Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampus Elit & Bayang-bayang Masa Lalu
Tiga bulan telah berlalu begitu saja, membawa banyak perubahan dan kisah di dalamnya. Kini, masa libur panjang telah usai, dan hari itu adalah hari pertama mereka kembali menempuh pendidikan di kampus bergengsi yang menjadi kebanggaan kota. Udara pagi terasa segar, langit cerah tanpa awan, seolah ikut merayakan kembalinya para mahasiswa ke bangku kuliah.
Di gerbang utama kampus yang megah dan luas itu, terlihat tiga sosok muda yang berjalan beriringan dengan penuh semangat. Zio berjalan di tengah, sementara Ziva dan Zea berjalan di sisi kanan dan kirinya. Dengan senyum lebar yang tak lepas dari bibirnya, Zio dengan santai merangkul kedua bahu saudarinya dengan erat, seolah sudah bertahun-tahun tidak bertemu padahal kemarin sore saja mereka masih makan malam bersama satu meja.
"Wah, rasanya kangen banget lho sama kalian! Tiga bulan lamanya kita jarang bareng-bareng begini. Rasanya ada yang hilang gitu aja kalau nggak ada kalian di sebelahku," ucap Zio dengan nada yang sangat mendramatisir, matanya terpejam seolah sedang merasakan rasa rindu yang mendalam sekali.
Zea yang berjalan di sebelah kanan langsung menepuk lengan kakaknya itu dengan gemas, wajahnya tertawa geli mendengar ucapan berlebihan itu.
"Heleh... Kak Zio ini, bisa saja ngomongnya. Padahal kan di rumah juga ketemu terus, makan bareng, tidur juga di atap yang sama. Lebay banget sih Kak, kayak kita terpisah benua saja," seru Zea tak kalah lantang, matanya berbinar lucu.
Zio malah semakin mempererat rangkulannya, menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah serius.
"Beda, Zea, beda rasanya! Di rumah kan kita sibuk masing-masing, aku ada urusan kantor, kalian juga sibuk. Tapi di sini? Kita satu kampus, satu lingkungan, hampir 24 jam sehari kita bakal bareng terus. Itu rasanya beda banget, rasanya kita makin kompak dan tak terpisahkan," jawab Zio tak mau kalah, membuat suasana pagi itu terasa hangat dan penuh canda.
"Sudah, sudah... Jangan berisik di sini. Ayo cepetan masuk, nanti keburu telat kalau kelamaan ngobrolnya di depan pintu," potong Ziva sambil tersenyum tipis, namun nadanya tetap tegas. Ia mendorong bahu kedua saudarinya agar segera berjalan masuk ke gedung kampus.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan masuk ke dalam gedung, menuju ruang kelas pertama mereka hari itu. Suasana masih sangat damai, penuh suara tawa mahasiswa lain yang menyapa teman-temannya, aroma buku dan kertas, serta semangat belajar yang menguar di udara. Namun, kedamaian yang hangat itu ternyata hanya berlangsung sesaat.
Belum sempat mereka sampai di lorong menuju kelas, tiba-tiba suasana seketika berubah drastis. Dari arah pintu utama dan jalan masuk samping, puluhan sosok pria bertopeng, berpakaian seragam gelap, dan membawa senjata laras panjang melangkah masuk dengan cepat dan teratur. Mereka bergerak dengan sigap, memblokir setiap jalan keluar dan masuk, lalu menyergap seluruh area kampus. Teriakan kaget dan ketakutan mulai terdengar di mana-mana.
Naluri tajam Ziva yang sudah terlatih menghadapi bahaya sejak lama langsung berteriak keras di benaknya. Tanpa berpikir dua kali, tangannya refleks mencengkeram lengan kedua saudarinya, menarik mereka paksa berbelok ke arah koridor samping yang lebih sepi, lalu mendorong mereka masuk ke balik tumpukan bangku dan lemari besar di sudut ruangan, tempat yang cukup aman dan tersembunyi.
"Jangan bersuara, tetap di sini, jangan bergerak sembarangan!" bisik Ziva cepat dan tegas, matanya menatap tajam ke arah kerumunan orang-orang bersenjata itu.
"Semua orang diam di tempat! Jangan ada yang bergerak! Siapa saja yang berani lari atau berteriak, akan aku tembak langsung tanpa ampun!" teriak salah satu dari orang-orang itu dengan suara lantang dan mengancam. Ujung senjata panjang mereka berputar ke segala arah, membuat siapa pun yang melihatnya langsung ketakutan luar biasa.
Zio yang mengintip dari balik persembunyian itu hanya mendengus pelan, sama sekali tidak ada rasa takut sedikit pun di wajah tampannya, malah terlihat sedikit geli.
"Gila... Apa-apaan ini? Mau apa bawa-bawa senjata begini? Ini kampus bukan hutan belantara. Mereka kira ini perampokan bank atau apa sih?" gumam Zio santai, seolah sedang menonton pertunjukan saja.
Begitu pun dengan Zea. Gadis yang selama ini dianggap semua orang manja, lemah, dan polos itu kini duduk bersila dengan tenang, wajahnya datar, matanya mengamati situasi di luar dengan tatapan analitis yang dewasa. Tidak ada sedikit pun getaran ketakutan atau air mata di sana.
Melihat wajah cemas Ziva yang bersiap siaga melindungi mereka, Zea malah tersenyum lembut, lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan kakaknya itu, seolah sedang menenangkan anak kecil yang takut hantu.
