NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 BUKAN URUSAN SEMUA ORANG

Bu Lilis terdiam di ambang pintu.

Untuk pertama kalinya sejak perempuan itu muncul dengan senyum penasaran, mulutnya tidak langsung menemukan kalimat baru. Matanya masih menatap Arkan, seperti sedang mencoba memastikan apakah pemuda di depannya benar-benar Arkan yang sama—anak laki-laki dari rumah kecil sebelah yang dulu sering keluar pagi dengan motor tua, pulang sore dengan wajah lelah, dan sesekali membeli lauk seadanya di warung depan.

Pakaian Arkan masih sama.

Jaket lamanya masih kusam.

Sepatunya masih memperlihatkan bekas lem.

Tapi cara ia berdiri berbeda.

Tidak banyak. Tidak mencolok. Namun cukup membuat ruang tamu kecil itu terasa tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendali rasa penasaran Bu Lilis.

“Bukan urusan semua orang?” ulang Bu Lilis akhirnya, senyumnya kaku. “Aduh, Kan, Ibu cuma nanya baik-baik. Namanya juga tetangga, ikut senang kalau ada kabar baik.”

Arkan menatapnya tanpa tergesa.

Dulu, ia mungkin akan tersenyum canggung. Mungkin akan menjelaskan panjang lebar agar tidak dianggap sombong. Mungkin akan menurunkan suara, takut kalimatnya terdengar kasar pada orang yang lebih tua.

Tapi hari ini, setelah semua yang terjadi di ruang administrasi, setelah melihat Naya hampir menyerah pada mimpinya, setelah ibunya bertanya dengan mata penuh takut, Arkan merasa tenaga untuk menyenangkan orang yang hanya ingin membawa cerita ke warung depan sudah habis.

“Kalau ikut senang, cukup doakan saja, Bu,” ucap Arkan pelan. “Naya masih capek. Ibu juga baru tenang.”

Bu Lilis melirik Bu Sari, seolah mencari pembelaan.

Bu Sari tampak serba salah. Tangannya masih memegang salah satu berkas Naya, sementara wajahnya menunjukkan kebiasaan lama seorang ibu yang tidak ingin bermasalah dengan tetangga. Hidup di gang kecil memang seperti itu. Satu kalimat bisa menjadi bahan obrolan seminggu. Satu sikap dingin bisa berubah menjadi cerita bahwa keluarga itu sekarang sombong.

Namun sebelum Bu Sari sempat bicara, Naya menunduk sambil memeluk mapnya lebih erat. Mata gadis itu masih sembap. Ia jelas tidak ingin menjadi pusat pertanyaan.

Melihat itu, Arkan semakin yakin.

Ia tidak boleh lagi membiarkan keluarganya terus menjelaskan luka mereka kepada orang lain hanya agar terlihat sopan.

Di dalam kepalanya, sistem berbicara dengan nada tenang.

[Subjek Bu Lilis menunjukkan pola interogasi sosial.]

[Motif utama: rasa ingin tahu.]

[Motif sekunder: potensi penyebaran informasi.]

[Rekomendasi: akhiri percakapan.]

Arkan menahan napas pelan.

Untuk kali ini, rekomendasi sistem masuk akal.

Bu Lilis tertawa kecil, meskipun tidak ada yang lucu. “Wah, sekarang Arkan sudah dewasa, ya. Bicaranya juga sudah tegas.”

“Belajar dari keadaan, Bu.”

Kalimat itu membuat Bu Lilis kembali terdiam.

Tidak ada nada tinggi di suara Arkan. Justru karena itu, kalimatnya terasa lebih sulit dibantah. Ia tidak menyerang, tidak membentak, tidak mempermalukan. Ia hanya menutup pintu yang selama ini terlalu sering dibuka orang lain tanpa izin.

Bu Sari akhirnya berdiri dari kursi.

“Lis, nanti kita cerita lagi, ya. Naya baru pulang. Anak-anak juga belum makan.”

Bu Lilis seperti ingin bertahan beberapa detik lagi, tetapi suasana ruang tamu sudah tidak memberinya tempat. Matanya sekali lagi turun ke map Naya, lalu ke wajah Arkan. Di sana masih ada rasa penasaran yang belum puas.

