NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

skenario yang terbaca asing

Aroma tanah basah dan udara segar menyambut Neya begitu ia melangkah keluar dari mobil putih yang membawanya pulang. Setelah hampir seminggu terkurung di rumah sakit dengan bau obat-obatan yang mengekang, akhirnya dokter mengizinkannya pulang dengan catatan ia harus beristirahat total dan tidak boleh melewatkan satu kali pun jadwal minum obatnya.

Neya menatap sebuah rumah minimalis bercat abu-abu di hadapannya. Kata bunda, ini adalah rumah mereka. Sederhana, tenang, dan jauh dari hiruk-piruk kota. Namun, alih-alih merasakan kehangatan sebuah tempat pulang, Neya justru merasa seperti mendatangi rumah milik orang asing.

Ayo masuk, Nak. Udara luar tidak baik untuk luka di dadamu," ucap Imelda lembut, merangkul bahu Neya dengan sangat protektif. Sejak bangun dari koma, bundanya tidak pernah membiarkan Neya lepas dari jangkauannya sedikit pun.

Begitu pintu rumah terbuka, seorang laki-laki bertubuh tegap dengan kemeja rapi langsung berdiri dari sofa ruang tamu. Wajahnya yang semula tegang seketika berubah penuh kelegaan yang amat dalam. Laki-laki itu melangkah cepat mendekati mereka.

"Neya..." Suaranya bergetar.

Neya terpaku. Itu adalah laki-laki yang sama dengan yang ada di foto ponsel ibunya—Aris.

Tanpa aba-aba, Aris membawa Neya ke dalam pelukan yang hangat namun sangat berhati-hati, seolah takut menyakiti luka tembak di dada istrinya. "Maafkan aku... maaf karena aku terlambat pulang dan tidak ada di sampingmu saat kamu melewati masa kritis," bisik Aris tepat di telinga Neya, menyalurkan rasa bersalah yang terasa begitu nyata.

Neya membeku di dalam dekapan itu. Otaknya mengenali wajah Aris dari foto, telinganya mendengar untaian kalimat penuh kasih, tetapi anehnya... tubuhnya menolak. Tidak ada debaran, tidak ada rasa aman. Yang ada hanyalah dorongan kuat di dalam dirinya untuk segera melepaskan diri dari pelukan itu.

Dengan canggung, Neya perlahan mendorong bahu Aris mundur. "Ah... iya, tidak apa-apa, Kak Aris."

Imelda yang melihat interaksi itu segera menimpali dengan senyuman hangat, seolah ingin mencairkan suasana. "Sudah, Aris, biarkan Neya istirahat dulu di kamar. Dia masih sering pusing. Oh ya, besok penghulu dan beberapa saksi dari keluarga dekat akan datang jam sepuluh pagi, kan? Semua berkas pernikahan ulang kalian yang sempat tertunda karena musibah ini sudah siap?"

"Sudah, bunda. Semua sudah beres. Besok kita bisa melangsungkan akad ulang agar ingatan Neya bisa pelan-pelan pulih setelah kita resmi kembali secara administrasi," jawab Aris sopan dan tampak sangat bertanggung jawab.

Neya hanya bisa pasrah dan mengangguk. Jika semua orang berkata Aris adalah suaminya yang baik, maka ia harus memercayainya, bukan? Mungkin rasa asing ini hanyalah efek samping dari memorinya yang hilang.

Keesokan Harinya...

Suasana ruang tamu disulap menjadi sangat khidmat dengan dekorasi kain putih sederhana. Neya duduk di atas tikar dengan kebaya putih bersih, menatap punggung Aris yang sedang menjabat tangan penghulu di depannya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Neya Anindita binti Wijaya..

Suara Aris yang lantang mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas menggema di ruangan itu, disusul oleh seruan "Sah!" dari para saksi.

Di sudut ruangan, Imelda tampak menangis haru sembari menggenggam sebuah botol obat kecil di dalam sakunya obat pemulih saraf yang diberikan dokter kemarin. Maafkan bunda, Neya. Ini demi keselamatanmu, batin Imelda pilu.

