Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENTUHAN YANG DISENGAJA
Aroma essential oil bergamot dan kayu cedar yang menguar dari mesin diffuser di lobi utama PT Utama Karya Propertindo selalu berhasil memberikan kesan bahwa tempat ini adalah episentrum profesionalisme yang tenang. Dinding-dindingnya dilapisi marmer travertin Italia, memantulkan cahaya lampu LED kuning hangat yang dirancang untuk membuai para calon investor. Di sinilah Aris membangun takhtanya, sebuah kerajaan kecil yang didirikan di atas fondasi beton, baja, dan kepatuhan mutlak dari seorang wanita bernama Kirana.
Namun, sejak dua minggu lalu, suasana lobi itu mengalami sedikit pergeseran atmosfer. Kirana bukan lagi sosok istri yang hanya muncul setahun sekali saat acara gala dinner perusahaan. Ia mulai sering hadir di sana, tepat di jam makan siang, membawa paper bag berlogo restoran Jepang premium atau kotak bekal kaca yang ia siapkan sendiri.
Bagi para staf administrasi dan sekretaris depan, kehadiran Kirana adalah simbol dari kesetiaan seorang istri shalihah yang mendukung suaminya. Mereka akan menyapa Kirana dengan senyuman penuh hormat, membukakan pintu akses VIP, dan berkata, "Pak Aris sedang ada tamu di dalam, Bu, tapi beliau pasti senang Ibu datang."
Mereka tidak tahu bahwa di balik senyuman anggun Kirana, terdapat sebuah perhitungan matematis yang dingin. Kirana tidak pernah datang tanpa rencana. Ia selalu memastikan jadwal Aris melalui akses kalender digital bersama yang sengaja tidak ia hapus dari ponsel lamanya. Ia tahu persis kapan Aris sedang berada di ruangannya, kapan Aris sedang keluar untuk "makan siang bisnis" dengan Sarah, dan yang paling penting: kapan Bimo sedang berada di ruang kerjanya sendirian.
Hari Kamis itu, hujan lokal membasahi kaca-kaca besar gedung perkantoran. Kirana melangkah keluar dari lift lantai 12 dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit lambat. Ia mengenakan gaun terusan midi berwarna hijau zamrud yang mempertegas kulitnya yang bersih, dipadukan dengan blazer hitam yang tersampir di bahu. Di tangannya, ia membawa dua kotak bento premium.
"Eh, Bu Kirana," sapa siska, sekretaris Aris, dengan wajah agak gugup. Siska melirik ke arah pintu ruangan Aris yang tertutup rapat. "Pak Aris... anu, Bu, sedang ada rapat internal yang sangat mendesak dengan Bu Sarah dari tim investor. Katanya tidak bisa diganggu sampai jam dua siang nanti."
Kirana tidak menunjukkan kilatan amarah sedikit pun. Ia justru melembutkan tatapan matanya, membiarkan seulas senyum tipis yang sarat akan kekecewaan yang tertahan muncul di bibirnya. Sebuah akting yang telah ia latih di depan cermin penthouse-nya selama berjam-jam.
"Oh, begitu ya, Siska? Rapat internal lagi?" Kirana menghela napas pendek, sengaja membiarkan bahunya sedikit merosot untuk menunjukkan beban emosional. "Padahal saya sengaja memasak makanan kesukaannya hari ini. Ya sudah, tidak apa-apa. Saya tidak mau mengganggu profesionalisme Aris."
Kirana membalikkan badannya, namun tidak berjalan menuju lift. Ia melangkah ke arah koridor sebelah kanan, menuju sebuah ruangan dengan pintu kaca buram bertuliskan Chief Legal Officer.
Tanpa mengetuk terlalu keras, Kirana mendorong pintu itu perlahan. Di dalam, Bimo sedang duduk di balik meja kayu besarnya, dikelilingi oleh tumpukan berkas perkara dan layar monitor yang menampilkan draf kontrak. Begitu melihat sosok Kirana, Bimo langsung menegakkan posisi duduknya. Kacamata minusnya diturunkan sedikit ke pangkal hidung.
