Tujuh tahun lalu, Prasetyo— seorang idola kampus—meninggalkan Indah Naraya Prameswari, gadis bertubuh 80 kilogram yang diam-diam menjadi kekasihnya. Dengan ucapan menyakitkan, ia bilang hubungan itu cuma main-main, lalu pergi ke luar negeri tanpa pamit seolah tak pernah ada apa-apa.
Kini takdir mempertemukan mereka lagi.
Indah sudah berubah total. Kini ia dikenal sebagai Nayara, wanita cantik nan langsing, ibu dari Clara prameswari, panggilan Lala, anak perempuan yang mengidap penyakit jantung bawaan. Ironisnya, dokter yang menangani putrinya ternyata adalah Dr. Prasetyo, dokter spesialis bedah jantung pindahan dari Amerika.
Prasetyo sama sekali tidak mengenali wanita di hadapannya. Sementara Nayara, terpaksa menahan luka lama dan berpura-pura tak kenal, demi keselamatan dan masa depan anaknya.
Sampai kapan rahasia ini bisa disembunyikan? Yuk ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYA DOKTER DAN WALI PASIEN
...🌻HAPPY READING🌻...
...***...
Udara sore di depan rumah sakit terasa sedikit pengap, meskipun angin semilir masih terus berhembus menerpa wajah dan mengibaskan ujung rok panjang Nayara.
Suara klakson kendaraan yang saling bersahutan, langkah kaki orang-orang yang lalu lalang dengan tergesa, bahkan suara pengumuman dari dalam gedung, semuanya terdengar kabur dan jauh di telinga Nayara.
Pikirannya masih terperangkap di lorong waktu tujuh tahun silam. Kenangan yang selama ini ia kubur sedalam-dalamnya, dikunci rapat dan disembunyikan di sudut paling gelap hatinya, hari ini terpaksa tergali kembali hanya karena satu pertemuan tak terduga.
"Ma... Mama kok diam aja sih? Lihat Lala dong..."
Tangan mungil itu menggoyang-goyang lengan Nayara pelan-pelan, suaranya lembut namun cukup keras untuk membuyarkan lamunan panjang yang menyakitkan itu.
Nayara mengedipkan mata berulang kali, seolah berusaha membersihkan kabut yang menyelimuti pikirannya. Baru ia sadari, pipinya sudah sedikit basah. Tanpa persetujuan, air matanya jatuh diam-diam.
Dengan gerakan cepat namun halus, ia menyeka sisa jejak basah itu menggunakan punggung tangan. Lalu ia berjongkok perlahan, menurunkan tubuhnya sampai posisi wajahnya sejajar dengan wajah putri kesayangannya, menatap mata bulat bening itu sambil memaksakan senyum selebar mungkin, seolah tidak ada apa pun yang sedang menyakiti hatinya saat ini.
"Lala dengar baik-baik Mama ya, sayang..." suaranya terdengar sedikit parau, tenggorokannya terasa kering dan perih. Ia berdehem sebentar, menarik napas panjang untuk menetralkan nada bicaranya.
“Om dokter tadi... dia bukan papa kamu. Dan dia juga nggak akan pernah bisa jadi papa kamu, nggak boleh. Dia...”
Dia adalah orang yang pernah menjadi seluruh dunia Mama, lalu dengan mudahnya menghancurkan semuanya sampai berkeping-keping, Nak.
Kalimat itu tertahan rapat di tenggorokan, terasa berat seperti batu besar, tanpa berani ia ucapkan.
Bagaimana mungkin ia ceritakan pada anak berusia enam tahun tentang luka lama yang sampai detik ini masih terasa perih saat disentuh?
Bagaimana caranya menjelaskan bahwa laki-laki yang baru saja mereka temui, adalah alasan mengapa dirinya pernah jatuh ke dalam jurang paling dalam, bahkan sempat berpikir untuk menyerah pada hidup?
“Tapi mukanya mirip banget loh Ma, beneran deh!” bantah Lala sambil menggeleng-gelengkan kepala, raut wajahnya terlihat sangat yakin.
