NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Kepercayaan yang Tidak Mudah

Hari kedua bersama Huo Ling'er membuat Lin Chen memahami beberapa hal tentang gadis itu.

Pertama, Huo Ling'er selalu bangun lebih awal darinya.

Ketika Lin Chen membuka mata saat fajar mulai menyingsing, gadis itu sudah berdiri di mulut gua. Sosoknya membelakangi cahaya pagi yang masuk dari luar, memandang ke arah hutan yang masih diselimuti kabut tipis.

Entah sejak kapan ia berada di sana.

Yang jelas, ia sudah terjaga jauh sebelum Lin Chen.

Kedua, Huo Ling'er bukan tipe orang yang menunggu perintah.

Tanpa berdiskusi dengannya, gadis itu sudah memeriksa area sekitar gua sejak pagi buta.

Ketika kembali, ia membawa informasi tentang dua jalur pelarian yang bisa digunakan jika keadaan memburuk, serta sebuah titik pengamatan di atas tebing yang memungkinkan mereka melihat siapa pun yang mendekat dari arah timur.

Dan ketiga.

Ia sangat tidak suka bergantung pada orang lain.

Bahkan sekadar menerima bantuan pun tampaknya membuatnya tidak nyaman.

"Aliran energimu masih belum stabil." Lin Chen mengucapkannya saat Huo Ling'er kembali ke dalam gua.

Gadis itu menoleh. "Aku sudah jauh lebih baik."

"Cukup baik untuk apa?"

Tatapan Huo Ling'er sedikit menyipit. "Untuk menjaga diriku sendiri."

Lin Chen mengangguk pelan. "Itu mungkin benar, tapi belum cukup untuk bertarung."

Keheningan langsung memenuhi gua. Huo Ling'er tidak menyukai ucapan itu.

Bukan karena salah.

Justru karena terlalu tepat.

Ia tahu kondisi tubuhnya sendiri.

Tiga hari terakhir telah menguras energi spiritualnya secara berlebihan. Meski sudah beristirahat semalaman, pemulihannya masih jauh dari sempurna.

Namun mendengar orang lain mengatakannya secara langsung tetap terasa tidak menyenangkan.

Terutama bagi seseorang yang terbiasa mengandalkan dirinya sendiri.

Lin Chen melanjutkan,

"Kalau mereka kembali hari ini dan membawa lebih banyak orang, peluang terbaikmu adalah melarikan diri."

Huo Ling'er menyilangkan tangannya. "Itu tidak terdengar seperti pujian."

"Itu bukan pujian."

"Setidaknya kau jujur." Huo Ling'er mendecakkan lidahnya pelan.

Kemudian bersandar ke dinding gua.

Untuk sesaat, keduanya kembali diam.

"Sebenarnya ada cara untuk mempercepat pemulihanmu." Kata Lin Chen

Huo Ling'er mengangkat alisnya. "Kau punya Pil Kultivasi?"

"Tidak."

"Lalu?"

Lin Chen duduk bersila di lantai batu. "Ada metode dalam warisan Phoenix."

Tatapan Huo Ling'er langsung berubah serius.

"Metode apa?"

"Resonansi energi."

Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Phoenix memiliki hubungan yang berbeda dengan energi spiritual dibanding kultivator biasa."

"Jika dua sumber energi Phoenix berada cukup dekat dan dalam kondisi yang selaras, keduanya bisa saling menstabilkan."

Huo Ling'er memperhatikan wajahnya tanpa berkedip.

"Jelaskan lebih jelas."

Lin Chen mengangguk. "Bayangkan dua nyala api yang berasal dari sumber yang sama."

"Keduanya tidak perlu menyatu."

"Cukup berada cukup dekat."

"Keberadaan satu sama lain akan membuat nyala mereka menjadi lebih stabil."

Huo Ling'er masih diam.

Lin Chen melanjutkan, "Warisan Phoenix dalam diriku dan kekuatan Phoenix yang tersegel dalam dirimu berasal dari sumber yang sama."

"Jadi selama kita berada dalam resonansi yang tepat, pemulihan energimu akan berlangsung lebih cepat."

Keheningan kembali muncul.

Kali ini jauh lebih lama.

Tatapan Huo Ling'er tidak pernah meninggalkan wajah Lin Chen.

Kemudian ia berkata perlahan, "Kalau dijelaskan secara sederhana..."

Nada suaranya terdengar datar. "Kau meminta aku membiarkan energimu mendekati energiku."

"Bukan" Lin Chen langsung mengoreksi. "Hanya beresonansi."