"Kirana? Ada apa? Aris tidak ada di ruangannya?" tanya Bimo, suaranya langsung bergeser dari nada formal seorang pengacara menjadi nada penuh perhatian seorang pria.
"Aris sedang sibuk, Bim. Rapat penting dengan... Sarah," ucap Kirana. Ia sengaja memberikan jeda satu detik sebelum menyebut nama Sarah, dengan nada suara yang bergetar halus seolah menahan rasa sakit yang teramat sangat. "Boleh aku makan siang di sini? Aku membawa makanan terlalu banyak. Sayang kalau dibuang."
Bimo menatap wajah Kirana. Di bawah pencahayaan lampu ruangan yang agak redup, ia bisa melihat gurat-gurat kelelahan psikologis di wajah wanita itu. Lingkar hitam tipis di bawah matanya yang coba ditutupi dengan concealer tidak luput dari pandangan Bimo yang jeli.
"Tentu, silakan, Kirana. Duduklah di sofa," Bimo berdiri dari kursi kerjanya, melepas jas abu-abunya dan menyampirkannya di sandaran kursi, lalu berjalan mendekati sofa kulit di sudut ruangan.
Kirana menata kotak-kotak bento itu di atas meja kaca. Saat Bimo duduk di sampingnya—dengan jarak sekitar tiga puluh sentimeter—Kirana memulai manipulasinya. Ia tidak langsung membicarakan soal pemindahan aset atau strategi hukum. Ia memilih untuk menyerang sisi psikologis Bimo terlebih dahulu.
"Kamu tahu, Bim..." Kirana memulai pembicaraan sambil menyerahkan sepasang sumpit bambu kepada Bimo. "Terkadang aku merasa menjadi orang asing di rumahku sendiri. Enam tahun menikah, tapi beberapa bulan terakhir ini aku merasa tidak lagi mengenali pria yang tidur di sampingku."
Bimo menghentikan gerakannya yang hendak mengambil potongan sashimi. Ia menatap Kirana dengan saksama. "Apa Aris... memperlakukanmu dengan buruk di rumah?"
Kirana menggeleng pelan, sebutir air mata sengaja ia biarkan mengambang di pelupuk matanya, merefleksikan cahaya lampu. "Tidak. Dia tidak memukulku. Dia tetap berbicara dengan manis. Tapi manisnya terasa... kosong, Bim. Seperti sebuah naskah yang dibacakan oleh seorang aktor yang sudah bosan dengan perannya. Dia sering pulang larut malam, wangi tubuhnya berubah, dan setiap kali aku mencoba menyentuh ponselnya untuk sekadar melihat jam, dia langsung panik seolah aku sedang memegang bom."
Kirana menunduk, membiarkan rambut pendeknya jatuh menutupi sebagian wajahnya. "Aku merasa sangat kesepian, Bimo. Di rumah semewah itu, aku hanya ditemani oleh dinding-dinding bisu. Jika bukan karena kamu... aku tidak tahu kepada siapa lagi aku bisa bersandar di dunia ini."
Kata-kata itu seperti siraman minyak di atas api yang membakar dada Bimo. Rasa hormat yang selama bertahun-tahun ia pelihara sebagai seorang sahabat kini terkikis habis oleh rasa iba yang mendalam, bercampur dengan kemarahan yang membuncah terhadap Aris. Bagaimana bisa Aris menyia-nyiakan wanita seindah, secerdas, dan setulus Kirana demi ego sesaat bersama Sarah?
"Aris benar-benar sudah buta," desis Bimo, suaranya berat oleh emosi. "Dia tidak tahu apa yang dia miliki, Kirana. Kamu tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang... yang menghargaimu setiap detik dalam hidupnya."