NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Putri asli/palsu / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
​Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
​Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
​"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
​Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: CEMBURU SANG PENGUASA LEIF

​Lampu kristal di ballroom Grand Hyatt Jakarta memantulkan cahaya keemasan yang mewah, namun bagi Nerina, suasananya terasa lebih dingin daripada es. Malam ini adalah jamuan makan malam privat yang diatur oleh Julian Cavendish sebagai dalih untuk "negosiasi damai". Nerina tahu itu jebakan, namun ia butuh informasi mengenai siapa informan Julian di Indonesia.

​Nerina tampil memukau dengan gaun backless sutra berwarna hitam pekat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di lehernya melingkar kalung safir biru yang senada dengan tatapan matanya yang tajam.

​Namun, yang paling menarik perhatian bukanlah sang ratu bisnis, melainkan sosok pria yang berdiri tepat satu langkah di belakangnya. Ergino kembali mengenakan seragam pelayan klasiknya—lengkap dengan sarung tangan putih dan rompi hitam—namun kehadirannya malam ini terasa begitu menekan. Siapa pun yang melihat mata Ergino akan tahu bahwa pria itu tidak sedang melayani, melainkan sedang memantau mangsa.

​"Nona Nerina," Julian berdiri dari meja makan saat mereka mendekat. Ia mengenakan tuksedo putih yang membuatnya tampak seperti pangeran dari negeri dongeng. "Anda tampak... berbahaya malam ini."

​"Bukankah mawar memang indah karena durinya, Tuan Julian?" sahut Nerina dingin saat ia duduk di kursi yang ditarikkan oleh Julian.

​Ergino segera berpindah ke belakang kursi Nerina. Matanya tidak pernah lepas dari tangan Julian yang mencoba mendekati jemari Nerina di atas meja.

​"Silakan, Nona. Chateau Margaux tahun 1996," Julian menuangkan wine ke gelas Nerina, lalu menoleh ke arah Ergino dengan senyum meremehkan. "Pelayan, kau bisa mundur sedikit. Aku ingin privasi dengan sepupuku yang cantik ini."

​Ergino tidak bergeming. Ia hanya menatap Julian dengan tatapan yang sanggup membekukan darah.

​"Dia tidak akan pergi, Julian," Nerina memotong sebelum ketegangan pecah. "Gino adalah bayanganku. Dia tidak mendengar, tidak bicara, tapi dia selalu ada."

​Julian tertawa sinis. Ia menyesap wine-nya, lalu mencondongkan tubuh ke arah Nerina. "Kudengar kamu sangat bergantung padanya. Di London, kami menyebutnya 'ketergantungan yang tidak sehat'. Bagaimana jika aku menawarkanmu sesuatu yang lebih baik? Seorang pria dengan darah biru, masa depan di parlemen Inggris, dan perlindungan penuh dari keluarga Cavendish?"

​Julian sengaja menyentuh punggung tangan Nerina, mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. "Kamu terlalu cantik untuk menghabiskan hidupmu di negara tropis ini bersama seorang... pesuruh."

​Nerina merasakan hawa dingin di belakangnya. Ia tahu Ergino sedang berada di ambang batas kesabarannya.

​"Darah biru tidak menjamin kesetiaan, Julian," jawab Nerina, mencoba menarik tangannya, namun Julian mencengkeramnya lebih erat.

​"Tapi darah biru menjamin kekuasaan," bisik Julian. Ia menatap bibir Nerina dengan lapar. "Ikutlah denganku ke London besok. Berikan kotak musik itu, dan aku akan menjadikanmu wanita paling terhormat di Inggris. Bayangkan, Nerina... kita bisa menguasai dua dunia."

​Prang!

​Tiba-tiba, gelas wine di depan Julian tumpah, membasahi tuksedo putih mahalnya dengan cairan merah pekat yang tampak seperti darah.

​"Oh, maafkan saya, Tuan Cavendish," suara Ergino terdengar sangat datar, namun ada nada kepuasan di dalamnya. Ia berdiri dengan botol wine di tangan, wajahnya tanpa ekspresi. "Tangan saya sedikit... licin."

​Julian berdiri dengan geram, menepis sisa wine di bajunya. "Kau pelayan sialan! Lihat apa yang kau lakukan?!"

​"Saya akan membantu Anda membersihkannya di ruang ganti, Tuan," ucap Ergino sambil melangkah maju. Kekuatannya yang mengintimidasi memaksa Julian untuk mundur. "Mari, sebelum noda ini menjadi permanen. Sama seperti kesalahan Anda yang mencoba menyentuh milik saya."

​Julian tertegun sejenak mendengar kata "milik saya", namun amarahnya lebih besar. "Nerina, tunggu di sini. Aku akan segera kembali setelah mengurus pelayan kurang ajar ini."

​Nerina hanya mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang akan terjadi di ruang ganti bukanlah sesi pembersihan noda.

​Di Ruang Ganti Privat

​Begitu pintu tertutup, Ergino tidak lagi bersikap sopan. Ia menyambar kerah tuksedo Julian dan menghempaskannya ke dinding dengan kekuatan yang membuat napas Julian tercekat.

​"Kau... apa yang kau lakukan?!" Julian terengah, wajahnya pucat pasi.

​Ergino mendekatkan wajahnya, matanya berkilat haus darah. "Aku sudah memperingatkanmu di mansion, Tuan Cavendish. Jangan pernah menyentuhnya. Jangan pernah menatapnya seolah dia adalah barang daganganmu."

​"Dia keluargaku! Aku punya hak atas dia!" teriak Julian.

