Kematian misterius yang ada di rumah ujung membuat siapa saja akan ketakutan, bahkan puncak nya para warga sama sekali tidak kenal dengan penghuni rumah tersebut.
satu keluarga di bantai dan mayat mereka membusuk di dalam rumah tersebut, warga menguburkan secara layak namun seram nya rumah itu membuat siapa saja yang lewat akan ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Terseret
Tengah malam Suminah terbangun ketika dia mendengar suara yang sangat berisik dari bawah pondok ini, Dia segera mengambil senter karena mengira itu mungkin saja adalah babi hutan yang sedang memakan sesuatu di bawah pondok, dia ingat bahwa di bawah pondok itu ada ubi kayu yang mereka panen ketika siang tadi.
Tapi ketika akan keluar dari pondok ini dia baru ingat bahwa tadi sudah mengalami hal seram di luar sana, jadi Suminah mengurungkan niat tersebut dan memilih untuk melihat saja dari atas ini agar nanti bila ada sesuatu yang terang maka dia tidak terlalu terkejut karena masih tetap berada di dalam pondok.
Rasa takut karena mengingat bagaimana perjuangan dia saat kabur membuat Suminah agak sulit untuk bergerak, Nanang sudah tertidur dengan sangat pulas karena dia memang hanya ingin menemani saja tanpa harus berjaga semalam full, tidak peduli apa yang sudah terjadi namun tetap saja dia akan tidur mengorok seperti itu.
"Semoga memang hanya babi hutan saja dan jangan muncul hal aneh lagi." batin Suminah di dalam hati.
Maka dengan hati was-was Dia memutuskan untuk mengintip dari lobang lantai pondok ini, ketika Dia mengintip ke bawah maka tidak ada hal yang aneh dan semua terlihat biasa saja, sudah berusaha dia lihat ke sana dan kemari namun tetap tidak ada yang aneh karena memang tidak ada babi hutan yang sedang memakan ubi kayu milik mereka.
"Tidak ada apa-apa di bawah sana, lalu suara berisik itu tadi berasal dari apa?" gumam Suminah yang masih bingung.
"Ubi kelihatan aman dan tidak ada yang memakan kok." sambung Suminah kembali.
Maka dengan sedikit rasa takut Dia memutuskan untuk tempat bangkit karena ingin mengintip dari jendela pondok saja, barangkali bila mengintip dari sana maka dia bisa melihat dengan jelas apa yang sudah datang di bawah pondok tersebut, hanya padi yang perlu dia tumbuh dan dipastikan bahwa tidak ada babi yang sedang memakan padi milik mereka itu.
Krieeeettt.
Jendela pondok terbuka dan angin dingin menerpa masuk ke dalam sini, keadaan di luar sana masih hujan gerimis sehingga suasana yang seperti ini memang sangat disukai oleh babi hutan untuk mencari makanan di malam hari yang terasa begitu
sunyi sekali.
"Hah!" Suminah tersentak kaget ketika dia melihat seseorang yang sedang berdiri di balik pohon pisang.
"Siapa itu?!" Suminah sedikit berteriak sambil menyorot senter yang ada di tangan dia.
"Kau ya, Melva?" Suminah mengira bahwa itu adalah Melva yang sedang menjaga sawah juga di sebelah sawah biasa ini.
Kriiikkkkk.
Kriiikk.
Tidak ada jawaban dari balik pohon pisang itu dan yang ada hanya suara jangkrik memenuhi keheningan malam ini, Suminah kembali menyorot pohon pisang tersebut menggunakan senter namun ternyata sosok itu sudah tidak ada lagi di sana sehingga Suminah merasa bahwa mungkin saja tadi yang berdiri di sana bukan manusia biasa.
"Huhuhuuuuuu....
"La Ilaha illallah!" Suminah menyebut nama Tuhan dan segera menutup jendela pondok.
"Kenapa kalau datang lagi dan menakuti aku seperti ini? aku dan kau sama sekali tidak saling kenal jadi tolong jangan menakuti aku dan anak ku!" Suminah berucap dan segera berbaring memeluk Nanang yang sedang tertidur pulas itu.
"Ya Allah tolong lindungi kami berdua dari serangan makhluk tak kasat mata itu." Suminah terus berdoa dengan hati berdebar tidak karuan.
"Aku hanya sedang mencari makan dengan cara seperti ini, jadi tolong jangan datangi aku dan anakku yang malang." ujar Suminah kembali dengan tubuh yang mulai gemetar Karena rasa takut itu.
