Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
“Mereka mulai berdatangan, Ayah,” ucap Gandraka pelan.
“Ayah sudah tahu,” jawab Ki Bagaskara tenang. “Namun jangan gusar. Kau mengerti?”
“Tidak, Ayah,” sahut Gandraka tegas. “Aku tidak gusar sedikit pun.”
“Bagus.”
Tak lama kemudian, Nyai Lodra terlihat berjalan dari kejauhan. Langkahnya cepat namun tetap anggun. Saat tiba di halaman, pandangannya langsung tertuju pada bekas ledakan segel yang masih menyisakan jejak hitam di tanah.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Lingsir Ireng,” jawab Ki Bagaskara singkat.
Nyai Lodra menghela napas pelan. “Hm… mereka mulai bermunculan.”
Ia lalu menoleh ke arah Gandraka, menatapnya lekat.
“Kau tidak apa-apa, Gandraka?”
“Aku baik, Ibu.”
Nyai Lodra mendekat. Dengan tenang, ia melepas tusuk konde dari sanggulnya. Benda itu tampak sederhana, namun memancarkan aura halus yang tak biasa.
Perlahan, ia menusukkan ujung konde itu ke beberapa titik di punggung Gandraka.
Sentuhan itu ringan—namun tepat.
Tak lama kemudian, asap hitam tipis membumbung dari ubun-ubun Gandraka, berpilin pelan sebelum akhirnya menghilang terbawa angin.
“Kau keras kepala, Gandraka,” ucap Nyai Lodra, suaranya lembut namun tegas. “Sudah berapa kali Ibu katakan… jangan menatap terlalu lama ke dalam sumur tua itu.”
Gandraka tersenyum tipis. Matanya tetap tenang, namun ada kilat kecil yang sulit dimengerti.
“Mereka selalu menantangku, Bu,” jawabnya. “Dan aku… suka melihat mereka musnah.”
Nyai Lodra terdiam sejenak. Tatapannya berubah—bukan marah, melainkan khawatir yang ditahan rapat.
Sementara itu, Ki Bagaskara berdiri tanpa berkata-kata. Matanya menatap ke arah Bukit Wengker, seolah membaca sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.
Hari itu terasa tenang.
Namun di balik ketenangan itu… sesuatu telah mulai bergerak.
Dan memang… sesuatu yang lebih kejam dan licik tengah mengawasi mereka dari balik kegelapan hutan. Tak terlihat, tak bersuara—hanya menunggu. Menunggu saat keluarga itu lengah.
“Aku merasakannya, Ayah,” ucap Gandraka pelan, matanya masih tertuju ke arah perbukitan. “Dia sudah mengawasi kita sejak lama. Apakah dia… bagian dari masa lalu Ayah dan Ibu?”
Ki Bagaskara terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Ya, anakku,” katanya lirih. “Seseorang yang seharusnya telah lama musnah. Namun rupanya… ia kembali, membawa luka yang belum sempat terbalaskan.”
Gandraka mengepalkan tangannya perlahan.
“Aku ingin menghadapinya. Dia terus mengganggu kita, Ayah.”
Nyai Lodra kemudian duduk di samping Gandraka. Tangannya yang lembut mengusap rambut anaknya, menenangkan gejolak yang mulai tumbuh.
“Belum saatnya, Nak,” ucapnya pelan, namun tegas. “Biarkan ia bermain untuk sekarang. Kita akan menanggapi setiap langkahnya… tanpa tergesa.”
Ia menatap dalam ke mata Gandraka.
“Sementara itu, kau… teruslah berlatih. Perkuat dirimu.”
Gandraka terdiam, lalu perlahan memeluk ibunya. Pelukan itu erat, seolah menyimpan sesuatu yang tak ingin ia lepaskan.
“Aku tidak ingin kehilangan Ayah dan Ibu,” bisiknya.
Sejenak ia terdiam, lalu suaranya berubah—lebih dalam, lebih dingin.
“Tapi jika itu terjadi…”
Ia mengangkat wajahnya, menatap ke arah Bukit Wengker yang berdiri diam di kejauhan.
“…aku akan membakar bukit itu hingga dia keluar dengan sendirinya.”
Angin berembus pelan.
Namun kali ini… tidak membawa ketenangan.
Malam kian larut. Udara menjadi lebih dingin, dan suara alam perlahan mereda, menyisakan sunyi yang terasa berat.
Di dalam rumah, Gandraka telah terlelap pulas di samping ibunya. Nafasnya teratur, wajahnya kembali seperti anak seusianya—tenang, tanpa beban.
Sementara itu, di pendapa, Ki Bagaskara masih terjaga. Ia duduk bersila, punggung tegak, matanya sesekali menatap ke arah gelap perbukitan di kejauhan. Di tangannya, sebatang kawung menyala redup, asapnya melingkar perlahan, naik dan menghilang di udara malam.