“Ya sudah,” katanya sambil mundur setengah langkah. “Syukurlah kalau berkasnya sudah keluar. Semoga Naya bisa lanjut kuliah.”

“Aamiin,” jawab Bu Sari pelan.

Naya hanya mengangguk kecil.

Arkan tidak mengatakan apa-apa.

Bu Lilis akhirnya keluar dari rumah. Sandalnya terdengar menyeret pelan di teras, lalu suaranya menghilang ke arah gang. Namun Arkan tahu perempuan itu tidak akan benar-benar pergi membawa tangan kosong. Ia datang untuk mencari cerita, dan meskipun tidak mendapat jawaban lengkap, justru ketidakjelasan itu bisa menjadi bahan gosip yang lebih panjang.

[Sistem mencatat: rumor tidak dapat dicegah sepenuhnya.]

[Rekomendasi: kendalikan narasi sebelum narasi dikendalikan orang lain.]

Arkan menutup pintu perlahan.

“Kendalikan narasi?” batinnya.

[Benar.]

[Jika keluarga Tuan Rumah mengalami perubahan tanpa penjelasan yang cukup, lingkungan akan membuat penjelasan sendiri.]

“Dan penjelasan mereka pasti buruk?”

[Mayoritas manusia lebih menyukai dugaan buruk karena terasa lebih menarik.]

Arkan terdiam.

Sistem menyebalkan, tetapi semakin lama, ia semakin sulit membantah beberapa analisisnya.

Bu Sari menghela napas dari belakang. “Maaf, Kan. Bu Lilis memang begitu. Ibu tadi tidak sempat menutup pintu.”

“Tidak apa-apa, Bu.”

Arkan berbalik. Ia melihat ibunya masih berdiri dengan wajah cemas. Bukan hanya karena Bu Lilis. Lebih dari itu. Ada kekhawatiran yang lebih dalam, kekhawatiran seorang ibu yang merasa anaknya sedang menyimpan sesuatu terlalu besar untuk ditanggung sendirian.

Naya duduk kembali di kursi, mapnya masih di pangkuan. Ia tampak senang, takut, bingung, dan lelah sekaligus.

Rumah kecil itu kembali hening.

Di luar, suara Bu Lilis terdengar samar menyapa seseorang di gang. Arkan tidak bisa menangkap isi pembicaraannya, tetapi ia cukup tahu bahwa nama keluarga mereka mungkin sudah mulai bergerak dari satu telinga ke telinga lain.

Ia berjalan ke meja kecil, menaruh helmnya, lalu duduk perlahan. Kursi kayu itu kembali berderit.

[Sistem menahan komentar tentang kursi.]

Arkan memejamkan mata sebentar.

“Terima kasih.”

[Sistem hanya menahan komentar selama tiga puluh detik.]

Arkan membuka mata dengan tatapan kosong.

Ternyata ia terlalu cepat berterima kasih.

Bu Sari duduk di hadapannya. “Kan, Ibu tidak akan memaksa kamu cerita semua sekarang. Tapi Ibu perlu tahu satu hal.”

Arkan menatap ibunya.

“Uang itu benar-benar aman?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi bobotnya lebih berat daripada angka tiga triliun di layar ponselnya. Bagi ibunya, aman bukan hanya soal legal. Aman berarti tidak ada orang jahat datang. Aman berarti Arkan tidak dikejar utang. Aman berarti mereka tidak perlu lari dari rumah. Aman berarti makanan yang masuk ke mulut mereka tidak dibayar dengan bahaya.

Arkan menatap mata ibunya lama.

Lalu ia mengangguk.

“Aman, Bu.”

Bu Sari menggenggam ujung bajunya. “Ibu mau percaya. Tapi kamu juga harus paham, tiba-tiba kamu bisa bayar tunggakan sebesar itu… Ibu kaget.”

“Naya juga,” gumam Naya pelan.

Arkan menoleh kepada adiknya. Naya cepat-cepat menunduk, seolah takut ucapannya menyakiti.

Arkan tidak marah.

Justru ia lega mereka masih bertanya.

Itu artinya mereka belum silau. Belum berubah. Mereka masih keluarga yang sama—keluarga kecil yang terlalu lama hidup hati-hati sampai kabar baik pun harus diperiksa berulang kali sebelum dipercaya.