“Sama persis kayak foto papa yang pernah mama kasih liat. Aku inget banget, bentuk matanya yang agak sipit gitu, hidungnya mancung, bahkan cara dia senyum pun mirip banget. Aku nggak salah kok, Ma.”
Nayara tertegun, napasnya tercekat. Jantungnya berdegup kencang sampai rasanya bisa terdengar oleh orang di sekitarnya.
Ternyata anaknya mengingat sedetail itu, bahkan mengingat ciri-ciri wajah yang hanya terlihat di foto lama yang sudah lama sekali tak pernah ia keluarkan. Bahkan foto itu sudah di simpannya di gudang.
“Dia cuma kebetulan mirip aja, sayang. Kayak orang-orang di televisi kan, kadang ada yang mukanya mirip padahal nggak ada hubungan darah sama sekali. Papa asli Lala itu pergi ke tempat yang jauh banget. Dia juga punya hidupnya sendiri.” ucap Nayara lembut, sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
Ia membuka galeri foto, lalu menampilkan gambar foto pernikahannya 6,5 tahun lalu. Di layar terlihat sosok Ben, laki-laki berwajah teduh yang tersenyum hangat sambil menatapnya dan memeluk pinggangnya.
“Kan kita pernah omongin ini, Lala punya Papa Ben, kan? Papa Ben itu baik sekali, dia sayang banget sama Lala bahkan sebelum Lala lahir. Dia juga sayang banget sama Mama. Kita inget hal baik tentang dia aja ya?”
Seketika itu, semangat di wajah Lala luntur perlahan, digantikan oleh raut sedih yang begitu jelas. Jari-jarinya mulai memain-mainkan ujung baju Nayara dengan gelisah, bibir mungilnya cemberut sampai membentuk huruf O kecil.
“Tapi... Papa Ben sekarang udah nggak ada lagi, Ma...”
Rasanya seperti ada pisau tajam yang mengiris-iris di dalam dada Nayara. Hatinya terasa remuk, hancur mendengar ucapan polos namun menyakitkan itu.
Tanpa pikir panjang, ia langsung merentangkan kedua tangannya, memeluk erat tubuh mungil putrinya sampai Lala menempel sempurna di dadanya. Ia mencium ubun-ubun, kening, sampai pipi anaknya berulang kali, seolah dengan begitu ia bisa menyalurkan seluruh kekuatan dan perlindungan yang ia miliki.
Ia ingat betul, Ben adalah satu-satunya teman yang tidak pernah pergi saat dunianya runtuh. Saat ia ditinggal pergi tanpa pesan, saat ia sadar dirinya hamil dan tidak punya tempat untuk berlindung, saat semua orang mulai berbisik dan menghakimi, hanya Ben yang datang dan mengulurkan tangan.
Laki-laki itu tahu segalanya, tahu siapa ayah biologis Lala, tahu bagaimana kisah menyakitkan itu terjadi, namun tidak pernah sekalipun menatapnya dengan pandangan merendahkan atau kasihan.
Ben menikahinya semata-mata untuk memberikan status hukum, tempat tinggal, dan kehidupan yang layak bagi Nayara dan calon anaknya.
Ben mencintainya, membantunya move on dan mengganti panggilannya dari Indah menjadi Nayara, panggilan kesayangannya.
Bagi Nayara, Ben bukan sekadar suami, melainkan malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkannya dari jurang keputusasaan.
Namun takdir memang sering kali tidak berpihak. Dua tahun setelah pernikahan, saat Lala baru berusia satu setengah tahun, Ben meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas yang tiba-tiba, meninggalkannya sendirian lagi—kali ini dengan satu tanggung jawab terbesar dalam hidupnya, membesarkan anaknya.
“Iya sayang... Papa Ben udah nggak ada secara fisik, tapi kenangan baiknya, kasih sayangnya, bakal selalu ada di hati kita berdua selamanya ya. Dan inget ya, Mama bakal selalu ada, bakal jagain Lala siang malam, sakit maupun sehat, sampai Lala gede, sampai Lala sukses, sampai Lala punya keluarga sendiri nanti. Kita nggak butuh papa baru, oke!?”
