NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KESALAHAN FATAL

Keheningan di dalam ruang rapat itu terasa begitu mencekik, seolah-olah pasokan oksigen baru saja disedot keluar. Seluruh mata kini tertuju pada Primus, yang masih berdiri dengan keanggunan seorang bangsawan sejati. Sementara itu, Victor, yang tadinya datang dengan dada membusung, mulai merasakan tetesan keringat dingin merayap turun di pelipisnya. Ada sesuatu yang salah, namun ia tidak bisa meraba di mana letak lubang dalam jebakannya.

Victor berusaha memaksakan sebuah senyum sinis agar otoritasnya tidak runtuh. "Apa maksud Anda dengan seseorang takut pada Anda, Tuan Muda? Jangan biarkan imajinasi Anda berlari terlalu jauh."

Primus tidak segera menyahut. Jemarinya yang panjang dan ramping membalik halaman demi halaman dokumen audit yang tadi dilemparkan Victor. Gerakannya sangat tenang, seolah ia sedang membaca buku puisi di taman, bukan sebuah dokumen eksekusi karier.

*"Dia menggunakan format standar divisi tiga,"* batin Primus, matanya menangkap detail terkecil pada margin kertas. *"Adrian terlalu meremehkanku. Dia pikir aku tidak pernah mempelajari protokol birokrasi rahasia milik Kakek."*

Primus menutup dokumen itu dengan bunyi 'puk' yang pelan namun terdengar seperti ledakan di telinga Victor.

"Victor," panggil Primus lembut.

"Ya?"

"Sudah berapa lama kau mengabdi di tim audit pusat?"

Victor mengernyit, merasa terhina dengan pertanyaan yang dianggapnya sebagai basa-basi itu. "Tiga tahun. Dan dalam tiga tahun itu, saya telah menjatuhkan banyak direktur yang tidak kompeten."

"Tiga tahun... waktu yang cukup lama," Primus melangkah mendekati Victor, membuat pria berkacamata itu refleks menegakkan punggungnya. "Kalau begitu, kau seharusnya sangat paham mengenai 'Aturan Sembilan' dalam protokol otorisasi keluarga Aristokrat, bukan?"

Marcus, yang sejak tadi menahan napas, mulai memiringkan kepalanya, mencoba mengingat peraturan kuno yang jarang disebutkan itu. Para pegawai lain di ruangan itu pun mulai saling pandang, merasakan atmosfer yang berbalik arah.

Victor tertawa kecil, meski suaranya terdengar agak sumbang. "Tentu saja saya tahu. Setiap dokumen kami sah secara hukum keluarga."

"Bagus jika kau tahu," Primus mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi, membiarkan cahaya lampu kristal menyinari segelnya. "Kalau begitu, jelaskan padaku dan pada Direktur Marcus, kenapa surat investigasi tingkat tinggi ini tidak memiliki kode otorisasi tingkat dua?"

Senyum Victor langsung membeku di wajahnya. Pupil matanya mengecil sekejap.

"Setiap investigasi cabang utama wajib memiliki dua kode validasi digital yang tertanam di balik segel lilin," lanjut Primus, suaranya kini terdengar seperti hakim yang membacakan vonis. "Satu dari Tim Audit, dan satu lagi dari Dewan Pengawas independen. Tapi dokumen ini... hanya memiliki satu."

Victor dengan cepat menyahut, suaranya naik satu oktav. "Itu... itu hanya kesalahan administrasi teknis! Kantor pusat sedang sibuk karena suksesi!"

"Kesalahan administrasi?" Primus tertawa, sebuah tawa dingin yang tidak mencapai matanya. Ia membuka halaman terakhir tepat di depan wajah Victor. "Lalu bagaimana dengan tanda tangan di lembar pengesahan ini?"

Victor mulai berkeringat deras. Napasnya menjadi pendek-pendek.

Primus menunjuk sebuah goresan tinta di sana. "Kepala Dewan Pengawas saat ini adalah Hector Lawrence. Namun, tanda tangan di sini menggunakan model *L-Script* lama yang sudah dipensiunkan sejak dua tahun lalu karena risiko pemalsuan. Kau ingin mengatakan bahwa Kepala Dewan Pengawas lupa cara menandatangani dokumen penting?"

