Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI ANTARA DUA SISI
Suasana di dalam ruangan terasa makin menyesakkan. Kabar yang baru saja datang itu menggantung di udara, terasa berat dan mengancam. Alana menatap Raka, dan ia sadar betul—saat ini pria di hadapannya bukan lagi orang yang sempat membuka sedikit kisah hidupnya, bukan pula orang yang pernah bicara tentang perasaan aneh yang tumbuh di dalam dirinya. Kini ia kembali menjadi pemimpin yang ditakuti, orang yang tidak akan segan-segan melakukan apa saja demi mempertahankan apa yang ia miliki.
Raka berjalan perlahan mendekatinya, langkahnya teratur tapi terasa penuh amarah yang tersembunyi. Ia berhenti tepat di hadapan Alana, dan tatapannya menusuk tepat ke dalam matanya.
“Apa yang kau rasakan sekarang? Senang? Atau malah lega, karena ayahmu akhirnya bisa berbuat sesuatu untuk menjatuhkanku?” tanyanya, nada bicaranya dingin dan tajam.
Alana menggeleng cepat, jantungnya berdebar kencang. “Tidak... aku tidak merasa begitu. Aku hanya... aku tidak mau ada orang yang terluka, tidak mau ada pertumpahan darah. Tolong, Raka... jangan lakukan hal-hal yang makin memperburuk keadaan. Aku mohon.”
Raka tertawa kecil, tapi tawanya itu tidak ada nada senangnya sama sekali. “Memangnya kau pikir aku punya pilihan? Ayahmu sudah memulai ini, dan aku tidak akan pernah mundur. Kalau ia mau main-main seperti ini, aku akan tunjukkan padanya bahwa ia salah orang yang ia lawan.”
Ia meraih lengan Alana, menggenggamnya erat tapi tidak sampai menyakiti. “Dan kau harus ingat ini baik-baik. Mulai saat ini, kau tidak bisa lagi bebas pergi ke mana-mana. Kau tidak bisa kembali ke rumahmu, tidak bisa bertemu dengan siapa pun dari lingkungan ayahmu. Mulai hari ini, tempatmu ada di sini, di sampingku. Ini bukan permintaan, tapi perintah.”
Alana terkejut mendengarnya. “Apa?! Kau tidak bisa melakukan itu padaku! Aku punya hak untuk hidup dengan caraku sendiri, aku tidak bisa tinggal di sini selamanya!”
“Kalau kau tidak mau di sini, di mana lagi kau mau? Di sisi ayahmu? Kalau kau kembali ke sana, kau hanya akan jadi sasaran empuk bagi orang-orang yang juga memusuhiku, dan juga bagi orang-orang yang memusuhi ayahmu sendiri. Atau mungkin kau pikir di sana kau aman? Kau salah besar, Alana. Di dunia seperti ini, tidak ada tempat yang benar-benar aman, kecuali di sampingku. Hanya aku yang bisa menjagamu, dan hanya aku yang bisa memastikan kau tetap hidup dan selamat.”
Kata-kata itu menusuk hati Alana. Ia tahu apa yang dikatakan Raka ada benarnya, tapi tetap saja... rasanya tidak adil. Ia merasa seperti barang yang diperebutkan, bukan manusia yang punya keinginan dan kehendak sendiri.
“Kalau aku tinggal di sini, apa bedanya aku dengan tawanan?” tanyanya, suaranya terdengar bergetar karena menahan emosi.
Raka menatapnya sebentar, lalu genggamannya di lengan Alana sedikit mengendur. Ada perubahan kecil di wajahnya, seolah ia sadar apa yang baru saja ia katakan dan lakukan.
“Kau bukan tawanan. Kau orang yang paling berharga yang aku miliki. Itu bedanya,” ujarnya dengan nada yang sedikit lebih lunak.
“Kau bebas melakukan apa saja yang kau mau di sini, bebas pergi ke mana saja di lingkungan ini. Tapi kau tidak boleh keluar dari tempat ini tanpa sepengetahuanku. Demi keselamatanmu sendiri.”
Ia melepaskan genggamannya, lalu berbalik dan berbicara kepada orang yang tadi datang membawa kabar itu.
“Atur semuanya. Perkuat penjagaan di semua tempat. Pastikan tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa izin. Dan cari tahu siapa saja yang terlibat dalam pengepungan itu, cari tahu rencana-rencana mereka. Aku mau laporannya secepatnya.”
“Baik, Tuan.” Orang itu membungkuk hormat, lalu bergegas keluar dari ruangan.
Setelah orang itu pergi, tinggalah mereka berdua saja di sana. Raka duduk kembali di kursinya, menyandarkan punggung dan menutup matanya sejenak. Raut wajahnya tampak lelah, sesuatu yang jarang sekali terlihat dari dirinya.
Alana yang masih berdiri di tempatnya, menatapnya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ia membenci apa yang telah ia lakukan, membenci cara ia mengatur hidupnya. Tapi di sisi lain, ia juga melihat sisi lain dari dirinya—orang yang pernah menderita, orang yang berjuang sendirian, orang yang juga punya perasaan dan kelemahan seperti manusia lain.
Ia berjalan perlahan dan duduk kembali di kursi di hadapan Raka. “Kau benar-benar tidak ada cara lain selain berperang seperti ini? Semua ini bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik saja, kan?”