Nayara melepaskan pelukan sebentar, mengusap pipi lembut putrinya dengan ujung jari, menatap mata anaknya dalam-dalam, berusaha menanamkan rasa aman yang tak tergoyahkan.
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara klakson lembut terdengar dari depan. Sebuah mobil taksi online yang ia pesan sudah berhenti tepat di tepi jalan, sopirnya melambaikan tangan sebagai tanda sudah sampai.
“Nah, liat tuh? Mobilnya udah dateng. Yuk kita pulang ya, sayang. Nenek udah nungguin kita di rumah loh, katanya hari ini masakin semua kesukaan Lala. Ada sup ayam jamur, ada kentang goreng renyah, sama brownies coklat.”
Mendengar deretan makanan kesukaannya, mata Lala langsung berbinar terang bagai lampu yang baru dinyalakan. Kesedihannya tadi lenyap begitu saja, khas sifat anak-anak yang mudah beralih perasaan. Ia langsung mengangguk semangat, lalu meraih jari-jari Nayara dan menggenggamnya erat-erat.
“Yayyy! Sup ayam jamur! Ayo Ma cepetan, nanti dingin loh makanannya!”
Nayara tersenyum pahit, mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya masuk ke dalam mobil. Saat pintu tertut rapat, kendaraan perlahan melaju meninggalkan area rumah sakit. Nayara menoleh ke belakang, menatap gedung tinggi itu yang perlahan mengecil dan menjauh dari pandangan.
Sup ayam jamur... monolognya pelan.
Senyumnya makin terasa getir di bibir.
Itu juga makanan kesukaan Prasetyo. Dulu saat masih pacaran diam-diam, Nayara sering masak itu di kosan. Dia selalu bilang tidak enak, tapi tetap dihabiskan sampai kuahnya pun tak tersisa.
Nayara menunduk, memeluk erat putrinya yang kini sudah mulai mengantuk dan bersandar nyaman di dadanya.
Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi, Prasetyo. Kamu dokter, aku cuma wali pasien. Itu saja, batasnya sampai di situ.
Jangan pernah bawa masa lalu itu keluar lagi, jangan pernah buat aku ingat lagi. Demi Lala, demi kehidupan baru yang udah aku bangun dengan susah payah ini… tolong, kita tetap jadi orang asing saja selamanya.
......................
Sementara itu, di dalam ruang praktek yang sudah sepi, Prasetyo masih duduk diam di balik meja kerjanya.
Tangannya tanpa sadar memutar-mutar pulpen hitam yang selalu ia bawa ke mana-mana, ibu jarinya terus mengusap ukiran nama yang sudah memudar itu. Pulpen yang selalu ia isi ulang dan terus dipakainya selama ini.
Sejak ibu dan anak itu pergi, pikirannya tidak bisa fokus sama sekali.
Wanita tadi—meski bentuk tubuh, gaya berpakaian, bahkan cara berbicara sudah berubah 180 derajat, tapi ada sesuatu yang terasa familiar.
Tatapan matanya, caranya menunduk saat gugup, kebiasaan menggigit bibir bawah saat sedang menahan sesuatu, bahkan aroma sabun yang samar-samar sempat tercium saat dia berdiri di dekatnya— semuanya mengingatkannya pada seseorang.
Prasetyo menutup matanya rapat-rapat, menarik napas panjang yang terasa berat.
Indah... apa kamu baik-baik saja?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...BERSAMBUNG...
**
Gua slepet juga lu Pras lama-lama. Udah di depan chongor lu juga si Indah kagak lu kenalin.
Bodo amat ah! Biarin aja Pras dengan segala keenggaktauannya itu. Salah ndiri main tinggal aja.
Yuk dukung Authornya aja. Biar author mageran ini sedikit survive. Likom mu adalah semangatku. Makasih🥰🥰