NovelToon NovelToon
Kembali Hidup

Kembali Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pelakor / Trauma masa lalu / Kontras Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Ganendra Badrika

Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.

Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang pertama chandra

   Vania sudah masuk ke sekolah baru nya, begitu nyaman hari hari nya ada di rumah keluarga bunga, kasih sayang nya penuh di dapatkan, bahkan nia sendiri mendapat bimbingan belajar sendiri yang selalu datang kerumah sore hari.

Gadis itu memperlakukan Nia dengan penuh kasih sayang, ada yang menjaga nya sendiri dalam pengawasan keluarga bunga, adik adik nya pun senang dengan kehadiran Nia, seperti boneka kecil yang selalu di timang tiga saudara itu.

  Helen dan vandy pun sama sering berebut membawa nia untuk pergi berlibur atau bahkan hanya sekedar ke cafe atau taman, hari hari nya sungguh penuh kasih sayang tidak seperti di rumah nya yang hanya di perhatikan penuh oleh papa nya, bahkan ibu nya sendiri pun sering abai karena sibuk dengan urusan sosialita tapi ekonomi sulit nya.

  "Ngak susah ya momong anak kecil, nurut aja lagi anak nya aku pikir bakal banyak drama" gadis itu menatap ke nia yang sedang bermain di taman dengan helen.

"Kamu tenang aja banyak yang sayang nia pasti ngak repot kok" Revo mengusap punggung gadis sambil menatap nya dengan penuh sayang "aku bingung gimana cara mengungkapkan lewat kata kata apa yang aku rasa selama ini, semoga kamu mengerti apa yang aku tunjukan bukan hanya sekedar persahabatan" hati revo selalu mengudara dalam diri nya hanya lewat dua sahabat gadis itu bisa berucap apa yang di rasakan dan di pikirkan tentang gadis itu.

    Sore menjelang mereka pulang kerumah bunga, setelah bermain di taman sibuk dengan dunia ponsel di temani minuman favorit masing masing dari mereka, tidak lama Tora ikut bergabung di antara mereka setelah selesai dengan tugas kuliah nya.

"Besok sidang pertama chandra, apa kakak akan datang kesana ?" suara tora memecah mereka meninggalkan ponsel nya menatap dengan tatapan lekat "aku ngak tau, untuk apa aku datang de"

   "Memberi kesaksian untuk sidang dan itu sangat berarti untuk hasil nya nanti Unge"

   "Datang aja kita temani kok nga, kamu ngak sendiri" helen dan vandy memberi dukungan untuk gadis itu yang untuk memberlakukan keadilan yang benar.

   Bunga menatap revo meminta pendapat, hanya senyum dan angkukan yang di berikan, mendukung apapun yang akan di lakukan gadis itu selama hal yang di lakukan positif dan tidak merugikan orang lain bahkan diri sendiri.

   Hari hari mereka selalu berdua rasa nyaman yang tumbuh bukan lagi rasa sebagai seorang teman semasa kuliah lagi, tapi bunga sulit mengartikan terkadang rasa nya sama seperti berada di dekat sang kekasih yang sudah berpulang, terkadang rasa mempunyai seorang abang.

   Pikiran nya selalu menyangkal mungkin hanya rindu sosok itu, sampai terlena dengan yang di rasakan.

bahkan dalam benak melawan pikiran yang menyangkal perasaan nya, tapi kembali mengingat rasa sakit yang belum lama di lewati.

"Kakak.... ikuti hati mu" suara yang akrab menggema dalam telinga nya pahing lah yang selalu menengahkan apa yang jadi pikiran nya yang tidak bisa di ungkapan dengan yang lain.

Pengadilan Negeri

    Bunga dan team suporter nya sudah datang lebih dulu duduk di bangku ruangan tempat persidangan, bersama beberapa orang lain dan keluarga chandra yang sudah datang juga tidak lama setelah mereka tiba.

   Ibu chandra pun datang dari kampung halaman bersama keluarga lain nya, Mariam wanita paruh baya menghampiri gadis itu menyalam nya memperkenalkan diri yang selama ini tidak pernah di kenalkan nya.