Raka membuka matanya dan menatapnya. “Sudah berkali-kali aku coba, Alana. Dulu aku berusaha hidup dengan damai, berusaha tidak mengganggu urusan siapa pun. Tapi apa balasannya? Orang-orang seperti ayahmu dan orang-orang di sekelilingnya tetap saja datang mengganggu, tetap saja ingin menghancurkanku. Mereka tidak akan pernah puas sebelum aku benar-benar lenyap dari muka bumi ini. Jadi apa gunanya aku berusaha berbuat baik, kalau yang aku dapatkan hanyalah kejahatan dan penderitaan?”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“Aku tidak mau jadi seperti ini. Tapi keadaanlah yang memaksaku. Dan kau... kau datang ke dalam hidupku di saat yang tidak tepat, dan juga di saat yang paling tepat. Di saat aku merasa sudah tidak ada lagi yang berharga di dunia ini, kau datang dan membuatku merasa ada sesuatu yang harus aku jaga, ada sesuatu yang pantas aku perjuangkan. Itu sebabnya aku tidak akan pernah melepaskanmu. Karena kau satu-satunya hal baik yang aku miliki sekarang.”
Kata-kata itu membuat hati Alana terasa bergetar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Semua yang terjadi terasa begitu rumit, begitu sulit untuk dipahami dan dipilih. Di satu sisi ada ayahnya, orang yang melahirkannya, orang yang menyayanginya dan membesarkannya dengan segala kemampuannya. Di sisi lain ada Raka, orang yang dianggap musuh, orang yang telah mengubah seluruh hidupnya, tapi juga orang yang telah menunjukkan sisi dirinya yang tidak diketahui orang lain, dan yang mengatakan bahwa ia adalah hal yang paling berharga baginya.
“Kalau aku harus memilih salah satu di antara kalian berdua... apa yang akan kau lakukan?” tanyanya akhirnya, pertanyaan yang sudah lama ada di dalam pikirannya.
Raka menatapnya dalam-dalam, tidak menjawab seketika. Ia seolah sedang memikirkan jawaban yang paling jujur dan tepat.
“Aku tidak akan memaksamu memilih. Aku tahu betapa sulitnya itu buatmu. Tapi aku juga tidak akan membiarkan kau pergi dariku. Kalau kau memilih ayahmu... aku tidak akan menyakitimu, itu janji yang aku pegang. Tapi aku juga tidak akan berhenti melawan dia. Dan kalau kau memilihku...” Ia berhenti, lalu tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa tulus.
“Maka aku akan melakukan apa saja yang kau minta. Aku akan berusaha berubah, aku akan berusaha memperbaiki segala kesalahan yang sudah aku perbuat. Aku akan melakukan apa saja, asalkan kau ada di sampingku.”
Jawaban itu membuat Alana terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut orang seberani dan sekuat Raka. Ia pikir pria itu akan memaksanya, akan mengancamnya, tapi ternyata tidak. Ia memberi pilihan, meski tetap ada batasannya.
><><><><
Malam semakin larut. Seorang pelayan datang dan memberi tahu bahwa kamar untuk Alana sudah disiapkan. Raka mengangguk, lalu menoleh ke arahnya.
“Aku antar kau ke kamar. Istirahatlah. Besok akan ada banyak hal yang harus kita hadapi, dan aku mau kau dalam keadaan yang baik.”
Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong gedung itu. Suasana di luar sudah sunyi, hanya ada suara langkah kaki mereka saja yang terdengar. Sesampainya di depan kamar yang dimaksud, Raka berhenti dan menatapnya.
“Istirahat yang cukup. Jangan khawatir soal apa pun. Selama aku ada, tidak ada yang bisa menyakitimu. Ingat itu selalu.”
Alana hanya mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Begitu sendirian, ia langsung bersandar di balik pintu dan menatap sekeliling ruangan yang luas dan nyaman itu. Segala sesuatunya tersedia di sini, semuanya terlihat sempurna, tapi rasanya tetap saja ada yang kurang. Ia merasa seperti burung yang dipelihara di dalam sangkar yang indah, tapi tetap saja tidak bisa terbang bebas ke mana ia mau.
Ia berjalan ke arah jendela dan melihat ke luar. Dari sini, ia bisa melihat cahaya-cahaya kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Di sana ada rumahnya, ada ayahnya, ada semua hal yang ia kenal dan cintai. Tapi di sini ada orang yang telah masuk ke dalam hidupnya, orang yang membuatnya merasakan hal-hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tidak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Tapi satu hal yang ia sadari dengan pasti—hidupnya tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Ia sudah terperangkap di dalam kisah yang gelap dan berbahaya ini, dan tidak ada jalan untuk mundur lagi.
Di luar kamar, Raka masih berdiri di tempatnya, tidak beranjak pergi. Ia menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan yang sulit dimengerti. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa apa yang ia lakukan ini bisa berakhir dengan cara apa saja—bisa berakhir dengan kemenangan, tapi bisa juga berakhir dengan kehancuran. Tapi ia juga tahu, bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah menyesal telah bertemu dengan gadis ini. Bahkan kalau ia harus mengorbankan segalanya, ia akan tetap melakukannya.
Karena baginya, memiliki Alana adalah hal terindah sekaligus hal paling berbahaya yang pernah ia miliki dalam hidupnya. Dan ia siap menghadapi apa saja yang akan datang.