​"Kau tidak punya hak apa pun," desis Ergino. Ia menekan lengan bawahnya ke tenggorokan Julian. "Di mata dunia, aku mungkin pelayannya. Tapi di dunianya, aku adalah tuhan yang menentukan siapa yang boleh bernapas di dekatnya. Jika aku melihat tanganmu menyentuh kulitnya lagi, aku akan memastikan tangan itu tidak akan pernah bisa memegang pena seumur hidupmu."

​Ergino melepaskan Julian yang terbatuk-batuk, lalu merapikan rompinya sendiri dengan tenang. "Bersihkan dirimu. Dan saat kembali nanti, jaga jarakmu setidaknya tiga meter dari Nona Nerina. Jika tidak, kecelakaan berikutnya tidak akan melibatkan wine, melainkan nyawamu."

​Sepuluh Menit Kemudian

​Nerina sedang menunggu di selasar menuju balkon saat Ergino muncul. Pria itu tidak lagi memakai sarung tangan putihnya. Ia menarik Nerina masuk ke dalam ruangan kecil yang gelap di samping selasar dan mengunci pintunya.

​"Gino? Apa yang kamu lakukan?" Nerina terkejut saat punggungnya membentur dinding kayu yang dingin.

​Ergino mengurung Nerina dengan kedua tangannya. Napasnya memburu, aromanya yang maskulin memenuhi indra penciuman Nerina. Dalam kegelapan, mata Ergino tampak sangat tajam dan posesif.

​"Kamu membiarkan dia menyentuh tanganmu," suara Ergino rendah, bergetar karena cemburu yang membara.

​"Itu hanya sandiwara, Gino! Aku butuh dia lengah agar aku bisa mencari tahu siapa mata-matanya!" bantah Nerina.

​"Aku tidak peduli dengan sandiwara itu!" Ergino mencondongkan tubuh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Nerina. "Aku tidak suka caramu menatapnya, meski itu hanya tipu muslihat. Aku tidak suka pria itu bernapas di udara yang sama denganmu."

​"Gino, kamu terlalu posesif—"

​Kalimat Nerina terputus saat Ergino membungkam bibirnya dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Itu bukan ciuman yang lembut; itu adalah klaim kepemilikan yang absolut. Ergino menciumnya seolah ingin menghapus jejak kehadiran Julian dari memori Nerina.

​Nerina awalnya terkejut, namun ia segera membalas ciuman itu, meremas bahu kokoh Ergino. Ia bisa merasakan kemarahan, kerinduan, dan proteksi yang meluap dari pria ini.

​Ergino menjauhkan wajahnya sedikit, napasnya tersengal di bibir Nerina. "Katakan padaku, Nerina... siapa pemilikmu yang sebenarnya?"

​Nerina menatap mata Ergino dengan sayu. "Kamu, Gino. Selalu kamu."

​"Bagus," bisik Ergino. Ia mengusap bibir Nerina yang sedikit bengkak dengan ibu jarinya. "Jangan pernah melupakan itu. Karena jika kamu lupa, aku akan mengingatkanmu dengan cara yang jauh lebih intim daripada ini."

​Ergino merapikan gaun Nerina yang sedikit berantakan. "Sekarang, kembalilah ke meja. Aku akan berdiri di belakangmu. Dan jika pria pirang itu berani bicara omong kosong lagi, aku akan menyelesaikan ini dengan caraku sendiri."

​Nerina keluar dari ruangan itu dengan pipi yang bersemu merah. Ia menyadari bahwa bermain api dengan Julian adalah satu hal, namun menghadapi cemburu sang penguasa Leif Capital adalah tantangan yang jauh lebih membara.

​Di meja makan, Julian kembali dengan wajah yang kuyu dan ketakutan yang nyata di matanya. Ia tidak lagi berani menggoda Nerina. Ia duduk dengan kaku, sementara di belakang Nerina, Ergino berdiri dengan senyum tipis yang sangat mematikan—senyum seorang pemenang yang baru saja menandai wilayahnya.

​"Jadi, Tuan Julian," Nerina menyesap wine-nya dengan tenang. "Mari kita bicara tentang siapa yang membocorkan lokasi panti asuhanku kepadamu. Atau apakah aku harus membiarkan asistenku ini yang bertanya dengan caranya sendiri?"

​Julian melirik Ergino yang sedang menatapnya tajam, dan ia tahu... malam ini dia tidak akan mendapatkan apa pun selain penghinaan.

1
Ariska Kamisa
/Shhh//Shhh//Shhh//Shhh//Shhh/
aditya rian
burulah dinikahin nerina nya gino
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
anak angkat seakan sengaja dibuang agar bisa hidup
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
wow/Scare/
Ariska Kamisa: 🤔🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
aditya rian
mulai babak drak romance
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rahasia terbaru👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
gino tidak mati dulunya? apakah time traveler?
Ariska Kamisa: ikuti terus ya🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
ergino keren amat
Ariska Kamisa: terimakasih🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
cettaass
aditya rian
wow tentara bayaran
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
sepertinya ergino terobsesi 🤭
Ariska Kamisa: yes👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
ini mulai babak baru , misteri ibu kandung nerina.
Ariska Kamisa: betul
total 1 replies
aditya rian
gob**k elysia 🤣
aditya rian
ibu kandung nya hidup???
aditya rian
dibutakan oleh rasa bersalah karena telah terpisah lama ini orang tuanya jadi anak salah geh kaya ga mau salah🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
rame👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
siapa gino sebenarnya, begitu kuat kah sehingga di takuti
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!