Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.
Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.
Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.
Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Jam tiga pagi. Langit di luar masih gelap pekat, selimut kabut tipis menyelimuti kawasan Pesantren Al-Falah, membuat suasana terasa dingin dan sunyi senyap. Belum ada satu pun suara manusia yang terdengar, bahkan ayam jantan pun belum berkokok menyambut datangnya fajar. Namun, ketenangan itu tiba-tiba pecah seketika saat suara pukulan kentongan kayu yang berat dan berirama terdengar bertalu-talu, membelah keheningan malam dengan begitu nyaring dan menusuk telinga. Suara itu bergema dari ujung ke ujung bangunan, menjadi isyarat mutlak bahwa waktu istirahat telah habis dan seluruh penghuni pesantren harus segera bangkit dari pembaringan.
Bagi sebagian besar santri, suara itu adalah musik pembangkit semangat, sinyal untuk bersyukur masih diberi napas dan kesempatan mendekat kepada Sang Pencipta. Namun bagi Reno Wijaya, suara itu terdengar seperti suara teror, suara cambuk yang menyiksa, dan hal paling menjengkelkan yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Dengan gerakan kasar dan wajah yang terlihat sangat mengantuk, kesal, dan penuh kekesalan, Reno bangkit duduk dengan kasar, membuat kasur kapuk tipis di bawahnya berdecit keras. Ia mengucek matanya yang terasa berat seolah ada batu bata yang menempel di kelopak matanya, rambutnya yang biasanya klimis dan tertata rapi kini berantakan tak berbentuk.
“Jam tiga pagi?! Masih jam tiga pagi, gila apa mereka?! Di kota, jam segini aku baru saja sampai di rumah setelah bersenang-senang, atau baru mau masuk ke dalam selimut empuk ber-AC. Ini baru tidur dua jam, dan sudah disuruh bangun? Siksaan! Ini benar-benar siksaan!” gerutunya dalam hati, mulutnya komat-kamit mengeluarkan sederet umpatan kasar yang tak enak didengar. Langkah kakinya terseret-sereret berat saat ia terpaksa melangkah keluar kamar mengikuti kerumunan santri lain yang sudah berjalan beriringan dengan semangat menuju tempat wudhu dan masjid.
Sampai di tempat wudhu, siksaan sesungguhnya baru saja dimulai. Reno harus mengambil air langsung dari aliran sungai yang dialirkan melalui pipa bambu. Airnya sedingin es yang baru saja dicairkan, menusuk sampai ke sumsum tulang belakang begitu menyentuh kulit. Reno mengerutkan kening sekuat tenaga, tubuhnya menggigil hebat, napasnya tertahan menahan rasa dingin yang luar biasa itu. Ia menatap santri-santri lain dengan pandangan tak percaya; mereka tampak begitu santai, bahkan tersenyum dan bercanda ringan satu sama lain saat membasuh muka dan anggota badan dengan air yang sama, seolah air sedingin ini adalah air hangat yang mengalir dari pemanas air di rumahnya dulu.
“Dasar manusia tahan banting. Atau memang sudah terbiasa hidup menderita,” gumamnya sinis, hatinya makin merasa dirinya adalah makhluk paling malang di muka bumi ini.
Selama beberapa minggu pertama berlalu, Reno benar-benar menjadi duri dalam daging, menjadi masalah terbesar bagi para pengajar, dan menjadi sosok yang dijauhi sebagian besar santri lain. Sikapnya masih sama persis seperti saat kedatangannya: angkuh, sombong, meremehkan, kasar dalam bicara, dan selalu merasa paling benar. Saat duduk di majelis pengajian atau saat diajarkan ilmu agama dan tatakrama, Reno sering duduk bersandar malas di tiang kayu, matanya menatap kosong ke langit-langit, atau melamun memikirkan kehidupan mewahnya yang tertinggal jauh di sana. Kadang, ia bahkan berani menjawab pertanyaan atau nasihat dari Ustadz dengan nada mengejek dan meremehkan.
“Buat apa saya belajar semua ini? Ini kuno, ketinggalan zaman, dan sama sekali tidak ada gunanya diterapkan di dunia modern saat ini. Dunia ini jalannya pakai uang, koneksi, dan kekuasaan, bukan pakai doa dan sopan santun yang kaku begini. Ilmu macam ini tidak bisa bikin untung, tidak bisa bikin saya kaya, dan tidak bisa bikin saya maju,” ucapnya suatu kali dengan nada tinggi saat diminta mengulang materi pelajaran, membuat Ustadz yang mengajar hanya bisa menghela napas panjang dan menahan amarah dengan kesabaran setebal gunung. Kyai Ahmad yang mendengar laporan tentang Reno hanya diam tersenyum, seolah sudah tahu betul bahwa proses perubahan ini tidak akan berjalan instan dan butuh waktu yang panjang.