"Tetap membutuhkan kepercayaan."

"Iya." Jawaban Lin Chen tanpa ragu.

Ia tidak mencoba membujuk.

Tidak mencoba mencari alasan, hanya menerima kenyataan tersebut.

"Itulah sebabnya aku tidak akan memaksamu."

Tatapan mereka bertemu.

"Keputusan ada di tanganmu."

Huo Ling'er terdiam, kemudian berbalik dan memandang keluar gua.

Angin pagi meniup beberapa helai rambut merahnya.

Dari belakang, Lin Chen bisa melihat bahwa gadis itu sedang berpikir keras.

Bukan menolak.

Bukan menerima.

Melainkan berusaha memutuskan apakah dirinya bersedia mengambil risiko tersebut.

Beberapa saat kemudian, Huo Ling'er tiba-tiba bertanya,

"Sudah berapa lama kau berada di gunung ini?"

"Delapan belas hari."

"Sendirian?"

"Ya."

"Klanmu tidak mencarimu?"

Lin Chen tersenyum tipis. Meskipun senyum itu tidak mengandung kegembiraan. "Mereka yang mengirimku ke sini."

Huo Ling'er tidak langsung menjawab.

Namun bahunya sedikit menegang.

Perubahan kecil yang mungkin tidak disadari orang lain.

Tetapi tidak luput dari pengamatan Lin Chen.

Seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya.

Sebuah kesamaan.

Sebuah luka yang mungkin tidak terlalu berbeda dengan miliknya.

Beberapa saat berlalu.

Akhirnya Huo Ling'er menghela napas panjang.

"Duduk di sana."

Lin Chen mengangkat kepalanya.

Huo Ling'er masih membelakanginya. Namun suaranya terdengar jelas.

"Satu meter dariku."

Lin Chen bangkit dan berjalan ke tempat yang ditunjuk.

"Tapi dengarkan baik-baik." Nada suara gadis itu kembali tajam.

"Kalau aku merasakan sesuatu yang aneh dari energimu..."

Ia akhirnya menoleh. Mata merahnya menatap lurus ke arah Lin Chen.

"...aku akan membakarmu lebih dulu."

Lin Chen duduk tepat di tempat yang diperintahkan.

Lalu mengangguk dengan tenang.

"Itu terdengar cukup adil."

Lin Chen dan Huo Ling'er duduk berhadapan di dalam gua, dengan jarak sekitar satu meter di antara mereka.

Keduanya bersila dengan tenang.

Suasana di dalam gua terasa hening.

Hanya suara angin yang sesekali masuk dari mulut gua dan suara dedaunan yang bergesekan di luar.

"Aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya."

Huo Ling'er membuka suara lebih dulu.

Nadanya terdengar biasa saja, seolah hanya menyampaikan sebuah fakta.

Lin Chen mengangguk. "Aku juga belum pernah."

Huo Ling'er mengangkat sebelah alis. "Itu membuatku merasa jauh lebih tenang."

Lin Chen tersenyum tipis. "Setidaknya kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi."

"Hiburan yang luar biasa."

Meskipun terdengar sinis, nada suaranya tidak setajam biasanya.

Lin Chen memejamkan matanya.

"Kita hanya perlu bermeditasi seperti biasa."

"Biarkan energi mengalir dengan sendirinya."

"Jangan dipaksa."

"Jangan juga ditahan."

"Kalau resonansi terjadi, biarkan saja berjalan alami."

Huo Ling'er mengangguk pelan. "Dan kalau tidak terjadi?"

"Kita sudah mencoba."

"Itu saja."

Jawaban sederhana itu membuat Huo Ling'er tidak bertanya lagi.

Perlahan ia memejamkan matanya.

Lin Chen melakukan hal yang sama.

Tak lama kemudian, keduanya tenggelam dalam meditasi.

Lin Chen mulai menjalankan metode kultivasinya.

Ia tidak berusaha mengendalikan energi Phoenix secara paksa.

Sebaliknya, ia membiarkannya mengalir dengan tenang.

Seperti cahaya yang menyebar dari sumbernya tanpa perlu diarahkan.

Waktu berlalu perlahan.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Tidak ada perubahan.

Namun kemudian sesuatu mulai terjadi.

Lin Chen merasakan kehangatan samar di udara.

Bukan panas dari api.

Bukan pula energi alam di sekitarnya.

Kehangatan itu muncul dari ruang di antara dirinya dan Huo Ling'er.

Sangat lembut.

Sangat alami.

