NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Persiapan Pernikahan

Tiga bulan berlalu sejak Jantung Hitam hancur.

Aequoria pulih. Tidak hanya pulih — tapi berkembang. Rumah-rumah karang yang dulu runtuh kini berdiri tegak kembali. Jalan-jalan pasir putih bersih dari darah. Pasar bawah laut ramai dengan pedagang dari berbagai kerajaan.

Dan di istana, Nana sibuk dengan persiapan pernikahan.

Bukan pernikahan dengan pangeran asing. Bukan pernikahan politik.

Pernikahan dengan Jeno.

"Kau yakin?" tanya Jeno untuk kesekian kalinya. Mereka sedang duduk di taman laut, di samping mawar biru yang bermekaran. "Aku hanya Kepala Penjaga. Bukan pangeran. Bukan bangsawan. Aku—"

"Kau Jeno," potong Nana. "Itu sudah cukup."

"Tapi rakyatmu—"

"Rakyatku sudah setuju. Lira yang menyebarkan kuesioner."

Jeno mengerjap. "Kuesioner?"

"Ya. 'Setujukah kalian Ratu menikahi Kepala Penjaganya?' Hasilnya 98% setuju. 2% sisanya tidak menjawab karena mereka sedang tidur."

Jeno tidak tahu harus tertawa atau menangis. "Kau benar-benar serius."

"Aku tidak pernah bercanda soal pernikahan."

"Kau bercanda soal pajak rumput laut."

"Itu berbeda."

Persiapan pernikahan tidak mudah.

Ada tata cara pernikahan kerajaan Siren — aturan yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Nana harus mempelajarinya semua. Lira menjadi koordinator utama. Zara menjadi penghubung dengan kerajaan tetangga yang akan diundang.

Raja Valerius — yang kini semakin pulih — membantu Nana berlatih.

"Kau harus berjalan pelan," katanya suatu sore di ruang singgasana. "Dari pintu ke altar. Jangan terburu-buru. Rakyatmu ingin melihatmu."

"Aku tidak bisa 'berjalan', Ayah. Aku berenang."

"Maka berenanglah pelan."

Nana menghela napas. "Ayah dulu juga gugup saat menikahi Ibu?"

Raja Valerius tersenyum. "Gugup? Aku hampir pingsan. Ruenna harus menahaniku."

"Ibu menahan ayah?"

"Ya. Katanya, 'Valerius, kalau kau pingsan, aku yang akan menyeretmu ke altar.'"

Nana tertawa. "Ibu tegas."

"Ibu mu hebat."

Jeno tidak lolos dari persiapan.

Sebagai mempelai pria — meskipun Nana adalah ratu — ia harus mengikuti ritual Siren kuno. Ritual yang melibatkan puasa, meditasi, dan menyanyikan lagu cinta di depan umum.

"Aku tidak bisa bernyanyi," kata Jeno pada Lira, yang bertugas melatihnya.

"Semua Siren bisa bernyanyi."

"Aku tidak bisa. Suaraku jelek."

"Ratu bilang suaramu bagus."

"Ratu bias."

Lira tersenyum. "Mungkin. Tapi kau harus tetap coba. Ini ritual."

Jeno menghela napas panjang. Ia membuka mulut — dan bernyanyi.

Suaranya dalam. Tidak seindah suara Nana, tapi ada getaran di sana — getaran yang membuat Lira terdiam.

"Kau bilang suaramu jelek," kata Lira setelah Jeno selesai.

"Jelek."

"Tidak. Itu... menyentuh."

Jeno tidak percaya. "Kau bohong."

"Aku tidak bohong. Tanya Zara."

Zara yang kebetulan lewat — benar-benar kebetulan, bukan sengaja menguping — mengangguk. "Bagus. Sedih. Tapi bagus."

Jeno memerah. "Aku tidak akan bernyanyi di depan umum."

"Harus," kata Lira dan Zara bersamaan.

Jeno mengutuk dalam hati.

Malam sebelum pernikahan, Nana tidak bisa tidur.

Ia berenang sendirian ke taman laut. Mawar biru bermekaran di sekelilingnya — lebih banyak dari sebelumnya. Kelopaknya berdenyut lembut — seperti sedang ikut bersemangat.

"Kau juga tidak bisa tidur?"

Nana menoleh. Jeno berdiri di pintu taman, rambutnya basah, matanya sayu.

"Kau juga," jawab Nana.

Jeno berenang mendekat. Ia duduk di samping Nana, di atas batu karang berlumut — tempat yang sama di mana dulu mereka berpelukan setelah pertempuran pertama melawan Aramis.

"Aku gugup," kata Jeno.

"Aku juga."

"Kau ratu. Kau tidak boleh gugup."

"Ratu juga manusia."

Mereka berdua terdiam. Mawar biru di samping mereka berdenyut — lambat — seperti jantung yang tenang.

"Jeno," kata Nana.

"Ya?"

"Apa kau bahagia?"

Jeno menatap Nana. Mata biru pucat itu — lembut, hangat, pulang.

"Bahagia," katanya. "Kau?"

"Bahagia."

Mereka berdua tersenyum. Tidak perlu kata-kata lagi. Tidak perlu janji. Karena mereka sudah tahu — apa pun yang terjadi, mereka akan bersama.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!