  "Saya bunga tante, senang bertemu dengan mu"

gadis itu ingin menjabat tangan tapi di tolak begitu saja, tidak membuat nya sakit hati karena tau ibu mana yang akan terima anak nya di perlakukan seperti Chandra dan Kristi walau bersalah sekalipun.

   Tatapan sengit ada di dalam sorot mata nya, seperti binatang buas yang siap menerkam kapan saja "kenapa kau begitu tega memperlakukan anak anak ku seperti ini? Apa karena dirimu dan keluargamu dari kalangan atas mampu atas materi?"

   Berharap mendapat jawaban tapi bunga tidak menjawab nya sepatah kata pun, hanya senyum yang di ukir bibir nya dan melirik ke arah Arma duduk berharap ia tau bunga meminta nya untuk membawa ibu nya dari hadapan mereka.

Tidak lama Arma pun berdiri menghampiri sang ibu meminta nya untuk bersabar "Sabar mak, nanti saya jelaskan semua nya setelah sidang ini selesai, semua bukan kesalahan bunga atau mereka yang ada di dekat nya, tapi memang anak anak mamak yang bersalah"

   "Sesalah apa si sampe anak anak mamak di buat begini, memang ngak bisa di bicarakan secara kekeluargaan?" Mariam semakin meninggikan suara nya tidak peduli berada dimana, semua mata yang diruangan persidangan pun melihat nya.

   Arma kehabisan akal untuk membujuk sang ibu untuk mau meredam, tanpa sadar karena emosi nya begitu tinggi Mariam menunjuk wajah gadis itu "Kau keterlaluan kalau kau mempunyai anak, apa mau anak mu di perlakukan seperti anak anak ku?"

"Anak anak saya akan di didik baik berperilaku budi dan pekerti, saya ngak akan membiarkan anak anak saya sampai melakukan hal merugikan orang lain atau diri nya sendiri"

  Suara gadis itu begitu lembut menjawab mariam yang di puncak emosi, tangan nya hampir melayang hampir mengenai pipi merona gadis itu, untung revo dan vandy sigap sudah berdiri di samping gadis itu, Revo langsung menangkap tangan Mariam dengan kasar, menatap nya sengit tak kalah sengit dengan mariam yang mau menelan bunga.

   "Ngak perlu repot mengotori tangan mu, cari tau dulu dimana letak salah anak mu, sampai harus ada di sini, sampai tangan mu menyentuh salah satu dari kami dengan kasar aku pastikan kamu akan merasakan yang sama seperti anak anak mu"

     Helen yang sedari tadi diam hanya melihat ikut angkat suara, ya bunga di lindungi mereka yang selalu menjaga nya. "Arma tolong bawa ibu mu jauh dari hadapan kami" sentakan helen mengarah ke lelaki kepala empat yang berdiri tepat di belakang mariam.

Dengan cepat ia membawa sang ibu dengan paksa mundur takut akan terjadi hal yang tidak inginkan seperti yang terjadi pada kristi waktu itu.

waliyah yang melihat dari belakang menggelengkan kepala merasa malu karena ulah besan nya yang seperti itu "Pantas aja anak anak nya seperti itu, orang ibu nya sikap nya ngak enak di pandang" seketika itu juga bahri menoleh ke arah waliyah yang berbicara sendiri.

"Sudah biarin aja, aku ngak mau lagi menambah masalah keluarga gadis itu sebenar nya baik cacat celah nya pun sulit di cari"

Mendengar anak laki laki nya berucap seperti itu, waliyah tampak tenang karena anak nya tidak terpengaruh dengan keluarga dari sang istri sedikit pun,

begitu memalukan di mata waliyah.