Seolah sesuatu yang selama ini tersembunyi akhirnya mulai menunjukkan keberadaannya.

Energi Phoenix di dalam tubuh Lin Chen berdenyut pelan.

Pada saat yang sama, energi di dalam tubuh Huo Ling'er memberikan respons.

Getaran kecil muncul.

Kemudian semakin jelas.

Lin Chen tetap tenang.

Ia tidak mencoba mengendalikannya.

Ia hanya mengamati.

Di dalam diri Huo Ling'er, sesuatu yang telah lama tertidur perlahan bergerak.

Bukan kebangkitan.

Belum.

Namun seperti seseorang yang mulai membuka mata setelah tidur panjang.

Atau sebuah pintu tua yang perlahan mengendur setelah bertahun-tahun terkunci.

Sangat kecil namun nyata.

Resonansi pertama telah terjadi.

Energi di antara mereka mulai mengalir dengan ritme yang sama.

Tidak bercampur.

Tidak menyatu.

Hanya saling merespons.

Seperti dua nyala api yang berasal dari sumber yang sama dan akhirnya saling mengenali.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Keheningan memenuhi seluruh gua.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang bergerak.

Hanya dua aliran energi yang perlahan menyesuaikan diri satu sama lain.

Entah berapa lama kemudian, Lin Chen membuka matanya.

Cahaya yang masuk dari luar sudah berubah.

Sinar matahari yang tadi terang kini berwarna jingga keemasan.

Hari hampir berakhir.

Mereka telah bermeditasi selama berjam-jam.

Huo Ling'er membuka mata beberapa saat setelahnya.

Ia tetap duduk diam.

Tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Tatapannya tertuju pada ruang kosong di depan dirinya.

Ekspresinya sulit dibaca.

Lin Chen memperhatikannya sejenak sebelum akhirnya bertanya,

"Kau merasakannya?"

Huo Ling'er tidak langsung menjawab.

Ia menundukkan pandangan ke kedua tangannya.

Membuka dan menutup jemarinya perlahan.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas pelan.

"Api itu." Suaranya jauh lebih tenang dibanding biasanya.

"Yang selama ini selalu terasa sangat jauh."

Ia berhenti sejenak. Mencari kata yang tepat.

"Tadi rasanya berbeda."

Lin Chen memahami maksudnya. "Lebih dekat."

Huo Ling'er mengangguk perlahan. "Ya."

Hanya satu kata.

Namun cukup untuk menjelaskan semuanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasakan keberadaan sesuatu yang selama ini hanya muncul sebagai bayangan samar.

Sesuatu yang selalu berada di dalam dirinya.

Sesuatu yang tidak pernah bisa disentuh.

Sampai hari ini.

Huo Ling'er menarik napas panjang.

Kemudian meluruskan punggungnya.

Ekspresi tenang yang biasa ia gunakan perlahan kembali ke wajahnya.

Namun Lin Chen dapat melihat perbedaannya.

Meskipun kecil.

Meskipun hampir tidak terlihat.

Tetap ada.

"Aliran energiku lebih stabil sekarang." Nada suaranya kembali terdengar praktis. Seolah sedang melaporkan hasil latihan.

"Jadi apa yang kau katakan tentang resonansi itu ternyata benar."

Lin Chen tersenyum tipis. "Itu kabar baik."

Huo Ling'er melirik ke arahnya. "Jangan terlihat terlalu puas."

"Aku tidak."

"Kau terlihat puas."

"Mungkin sedikit."

Huo Ling'er mendecakkan lidahnya. "Jangan salah paham."

"Ini tidak berarti aku langsung mempercayai semua cerita tentang Phoenix."

"Tentu."

"Dan ini juga tidak berarti aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi."

"Aku tidak mengharapkan itu."

Jawaban tersebut membuat Huo Ling'er terdiam sesaat.

Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah mulut gua.

Langit di luar mulai berubah gelap.

Kabut sore perlahan turun di antara pepohonan.

"Bagus."

Hanya itu yang ia katakan.

Namun kali ini, Lin Chen memperhatikan sesuatu.

Cara Huo Ling'er berdiri telah berubah.

Bahunya tidak setegang sebelumnya.

Tatapannya tidak lagi dipenuhi kewaspadaan yang sama seperti saat pertama mereka bertemu.

Masih ada jarak.

Masih ada keraguan.

Tetapi ada pula sesuatu yang baru.

Sebuah pijakan kecil.

Sebuah kepercayaan yang belum terbentuk sepenuhnya, namun sudah mulai tumbuh.

Dan bagi Lin Chen, itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!