Setelah prosesi selesai, Aris berbalik dan mendekati Neya untuk memasangkan cincin di jari manisnya. Namun, tepat saat jemari Aris menyentuh kulit tangan Neya, kepala Neya mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa.

“Aku mencintaimu, Neya... melampaui seluruh kasta yang mereka agungkan.”

Sebuah suara bariton yang sangat asing namun terdengar begitu penuh keputusasaan mendadak terngiang di pelipisnya. Potongan memori acak tentang kilatan cahaya, suara letusan senjata, dan dekapan seseorang bertubuh tinggi yang bersimbah darah berputar cepat di kepalanya.

Neya? Kamu tidak apa-apa, sayang ?" Aris menyentuh bahu Neya yang tiba-tiba bergetar hebat dengan wajah yang mendadak pucat pasi.

Neya mendongak, menatap Aris dengan napas yang memburu dan air mata yang tahu-tahu meluncur deras. Suara di kepalanya tadi jelas bukan suara Aris. Sentuhan hangat yang ia rindukan di dalam mimpinya juga bukan milik laki-laki ini.

Neya meremas dadanya yang kembali terasa sesak parah, menyadari satu kenyataan mengerikan di hari pernikahannya: Ada sebuah rahasia besar yang sedang disembunyikan oleh semua orang di rumah ini dari dirinya.

Malam Harinya...

Neya duduk termenung di tepi ranjang kamar pengantin mereka yang berhias bunga-bunga putih. Kamar itu terasa sunyi. Aris dengan sangat bijaksana memilih untuk keluar lebih dulu demi memberikan Neya waktu untuk menenangkan diri setelah serangan panik tadi siang. Sikap Aris yang begitu sabar dan penuh pengertian membuat Neya dilingkupi rasa bersalah yang besar.

Pintu kamar diketuk pelan, lalu Imelda masuk membawa segelas air hangat dan sebuah botol obat bertuliskan resep dokter dari rumah sakit.

"Neya, ini obatmu, Sayang. Dokter bilang, obat pemulih saraf ini tidak boleh terlewat satu kali pun agar kepalamu tidak sakit lagi," ujar Imelda penuh perhatian. Wanita itu duduk di samping Neya, membuka tutup botol, dan menuangkan sebutir kapsul ke telapak tangan putrinya.

Neya menerima kapsul itu, menatapnya dengan secercah harapan yang membunchah. "Bun... kalau Neya rajin minum obat ini, dalam sebulan Neya benar-benar bisa ingat semuanya, kan? Neya ingin cepat sembuh. Neya ingin ingat bagaimana dulu Neya bisa jatuh cinta dan menikah dengan Kak Aris."

Mendengar pertanyaan polos putrinya, gerakan tangan Imelda yang hendak menutup kembali botol obat itu mendadak terhenti selama beberapa detik. Jari-jarinya mencengkeram botol plastik itu sedikit terlalu erat hingga menimbulkan suara derit halus, sebelum akhirnya ia buru-buru memasukkan botol itu kembali ke dalam saku bajunya dengan gerakan yang agak tergesa-gesa.

Imelda memaksakan seulas senyum, lalu mengusap pipi Neya dengan tangan yang terasa agak dingin. "Iya, Nak. Minum obatnya, ya. bunda yakin... masa depanmu bersama Aris akan jauh lebih bahagia."

Neya mengangguk, lalu menelan kapsul itu bersama seteguk air hangat. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, mencoba memejamkan mata sembari berharap obat yang baru diminumnya bisa segera mengembalikan potongan-potongan hidupnya yang hilang.

Neya tidak pernah tahu, begitu pintu kamar ditutup rapat dari luar, tubuh Imelda langsung luruh. Wanita paruh baya itu bersandar pada dinding lorong yang sunyi, membekap mulutnya sendiri demi menahan isak tangis yang mendadak pecah. Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang tampak luar biasa lelah dan penuh beban.

Imelda meremas dadanya yang terasa sesak, menangis dalam diam di kegelapan lorong rumah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Di bawah temaram lampu rumah abu-abu itu, kesedihan yang tak terucapkan itu terkunci rapat, menyisakan tanda tanya besar yang menggantung sunyi di udara.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!