"Pertama kali aku bertemu dengan keluarga mereka hati ku menghangat Mak, rasa marah ku redam dengan sambutan ibu dari gadis itu, kami di jamu layak nya manusia bertamu, malu rasa nya tambah waktu gadis itu memberikan uang yang mau berikan sebagai pelunasan hutang kristi ke tangan nia, aku semakin malu takut rasa nya berbuat salah lagi, walau salah itu bukan bari yang buat tetep aja malu"

"Maka nya jangan terlalu tunduk ke istri itu akibat nya, jadi pelajaran berharga untuk rumah tangga dan hidup mu bari, ngak usah datang ke mereka duduk disini aja nanti kau di suruh suruh hal yang ngak seharus nya di kondisi mereka yang memanas gitu"

Mereka kembali duduk dengan tenang, Nia di tinggal di rumah bersama baby sister yang di pekerjaan dirumah khusus menjaga nya, bahri celingukan mencari gadis nya yang cantik.

Revo menghampiri waliyah dan mencium tangan nya "Bu baru sampai? Mau duduk dekat kita disana ?"

"terima kasih nak, kami duduk disini saja, kembalilah temani gadis itu" waliyah menjawab nya dengan baik sikap nya sudah jauh lebih mengerti di banding sebelum nya ketika mereka datang kerumah nya.

"Tapi nanti selesai dari sini, mampir lah kerumah ya nia udah nunggu dirumah, saya ke depan dulu ya"

Revo pun berjalan kembali ke bangku bersama yang lain duduk di samping bunga, sesekali berbicara dengan gadis itu "kalo perlu sesuatu bilang aja ya, misal pun nanti kamu sudah ngak nyaman kita bisa pulang duluan, kita ajak bu waliyah kerumah" gadis itu langsung melihat belakang tempat wanita tua itu duduk dan memberi senyum terbaik untuk waliyah.

"oke deh, pasti aku bilang nanti ya"

Mereka menunggu waktu sidang di mulai terlihat chandra memasuki ruang persidangan mata nya mengarah ke gadis itu dengan penuh tanda tanya, ada rasa kesal juga disana.

Chandra meminta ijin ke pada petugas yang membawa nya, untuk menemui nya sebentar lekas Chandra berjalan ke bangku dimana gadis itu duduk.

"Kamu datang untuk membela ku bukan ? Terima kasih sayang"

Gadis itu diam mata amarah nya begitu pekat kentara nafas nya pun memburu rasa ingin memakan daging manusia yang ada di hadapan nya.

"Ya aku akan membela mu jika itu benar, jika tidak maka enyah lah dirimu dari muka bumi ini" suara nya berbisik di tengah chandra yang mau mencium pipi gadis itu yang lekas mengambil bahu nya.

Senyum sengit pun mengulas dari bibir mungil nya mengarah ke kekeluarga chandra mata nya melihat ke arah Mariam yang menatap nya dengan memburu

"Mak udah .... Jangan menyalahkan gadis itu, sama sekali diri nya ngak salah, kami sudah mencari tau sendiri" Fara mengusap punggung mariam yang nafas nya begitu berat karena marah nya.

"Tau apa kalian jaga adik adik kalian aja ngak bisa, sampai harus seperti ini" wanita tua itu mnggertak gigi gigi nya. "emak yang ngak tau apa apa jangan mendengar sepihak dari anak anak emak aja, kita udah cape ngurus orang yang salah menyita waktu Mak" Fara ikut marah karena sang ibu terus saja pada pikiran nya yang salah.

Sidang hampir di mulai hakim dan jaksa mulai bersiap membuka persidangan yang akan di buka pertama kali untuk chandra, tubuh gadis itu tampak gemetar karena menahan amarah yang memburu revo yang mengetahui nya mengambil tangan nya dan menggenggam nya erat.

"Masih sanggup untuk duduk disini sampai selesai?"

Gadis itu mengangguk kelapa menoleh memberi senyum pada revo, "Tenangkan hati mu jangan kalah dengan emosi ya". Mereka kembali diam tangan nya tetap di genggam erat membuat gadis itu nyaman gemetar nya meredam.

1
laesposadehoseok💅
Mengajak merenung
Towa_sama
Tambahin lagi adegan romantisnya, thor. Aku suka banget sama chemistry antara tokoh utama 😍
Jen Nina
Ngakak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!