“Aku juga kaget,” ucap Arkan jujur.

Bu Sari dan Naya menatapnya.

Arkan menghela napas. “Yang bisa Arkan bilang sekarang, uang itu legal. Masuk rekening Arkan sendiri. Bukan pinjaman. Bukan dari orang jahat. Tapi ada beberapa hal yang belum bisa Arkan jelaskan dengan rapi.”

[Sistem mendeteksi peningkatan kualitas jawaban.]

[Catatan: masih kurang meyakinkan, tetapi lebih baik daripada alasan proyek setengah matang.]

Arkan mengabaikan sistem.

Bu Sari menatapnya lama. “Kamu sedang kerja sama orang besar?”

Arkan hampir menjawab tidak, tetapi ia berhenti.

Sistem.

Otoritas aset.

Rekening legal.

Perusahaan investasi yang entah bagaimana kini bisa ia kendalikan.

Jika semua itu bukan “orang besar”, maka apa?

“Mungkin bisa dibilang begitu,” jawabnya hati-hati.

Naya langsung menegakkan punggung. “Orang besar itu baik?”

Arkan terdiam sebentar.

Di kepalanya, sistem berbicara.

[Sistem bukan orang.]

[Sistem juga tidak menggunakan kategori moral manusia secara sederhana.]

[Sistem efektif.]

Arkan menahan dorongan untuk memijat pelipis.

“Sejauh ini membantu,” jawabnya akhirnya.

Naya tampak ingin bertanya lagi, tetapi Bu Sari menyentuh tangan putrinya pelan, memberi isyarat agar tidak mendesak terlalu jauh.

Arkan melihat itu.

Rasa bersalah kembali datang.

Mereka memberinya ruang, padahal ia tahu ruang itu lahir dari kepercayaan. Kepercayaan yang tidak boleh ia rusak.

Ia meraih ponselnya di saku, menatap layarnya sebentar, lalu mengambil keputusan kecil.

Bukan membuka saldo triliunan.

Bukan menunjukkan sistem.

Tapi cukup untuk memberi mereka pegangan.

“Bu, Naya,” ucapnya pelan. “Mulai sekarang, ada beberapa hal yang akan berubah. Mungkin tidak langsung besar. Arkan juga tidak mau kita berubah mendadak sampai orang-orang curiga. Tapi Arkan ingin kita berhenti hidup terlalu takut.”

Bu Sari diam.

Naya memeluk mapnya.

Arkan melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Utang-utang kecil akan Arkan lunasi. Biaya obat Ibu jangan ditunda lagi. Naya daftar kampus yang bagus. Dan soal rumah…”

Ia berhenti sejenak.

Rumah kecil itu seperti ikut menahan napas.

Bu Sari langsung tampak gelisah. “Rumah kenapa?”

“Bukan sekarang,” jawab Arkan cepat, menyadari kekhawatiran ibunya. “Tapi nanti kita cari tempat yang lebih nyaman. Tidak harus mewah. Tidak harus jauh. Yang penting aman, bersih, dan Ibu bisa istirahat tanpa khawatir kalau hujan.”

Bu Sari menunduk.

Jari-jarinya bergerak di atas pangkuan. Ia melihat sekeliling ruang tamu kecil itu dengan mata yang sulit dibaca. Rumah ini memang sederhana, bahkan terlalu sempit. Tapi di tempat inilah mereka bertahan setelah banyak hal berat. Di tempat ini, Arkan belajar menjadi dewasa terlalu cepat. Naya belajar di dekat kipas tua. Bu Sari menahan sakit sambil tetap memasak.

Rumah ini tidak hanya sempit.

Rumah ini juga menyimpan kenangan.

“Kan,” suara Bu Sari pelan, “Ibu tahu rumah ini banyak kurangnya. Tapi jangan terburu-buru. Orang kalau tiba-tiba berubah, nanti banyak yang bicara.”

“Justru karena itu Arkan akan pelan-pelan.”

[Sistem mendeteksi pernyataan kontradiktif.]

[Tuan Rumah mengatakan pelan-pelan, tetapi sedang memiliki akses aset Rp25.000.000.000.000.]

[Skala pelan-pelan Tuan Rumah perlu didefinisikan ulang.]

Arkan tidak tahu apakah harus tertawa atau kesal.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!