Di sampingnya, secangkir kopi hitam panas mengepulkan uap tipis. Aromanya pahit, pekat—seolah menyatu dengan suasana yang sunyi namun tak sepenuhnya damai.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat dari arah jalan setapak. Irama langkah itu diiringi bunyi kentongan yang dipukul pelan—tanda ronda malam masih berjalan.
Ki Bagaskara menoleh.
Ternyata Pak Lurah datang bersama dua warga desa.
“Ah, Ki Bagas… belum tidur rupanya. Kebetulan sekali,” sapa Pak Lurah sambil tersenyum.
“Oh, Pak Lurah. Silakan duduk,” jawab Ki Bagaskara ramah. “Saya akan masuk sebentar, membuatkan kopi.”
“Tidak perlu repot, Ki,” sahut Pak Lurah, mengangkat tangan menahan. “Kami hanya lewat, sekalian ingin berbincang sebentar. Meski rumahmu terpencil, tetap saja masih bagian dari desa kami. Sudah sewajarnya kami berkunjung… sekadar menanyakan kabar.”
Ki Bagaskara mengangguk pelan. “Kalau begitu, silakan.”
Ia kembali duduk di pendapa, menghadapi tamunya.
“Bagaimana kabar keluargamu, Ki? Semua sehat?” tanya Pak Lurah.
“Hingga saat ini, semua baik, Ki Lurah,” jawab Ki Bagaskara tenang. “Tanah di sini juga subur. Apa pun yang kami tanam… tumbuh dengan mudah.”
“Syukurlah…” Pak Lurah mengangguk, lalu melanjutkan, “Lalu bagaimana dengan anakmu, Gandraka?”
“Ia pun sehat, Ki Lurah.”
“Ya, ya… anak itu memang luar biasa,” ucap Pak Lurah sambil tersenyum samar. “Entah ilmu apa yang dimilikinya, tapi warga desa sangat berterima kasih padanya.”
Ucapan itu membuat Ki Bagaskara terdiam.
Alisnya sedikit berkerut.
“Luar biasa? Apa maksudnya, Ki Lurah?” tanyanya perlahan. “Ilmu apa yang Anda maksud?”
Pak Lurah kini justru tampak heran.
“Lho… apa kau tidak tahu?” ia menatap Ki Bagaskara lebih dalam. “Ah, jangan berpura-pura, Ki.”
Ki Bagaskara menggeleng pelan. “Saya justru terkejut dengan ucapan Ki Lurah. Anak saya… seperti anak-anak lainnya. Biasa saja.”
Pak Lurah terdiam sejenak, lalu menghela napas.
“Hm… saya jadi bingung,” gumamnya. “Kupikir kau mengetahui kemampuan anakmu.”
Ia sedikit mendekat, menurunkan suaranya.
“Tentu kau tahu, beberapa hari terakhir ini sawah kita diserang hama wereng.”
Ki Bagaskara mengangguk. “Itu saya tahu, Ki Lurah. Tapi belakangan hama itu seperti menghilang. Lalu… apa hubungannya dengan anak saya?”
Pak Lurah menatapnya tajam.
“Ki Bagaskara… justru hilangnya hama wereng itu adalah karena anakmu.”
Suasana mendadak hening.
“Beberapa warga melihatnya,” lanjut Pak Lurah. “Gandraka berdiri sendirian di pinggir sawah… lalu bersiul.”
Ia berhenti sejenak, seolah memastikan kata-katanya.
“Hanya dengan satu siulan… seluruh wereng itu jatuh dan mati.”
Dua warga di belakangnya mengangguk pelan, membenarkan.
“Awalnya kami kira kebetulan. Tapi ternyata tidak,” sambung Pak Lurah. “Ia melakukannya diam-diam, seolah tak ingin diketahui. Namun tetap saja… ada yang melihat.”
Pak Lurah menatap langsung ke mata Ki Bagaskara.
“Dan suatu hari… aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.”
Nada suaranya berubah pelan, nyaris seperti berbisik.
“Itu… bukan hal biasa, Ki.”
Ki Bagaskara terdiam cukup lama. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya mengeras—menyimpan sesuatu yang tak ingin terlihat.
Ia tidak menyangka… Gandraka telah bertindak seceroboh itu.
Bagi orang lain, kabar tersebut mungkin terdengar seperti anugerah. Namun bagi Ki Bagaskara, itu justru pertanda buruk—sebuah batas yang mulai terlewati.
Ini bukan kabar gembira.
Ini adalah awal dari sesuatu yang selama ini ia coba sembunyikan.
Sebuah mimpi buruk… yang perlahan berubah menjadi kenyataan.