"Tenang saja Kak Ziva... Kamu jangan takut ya. Ada aku sama Kak Zio di sini kok. Kamu pasti aman, kami nggak bakal biarin siapa pun nyakitin kamu," ucap Zea pelan namun sangat meyakinkan, seolah dialah pelindung terkuat di antara mereka bertiga.
Kalimat sederhana itu membuat mata Ziva seketika membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut tak terkira. Ia menatap wajah adiknya itu tak percaya. Selama ini, di matanya, Zea adalah gadis kecil yang manja, yang selalu butuh perlindungan, yang harus dijaga ketat agar tidak terluka. Tapi sekarang... di tengah situasi mencekam seperti ini, justru Zea yang berbicara menenangkannya, justru Zea yang bilang akan melindunginya?
"Kalian... kalian berdua... nggak takut?" tanya Ziva pelan, suaranya terdengar bingung dan kaget.
Zea dan Zio hanya saling pandang sesaat, lalu sama-sama melemparkan senyum tipis yang penuh makna ke arah Ziva. Senyum yang membuat Ziva semakin dilanda kebingungan besar. Ada sesuatu yang disembunyikan kedua adiknya ini, sesuatu yang belum ia ketahui.
Di depan sana, di area tengah kampus yang luas, terlihat ratusan mahasiswa—anak-anak orang terpandang, putra-putri bangsawan, dan pewaris kekayaan besar—sedang dikumpulkan dan disandera dengan ketat. Tangan mereka diikat, mulut ada yang disumpal, dan mereka semua tampak gemetar ketakutan. Memang, kampus ini dikenal sebagai tempat pendidikan khusus kalangan elit, di mana semua mahasiswanya adalah aset berharga bagi keluarga besar mereka.
"Lihat deh Kak... Mereka ini bukan preman jalanan biasa atau perampok asal-asalan," ucap Zea tiba-tiba, matanya menajam memperhatikan gerak-gerik para penyergap itu. "Lihat cara mereka bergerak, cara mereka memegang senjata, dan disiplin mereka. Semuanya terlatih, sangat rapi, dan terorganisir. Kalau cuma mau merampok uang atau barang, nggak bakal pakai senjata sebesar dan seberat itu, apalagi masuk ke sini. Sepertinya... mereka punya tujuan lain yang jauh lebih besar."
"Betul sekali. Mereka datang ke sini dengan rencana matang, sasaran mereka bukan harta, tapi mungkin kekuasaan, tekanan, atau sesuatu yang bisa mereka dapatkan dari keluarga-keluarga besar yang anaknya ada di sini," sambung Zio dengan wajah serius, ikut menganalisis situasi.
Ziva mengangguk pelan, namun pikirannya sedang berpacu cepat. Ia memicingkan matanya, mencoba melihat detail-detail kecil pada tubuh para penyergap itu yang terlihat samar dari kejauhan. Ia mengamati cara mereka berpakaian, gerak-gerik, hingga... tanda kecil yang tersembunyi di balik kerah baju salah satu dari mereka yang sedikit terbuka saat ia bergerak.
Jantung Ziva seolah berhenti berdetak sesaat. Darah di seluruh tubuhnya seketika mendidih bercampur rasa kaget yang luar biasa.
Di sana, di leher sisi kanan pria itu, terlukis tanda kecil berwarna hitam berbentuk lingkaran yang di dalamnya ada gambar garis cahaya menyilang. Itu adalah lambang khas, lambang yang sangat ia hafal, lambang yang dulu sering ia lihat dan ia hancurkan satu per satu di luar negeri.
Organisasi Cakrawala.
Kelompok kriminal raksasa yang berambisi menguasai wilayah dan kekuasaan, organisasi yang dulu sangat kuat, kejam, dan berbahaya. Organisasi yang beberapa tahun terakhir ini berhasil ia hancurkan, ia bantai habis-habisan bersama pasukannya di negeri seberang, hingga mereka dinyatakan musnah dan bubar. Ziva pikir ia sudah membereskan semuanya, ia pikir tidak ada yang tersisa.
Tapi ternyata... ia salah besar.
Tanda itu ada di sini, di kota tempat ia tinggal sekarang. Artinya, ada sisa kekuatan mereka yang lolos, ada pemimpin tinggi mereka yang belum tertangkap dan belum mati, yang kini melarikan diri sampai ke negaranya, sampai ke kotanya, dan mulai bangkit kembali untuk membangun kekuatan baru.
"Musuh lama..." gumam Ziva pelan dalam hati, matanya menyala penuh kewaspadaan dan kebencian yang dalam. "Ternyata kalian belum menyerah ya... Kalian pikir bisa aman lari sampai ke sini? Dan sekarang kalian berani-beraninya mengganggu ketenanganku, mengganggu keluargaku, dan menyergap kampusku? Kalian tidak tahu siapa yang kalian ganggu."
Ziva mengatupkan tangannya erat, pandangannya tajam menatap para penyergap itu. Perang yang ia kira sudah selesai, ternyata baru saja berpindah tempat. Dan kini, musuh lamanya ada tepat di depan matanya, mengancam nyawa orang-orang yang paling ia cintai.
Ziva menarik napas panjang, menatap Zio dan Zea bergantian. Di tengah bahaya ini, ia sadar satu hal: pertempuran besar sedang menanti, dan kali ini ia tidak akan bertarung sendirian. Ia harus melindungi semuanya, dan ia harus memastikan Organisasi Cakrawala musuh untuk kedua kalinya, dan untuk selamanya.