Namun, ujian yang paling berat dan paling membuat Reno ingin meledak marah bukanlah saat duduk diam mendengarkan pelajaran, melainkan saat kegiatan kerja bakti fisik dimulai. Di Pesantren Al-Falah, setiap santri laki-laki wajib bekerja di ladang pertanian, perkebunan, atau mengurus kebutuhan pesantren setiap pagi selepas Subuh dan sore selepas Ashar. Tak ada pengecualian, tak ada yang boleh duduk diam bersantai. Dan bagi Reno yang seumur hidupnya tak pernah memegang sapu, cangkul, atau parang, dan yang tangannya selalu halus putih karena pekerjaannya hanya duduk di kursi empuk dan menandatangani dokumen, hal ini rasanya seperti penyiksaan fisik yang nyata.
Pagi itu, matahari sudah mulai bersinar terik, menyengat kulit dengan ganas. Reno berdiri di tengah hamparan sawah yang luas, tanahnya becek dan lengket menempel di kaki. Di tangannya tergenggam cangkul kayu yang terasa berat sekali, membuat otot bahunya terasa tertarik sampai ke ubun-ubun. Ia melihat santri lain mencangkul tanah dengan gerakan cepat, luwes, dan terbiasa, sementara ia sendiri baru beberapa kali mengayunkan cangkul saja sudah terasa sesak napas dan punggungnya pegal luar biasa.
“Cih! Ini gila! Kenapa aku harus melakukan pekerjaan kasar ini? Aku ini Reno Wijaya, Direktur Utama Wijaya Group! Aku orang yang punya ribuan karyawan, ribuan buruh yang bekerja buatku! Kenapa sekarang aku yang harus jadi buruh begini?!” umpatnya dalam hati, wajahnya merah padam menahan emosi dan rasa lelah.
Tak tahan lagi, Reno akhirnya melempar cangkulnya ke tanah dengan kasar, membuat debu beterbangan. Ia melangkah keluar dari petak sawah, menuju ke pinggir pohon besar yang rindang, lalu duduk bersandar dengan wajah yang sangat masam. Dari saku celananya, ia mengeluarkan sebungkus rokok yang diam-diam ia bawa dan sembunyikan dari pengawasan, lalu menyalakannya dengan cepat. Asap putih mengepul keluar dari mulutnya, menjadi satu-satunya kenikmatan kecil yang tersisa baginya di tempat yang ia anggap neraka ini. Ia menatap semua orang yang masih sibuk bekerja dengan pandangan dingin dan penuh penghinaan.
“Bodoh. Semuanya bodoh. Mau capek-capek kerja keras begini, dapatnya cuma makan seadanya dan tidur di tempat sempit. Apa yang mereka cari? Nikmat mana yang mereka rasakan? Kalau aku, mending mati daripada hidup seperti hewan begini,” katanya pelan, matanya menyipit menatap asap rokok yang terbawa angin.
Tangan Reno yang dulunya halus, bersih, dan tak pernah tersentuh benda kasar kini perlahan dipenuhi kapalan keras dan lecet-lecet merah yang perih setiap kali digerakkan. Kulit putihnya kini berubah menjadi warna sawo matang terbakar sinar matahari terik setiap hari. Tubuhnya yang dulunya lunak dan kurang terlatih kini perlahan menjadi lebih kencang, berotot, dan kokoh, meski ia sendiri sama sekali tidak sadar akan perubahan fisik yang terjadi perlahan itu. Udara bersih, air jernih, dan makanan alami tanpa pengawet di sini justru membuat kondisi kesehatannya jauh lebih prima dibanding saat ia tinggal di kota besar yang penuh polusi dan makanan cepat saji. Namun, bagi Reno, semua perubahan itu hanyalah tanda kemiskinan dan kemunduran derajatnya.
Setiap hari ia hidup dalam perasaan benci, marah, dan kesepian yang luar biasa. Ia menjauh dari semua orang, tak mau mengobrol, tak mau berteman, dan selalu menolak jika ada yang mencoba mendekat atau mengajaknya bergabung. Baginya, semua orang di sini sama saja: orang kampung yang sederhana, miskin, dan tidak berpendidikan, tak ada satu pun yang pantas bicara dengannya setara. Ia merasa menjadi makhluk yang paling sendirian di dunia ini, terbuang dan dikurung paksa jauh dari segala hal yang ia cintai.
Hingga pada suatu sore, saat Reno sengaja kabur lebih awal dari kegiatan kerja bakti dengan alasan sakit kepala, ia berjalan menyusuri pinggiran sungai besar yang agak jauh dari pusat bangunan pesantren, tempat yang sepi dan jarang dilewati orang. Ia berjalan santai dengan tangan di saku celana, mulutnya bersiul pelan, menikmati kesendirian yang ia anggap lebih tenang daripada harus berhadapan dengan orang-orang yang ia benci.