Tentu semua orang pasti akan ketakutan bila malam hari dan hanya berdua dengan anak mereka saja menunggu sawah seperti ini, mungkin bila takut pada babi masih sedikit bisa diatasi karena mereka ada di dalam pondok dan babi tidak mungkin bisa naik ke atas sini, tapi ini Suminah takut dengan sesuatu yang tidak bisa dia tebak akan datang dari mana.
...****************...
"Kenapa Mbak Suminah dari tadi menyorot lampu ke arah pohon pisang itu?" Melva bertanya kepada Rais.
"Paling dia mengecek apa ada babi atau tidak karena sekarang kan sedang gerimis." Rais menjawab sambil menghisap rokok.
"Aku yakin dia pasti sedang berjaga sendirian." Melva berkata pelan.
Rais mengangguk karena dia yakin memang Suminah sedang menjaga sawah itu sendirian, sebab mereka juga mengetahui bahwa suami Suminah sedang sakit di rumah tidak bisa bergerak sehingga pasti Suminah berjaga sendirian dan paling akan ditemani oleh Nanang Putra dia yang paling kecil itu, jadi wajar saja bila Suminah merasa sedikit takut.
"Eh kamu dengar tidak itu suara apa?" Melva menoleh karena mendengar suara seperti hewan terbang.
"Paling burung hantu karena kemarin juga ada burung hantu yang hinggap di pohon akasia itu." Rais menjawab santai.
"Oh paling tadi Mbak Suminah mencari burung ini karena hinggap di pohon dia dan menimbulkan suara aneh." tebak Melva.
Maka Rais mengangguk paham karena mungkin saja memang seminar merasa takut setelah mendengar suara hewan yang sedang terbang ini, ini saja Melva bilang sendirian pasti akan merasa takut juga karena malam hari di tengah sawah dan muncul suara yang agak seram seperti itu.
"Eh tapi kok suara itu semakin dekat dan seolah hinggap di atas genteng kita." Rais agak kaget dan dia segera mengambil tombak.
"Iya, kamu hati-hati kalau mau keluar untuk melihat." Melva yang ingin rebahan segera bangkit kembali.
"Kamu diam saja di dalam situ biar aku yang melihat keadaan di luar." ujar Rais karena dia tidak mau bilang sang istri nanti bisa demam terkena gerimis.
Melva menuruti ucapan suami dia dan hanya menunggu di dalam pondok saja, sendiri menggunakan senter yang begitu besar untuk melihat sosok apa yang sudah berhenti di atas pondok mereka ini sehingga menimbulkan suara gaduh yang begitu besar, kalau burung hantu jelas itu tidak mungkin karena suara sangat nyata sekali.
"Mana kok tidak ada apa-apa ya?" Rais bingung karena tidak melihat ada yang aneh di atas pondok mereka.
"Ada burung hantu yang hinggap?" tanya Melva di depan pintu pondok.
Sraaaaak.
"Abaaaaanggg!" Melva berteriak keras ketika tubuh Rais mendadak saja terseret sesuatu ke dalam sawah itu.
Dia lama sekali tidak melihat apa tadi yang menarik tubuh Rais sehingga terseret masuk ke dalam rumpun sawah yang begitu lebat, mendadak saja Rais jatuh dan saat ini tidak tahu ada di bagian mana sehingga Melva kebingungan harus mengambil tindakan bagaimana untuk menyelamatkan sang suami.
Selamat pagi sayaaaaaaaangggg.
dari kota aja lagaknya kaya dewa saja, orang yang dewa iblis aja gak sesombong kamu.
dan
hanya Purnama yang bisa ngadepin Angelina
Arya sama Nolan juga boleh lah kasih pelajaran ke mereka...
di balik kalem nya ada congor nya jg yg kalau ngomong setajam sileeeet
eeee ..... ternyata mlh Pesugihan nya yg di ambil 🤣🤣🤣
lagian biarin ja sih rusak , orang nya dh PD koit 🤣
aku kira kedatangan tamu orang jahat itu ,, eee ... gak thu nya tamu nya adalah Arya 🤭🤭
mereka mafia kah ❓ atau mereka melakukan pesugihan ❓
orang PD sibuk mencari dan ngomongin si Pardi ,,, tahu-tahu wonge wes mati 🤣🤣
para tetangga jg ogah mo bantu mencarinya 🤣