerah. Ia mengangguk cepat, lalu kembali memeluk pinggang Angkasa erat sekali, menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya itu dengan nyaman dan damai.

"Iya aku maafin... Tapi janji ya? Bakal nurutin apa yang aku mau? Mau pergi ke mana aja boleh?" tanyanya memastikan dengan nada manja.

"Janji, sayang. Apa aja, ke mana aja. Asal sama kamu, saya mau," jawab Angkasa mantap dan tulus.

Hari itu, rasa rindu yang menumpuk tinggi akhirnya luruh seketika diganti kebahagiaan yang meluap. Dua minggu terasa lama, tapi momen pertemuan dan janji manis itu membuat semuanya terbayar lunas. Kini, Angkasa ada di sana, dan takkan kemana-mana lagi untuk sementara waktu, khusus menebus segala rindu Arum dengan sepenuh hati.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!