Sore itu langit sedang cerah, matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar keemasan yang jatuh menyinari permukaan air sungai yang tenang, menciptakan pantulan cahaya yang berkilauan indah. Di bawah naungan pohon besar yang daunnya rindang dan menjuntai hampir menyentuh air, Reno menghentikan langkahnya. Matanya menangkap sosok manusia perempuan yang sedang berjongkok di atas batu pipih besar di pinggir sungai, sedang sibuk mencuci tumpukan pakaian yang terlihat sangat banyak dan menumpuk tinggi.
Dari kejauhan, Reno hanya bisa melihat punggung rampingnya yang dibalut kain katun polos berwarna putih bersih, rambut hitam panjangnya yang lurus dan lebat melesat jatuh terurai hampir menyentuh pinggang, dan gerakan tangannya yang begitu luwes, lembut, teratur, dan penuh irama saat menggosok, memukul, dan membilas kain-kain kotor itu. Tak ada wajah mengeluh, tak ada gerakan yang terlihat berat atau terpaksa. Ada ketenangan yang begitu kuat memancar dari sosok itu, seolah-olah segala hal yang sedang dilakukannya adalah hal yang paling indah, paling menyenangkan, dan paling berharga sedunia.
Reno terpaku diam di tempatnya, napasnya tertahan seketika. Matanya tak bisa berkedip sedikitpun, jantungnya yang biasa dingin, tenang, dan tak pernah bergetar mendadak berdegup kencang tak menentu, membuat dadanya terasa penuh dan aneh. Ia sudah bertemu ribuan wanita cantik, model, selebritas, putri pejabat, dan sosialita yang kecantikannya diakui seluruh negeri. Tapi tak ada satu pun yang membuatnya merasa terpesona dan terpaku seperti saat ini. Cantik mereka penuh riasan, operasi, dan paksaan. Tapi sosok di depannya ini? Cantiknya alami, murni, dan meneduhkan.
Saat wanita itu selesai membilas satu tumpukan kain dan perlahan memutar tubuhnya untuk mengambil pakaian lain dari ember, wajah cantiknya terekspos jelas dan utuh di pandangan Reno. Kulitnya bersih halus seperti kapas, mulus tanpa noda sedikitpun, matanya besar, bening, dan hitam pekat seperti kaca jendela yang dibersihkan sempurna, hidungnya mancung alami, dan bibirnya merah merekah tanpa sedikitpun sentuhan lipstik atau kosmetik. Itu adalah Zahrana, putri semata wayang Kyai Ahmad. Reno sudah pernah mendengar namanya disebut-sebut sebagai gadis paling alim dan cantik di kawasan ini, tapi ia sama sekali tak peduli dan tak pernah berminat menatapnya barang sedetik pun.
Namun saat ini, pandangannya seolah terpaku kuat ke wajah itu, seolah baru kali ini matanya benar-benar terbuka dan melihat sosok wanita yang sesungguhnya. Zahrana yang sadar diperhatikan, hanya mengangkat wajah perlahan, menatap Reno sekilas dengan tatapan sopan, ramah, dan sangat tenang, lalu tersenyum tipis penuh keramahan dan ketulusan. Seulas senyum yang begitu murni, indah, dan hangat, seolah matahari sedang terbit di wajahnya.
Yang paling membuat ego Reno hancur dan merasa tertampar keras adalah: Zahrana sama sekali tidak menatapnya dengan pandangan takjub, penasaran, atau genit seperti ribuan wanita yang pernah Reno temui seumur hidupnya. Ia tidak menatap Reno dengan pandangan 'wah, dia ganteng', atau 'wah, dia pasti anak orang kaya'. Ia menatap Reno layaknya menatap manusia biasa, layaknya menatap santri lain, layaknya menatap saudara sendiri. Tak lebih dan tak kurang.
“Assalamualaikum, Mas. Sedang berjalan-jalan sore?” sapa Zahrana lembut, suaranya halus dan meneduhkan, lalu ia kembali memusatkan perhatiannya pada cuciannya, seolah sosok Reno yang berdiri mematung itu bukanlah hal yang istimewa.
Reno tidak menjawab. Mulutnya terasa kaku, lidahnya terasa terikat tak bisa bergerak. Ia hanya mengangguk pelan, masih terpaku diam di sana, merasakan sensasi asing yang mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang beku dan keras itu. Rasa penasaran yang tumbuh besar dan kuat untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Siapa gadis ini? Kenapa dia sama sekali tidak peduli padaku? Kenapa dia tidak bereaksi sama sekali?, pikirnya kalut, rasa ingin tahu itu perlahan mulai menggeser sedikit rasa benci yang selama ini memenuhi kepalanya.
Hari itu, sore itu, di pinggir sungai besar ini, benih-benih perubahan besar mulai ditanamkan. Reno tak tahu, pertemuan singkat dan sederhana ini adalah awal dari kisah yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya. Dan sosok sederhana di depannya inilah yang nantinya akan menjadi alasan Reno bersyukur pernah dikirim ke tempat yang dulunya ia anggap neraka dunia ini.