Marcus langsung menyambar dokumen itu dari tangan Primus. Ia membacanya dengan kecepatan tinggi, dan seketika wajahnya berubah dari pucat menjadi merah padam karena amarah.

"Ini... ini benar-benar tidak mungkin!" seru Marcus. "Ini palsu! Victor, kau berani membawa dokumen sampah ini ke kantorku?!"

Ruangan itu meledak dalam kegemparan. Para pegawai yang tadi ketakutan kini mulai menatap Victor dengan pandangan penuh kemarahan dan kecurigaan. Jika laporan investigasi itu terbukti bodong, maka tindakan tim audit sejak pagi tadi adalah tindakan ilegal yang bisa dikategorikan sebagai upaya sabotase internal.

"Tidak! Itu tidak membuktikan apa-apa! Mungkin Tuan Hector sedang ingin menggunakan tanda tangan lamanya!" Victor berteriak panik, langkahnya mundur hingga membentur meja rapat.

Primus menatapnya dengan tatapan datar yang mematikan. "Aku belum selesai, Victor."

Deg. Jantung Victor serasa berhenti berdetak.

*"Tatapan ini... ini bukan tatapan seorang kutu buku,"* batin Victor dengan ngeri. *"Kenapa aku merasa seperti sedang berhadapan dengan Tuan Besar Valerius di masa mudanya? Tekanan ini... terlalu berat."*

"Nomor registrasi dokumen ini," kata Primus, suaranya kembali rendah namun mengintimidasi. "A-0098-X. Itu juga palsu."

"Bagaimana kau bisa begitu yakin, hah?!" tantang Victor dengan sisa-sisa keberaniannya.

Primus meletakkan kembali dokumen itu ke meja dengan gerakan yang sangat rapi. "Karena nomor registrasi A-0098-X adalah milik laporan akuisisi perusahaan properti di Distrik Selatan yang kita beli tiga bulan lalu. Aku menghafal seluruh nomor registrasi aset keluarga dalam sepuluh tahun terakhir."

Marcus sampai kehilangan kata-kata. Ia menatap Primus seolah melihat dewa memori. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengingat deretan kode registrasi yang membosankan seperti itu di luar kepala?

Victor mundur selangkah lagi, wajahnya kini sepucat kertas. Situasi yang tadi ia kendalikan sepenuhnya, kini berbalik menjadi lubang kubur bagi kariernya sendiri.

"Jadi," kata Primus santai, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku penasaran. Apakah kau datang ke sini atas inisiatif bodohmu sendiri, atau kau dikirim oleh seseorang yang terlalu panik hingga melakukan kesalahan seceroboh ini?"

Victor menggertakkan gigi, wajahnya memerah karena malu dan takut. "Aku... aku tidak wajib menjawab pertanyaanmu!"

"Tentu saja tidak wajib," Primus mengangguk sopan. "Tapi setelah aku melaporkan pemalsuan dokumen dan percobaan sabotase aset keluarga ini kepada Dewan Tetua sepuluh menit lagi... aku sangat yakin kau akan memohon untuk diberikan kesempatan menjawab."

Kalimat itu bagaikan palu godam yang menghantam harga diri Victor. Pria itu menyadari satu hal: jika kasus ini sampai ke tangan Dewan Tetua, ia tidak hanya akan dipecat, tapi ia bisa 'dihilangkan' dari peredaran karena telah mencoreng nama baik sistem audit keluarga.

"Sudahlah," Primus berbalik menuju pintu, seolah bosan dengan permainan itu. "Lagipula, aku sudah mendapatkan semua informasi yang aku butuhkan dari kedatanganmu yang malang ini."

Victor mengangkat kepalanya yang tertunduk, matanya bergetar. "Apa... apa maksud Anda?"

Primus berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit dengan senyum misterius. "Seseorang begitu terburu-buru menghalangiku bahkan sebelum aku mulai duduk di kursi ini. Itu berarti... potensi Cabang Timur ini jauh lebih besar dan lebih 'menarik' daripada yang dilaporkan di atas kertas. Terima kasih telah mengonfirmasi bahwa aku berada di jalan yang benar, Victor."

Setelah mengatakan itu, Primus keluar dari ruang rapat dengan langkah yang mantap. Ia meninggalkan kehancuran total bagi tim audit di belakangnya.

"BERSAMBUNG"

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!